Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Contract Of The Fallen Lord

Contract Of The Fallen Lord

FillaniPutri | Bersambung
Jumlah kata
32.9K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / Contract Of The Fallen Lord
Contract Of The Fallen Lord

Contract Of The Fallen Lord

FillaniPutri| Bersambung
Jumlah Kata
32.9K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
FantasiSci-FiSupernaturalIblisKutukan
Azrael Kaiven adalah iblis agung yang hidup dari kontrak jiwa manusia. Selama ratusan tahun, ia tak pernah gagal, tak pernah ragu, dan tak pernah melanggar hukum Neraka.Hingga ia bertemu Elara.Seorang gadis yang tidak meminta kekayaan, kekuasaan, atau keabadian.Ia hanya meminta perlindungan. Tanpa bayaran. Tanpa jiwa.Kontrak yang seharusnya mustahil justru mengikat mereka dalam ikatan terlarang. Ketika Azrael mulai kehilangan kekuatannya, Neraka pun bergerak. Karena cinta adalah dosa terbesar bagi iblis.Elara bukan manusia biasa. Darahnya menyimpan segel kuno yang mampu membuka atau menghancurkan gerbang Neraka. Dan sebuah ramalan terhapus mulai terwujud. Seorang iblis agung akan jatuh… demi cinta.Saat dunia menuntut keseimbangan, Azrael harus memilih.Kekuasaan abadi atau perempuan yang telah mencuri hatinya.Karena ketika iblis memilih cinta,seluruh dunia akan berubah.
Kontrak Yang Mustahil

Azrael Kaiven selalu datang tepat waktu.

Api hitam menyala di lantai apartemen sempit itu, membentuk lingkaran sihir yang sempurna. Simbol-simbol kuno berdenyut pelan, merespons pemanggilan yang baru saja selesai. Udara bergetar, aroma besi dan belerang memenuhi ruangan.

Azrael melangkah keluar dari api dengan tenang.

Tubuhnya tinggi dan ramping, dibalut jas hitam yang tampak terlalu rapi untuk dunia manusia. Rambut hitamnya jatuh sedikit menutupi mata merah gelap yang tak pernah menunjukkan emosi. Wajahnya tampan dengan cara yang dingin, seperti patung yang diciptakan untuk disembah, bukan dicintai.

Ia menatap gadis di hadapannya.

Manusia.

Perempuan muda itu berdiri kaku di dekat meja kecil. Tangannya gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya. Lilin-lilin ritual masih menyala di sekeliling ruangan, meski nyalanya tidak stabil.

Azrael menghela napas pelan.

“Nama pemanggil,” katanya datar.

Gadis itu menelan ludah. “Elara.”

Nama itu tidak istimewa. Tidak memicu reaksi apa pun di dalam dirinya. Azrael telah mendengar ribuan nama manusia selama berabad-abad. Nama hanya data. Tidak lebih.

“Permintaan,” lanjutnya.

Elara terdiam terlalu lama.

Azrael melirik jam saku yang muncul di tangannya, simbol waktu kontrak. Ia tidak menyukai keterlambatan.

“Waktumu terbatas,” ujarnya dingin.

Elara mengangkat wajahnya. Matanya cokelat, jernih, namun menyimpan ketegangan yang aneh. Bukan keserakahan. Bukan ketakutan akan kematian. Ada sesuatu yang lain.

“Aku ingin perlindungan,” katanya akhirnya.

Azrael mengerutkan kening. “Spesifik.”

“Lindungi aku,” Elara mengulang, suaranya lebih tegas. “Dari siapa pun yang mencoba menyakitiku.”

Itu permintaan yang lazim. Terlalu lazim.

“Durasi,” tanya Azrael.

Elara ragu sejenak. “Selama aku hidup.”

Azrael mencatatnya tanpa ekspresi. “Pembayaran.”

Gadis itu menggeleng.

Api di lingkaran sihir bergetar.

Azrael perlahan mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya, matanya menyempit. “Setiap kontrak membutuhkan pembayaran.”

“Aku tidak akan membayar dengan jiwaku,” kata Elara cepat. “Dan aku tidak punya harta atau kekuasaan yang layak untukmu.”

“Kalau begitu kontrak ini batal,” jawab Azrael tanpa ragu.

Ia berbalik, bersiap kembali ke Neraka.

“Tidak,” Elara berkata keras.

Langkah Azrael terhenti.

Ia menoleh, tatapannya tajam. “Kau tidak punya posisi untuk menolak.”

Elara mengepalkan tangannya. “Aku tahu.”

Nada suaranya berubah. Tidak memohon. Tidak putus asa.

Mengetahui.

Azrael merasakan sesuatu bergetar di dalam lingkaran sihir. Sangat halus, hampir tak terasa. Seperti retakan kecil di hukum lama.

“Aku meminta perlindungan,” Elara melanjutkan. “Tanpa pembayaran. Tanpa jiwa. Tanpa pertukaran.”

Keheningan jatuh.

Lilin-lilin berkedip keras, nyalanya hampir padam.

Azrael menatap simbol kontrak yang muncul otomatis di udara. Tulisan merah darah berputar, menunggu isi perjanjian. Namun kolom pembayaran kosong.

Seharusnya kontrak itu runtuh.

Namun tidak.

Simbolnya tetap stabil.

Jantung Azrael berdetak sekali. Sangat lambat.

Itu mustahil.

“Hentikan ritual ini,” katanya rendah. “Sekarang.”

Elara menggeleng. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

Karena sejak awal, bukan aku yang memanggilmu.

Jawaban itu tidak terucap, namun Azrael merasakannya.

Lingkaran sihir menyala lebih terang.

Kontrak itu menutup sendiri.

Cahaya menyambar, menghantam dada Azrael.

Ia terhuyung satu langkah ke belakang.

Rasa sakit menembus tubuhnya, tajam dan asing. Bukan luka fisik. Sesuatu yang lebih dalam.

Ikatan.

Azrael menunduk, napasnya tertahan. Simbol merah kini terukir samar di kulit pergelangan tangannya.

Kontrak telah aktif.

Tanpa pembayaran.

Tanpa persetujuan penuh.

Tanpa izin Neraka.

Elara terjatuh berlutut, terengah. “Apa yang terjadi?”

Azrael mengangkat wajahnya perlahan. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ada ketegangan di matanya.

“Kau baru saja melanggar hukum tertua,” katanya pelan.

“Aku tidak bermaksud,” Elara berbisik.

“Itu tidak relevan.”

Ia merasakan kekuatannya berdenyut tidak stabil. Api Neraka di dalam dirinya melemah sepersekian detik, lalu kembali. Namun retakan itu nyata.

Seseorang sedang mengamati.

Jauh di Neraka, lonceng pengawas berdentang.

Azrael menatap Elara lama. Terlalu lama untuk seorang iblis.

“Mulai sekarang,” katanya dingin, meski suaranya terdengar berbeda, “kau berada di bawah perlindunganku.”

Elara menatapnya dengan mata gemetar. “Dan kau?”

Azrael mengepalkan tangannya, menahan rasa nyeri yang kembali muncul.

“Aku,” katanya, “baru saja menjadi bagian dari kontrak yang seharusnya tidak pernah ada,” ujarnya pelan.

Ruang apartemen itu terasa semakin sempit.

Azrael berdiri tegak di tengah lingkaran sihir yang mulai memudar. Api hitam perlahan mengecil, meninggalkan bekas hangus di lantai kayu. Lilin-lilin satu per satu padam, menyisakan asap tipis yang menggantung di udara.

Elara masih berlutut, kedua tangannya menopang tubuhnya yang gemetar. Napasnya tersengal, seolah ritual itu telah menguras seluruh energinya.

Azrael melangkah keluar dari lingkaran dengan gerakan terkendali. Setiap langkah terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Ia tidak menunjukkannya, tetapi sensasi asing itu terus menekan dadanya.

Ia berhenti di depan Elara.

“Berdiri,” perintahnya.

Elara mengangkat wajahnya perlahan. “Aku… kakiku lemas.”

Azrael menghela napas pendek, lalu mengulurkan tangan. Kontak kulit terjadi saat jari Elara menyentuh telapak tangannya.

Seketika itu juga, sesuatu menyambar melalui ikatan kontrak.

Azrael tersentak.

Bukan rasa sakit.

Ingatan.

Ia menarik tangannya secepat mungkin, matanya menyipit. Di kepalanya terlintas kilasan singkat. Lorong gelap. Langkah kaki yang mengikuti. Napas tertahan karena ketakutan.

Itu bukan miliknya.

“Elara,” katanya tajam. “Apa yang kau sembunyikan?”

Elara berdiri dengan bantuan meja di sampingnya. Wajahnya pucat. “Aku tidak tahu maksudmu.”

“Kau baru saja mentransfer memori emosional melalui ikatan kontrak,” ujar Azrael. “Manusia biasa tidak bisa melakukan itu.”

Elara menggeleng panik. “Aku tidak melakukan apa pun. Aku bahkan tidak tahu ritual ini akan berhasil.”

Azrael mengamatinya dengan saksama. Detak jantungnya cepat, tapi bukan karena kebohongan. Tidak ada pola penipuan. Ketakutannya nyata.

Itu justru membuat segalanya semakin buruk.

“Siapa yang memberimu lingkaran sihir ini?” tanya Azrael.

“Tidak ada,” jawab Elara cepat. “Aku menemukannya. Di buku tua milik ibuku.”

“Di mana buku itu sekarang?”

Elara menunjuk rak kecil di sudut ruangan. Azrael bergerak cepat, mengambil buku bersampul hitam itu. Begitu jari-jarinya menyentuh permukaannya, simbol samar muncul lalu menghilang.

Ini bukan buku manusia.

Azrael membuka halaman tengah. Tulisan di dalamnya bukan bahasa Neraka, namun jauh lebih tua. Lebih dalam.

Ia menutup buku itu dengan keras.

“Kau hidup dalam bahaya,” katanya.

Elara menatapnya bingung. “Karena kontrak ini?”

“Bukan,” jawab Azrael pelan. “Karena kau.”

Seolah menjawab ucapannya, suara langkah kaki terdengar dari lorong luar apartemen. Sangat pelan, tapi jelas.

Azrael menoleh ke arah pintu.

Ada kehadiran lain.

Ia mendorong Elara ke belakangnya secara refleks. “Diam.”

Ketukan terdengar.

Satu kali.

Pelan.

Elara menahan napas. “Aku tidak menunggu siapa pun.”

Azrael menajamkan indranya. Energi di balik pintu itu tidak sepenuhnya manusia. Namun juga bukan iblis.

Menarik.

Ketukan kedua terdengar, kali ini lebih keras.

“Buka pintunya, Elara,” suara di luar berkata ramah. Terlalu ramah.

Elara mematung. “Aku tidak mengenalnya.”

Azrael mendekat ke pintu, telapak tangannya menyentuh kayu. Ia merasakan sigil kecil terukir di sisi luar.

Pemburu kontrak.

Neraka bergerak lebih cepat dari yang ia perkirakan.

“Kau tetap di sini,” bisiknya pada Elara.

“Azrael, siapa dia?” tanya Elara lirih.

“Seseorang yang tidak seharusnya tahu keberadaanmu,” jawabnya.

Ketukan ketiga terdengar. Kali ini disertai desahan kesal.

“Elara,” suara itu berubah. “Kami hanya ingin bicara.”

Azrael membuka pintu sedikit.

Seorang pria berdiri di luar. Rambut pirang rapi, senyum tipis di bibirnya. Matanya biru, terlalu dingin untuk manusia.

Tatapan mereka bertemu.

Pria itu tersenyum lebih lebar. “Ah. Jadi benar. Iblis agungnya masih di sini.”

Azrael menegang. “Pergi.”

Pria itu melirik ke arah Elara di balik tubuh Azrael. “Tidak bisa. Dewan ingin bertemu gadis itu.”

Elara mundur selangkah. “Dewan apa?”

Azrael menutup pintu dengan keras, menyegel ruangan dengan satu gerakan tangan. Simbol perlindungan menyala, namun bergetar.

Ia menoleh pada Elara.

“Mulai detik ini,” katanya rendah, “kau tidak boleh sendirian.”

“Kenapa mereka menginginkanku?” Elara bertanya dengan suara pecah.

Azrael menatap simbol kontrak di pergelangan tangannya yang kembali menyala samar.

“Karena tanpa kau sadari,” ujarnya, “kau telah mengikat iblis yang salah.”

Ketukan keras kembali menghantam pintu, kali ini disertai tawa pelan dari luar.

“Azrael Kaiven,” suara itu memanggil. “Kontrakmu sedang diaudit.”

Azrael menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap Elara.

Tatapannya gelap dan tegas.

“Kita tidak punya banyak waktu,” katanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca