Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Jejak yang tidak bisa di hapus

Jejak yang tidak bisa di hapus

Ombob | Bersambung
Jumlah kata
28.5K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Jejak yang tidak bisa di hapus
Jejak yang tidak bisa di hapus

Jejak yang tidak bisa di hapus

Ombob| Bersambung
Jumlah Kata
28.5K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalKriminalThrillerPertualangan
Setiap langkahnya meninggalkan bayangan kedua di lantai, bayangan yang tidak mengikuti gerakannya. Bayangan itu seolah hendak membimbingnya ke suatu tempat yang sudah lama terlupakan. Saat ia mengikuti arah bayangan itu, ia menemukan sebuah kasus lama yang pernah mengguncang kota dan menghilang begitu saja tanpa terselesaikan. Kenyataan yang terkuak membuatnya sadar: bayangan itu milik seseorang yang mati meminta keadilan, dan kini ia adalah satu-satunya yang bisa menyelesaikannya.
Bab 1

Danur tidak pernah menganggap dirinya orang yang mudah takut. Ia tumbuh dengan kebiasaan menghadapi berita buruk, cerita gelap, dan fakta fakta yang sering kali tidak memberi ruang untuk harapan. Sebagai wartawan, ia belajar sejak awal bahwa dunia tidak berjalan seimbang, dan kebenaran jarang muncul dalam keadaan utuh. Rasa takut baginya hanyalah reaksi awal yang harus segera disisihkan agar pikiran tetap jernih.

Usianya dua puluh sembilan tahun. Ia bekerja di sebuah perusahaan media cetak bernama Global, media yang masih bertahan dengan laporan panjang dan liputan investigasi di tengah arus berita singkat. Danur bukan nama besar di redaksi. Ia jarang tampil di halaman depan sebagai penulis utama, tetapi namanya sering muncul di bagian laporan yang tidak disukai banyak pihak. Ia terbiasa bekerja dalam senyap, mengumpulkan potongan informasi yang tampak sepele, lalu merangkainya menjadi sesuatu yang utuh.

Ia belum menikah. Hidupnya berjalan tanpa banyak perubahan dari hari ke hari. Tidak ada jadwal makan malam bersama siapa pun, tidak ada pesan masuk yang harus dibalas dengan cepat, dan tidak ada suara lain di rumah selain miliknya sendiri. Kesendirian tidak pernah ia anggap sebagai kekurangan. Justru di dalam sunyi itulah ia bisa berpikir tanpa gangguan.

Danur tinggal di sebuah rumah kontrakan di pinggiran kota. Rumah satu lantai itu berdiri di deretan bangunan lama yang tidak banyak berubah sejak bertahun tahun lalu. Jalan di depannya sempit dan sepi pada malam hari. Lampu jalan menyala dengan cahaya kuning pucat yang kadang berkedip tanpa alasan jelas. Lingkungan itu tidak ramai, tidak juga menyeramkan. Ia berada di wilayah antara, cukup dekat dengan kota, tetapi cukup jauh untuk dilupakan.

Malam itu dimulai seperti malam malam lainnya. Danur pulang dengan kepala berat setelah seharian bekerja. Sejak pagi ia berkutat dengan arsip lama di kantor. Redakturnya memintanya meninjau kembali sebuah kasus yang pernah mengguncang kota lebih dari sepuluh tahun lalu. Kasus hilangnya seorang pegawai pemerintah yang menjadi saksi kunci dalam penyelidikan besar. Kasus itu sempat memenuhi halaman depan, memicu unjuk rasa, dan menyeret banyak nama penting. Lalu tiba tiba lenyap tanpa kesimpulan jelas.

Dokumen yang Danur baca hari itu tidak lengkap. Banyak bagian hilang, banyak laporan yang terpotong, dan terlalu banyak kejanggalan yang dibiarkan tanpa penjelasan. Semakin ia membaca, semakin jelas bahwa kasus itu tidak pernah benar benar diselesaikan. Seseorang atau sesuatu telah menutupnya dengan rapi.

Setelah makan malam seadanya, Danur masuk ke ruang kerjanya. Ruangan itu sempit, hanya cukup untuk meja, kursi, dan rak kecil berisi buku serta berkas. Ia menyalakan laptop dan membaca ulang catatan yang ia bawa dari kantor. Waktu berjalan tanpa terasa. Ketika ia menutup laptop, jarum jam sudah mendekati tengah malam.

Ia merapikan meja sekadarnya. Kertas kertas disusun tanpa benar benar diperiksa. Ia mematikan lampu ruang kerja, lalu melangkah keluar menuju lorong kecil yang mengarah ke kamar tidur. Lampu ruang tamu ia biarkan menyala setengah. Cahaya itu membentuk bayangan panjang di lantai keramik.

Danur baru beberapa langkah berjalan ketika ia berhenti.

Bukan karena suara. Bukan karena sentuhan. Ia berhenti karena melihat bayangan di lantai.

Bayangannya sendiri.

Namun bayangan itu tidak bergerak bersamanya.

Danur berdiri diam. Napasnya tertahan tanpa ia sadari. Matanya menatap lantai dengan penuh perhatian, seolah ia sedang memeriksa sebuah foto yang tidak seharusnya ada. Cahaya lampu seharusnya membuat bayangannya mengikuti setiap gerakan tubuhnya. Namun bayangan itu tetap berada di tempatnya.

Ia mengangkat tangan kanan perlahan.

Bayangan itu tidak berubah.

Ia menurunkan tangan, lalu mengangkat tangan kiri.

Tidak ada reaksi.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia menarik napas panjang dan mencoba berpikir jernih. Kelelahan bisa membuat mata salah menangkap cahaya. Sudut lampu bisa menciptakan ilusi. Semua itu masuk akal.

Ia melangkah mundur satu langkah penuh.

Bayangan itu tetap diam.

Rasa dingin merambat dari tengkuknya ke punggung. Danur menelan ludah. Ia memperhatikan bayangan itu lebih saksama. Warnanya lebih gelap dari seharusnya. Bukan sekadar siluet tipis, melainkan pekat dan padat. Bentuknya menyerupai manusia, tetapi proporsinya tidak sepenuhnya sama dengannya. Bahunya lebih lebar. Tingginya sedikit melebihi tubuh Danur. Garis kepalanya terlihat condong ke depan, seperti seseorang yang memikul beban lama.

Itu bukan bayangannya.

Danur belum sempat menarik langkah ketika sesuatu yang lebih mengganggu terjadi. Di samping bayangan itu, muncul bayangan lain.

Bayangan kedua.

Bayangan itu tidak terhubung dengan tubuhnya. Ia berdiri sendiri, terpisah, namun jelas berbentuk manusia. Lebih pekat, lebih tegas, dan terasa lebih nyata dibandingkan bayangan pertama. Anehnya, justru bayangan kedua itulah yang bergerak.

Ia bergeser perlahan ke depan.

Bayangan Danur sendiri tetap diam.

Setiap langkah Danur selanjutnya menciptakan jarak yang aneh. Tubuhnya bergerak, tetapi bayangannya tertinggal, sementara bayangan kedua justru berjalan mendahuluinya. Seolah setiap langkah yang ia ambil meninggalkan sesuatu di belakang, dan sesuatu yang lain mengajaknya maju.

Danur merasakan napasnya memburu. Nalurinya memerintahkan untuk berhenti, tetapi kakinya bergerak mengikuti bayangan kedua itu. Ada dorongan yang sulit dijelaskan, seperti panggilan yang sudah lama menunggu.

Bayangan kedua itu berjalan menuju ruang depan, lalu berhenti. Ia menoleh, atau setidaknya bayangannya membentuk gerakan seperti menoleh. Lalu ia bergerak lagi, memastikan Danur mengikutinya.

Danur berjalan perlahan. Setiap langkah terasa tidak wajar. Ia merasa seperti meninggalkan bagian dari dirinya sendiri di belakang. Ketika ia melirik ke lantai, bayangannya masih tertinggal, tidak mengikuti, seperti sesuatu yang telah dipisahkan.

Bayangan kedua itu berhenti di dekat rak buku kecil di samping pintu depan. Rak yang jarang disentuh Danur. Rak yang menyimpan buku buku lama peninggalan ayahnya.

Ayah Danur adalah seorang jurnalis kriminal. Pria itu menghabiskan hidupnya mengejar kasus kasus yang tidak pernah benar benar selesai. Ia meninggal beberapa tahun lalu, meninggalkan catatan catatan yang sebagian besar tidak pernah dibaca Danur. Ada jarak yang tidak pernah terjembatani antara mereka, dan Danur memilih menyimpannya sebagai bagian dari masa lalu.

Bayangan kedua itu menunduk, lalu menunjuk salah satu buku di rak tersebut.

Buku catatan tipis berwarna cokelat kusam.

Danur meraih buku itu dengan tangan gemetar. Debu menempel di jarinya. Ia membuka halaman pertama. Kertasnya menguning, tetapi tulisannya masih jelas. Di dalamnya terselip beberapa potongan kertas dan kliping koran lama.

Ia membaca judul salah satu kliping itu.

Kasus yang sama dengan yang sedang ia telusuri di kantor.

Nama saksi yang hilang itu tercetak jelas. Foto hitam putihnya terlihat buram, tetapi wajahnya masih bisa dikenali. Di sudut kliping terdapat catatan tangan ayahnya. Tanggal. Lokasi. Pertanyaan yang belum dijawab.

Danur membuka halaman lain. Ia menemukan catatan tentang tekanan dari pihak tertentu. Tentang ancaman yang tidak pernah dilaporkan. Tentang seorang saksi yang terakhir terlihat berjalan pulang pada malam hari dan tidak pernah sampai.

Ketika Danur mengangkat kepala, bayangan kedua itu berdiri tepat di hadapannya. Bentuknya kini lebih jelas. Ia tidak memiliki wajah, tetapi sikap tubuhnya menunjukkan sesuatu yang berat. Seperti seseorang yang menunggu terlalu lama.

Danur merasakan pemahaman itu datang perlahan, tetapi pasti. Bayangan itu bukan sekadar penampakan. Ia adalah jejak. Ia adalah sisa dari seseorang yang tidak pernah mendapatkan keadilan. Seseorang yang mati membawa pertanyaan.

Bayangan itu tidak marah. Ia tidak mengancam. Ia hanya menunggu.

Danur tahu, tanpa perlu diberi penjelasan, bahwa kasus itu tidak menghilang dengan sendirinya. Seseorang menghilangkannya. Dan orang itu belum pernah dimintai pertanggungjawaban.

Bayangan kedua itu mulai memudar. Namun kali ini Danur tidak merasa lega. Ia justru merasakan beban baru bertengger di dadanya. Ia memahami bahwa bayangan itu tidak akan benar benar pergi.

Karena kini, ia telah melihatnya.

Dan ia tahu, tidak ada orang lain yang akan menyelesaikan apa yang telah lama ditinggalkan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca