

"Guru Aksara, akhirnya datang juga."
Pria berpeci putih itu menunduk hormat dan membuka jalan pada sang pemuda tampan di hadapannya. Aksara mengangguk kecil, segera melangkah masuk ke dalam rumah dengan diikuti sang empunya.
Dia menoleh ke sekeliling.
Mesin penyemprot pewangi ruangan berada dimana-mana, akan otomatis menyala tiap lima menit sekali. Anehnya, bau busuk itu masih saja mampu menembus hidung Aksara.
Pemuda itu melangkah lebih dalam. Melihat kamar mandi—ugh, ada gumpalan rambut yang terlihat di saringan lubang pembuangan airnya. Dan dapurnya—ah, westafelnya juga kotor. Bahkan air penuh lemak juga menggenang disana.
'Gila, sih. Ini westafel atau kolam lemak?' batinnya.
Aksara tersenyum kecil. Melihat penampakan ini, sudah cukup baginya mengerti alasan masalah yang kliennya ini hadapi.
"Jadi bagaimana, Guru Aksara?" Tanya Pak Syafrudin.
Dia dan keluarganya telah terganggu dengan bau busuk yang tiba-tiba muncul selama seminggu terakhir. Mereka sudah mencoba menghilangkannya dengan memasang banyak pewangi dimana-mana, tapi tetap saja bau busuk itu masih tercium.
Aksara tersenyum dengan penuh wibawa sambil menatap pria tua itu. Dia tahu hal ini sebenarnya hanya masalah pembuangan akhir yang kemungkinan macet karena sampah dan semacamnya, tapi—
"Ada hantu wanita berlendir pembawa bau busuk yang berada di rumah ini. Kita harus melakukan ritual pengusiran hantu kalau mau rumah ini kembali seperti semula, Pak." Jawab Aksara dengan percaya diri.
Duar!
Jawaban ngasal yang jelas sekali penuh tipuan.
Namun seolah sudah menebak hal itu, Pak Syafrudin langsung mengomel-ngomel. Dia sudah menduga bahwa ini pasti ulah setan yang berada di rumahnya. Kalau tidak, mana mungkin rumahnya tiba-tiba bau busuk—padahal dia sudah memakai pewangi mahal kiriman anaknya yang bekerja di luar negeri.
"Kalau begitu saya minta tolong, Guru Aksara. Bagaimanapun caranya, tolong usir setan wanita itu!" Pinta Pak Syafrudin.
"Tenang, Pak. Saya pasti bantu. Tapi, maharnya..."
Aksara berpura-pura merasa tidak enak. Melihat hal itu, tanpa pikir panjang Pak Syafrudin memberinya segepok uang yang terbungkus dalam amplop berwarna coklat. Entah berapa banyak isinya, yang jelas cukup berat hingga membuat Aksara menelan ludah. Dia senang tak terkira.
"Masalah mahar, jangan khawatir. Saya pasti bayar. Kalau kurang, Guru bisa minta lagi nantinya." katanya.
Aksara bersorak dalam hati. Rejeki nomplok ini namanya!
"Aduh, saya jadi merasa enggak enak, Pak..." katanya pura-pura.
"Enggak perlu sungkan, Guru Aksara. Anggap saja ini sebagai uang muka dari saya."
Semakin senanglah hati pemuda itu. Inilah tipe klien yang paling dia suka. Tidak banyak tanya, tidak banyak menuntut, langsung bayar tanpa ribut.
"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu. Besok baru saya datang kembali, karena ada beberapa barang yang harus saya ambil untuk keperluan ritual pengusiran hantu ini." katanya.
Pak Syafrudin mengantarnya keluar dengan sopan. Setelah berpamitan, Aksara akhirnya meninggalkan rumah itu dengan senyum lebar yang mengembang di wajahnya.
Aksara Reksabumi, pemuda berusia 28 tahun. Lulusan sarjana, tapi sulit mendapat pekerjaan. Pengangguran akut yang stress dan hampir menjadi gila karena selalu ditolak tiap kali melamar pekerjaan.
Suatu hari terjadi kemalingan di desanya. Karena kemampuannya yang cukup baik dalam menilai situasi, Aksara tanpa sengaja bisa membongkar pelaku pencurian yang sebenarnya.
Lalu, seorang warga bertanya, "Apa kamu seorang cenayang?"
Aksara tahu dia sebenernya tidak punya kemampuan itu. Jangankan cenayang, melihat sekelebat bayangan hantu pun dia tidak pernah. Tapi, karena dia tiba-tiba melihat prospek kerja yang menguntungkan dari bisnis ini...
"Ya, Pak. Sebenarnya saya ini seorang cenayang." katanya saat itu.
Hebohlah satu kampung mendengar hal itu.
Apalagi, di Desa Kembang Sari yang terletak di pinggiran kota ini, kebanyakan warganya masih percaya akan takhayul. Jadi, Aksara bisa memanfaatkan hal ini untuk kepentingannya sendiri dan meraup pundi-pundi rupiah dengan menjadi dukun palsu.
Walau tentunya, dia memang harus pandai-pandai dalam menyelesaikan permasalahan warga. Kalau tidak? Bisnisnya tidak akan jalan.
"Satu, dua, tiga..."
Sembari berjalan, aksara menghitung lembaran uang merah dalam amplop yang Pak Syafrudin berikan. Senyumnya semakin mengembang. Gila, belum apa-apa saja dia sudah mendapat lima juta. Setelah pekerjaannya selesai, mungkin dia bisa minta nominal lebih?
"Aku kaya! Hahaha—"
DUAR!
Baru saja pria itu tertawa kegirangan melihat uang ditangannya, tiba-tiba sebuah petir menyambar tubuhnya tanpa peringatan. Tubuh Aksara jatuh ke lantai, kejang-kejang dengan wajah menggosong dan rambut yang mengeriting.
Aksara menatap kegelapan malam yang sebenarnya tak menunjukkan tanda-tanda akan hujan sama sekali. Langit seolah hanya ingin mengejeknya dan berkata :
"Tidak semudah itu, bosku~"
Ah, padahal dia hampir jadi orang kaya.
***
"Hei, sudah mati kah dia?"
Aksara tidak bisa membuka matanya, apalagi menggerakkan tubuh. Dia hanya memejamkan mata sembari terus berbaring di atas tanah. Aroma wangi bedak dari masa lampau tercium samar—sudah tentu bukan dari tubuhnya yang menggosong.
"Entahlah, tapi kayaknya masih bernapas."
Tepukan lembut—seperti kaki kucing—menyentuh pipinya.
“Meong… bangunlah… meong…”
Itu seperti suara kucing, tapi... kenapa kucing itu sepertinya bisa berbicara?
Aksara sebenarnya penasaran, tapi sayangnya matanya tidak bisa terbuka. Dia terlalu lemah, sudah seperti ayam krispi yang digoreng hingga hangus karena terkena sambaran petir tadi—kaku.
"Woi, bangun!"
Aksara tetap memejamkan matanya.
"WOI!"
"Ohok!"
Tak berhasil membangunkannya dengan cara lembut, orang tersebut tiba-tiba meninju perut Aksara dengan keras. Dia pun akhirnya terbangun sambil setengah muntah.
Sialan, siapa yang membangunkan orang pingsan dengan cara seperti itu?!
"Kan, benar. Belum mati dia." kata pria yang barusan meninju perutnya.
Aksara menatap tiga sosok di hadapannya; seorang pria berperawakan tinggi besar yang menyeramkan, seorang wanita berpakaian tradisional dengan wajah yang mengeriput, dan seekor kucing hitam dengan mata hijau.
Aneh, padahal dia kenal seluruh warga di Desa Kembang Sari tercintanya ini. Tapi kenapa kedua orang itu tidak dia kenali sama sekali?
"Siapa kalian? Ugh..." dia mengusap-usap perutnya yang mulas karena terkena tinjuan tadi.
Sebuah layar tiba-tiba muncul di hadapannya. Angka-angka berwarna merah menyala itu seperti peringatan berbahaya bagi dirinya. Dia tidak mengerti apa itu, tapi...jujur saja. Itu tampak seperti jendela sistem yang biasanya muncul di film-film.
[STATUS KARMA : TERIKAT (SANKSI MUTLAK)]
[KESEIMBANGAN SAAT INI : -10.000.000 PKK]
[TUJUAN PEMBEBASAN : 0 PKK]
[KONSEKUENSI KEGAGALAN : SANKSI KARMA INSTAN DAN PENGHAPUSAN EKSISTENSI ASTRAL]
Aksara menggaruk tengkuk leher, bingung. Dia benar-benar tak paham dengan maksud tulisan tersebut.
"Kamu sudah lihat? Itu namanya PKK. Poin Keseimbangan Karma." kata Pria dihadapannya itu, seolah mengerti kebingungannya.
Aksara menatapnya, semakin bingung.
"Maksudnya?"
Kedua orang tersebut menyilangkan tangan di depan dada, menatapnya dengan ekspresi yang mengintimidasi dan menakutkan.
"Kami adalah para arwah yang pernah kamu fitnah, dan kamu—dukun palsu, harus membayar utang karma karena sudah menyalahkan kami selama ini!" kata pria itu.
Mata Aksara melebar. Dia menatap mereka dengan syok. Arwah, katanya?
"Ka-Kalian... jadi kalian arwah, bukan manusia?" tanyanya syok.
Karena jujur saja, mereka ini... terlalu nyata untuk disebut sebagai arwah.
***