

"Tuan, sadarlah! Jangan sampai semua ini direbut oleh mereka."
"Tuan!"
Nyaris sekujur tubuhnya dipenuhi oleh keringat. Pria berbaring di atas ranjang kecil—tak dapat menampung seluruh tubuhnya—dan reot itu terduduk dengan napas tersengal-sengal.
Tangannya mengusap kasar keringat di dahi. Ia berulang kali mengembuskan napas perlahan mengatur degup jantungnya yang tak beraturan karena lagi dan lagi suara terasa familiar itu mampir di mimpinya.
Mimpi yang sama selama sebulan ini. Ia tidak tahu apa maksud dari mimpi itu hingga ia terus-terusan memimpikan hal sama berulang kali.
Di luar sana suara ayam berkokok terdengar. Ayam jantan peliharaannya memang sering terbangun lebih dulu saat ia sedang bermimpi seperti ini.
Sekali lagi pria itu mengusap peluh di wajahnya. Kipas angin yang di kamarnya tak lagi menyala, sepertinya benda itu benar-benar rusak setelah beberapa kali ia perbaiki seorang diri mesinnya.
Dan ia mulai kepikiran membeli kipas angin baru, mungkin minggu depan setelah ia mendapat upah gajinya.
"Jagad! Sudah pagi?!"
Suara gedoran dari pintu kamarnya terdengar. Kalau ia tak langsung menyahut bisa dipastikan pintu kamar itu akan ambruk karena terus di gedor kencang olehnya ayahnya.
Iya, Jagad tinggal bersama ayahnya di desa ini. Mereka hanya hidup berdua saja setelah puluhan tahun lalu ibu Jagad meninggal dunia karena penyakit asma bawaannya—sekiranya itulah yang Jagad tahu dari cerita ayahnya. Sebab Jagad tidak mengingat apa-apa tentang masa kecil ataupun kebersamaannya dengan orang tuanya beberapa tahun lalu.
Ayahnya bilang, Jagad sempat mengalami kecelakaan di tempat kerjanya sehingga membuat kehilangan sebagian ingatannya sebab kepalanya terbentur oleh benda keras. Meski Jagad pun tidak mengingat kejadian itu, ayah yang bercerita padanya.
Jagad memulai paginya seperti biasa. Menanak nasi lalu menggoreng dua butir telur sebagai sarapannya bersama sang ayah. Tak lupa dua cangkir kopi untuk mereka.
Selesai tugas di dapur, Jagad memberi makan ayam-ayamnya yang terus berkokok seakan sudah sangat kelaparan.
"Pagi Kang Jagad."
Jagad mengumpulkan sampah di halaman depan, tersenyum ramah ketika beberapa tetangga menyapanya.
"Minggu depan kau sudah gajian, kan?"
Jagad menatap ayahnya yang merokok setelah sarapan bersama. "Iya, Yah."
"Aku ada urusan di kota minggu depan, kasih uang untuk ongkos dan selama perjalananku di sana."
"Berapa hari Ayah pergi?" Ini bukan pertama kalinya sang ayah pergi ke kota. Katanya ada urusan penting tapi tidak pernah jelas memberitahunya tentang urusan apa itu.
"Dua hari." Ayah mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Separuh uang gajimu kasih ke aku."
"Kipas angin di kamarku rusak. Mungkin aku nggak bisa ngasih separuh gajiku ke, Ayah."
Ayah langsung menatapnya tajam. "Jadi anak jangan perhitungan. Tidak usah beli kipas angin, itu tidak penting pula."
Ayah tak bekerja sehingga mereka mengandalkan uang gaji bulanan Jagad yang bekerja di sawah tetangga. Itupun gajinya tak seberapa, hanya cukup untuk makan sebulan hingga menunggu gaji Jagad di bulan berikutnya.
*
"Kau ini rajin sekali, Jagad. Beruntung sekali Sarno punya anak sepertimu. Padahal kau bukan anak kandungnya."
Pernyataan itu pertama kali di dengar oleh Jagad. Bukan anak kandung? Maksudnya apa? Ayah bilang, ia adalah anak kandung ayah. Sehingga Jagad harus berbakti sebagai anak.
"Maksud Kang Sabar apa? Bukannya aku anak kandung Ayahku?"
Sesaat Kang Sabar terbelalak kaget. Seolah menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan. "Ah, aku salah bicara. Jangan dianggap serius." Kang Sabar kemudian berlalu.
Sedangkan Jagad menatap pria seusia ayahnya itu dengan pandangan tak mengerti. Ada sesuatu yang janggal di sini.
Jagad menatap sekitarnya. Menatap hamparan sawah yang sering dia datangi, tetapi entah kenapa tempat ini selalu asing di matanya. Padahal dia lahir dan besar di desa ini.
Apakah ada sesuatu yang disembunyikan darinya? Jagad ingin tahu.
Pukul lima sore, pekerjaan Jagad sudah selesai. Ia tak langsung pulang, tapi mampir ke bengkel.
"Kang, motor saya sudah selesai diperbaiki?" Jagad menghampiri si pemilik bengkel.
Pria itu mengusap wajahnya yang kotor oleh oli. "Sudah, Gad."
"Berapa, Kang?"
Usai menyebutkan sejumlah nominal uang sebagai upah memperbaiki motor butut Jagad, pria itu kembali berbicara pada Jagad. "Motormu itu sudah tua, Jagad. Sudah waktunya diganti. Kalau bulan depan lagi rusak mungkin aku tidak bisa memperbaikinya lagi. Mesinnya udah terlalu lama."
Jagad menatap motor bututnya. Motor ini dulunya milik Ayah dan menjadi milik Jagad setelah ia bekerja menggantikan ayahnya.
"Aku masih nabung, Kang. Uangnya belum cukup beli motor baru."
"Bisa cicil motor bekas denganku, Gad. Kalau tertarik, aku bisa menunjukkan beberapa motor bekas ke kamu."
Jagad mengangguk saja. Ia belum berani menyicil motor bekas, takut tidak sanggup membayarnya nanti. Terlebih gaji Jagad tak sebanyak itu sampai dia mampu menyicil motor.
Jagad pulang membawa motor tuanya. Suara knalpotnya terdengar bising, tetapi Jagad sudah cukup bersahabat mendengar suara knalpot motornya sendiri. Walau orang-orang beberapa kali terang-terangan mengeluh bila mendengar suara knalpot itu bila berpapasan dengan Jagad.
"Aku mau nanya sesuatu, Yah."
Malam hari saat makan malam bersama sang ayah. Jagad bermaksud menanyakan sesuatu yang didengarnya dari Kang Sabar tadi kepada ayahnya.
"Tanya apa?"
Jagad menatap ayahnya beberapa saat. "Sebenarnya aku ini anak kandung ayah atau anak angkat Ayah?"
Ayah seketika tersedak air minumnya setelah mendengar pertanyaan yang dilayangkan Jagad. Kemudian melayangkan tatapan tajam pada Jagad.
"Kenapa kau bertanya begitu? Jelas-jelas kau anak kandungku, Jagad."
Jagad menelisik wajah Ayah lamat-lamat. Kalau diperhatikan, tidak ada kemiripan di wajahnya dengan sang ayah. Kulit mereka pun tak sama, kulit Ayah jauh lebih gelap sedangkan kulit Jagad berwarna kuning langsat. Tetapi, bisa saja Jagad menuruni kulit ibu kandungnya? Jagad tinggi sedangkan ayahnya pendek, dan masih ada beberapa perbedaan lagi diantara mereka.
"Aku dengar dari Kang Sabar, aku cuma anak angkat Ayah." Jagad berkata apa adanya.
Ayah mendengkus kasar. "Orang itu jangan kau dengarkan. Dari dulu dia suka asal bicara." Ayah menunjuknya dengan tatapan serius. "Kau anakku, kau dilahirkan oleh istriku. Jadi, jangan terpengaruh karena perkataan Sabar yang bicara sembarangan ke kau, Jagad."
Jagad terdiam beberapa saat. "Tapi kenapa sampai sekarang aku belum bisa mengingat masa kecilku, Yah? Aku hanya ingat kehidupanku sekarang, tidak dengan kehidupanku di masa lalu."
"Kau masih lupa ingatan. Jangan dipaksa untuk mengingat yang lalu. Kau masih hidup sampai detik ini saja sudah syukur. Aku tidak mau kehilangan kau setelah istriku meninggal."
"Aku ingin menemui dokter lagi, Yah." Jagad mengutarakan keinginannya. "Aku ingin bertanya kondisiku saat ini. Sampai kapan aku harus terus kehilangan memori di masa laluku?" Sebab itu menyiksa Jagad. Bagaimanapun dia ingin mengingat masa lalu di masa kecilnya, bagaimana kehidupannya dulu. Serta mengingat memori saat ibunya masih ada di dunia ini.
"Untuk apa menemui dokter? Kau tidak punya banyak uang untuk menemuinya. Percuma saja." Ayah mengibaskan tangan ke udara. "Lama-lama kau juga pasti ingat sendiri. Jangan buang-buang uang untuk hal tidak penting seperti itu."
"Tapi bagiku penting."
Ayah menggebrak meja dengan kesal. "Sudah ku bilang tidak perlu! Kau mengerti tidak?!" Ayah melotot padanya. "Ah, sial! Aku harus bertemu Sabar setelah ini untuk memperingatinya agar tidak bicara sembarangan lagi di depanmu. Sampai-sampai kau terpengaruh seperti ini." Setelahnya Ayah berlalu pergi.
Jagad membuang napas kasar. Kenapa ayahnya suka menjadi orang pemarah? Sehingga tidak ada kehangatan terasa diantara mereka. Rasanya asing dan Jagad tidak terbiasa melihat sikap ayahnya yang agak tempramen.
Baiklah, kalau ayahnya tidak setuju ia menemui dokter. Jagad bisa melakukan itu diam-diam tanpa sepengatahuan ayahnya.