

Sore itu langit Jakarta berwarna jingga kemerahan, seolah mencoba menyaingi kecantikan yang baru saja menangkap hati Suganda. Udara kampus Nusantara terasa sejuk, berbeda dengan hiruk-pikuk ibu kota yang biasanya menggila di jam-jam sibuk. Di antara deretan bangunan berarsitektur modern yang menjulang megah, sebuah spot sederhana justru menjadi pusat perhatian Suganda. sebuah bangku tua di bawah pohon akasia yang rindang.
Suganda baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsi. Pikirannya seharusnya masih melayang di antara referensi jurnal dan metodologi penelitian, namun satu hal telah berhasil mengusir semua beban akademik dari kepalanya. Dari kejauhan, di bawah naungan daun-daun akasia yang berjatuhan perlahan seperti hujan emas, duduk seorang perempuan yang tampaknya tidak menyadari bahwa ia baru saja mengubah hari biasa seseorang menjadi momen yang akan dikenang seumur hidup.
Melly.
Nama itu belum Suganda ketahui saat itu, namun bayangan perempuan itu telah terukir dalam retina matanya dengan begitu jelas. Rambutnya sebahu. tidak terlalu panjang namun cukup untuk membingkai wajah ovalnya dengan sempurna. berkilauan dalam sinar senja yang menyelinap di antara celah-celah daun. Warna coklat gelap rambutnya tampak hidup, seolah setiap helai memiliki cerita sendiri yang ingin diceritakan.
Namun yang paling membuat Suganda terpaku adalah bibirnya.
Bibir sensual berwarna pink basah yang tampak begitu kontras dengan kulitnya yang sawo matang. Suganda tidak tahu apakah itu lipstik atau warna alami bibirnya yang membara, namun yang jelas, setiap kali Melly menggigit bibir bawahnya dalam konsentrasi membaca buku di pangkuannya, jantung Suganda berdetak semakin tidak teratur. Ada sesuatu yang sangat feminin namun kuat dalam cara duduknya. punggung tegak namun santai, kaki disilangkan dengan anggun, dan jari-jari halus yang sesekali memainkan ujung rambutnya.
Suganda berdiri terpaku di persimpangan jalan setapak yang akan membawanya ke parkiran motor. Kakinya seolah berakar di tempat, menolak untuk bergerak menjauh dari pemandangan yang begitu memukau itu. Sebagai pria dengan postur atletis yang selalu menjadi pusat perhatian di lapangan basket kampus, Suganda terbiasa menjadi yang dipandang, bukan yang memandang dengan rasa takjub seperti ini.
Tubuhnya yang tumbuh tinggi menjulang dengan bahu lebar dan lengan berotot hasil latihan rutin. biasanya memberinya kepercayaan diri berlebih dalam berbagai situasi sosial. Rambutnya yang dipotong cepak dengan rapi menambah kesan maskulin dan praktis, cocok dengan seseorang yang lebih sering menghabiskan waktu di gym daripada di depan cermin. Namun kini, di hadapan kecantikan yang tampak begitu alami dan tanpa usaha itu, Suganda merasa dirinya menyusut menjadi versi terkecil dari dirinya sendiri.
Siapa dia? pikirnya berulang kali.
Sudah tiga tahun Suganda menempuh pendidikan di kampus ini, namun baru kali ini ia melihat sosok yang mampu membuat waktu berhenti berputar. Bukan karena tidak pernah melihat perempuan cantik. Jakarta penuh dengan perempuan-perempuan menawan. tapi ada sesuatu yang berbeda dengan Melly. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata sederhana.
Mungkin itu cara dia tersenyum sendiri saat membaca sesuatu yang lucu dalam bukunya. Atau cara sinar matahari senja menari-nari di wajahnya, menciptakan bayangan lembut yang menekankan garis rahangnya yang anggun. Atau mungkin. Suganda menelan ludak dengan susah payah. cara gaun musim panas berwarna krem yang ia kenakan bergerak perlahan tertiup angin, memperlihatkan sedikit kulit paha yang putih mulus.
Suganda menyadari ia telah menatap terlalu lama. Beberapa mahasiswa yang lewat mulai melihatnya dengan curiga, bertanya-tanya mengapa pria bertubuh atletis itu berdiri mematung seperti patung di tengah jalan setapak. Namun ia tidak peduli. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Suganda mengerti makna kata "terpesona" yang sebenarnya.
Bukan sekadar tertarik. Bukan sekadar suka. Ini adalah perasaan yang lebih dalam, lebih kuat, lebih mengguncang. seperti gelombang tsunami yang menghantam pantai tanpa peringatan, menghancurkan semua pertahanan logika dan kewarasan.
Lima belas menit berlalu. Suganda masih berdiri di tempat yang sama, terjebak dalam pertempuran batin yang sengit. Sebagian dari dirinya. bagian yang rasional dan terlatih dalam strategi basket. menyuruhnya untuk berjalan pergi. Kamu terlihat seperti penguntit, bisik suara itu. Pergi sekarang sebelum dia menyadari kamu sedang mengawasinya dan menganggapmu orang aneh.
Namun bagian lain dari dirinya. bagian yang jarang ia dengar, bagian yang terkubur di bawah lapisan-lapisan keteguhan dan maskulinitas. berteriak lebih keras. Ini momenmu. Jika kamu pergi sekarang, kamu akan menghabiskan sisa hidupmu bertanya-tanya "bagaimana jika".
Suganda mengingat nasihat ayahnya sebelum pria itu meninggal dua tahun lalu. "Nak, dalam hidup ini, yang paling menyesalkan bukanlah kegagalan, melainkan penyesalan karena tidak mencoba. Keberanian bukan berarti tidak takut. keberanian adalah melakukan sesuatu meskipun kamu takut mati."
Melihat Melly dari kejauhan, Suganda memang merasa seperti akan mati. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia yakin perempuan itu bisa mendengarnya meski berjarak sepuluh meter. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya yang besar. tangan yang biasanya begitu stabil saat memegang bola basket, kini gemetar seperti daun di musim gugur.
Lakukanlah, bisik hatinya. Satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
Suganda mengambil napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara sore yang masih hangat. Ia merapikan kaos polo berwarna navy yang ia kenakan, menarik-narik bagian bawahnya yang sedikit kusut karena tadi sempat bersandar di meja perpustakaan. Tangannya menyentuh saku celana jeans, memastikan ponsel dan dompet masih ada. bukan karena ia khawatir kehilangan barang, melainkan karena ia butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tangan yang tidak berhenti gemetar.
Kemudian, dengan tekad yang terasa seperti memaksa dirinya melompat dari tebing, Suganda mengangkat kaki kanannya.
Satu langkah.
Kakinya terasa berat seperti terbuat dari timah. Setiap serat otot di tubuhnya yang atletis berteriak protes, seolah tubuhnya menolak untuk dibawa mendekati sumber kecemasan yang begitu intens. Namun ia melanjutkan. Langkah kedua. Ketiga. Keempat.
Dengan setiap langkah, detail-detail tentang Melly menjadi semakin jelas. Ia bisa melihat sekarang bahwa buku yang sedang dibacanya adalah novel. Sampulnya berwarna pastel dengan tulisan yang terlalu kecil untuk dibaca dari jarak ini. Ia melihat juga bahwa perempuan itu memakai anting-anting kecil berbentuk mutiara yang bergoyang lembut setiap kali ia menggerakkan kepala. Dan ia melihat. hatinya berhenti berdetak sejenak. bahwa Melly memiliki bintik kecil di sudut kiri bibirnya, seperti tanda lahir yang justru menambah pesonanya daripada mengurangi.
Tujuh langkah. Delapan. Sembilan.
Suganda berhenti sejenak, berdiri tepat di bawah rindangnya pohon akasia. Dari jarak ini. kurang lebih dua meter dari bangku tempat Melly duduk. ia bisa mencium sesuatu yang membuat seluruh indranya terbangun dari tidur panjangnya.
Aroma vanila.
Bukan vanila yang palsu dan menyengat seperti parfum murahan di mal-mal. Ini adalah aroma vanila yang hangat, creamy, dan menggoda. seperti kue yang baru keluar dari oven pada pagi Natal, seperti pelukan ibu saat masa kecil, seperti janji akan sesuatu yang manis dan memuaskan. Aroma itu menyelinap masuk ke hidung Suganda, merayapi saraf olfaktornya, dan langsung menancapkan bendera keklaiman di setiap sel otaknya.
Ini aroma yang akan kuingat sampai mati, pikirnya dalam keadaan linglung.
Dan kemudian, tepat saat aroma vanila itu mencapai puncak intensitasnya, sesuatu yang aneh terjadi pada jantung Suganda.
Detaknya melambat. Begitu melambat hingga Suganda sempat berpikir bahwa ia mengalami serangan jantung. Seolah-olah jantungnya yang biasanya berdetak kencang karena olahraga dan aktivitas fisik, memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk menghargai keindahan yang baru saja ditemuinya. Seolah-olah seluruh sistem kardiovaskularnya berkata, "Tunggu, kita perlu momen ini. Kita perlu merasakan ini sepenuhnya."
Suganda terengah, tangannya otomatis terangkat ke dada kirinya, menekan di atas jantung yang seolah berhenti. Namun bukan rasa sakit yang ia rasakan. melainkan kelegaan yang aneh, seperti akhirnya menemukan sesuatu yang tidak pernah ia sadari sedang ia cari.