Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pria Miskin Yang Menolak Tunduk

Pria Miskin Yang Menolak Tunduk

mamiekbobo | Tamat
Jumlah kata
118.1K
Popular
188
Subscribe
49
Novel / Pria Miskin Yang Menolak Tunduk
Pria Miskin Yang Menolak Tunduk

Pria Miskin Yang Menolak Tunduk

mamiekbobo| Tamat
Jumlah Kata
118.1K
Popular
188
Subscribe
49
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifePria MiskinMengubah NasibHarem
SINOPSIS Pria Miskin Yang Menolak Tunduk Jaya adalah seorang pria tinggi dan kurus yang meskipun memiliki wajah yang sebenarnya tampan, terlihat tidak terawat akibat kondisi hidup yang sangat miskin. Setelah tempat tinggalnya digusur, dia terpaksa mengembara di jalanan Jakarta, mencari pekerjaan apa saja hanya untuk bisa makan. Namun, prinsip utamanya yang tidak bisa dinegosiasikan adalah menolak untuk tunduk pada siapa pun yang menghinanya atau memerintahkannya sesukanya. Saat menghadapi kelaparan yang mengancam, Jaya ditawari pekerjaan oleh seorang pria sombong untuk membantu mendorong truk yang terjebak, tapi penilaian dan penghinaan yang dilontarkan membuatnya memilih lapar ketimbang merendahkan diri. Beruntungnya, dia menemukan pekerjaan di lokasi konstruksi di mana kepala pekerja menghargai setiap orang dengan sama rata dan menerapkan aturan yang tidak mengizinkan penghinaan. Dengan tekad yang kuat dan harga diri yang tinggi, Jaya memulai perjuangannya untuk bertahan hidup tanpa harus mengorbankan martabatnya. Seiring berjalannya waktu, dia akan menghadapi berbagai ujian hidup, mulai dari kesulitan ekonomi, godaan untuk mengambil jalan pintas, hingga pertemuan dengan orang-orang yang akan menguji prinsipnya yang teguh. Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pria sederhana yang membuktikan bahwa kemiskinan tidak pernah menjadi alasan untuk merendahkan diri, dan harga diri adalah harta paling berharga yang tidak bisa pernah diambil dari seseorang.
Bab 1. Lumpur Dan Harga Diri

Hujan telah mengguyur Jakarta selama tiga hari berturut-turut. Genangan air menggenangi setiap lorong kumuh di Kampung Melayu, mencampurkan lumpur hitam dengan sampah yang terbawa arus.

Suhu udara terasa lembap dan menggantung di udara, membuat setiap napas terasa berat. Di sudut paling dalam pemukiman, di bawah terpal yang sobek dan ditancapkan dengan kayu-kayu bekas, seorang pria sedang meremas kain bajunya yang basah kuyup.

Namanya adalah Jaya. Hampir dua tahun sudah dia menghabiskan hidup di dunia yang selalu menginjak-injak martabatnya di kota metropolitan ini. Tubuhnya tinggi, hampir mencapai satu meter sembilan puluh, tapi tulang rusuknya tampak jelas menonjol di bawah kulit yang terbakar matahari dan sedikit mengelupas karena kurangnya perawatan.

Rambut hitamnya panjang dan kusut, tidak pernah disisir dengan benar karena tidak ada uang untuk membeli sisir yang layak. Mukanya penuh dengan bekas jerawat yang tidak kunjung hilang, dan kumis serta jenggot yang tumbuh liar tidak pernah dia cukur – bukan karena dia tidak mau, tapi karena tidak ada biaya untuk pergi ke tukang cukur atau membeli pisau cukur.

Wajahnya yang sebenarnya tampan terhalangi oleh kondisi hidup yang memaksa, membuat banyak orang hanya melihatnya sebagai seorang gelandangan yang tidak berharga.

“Sudah jam berapa ya?” bisiknya sambil melihat ke arah langit yang masih gelap kelabu.

Perutnya mengeluarkan suara dengung yang keras, mengingatkan dia bahwa sudah tiga hari tidak makan apa-apa. Sejak kontrakan tempat dia menyewa kamar kecil berukuran tiga kali empat meter dibongkar karena pemilik tanah ingin membangun ruko baru, Jaya tidak punya tempat tinggal tetap lagi.

Semua barang miliknya – hanya beberapa baju bekas, sepasang sandal karet yang sobek, dan foto kecil ibunya yang sudah pudar – kini tersimpan dalam karung bekas beras yang selalu dia bawa kemana-mana.

Dia berdiri perlahan, menyadari bahwa tubuhnya sudah mulai lemah karena kurangnya makanan. Kaki kanannya sedikit keseleo ketika terinjak batu tajam di tengah genangan lumpur, tapi dia tidak mengeluh.

Jaya sudah terbiasa dengan rasa sakit; itu adalah teman yang selalu menyertainya sejak kecil, ketika dia harus bekerja sebagai buruh tani di desa sebelum paksa pindah ke kota karena tanah ayahnya digusur perusahaan perkebunan.

“Sini, kau!” suara keras menerjang telinganya dari arah jalan raya yang lebih ramai.

Jaya menoleh dan melihat seorang pria gemuk dengan baju kemeja putih bersih berdiri di tepi jalan, sedang mengangkat dagunya dengan wajah yang menojok. Di sebelahnya ada sebuah truk yang muatannya adalah pasir beton, tampaknya terjebak di genangan air yang dalam di depan gerbang kampung.

“Kau tampak sepertinya tidak ada kerjaan. Tolong bantu dorong truk ini, aku beri kamu tigapuluh ribu rupiah,” ujar pria gemuk itu dengan nada yang seolah sedang menyuruh anjingnya.

Hati Jaya berdebar kencang. Tigapuluh ribu rupiah sudah cukup untuk membeli nasi putih dengan lauk sederhana selama dua hari. Dia segera berjalan menuju truk, tapi ketika sudah berdiri di sebelah pintu pengemudi, pria gemuk itu mulai bersuara lagi.

“Kalau tidak bisa dorong dengan baik, jangan harap aku beri uang! Dan jangan menyentuh baju ku dengan tanganmu yang kotor itu! Kau lihat saja, lumpur di tubuhmu seperti babi di kandang!” kata pria itu sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan.

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hati Jaya. Tubuhnya yang sudah siap untuk bekerja tiba-tiba membeku. Matanya yang tadinya penuh dengan harapan kini menyala dengan amarah yang dalam.

“Aku akan bantu dorong trukmu,” kata Jaya dengan suara yang tenang tapi penuh dengan tekanan. “Tapi jangan pernah lagi menyebut aku seperti itu. Aku bekerja dengan tangan ku, bukan menjadi hewan yang kau bisa hina sesukamu.”

Pria gemuk itu terkejut dengan tanggapan Jaya. Ia melihat wajah pria tinggi kurus itu, dan meskipun wajahnya tidak terawat dan tubuhnya penuh lumpur, ada sesuatu di mata Jaya yang membuatnya sedikit merasa tidak nyaman. Tapi rasa sombongnya segera menguasainya kembali.

“Hah! Seorang gelandangan seperti kamu berani membantah aku? Kalau tidak suka, ya silakan pergi! Banyak orang lain yang mau bekerja dengan harga lebih murah dan tidak mengeluh!” teriak pria itu dengan lebih keras lagi.

Jaya hanya menghela nafas perlahan. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dan mulai berjalan menjauh dari truk itu. Kaki nya terasa lebih berat dari sebelumnya, bukan karena lemah, tapi karena rasa sakit yang muncul dari penghinaan yang baru saja dia terima. Perutnya kembali mengeluarkan suara dengung, tapi dia tidak peduli. Lebih baik lapar daripada harus menerima penghinaan hanya untuk mendapatkan uang.

“Sialan! Bodoh sekali! Kau akan menyesal tidak menerima tawaranku!” teriak pria gemuk itu dari belakang, tapi Jaya tidak pernah menoleh.

Dia berjalan menyusuri lorong kumuh yang semakin suram karena hujan mulai turun lagi dengan derasnya. Air hujan menusuk kulitnya yang tipis, membuat dia menggigil. Tapi dia terus berjalan, mencari tempat yang bisa memberikan dia pekerjaan tanpa harus tunduk pada orang yang menghinanya.

Setelah berjalan selama hampir satu jam, dia sampai di sebuah lokasi pembangunan rumah tinggal di pinggir jalan. Beberapa pekerja sedang sibuk memasang besi beton dan mencampur semen. Di dekat gerbang lokasi berdiri seorang pria paruh baya dengan topi konstruksi, tampaknya adalah kepala pekerja.

“Pak,” ujar Jaya dengan suara yang sudah mulai serak karena kurangnya cairan dalam tubuh. “Apakah ada pekerjaan yang bisa aku lakukan di sini? Aku mau kerja apa saja, asalkan bisa mendapatkan uang untuk makan.”

Kepala pekerja itu melihat Jaya dari atas ke bawah. Dia melihat tubuh yang tinggi dan tulang yang menonjol, tapi juga melihat mata yang penuh dengan tekad.

“Kau punya pengalaman bekerja di konstruksi?” tanya kepala pekerja itu dengan nada yang netral.

“Tidak pak,” jawab Jaya jujur. “Tapi aku cepat belajar, dan aku bisa bekerja keras. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan jika diberikan pekerjaan.”

Kepala pekerja itu terdiam sejenak, kemudian melihat ke arah tempat pekerja lain sedang mencampur semen secara manual. “Baiklah. Kamu bisa membantu mencampur semen dan membawa batu bata dari truk ke lokasi kerja. Upahnya lima puluh ribu rupiah per hari. Bisa mulai sekarang?”

Jaya mengangguk dengan senyum kecil yang muncul di wajahnya. “Terima kasih pak. Aku akan bekerja dengan sebaik mungkin.”

“Satu hal lagi,” ucap kepala pekerja itu sebelum Jaya pergi ke lokasi kerja. “Kita bekerja dengan sama rata di sini. Semua pekerja dihargai sesuai dengan kerja mereka. Tidak ada yang boleh menghina yang lain, dan tidak ada yang boleh memerintah orang lain sesuka hati. Kalau ada yang melakukan itu, mereka akan keluar dari sini. Bisa kamu terima?”

Jaya melihat mata kepala pekerja itu yang penuh dengan keseriusan. Dia mengangguk dengan tegas. “Itu adalah aturan yang tepat pak. Aku sangat setuju.”

Dalam sekejap, Jaya sudah berada di tengah pekerja lain. Dia segera belajar cara mencampur semen dengan rasio yang tepat, membawa batu bata dengan jumlah yang banyak meskipun tubuhnya lemah, dan bekerja tanpa berhenti bahkan ketika hujan mulai turun lebih deras lagi. Beberapa pekerja lain melihatnya dengan rasa heran – seorang pria yang tampak seperti tidak pernah bekerja di konstruksi bisa bekerja dengan cepat dan tidak mengeluh sedikit pun.

Pada sore hari, ketika matahari mulai muncul sedikit dari balik awan gelap, kepala pekerja mendekati Jaya yang sedang beristirahat sebentar dengan menengadahkan air dari ember plastik.

“Kamu bekerja dengan baik,” ucap kepala pekerja itu dengan senyum. “Ini upah kamu untuk hari ini. Dan kalau kamu mau, bisa datang lagi besok. Kita butuh pekerja yang seperti kamu – kerja keras dan tidak mau menyerah.”

Jaya menerima uang kertas yang diberikan kepala pekerja dengan tangan yang gemetar. Lima lembar sepuluh ribu rupiah – sudah cukup untuk makan dengan kenyang dan bahkan menyisakan sedikit uang untuk membeli sabun serta sampo yang sudah lama dia butuhkan. Dia ingin berkata terima kasih dengan keras, tapi suara nya tercekik oleh rasa haru yang muncul dari dalam hatinya.

Saat dia berjalan meninggalkan lokasi pembangunan, matahari yang mulai tenggelam menerpa wajahnya yang kotor dan penuh dengan debu semen. Meskipun masih terlihat tidak terawat, ada kilauan baru di matanya – kilauan harapan yang tidak pernah padam meskipun hidup selalu memberikan cobaan yang berat.

Dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuhnya masih panjang dan penuh dengan rintangan, tapi dia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa tidak akan pernah ada hari lagi dia akan tunduk pada orang yang menghinanya. Dia adalah seorang pria miskin, tapi harga dirinya tidak pernah bisa dibeli dengan uang apa pun.

Di kejauhan, langit mulai berubah warna menjadi oranye kemerahan, seolah memberikan janji bahwa esok hari akan datang dengan harapan baru. Jaya berjalan dengan langkah yang lebih mantap menuju arah pasar malam yang mulai ramai, siap menghadapi apa pun yang akan datang di hidupnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca