

Udara di desa Oakhaven terasa sejuk dan terhirup penuh aroma daun kering yang dipijarkan matahari pagi, bercampur dengan baunya kayu bakar dari kompor-kompor warga. Tapi untuk Arven, usia 17 tahun yang berdiri di sudut lapangan pelatihan, tidak ada yang menyenangkan dari hari itu. Setiap serat rambutnya terasa berdiri tegak, bukan karena dingin, tapi karena ketakutan yang membanjiri dada, hari ini adalah Hari Pengukuran, hari yang menentukan nasib setiap anak di usianya di dunia Valnora.
Di Valnora, tidak ada yang lebih penting dari Tanda Takdir. Setiap manusia lahir dengan bintik warna di dadanya, penentu yang tak terbantahkan siapa yang berhak menjadi pahlawan (merah cerah), raja (ungu keemasan), penyihir (kuning mentah), atau algojo (hitam gelap). Takdir bukan sekadar kepercayaan, itu adalah sistem yang mengatur segalanya, dari pekerjaan yang harus diambil, teman yang bisa dipercaya, bahkan hari kematian yang diramalkan. Semua tercatat di Kitab Takdir, naskah suci yang diletakkan di Istana Kerajaan Valerius, dengan salinan kecil yang ada di setiap desa untuk Hari Pengukuran.
Arven menggaruk lehernya, mata memandang sekeliling. Seluruh desa Oakhaven, sekitar seratus jiwa, telah berkumpul di lapangan pelatihan yang dirapikan khusus. Anak-anak seusianya berdiri dalam baris, wajah mereka bercampur harapan dan ketakutan. Beberapa di antaranya sudah membayangkan diri menjadi pahlawan yang terkenal, melindungi dunia dari makhluk jahat. Yang lain berharap menjadi penyihir yang dihormati, menguasai sihir untuk kesejahteraan desa. Hanya Arven yang tidak berharap apapun—selama 17 tahun, dia tidak pernah melihat secercah warna di dadanya. Hanya kulit putih yang polos, seperti lembaran kertas yang belum ditulis.
"Arven, giliranmu!"
Suara Pemimpin Desa, Pak Brom, terdengar berat seperti batu yang jatuh. Arven terkejut, lalu melangkah perlahan menuju panggung kecil di tengah lapangan. Panggung itu dipenuhi bunga dan kain warna-warni, tapi di atas meja kayu di tengahnya, hanya ada Kitab Takdir, bukunya tebal dengan kulit domba yang sudah usang, tulisan emasnya menyala di bawah sinar matahari. Di sebelah Kitab berdiri dua pria berpakaian baju putih, petugas dari kerajaan yang datang khusus untuk Hari Pengukuran.
Seluruh desa sepi. Mata semua orang terarah ke Arven. Dia bisa mendengar bisikan lemah: "Dia akan punya Tanda, kan?" "Janganlah terjadi sesuatu yang buruk..." Elara, teman masa kecilnya yang berdiri di baris terakhir, memegang tangannya erat, mata penuh kekhawatiran. Elara sudah menunjukkan tanda kuning muda beberapa minggu yang lalu, dia akan menjadi penyihir, dan itu membuatnya bangga, tapi dia tidak pernah meninggalkan Arven meskipun banyak yang menyarankannya.
Arven berdiri di depan Kitab Takdir. Tangannya gemetar saat membuka kemejanya, mengekspos dada yang polos. Petugas kerajaan saling melihat, wajah mereka sedikit meragukan. Satu di antaranya mengangkat tangan, dan cahaya emas muncul dari telapak tangannya, cahaya suci yang diambil dari Kitab Takdir, yang seharusnya menyoroti Tanda di dadanya dan mencatat namanya ke dalam naskah.
Tetapi tidak ada apa-apa.
Cahaya emas itu hanya menyinari kulitnya, tanpa ada bintik warna yang muncul. Suara bisikan di desa mulai terdengar, semakin keras, sampai berubah menjadi teriakan kaget. "Tiada Tanda!" "Dia tidak tercatat!" Pak Brom memandangnya dengan mata yang memerah, tangannya meraih gagang pedang di pinggangnya. "Kesalahan Sistem!" teriaknya, suaranya bergema di seluruh lapangan. "Dia ancaman bagi keseimbangan Valnora! Menurut undang-undang kerajaan, Kesalahan Sistem harus dihapus!"
Sebelum Arven sempat berbicara, seekor panah merah melesat dari balik pohon yang tinggi di pinggir lapangan, menuju kepalanya. Dia melompat ke samping dengan kecepatan yang tidak pernah dia sadari sebelumnya, panah itu menancap tepat di dinding panggung di belakangnya, membuat kayu pecah. Dari antara pepohonan muncul tiga pria berpakaian baju merah dengan Tanda Takdir merah cerah di dada, Pahlawan Pengawal Kerajaan, yang sudah menunggu di sana seharian.
"Kita di perintahkan dari Pangeran Valerius untuk menangkap atau membunuh Kesalahan Sistem yang terlahir hari ini!" teriak pemimpin kelompok itu, namanya Kael, bajunya diselimuti debu dan darah dari perjalanan jauh. Dia mengangkat pedangnya yang berukiran bunga, mata menyipit menatap Arven. "Jangan berusaha lari, anak kecil. Dunia tidak maukehadiranmu, bahkan sihir tidak akan mengenalimu!"
Arven mundur perlahan, hati berdebar kencang seperti akan meledak. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, dia tidak pernah belajar bertarung, dia tidak punya sihir, dia bahkan tidak punya Tanda yang bisa memberikan kekuatan apapun. Tiba-tiba, seorang wanita berpakaian hitam dengan Tanda Hitam gelap di leher muncul dari sudut desa, melangkah dengan langkah yang ringan tapi tegas. Dia adalah algojo, yang ditugaskan untuk membersihkan "Kesalahan" yang terlewatkan oleh pahlawan. Dia memegang sabit yang kilauan di sinar matahari, senyumnya jahat dan dingin.
"Kesalahan harus dihapus. Itu tugasku yang suci," katanya dengan suara yang merendam dingin. Dia melangkah mendekat, sabitnya diarahkan ke dada Arven.
"Jangan sentuh dia!"
Teriakan itu berasal dari Elara. Dia telah melompat ke atas panggung, tangan terangkat ke udara. Cahaya kuning muncul dari jari-jarinya, membentuk bola energi yang panas. "Dia tidak bersalah! Dia hanya lahir seperti itu... itu bukan kesalahannya!"
"Penyihir muda, jangan campur tangan dalam urusan kerajaan!" teriak Kael. Dia melesat ke arah Elara, pedangnya mengarah ke lehernya dengan kecepatan yang mengerikan. Arven tidak berpikir dua kali, dia melompat ke depan Elara, menangkap tongkat kayu yang tergeletak di lantai panggung, dan menghadang serangan itu.
KLENG!
Suara benturan kayu dan besi terdengar keras, menggema di seluruh desa. Tangan Arven kesemutan sampai ke siku, tongkatnya hampir terlepas dari genggaman. Dia mendorong Kael mundur dengan semua kekuatan yang dia miliki, lalu menarik Elara pergi ke arah pintu desa yang menuju hutan. "Kita harus lari!" teriaknya, nafas terengah-engah.
Elara mengangguk, cahaya kuning dari tangannya membentuk dua tembakan energi yang cepat. Satu menumbuk salah satu pahlawan lain, membuatnya terjatuh dengan teriakan. Yang lain mengenai dinding rumah di dekatnya, membuat bata pecah. Tapi itu hanya sebentar, algojo hitam sudah mengejar mereka, sabitnya melesat seperti kilat menuju punggung Arven.
Arven berbelok cepat, sabitnya menebas ujung rambutnya, membuat seikat rambut terlepas dan terbang ke udara. Mereka keluar dari desa, memasuki hutan yang lebat di pinggir Oakhaven. Daun dan ranting menyertai langkah mereka, membuat jalanan sulit ditempuh. Udara di hutan lebih gelap, bunyi burung dan hewan liar terdengar dari kejauhan. Tapi mereka tidak bisa berhenti, suara teriak pahlawan dan langkah kaki mengejar terus mendekat.
"Kita tidak bisa lari selamanya!" katanya Elara, nafasnya terengah-engah. Dia melihat ke belakang, Kael dan dua pahlawan lainnya sudah mendekat, bersama algojo yang berjalan dengan langkah yang tetap. "Aku akan coba menghentikannya, kamu lari duluan!" Ucap elara ingin menyelamatkan Arven
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu!" jawab Arven dengan tegas. Dia melihat ke sekeliling, mencari jalan keluar. Di depan mereka, ada lembah yang dalam dengan sungai yang deras di dasarnya. Di sisi lain lembah, ada bukit yang tertutup semak belukar, mungkin ada tempat untuk bersembunyi di sana.
Mereka melompat ke bawah lembah, kaki mereka terbenam di lumpur. Sungai deras menyapu kaki mereka, membuat mereka sulit berjalan. Tiba-tiba, Kael muncul di atas tebing lembah, pedangnya diangkat ke atas kepala. "Kamu tidak akan lolos!" teriaknya, lalu melompat ke arah Arven.
Arven mendorong Elara ke samping, lalu menghindari serangan Kael dengan menggelinding ke dalam lumpur. Pedang Kael menancap di tanah di mana dia berdiri tadi, membuat lubang yang dalam. Arven mengambil batu besar dari tanah, lalu melemparkannya ke arah Kael. Batu itu mengenai bahu Kael, membuatnya mundur sejenak.
"Tetap diam disana, Wahai Kesalahan!" teriak Kael, wajahnya memerah karena marah. Dia melesat lagi, pedangnya mengarah ke dada Arven. Arven tidak punya waktu lagi untuk menghindari, dia menutupi wajahnya dengan tangan, menunggu rasa sakit yang akan datang.
Tetapi rasa sakit itu tidak tiba.
Dia membuka mata dan melihat Elara berdiri di depan dia, tangan terangkat. Cahaya kuning besar membentuk tembok di depan mereka, menahan serangan Kael. Tapi tembok itu mulai retak, kekuatan Elara masih lemah, dia baru saja belajar sihir. "Aku tidak akan bertahan lama!" teriak Elara, keringat menetes dari alisnya.
Pada saat itu, algojo hitam telah turun ke lembah, sabitnya diarahkan ke leher Elara. Arven melompat ke arah algojo, menangkap lengan dia yang memegang sabit. Mereka bergelantungan, saling mendorong. Algojo itu lebih kuat, tapi Arven penuh dengan kecepatan dan kebencian, kebencian pada dunia yang menandainya sebagai musuh hanya karena dia lahir tanpa Tanda.
"Kamu tidak lebih dari sampah!" bisik algojo itu, matanya gelap seperti malam. Dia mendorong Arven ke dinding tebing lembah, membuat kepalanya menabrak batu. Arven melihat bintang-bintang, kepalanya berdenyut sakit. Dia merasakan darah mengalir dari alisnya, menyentuh pipinya.
Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang panas, yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Tidak seperti sihir Elara yang terang dan lembut, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, seperti bara yang membara di dalam perutnya. Cahaya hitam mulai muncul dari tubuhnya, membungkus dirinya seperti kain yang tebal.
Algojo itu terkejut, mundur perlahan. "Apa ini...?" bisiknya, suaranya penuh ketakutan.
Arven tidak tahu apa itu. Tapi dia merasakan kekuatan itu mengalir di dalam darahnya, membuatnya merasa kuat dan tidak terkendali. Dia mengangkat tangan, dan cahaya hitam itu melesat ke arah algojo, menumbuk tubuhnya sehingga dia terjatuh ke dalam sungai. Air deras menyapu dia pergi, membuatnya menghilang dari pandangan.
Kael dan pahlawan lainnya juga terkejut, mundur perlahan. Cahaya hitam dari tubuh Arven semakin kuat, membuat tanah di sekitarnya bergetar. "Itu tidak mungkin... tidak ada kekuatan seperti itu di Kitab Takdir!" teriak Kael, wajahnya penuh ketakutan.
Tanpa menunggu, Arven menarik Elara dan melompat ke seberang sungai. Mereka mendarat dengan lembut di sisi lain, meskipun lutut Arven sedikit terluka dan lumpur menutupi seluruh tubuh mereka. Dia memandang ke belakang, Kael dan pahlawan lainnya masih berdiri di tempatnya, melihat cahaya hitam yang masih mengelilingi sungai.
"Kita harus pergi jauh dari sini," katanya kepada Elara, suaranya lemah karena lelah. "Karena apa yang baru saja ku lakukan... itu bukan sesuatu yang ada di Kitab Takdir. Dan itu akan membuat mereka lebih ingin membunuhku, tidak hanya sebagai Kesalahan Sistem, tapi sebagai ancaman yang lebih besar."
Mereka melanjutkan perjalanan ke atas bukit, langkah mereka terarah ke hutan yang lebih dalam. Arven merasa kekuatan hitam itu masih ada di dalam dirinya, membara seperti bara yang tidak bisa dipadamkan. Dia menyentuh dada yang polos, masih tidak ada Tanda, tapi sekarang dia punya sesuatu yang lebih dari itu. Sesuatu yang dunia Valnora tidak kenal, sesuatu yang bisa membuatnya bertahan.
Di kejauhan, mereka mendengar teriakan dari desa Oakhaven. Mungkin warga desa sedang menangani kerusakan, atau mungkin mereka sedang membicarakan tentang Kesalahan Sistem yang telah melarikan diri. Arven memandang ke arah desa yang dia panggil rumah selama 17 tahun, dia tahu dia tidak akan pernah kembali lagi.
Dunia telah menandainya sebagai musuh. Dan sekarang, dia harus bertarung tidak hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk mencari tahu mengapa dia lahir tanpa Tanda, dan mengapa dia memiliki kekuatan yang tidak boleh ada di dunia yang diatur oleh Takdir yang tak terbantahkan.