Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Labirin Manipulasi: Kebangkitan Andro

Labirin Manipulasi: Kebangkitan Andro

Coach Inne | Bersambung
Jumlah kata
142.2K
Popular
100
Subscribe
5
Novel / Labirin Manipulasi: Kebangkitan Andro
Labirin Manipulasi: Kebangkitan Andro

Labirin Manipulasi: Kebangkitan Andro

Coach Inne| Bersambung
Jumlah Kata
142.2K
Popular
100
Subscribe
5
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeUrbanIdentitas TersembunyiThriller
Andro terjebak dalam pusaran komunitas NPD Survivor yang radikal. Di tengah hoaks dan manipulasi emosi digital, ia berjuang membongkar industri kemarahan demi menemukan kebenaran psikologis yang menenangkan dan objektif.
Di Ambang Layar yang Berteriak

Cahaya biru dari layar ponsel terpantul di lensa kacamata Andro, menciptakan bayangan dingin di wajahnya yang kaku. Jam dinding menunjukkan pukul 02.15 pagi. Di apartemennya yang sunyi, hanya ada suara dengung kulkas tua dan detak jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Udara malam Jakarta yang lembap terasa menyesakkan, seolah ikut menekan dadanya yang kian sempit.

​Di depannya, sebuah video TikTok sedang diputar ulang untuk kesepuluh kalinya. Seorang wanita dengan riasan tajam dan latar belakang pencahayaan dramatis menatap lurus ke kamera. Musik latar belakangnya mencekam—frekuensi rendah yang dirancang khusus untuk memicu respon fight-or-flight pada sistem saraf manusia.

​"Ciri-ciri dia seorang Narsistik!" suara wanita itu menggelegar, penuh penekanan di setiap suku kata. "Jika dia diam saat kamu marah, itu silent treatment. Jika dia membela diri, itu gaslighting. Jika dia pergi, itu discarding. Ingat, mereka bukan manusia, mereka adalah predator tanpa jiwa yang memakai kulit manusia!"

​Andro memejamkan mata sejenak. Di layar, logo sebuah komunitas terpampang jelas: Garda Empati.

​Nama itu terdengar sangat mulia. Sebuah benteng bagi mereka yang terluka. Namun bagi Andro, setiap kali dia melihat konten dari Garda Empati, dia tidak merasakan kesembuhan. Dia merasakan hawa perang. Kolom komentar di bawah video itu meledak layaknya sarang lebah yang disodok galah.

​“Relate banget! Mantanku persis iblis yang Kakak ceritakan!” tulis salah satu akun.

“Garda Empati benar-benar penyelamatku. Tanpa konten ini, aku masih terjebak dengan monster itu,” sahut yang lain.

“Kalau ada yang tidak setuju dengan video ini, fiks dia juga NPD!” Andro menghela napas panjang, meletakkan ponselnya dengan kasar di meja kayu yang lecet. Sudut meja itu tanpa sengaja menyentuh bekas luka kecil di punggung tangannya—sebuah pengingat fisik dari masa lalu yang ingin dia kubur. Dua tahun lalu, Andro adalah korban dari narasi serupa. Hubungannya dengan mantan kekasihnya kandas karena ketidakharmonisan yang wajar dalam sebuah relasi. Namun, segalanya berubah menjadi neraka saat sang mantan bergabung dengan Garda Empati. Dalam semalam, Andro berubah dari "pria yang sedang berproses" menjadi "predator berbahaya".

​Tanpa diagnosa klinis, tanpa observasi medis, hanya berdasarkan video berdurasi 60 detik, Andro diberi label: Narsistik. Dampaknya sistematis. Teman-temannya menjauh seolah dia mengidap wabah. Kariernya sebagai jurnalis investigasi nyaris hancur karena kampanye pembunuhan karakter di media sosial yang dimotori oleh anggota Garda Empati. Mereka bergerak seperti pasukan semut; kecil, namun jumlahnya ribuan dan gigitannya sanggup melumpuhkan gajah.

​"Mereka tidak sedang menyembuhkan," gumam Andro pada kegelapan ruangan. "Mereka sedang memproduksi emosi kolektif."

​Andro berdiri, melangkah menuju jendela yang menghadap lampu-lampu kota yang mulai redup. Sebagai pria yang mendalami psikologi secara otodidak untuk memulihkan namanya sendiri, dia melihat fenomena Garda Empati berada di wilayah abu-abu yang berbahaya. Niat awalnya mungkin baik; memberi bahasa pada pengalaman yang tak terdefinisi. Validasi adalah obat yang candu. Namun, masalah muncul saat emosi dijadikan alat utama edukasi. Visual marah, nada meledak-ledak, dan framing "Kita vs Mereka" mungkin membuat konten mereka viral, tapi itu justru mengunci para korban dalam mode bertahan hidup yang permanen.

​Garda Empati sedang membangun penjara baru dengan dinding yang terbuat dari kemarahan. Mereka menyederhanakan fenomena psikologis yang kompleks menjadi hitam dan putih. Seolah-olah setiap orang yang tersinggung adalah korban suci, dan setiap orang yang membuat mereka tidak nyaman adalah monster yang harus dibasmi.

​Andro mengambil sebuah buku catatan kusam dari laci mejanya. Di halaman pertama, dia menuliskan satu judul besar: LABIRIN MANIPULASI.

​Dia tahu risiko yang diambilnya. Menyinggung Garda Empati sama saja dengan mengundang badai. Komunitas itu sangat reaktif. Siapa pun yang mencoba memberikan edukasi yang lebih tenang dan presisi akan langsung diserang dengan tuduhan "membela pelaku" atau "kurang empati". Mereka telah menciptakan sistem di mana kritik adalah bukti kesalahan.

​Andro kembali menarik kursi kerjanya, suara gesekan kayu dengan lantai parket terdengar nyaring di keheningan malam. Ia kembali menatap layar ponsel yang masih menyala. Algoritma media sosial seolah tahu apa yang sedang ia pikirkan; video berikutnya muncul, masih dari akun terafiliasi Garda Empati. Kali ini, seorang pria dengan suara bariton yang dibuat-buat berat memberikan ceramah tentang "Tanda-Tanda Kamu Sedang Dihancurkan secara Perlahan."

​Andro memperhatikan transisi videonya—setiap tiga detik ada perubahan gambar yang cepat, teks berwarna merah menyala yang berkedip, dan suara dentuman bass yang menghentak. "Secara psikologis," gumam Andro, "ini adalah serangan terhadap amygdala."

​Ia tahu persis teknik ini. Konten seperti ini tidak dirancang untuk membuat orang berpikir jernih. Sebaliknya, visual dan audio tersebut dirancang untuk mengaktifkan sistem saraf simpatik—membuat penontonnya merasa dalam bahaya. Saat penonton merasa terancam, mereka akan mencari perlindungan. Dan di sanalah Garda Empati berdiri sebagai "penyelamat" semu.

​Andro teringat percakapannya dengan seorang psikolog klinis senior setahun lalu.

Sang psikolog berkata, "Andro, luka yang benar-benar sembuh itu suaranya tenang. Kalau seseorang masih harus berteriak-teriak untuk membuktikan bahwa orang lain jahat, itu artinya lukanya masih basah, atau sengaja dibuat agar tidak pernah kering."

​Garda Empati adalah mesin yang menjaga agar luka ribuan orang tetap basah. Andro mengingat bagaimana ia melihat seorang remaja di kolom komentar yang bertanya dengan polos: "Kak, apakah ibuku yang suka memarahi aku kalau aku telat pulang itu juga NPD?" Dan jawaban dari admin Garda Empati sangat mengerikan: "Kemungkinan besar iya. Ingat, narsistik tidak punya empati pada kebebasan anaknya. Kamu harus segera cut-off!"

​Generalisasi yang sembrono seperti itu bisa menghancurkan tatanan keluarga tanpa dasar medis yang kuat. Bagi audiens awam, pesan yang terserap sangatlah hitam-putih. Andro bangkit, merasa perlu menyeduh kopi pahit untuk mengusir rasa mual. Di dapur kecilnya, ia memandangi pantulan dirinya di pintu lemari es. Matanya terlihat lelah. Dulu ia ceria, namun kini label "Narsistik" menempel di dahinya. Bahkan ibunya sendiri sempat ragu untuk meneleponnya, takut kalau-kalau putranya benar-benar "monster tanpa jiwa".

​"Mereka menciptakan musuh eksternal agar mereka merasa benar secara kolektif," bisik Andro.

​Ia kembali ke meja kerjanya, membawa secangkir kopi yang mengepul. Ia membuka laptopnya dan mulai masuk ke basis data lama miliknya. Sebagai jurnalis investigasi, ia ingin melihat siapa sebenarnya di balik akun-akun besar yang menyokong Garda Empati. Hasil awalnya mengejutkan. Banyak dari akun-akun tersebut terhubung ke satu server yang sama. Ada pola hitung-hitungan di balik setiap teriakan "empati" mereka. Visual marah dan nada meledak-ledak itu adalah komoditas.

​Andro menuliskan poin penting lainnya di buku catatannya: Replikasi Dinamika.

Tanpa sadar, konten-konten reaktif dari Garda Empati meniru pola yang sedang mereka kritik. Mereka melakukan generalisasi, melakukan shaming, dan melakukan validasi lewat kemarahan. Mereka menjadi cermin dari monster yang mereka coba lawan.

​Notifikasi Telegram-nya kembali berbunyi. Sebuah foto tangkapan layar dari sebuah akun edukasi lain—akun yang mencoba menyebarkan pesan perdamaian dan diagnosa yang presisi—dikirim ke grup Garda Empati - Ring 1. Admin 'V' menulis: "Ini adalah pembela predator. Dia bilang kita harus tenang? Dia tidak tahu rasa sakit kita! Besok jam 7 malam, kita serbu postingan terbarunya. Gunakan kata kunci: 'Pembela NPD' dan 'Gaslighter'. Biar dia tahu rasa!"

​Andro merasakan gelombang dingin menjalar di punggungnya. Akun yang mereka targetkan adalah milik seorang konselor yang Andro kenal—seorang yang benar-benar ingin menyembuhkan, bukan memprovokasi. Ia tahu, jika ia hanya diam, ia juga bersalah. Namun, ia harus menjadi penyusup yang sempurna. Ia harus belajar bicara seperti mereka sebelum ia bisa menarik tirai yang menutupi kebusukan di baliknya.

​Andro menyesap kopinya yang mulai dingin. Ia mulai mengetik pesan pertamanya di grup Telegram tersebut, menggunakan akun samaran bernama 'Surya_Survivor'.

​"Setuju, Kak V. Aku sudah lama muak dengan edukasi-edukasi lembek yang tidak memihak korban. Aku siap ikut pembersihan besok malam. Apa perintah selanjutnya?"

​Sebuah balasan instan muncul dengan simbol api. "Selamat bergabung, Surya. Kamu sudah berada di jalan yang benar. Di sini, hanya kemarahan kita yang valid."

​Andro meletakkan ponselnya. Hatinya terasa berat. Ia baru saja menjual jiwanya demi masuk ke neraka dan memadamkan apinya dari dalam. Ia tahu, konten yang benar-benar menyembuhkan biasanya terasa lebih tenang, lebih presisi, dan tidak butuh teriakan.

​Malam semakin larut, namun bagi Andro, fajar kebenaran masih jauh. Ia akan menjadi saksi bagaimana sebuah luka kolektif diubah menjadi senjata pemusnah massal oleh mereka yang menyebut diri sebagai "Garda Empati".

​"Babak pertama," bisik Andro pada sunyi. "Dimulai sekarang."

​Ia mematikan lampu apartemennya. Hanya menyisakan pendar redup dari layar laptop yang menampilkan daftar target Garda Empati. Di baris paling bawah, ia melihat namanya sendiri masih terdaftar sebagai "Predator Kelas A" yang harus dipantau. Andro tersenyum tipis. Mereka tidak tahu bahwa "predator" yang mereka cari kini sedang duduk di tengah-tengah mereka, menunggu saat yang tepat untuk membongkar labirin manipulasi yang telah mereka bangun dengan rapi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca