

Plaaaak
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi pria berkulit kecoklatan dengan rahang yang tegas, tetapi tubuhnya memiliki otot yang terbentuk dengan alami karena ia seorang pekerja keras.
Pria itu masih lengkap dengan pakaian kumalnya, karena ia baru saja selesai mengerjakan toilet di sebuah puskesmas desa yang cukup terpencil.
Tamparan itu berasal dari seorang gadis cantik bernama Delia, bidan desa yang bekerja di puskesmas pembantu tersebut.
Wajahnya terlihat penuh amarah dan kebencian, ia seolah memandang jijik pada pemuda di depannya.
“Dengar, ya–Kang! Ini terakhir kalinya aku peringatkan, jangan lagi mengejarku! Aku sudah memiliki calon suami yang jauh lebih bertitel dibandingkan kamu yang hanya seorang pekerja bangunan! Mas Setyo adalah calonku, dia seorang Polisi yang itu tandanya kamu jangan menggangguku lagi! Sadar diri itu lebih penting!” Delia menegaskan ucapannya, sembari menatap tajam dan dibalut kebencian.
“Tapi aku punya cinta yang tulus, aku bisa membahagiakanmu,” tampaknya sang pemuda tak ingin menyerah begitu saja, ia sangat mencintai Delia, gadis itu sudah menghipnotisnya. Setiap saat, bayangan wajah cantik dan kemolekan tubuhnya sudah meracuni pikiran sang pemuda yang bernama Raka.
Ungkapan hatinya, justru menambah rasa jengkel dan muak bagi sang gadis. Ia kembali menajamkan tatapannya, seolah pedang yang siap menghujam jantung.
“Profesi hanya tukang bangunan, tapi berkhayal terlalu tinggi! Ngaca kamu, Mas. Kamu kira dengan janji manis dan cinta dapat kenyang?! Wanita itu butuh modal untuk bahagia, bukan cuma omong kosong! Lagian pria dekil seperti kamu coba merayuku? Hah! Ngaca, Mas! Ngaca!” Gadis itu menodongkan jari telunjuknya ke wajah Raka dengan bengis.
Setelah mengucapkan kalimat penekanan tersebut, gadis berusia dua puluh tahun dengan kulit putih mulus, dan body bak gitar Spanyol itu memutar tubuhnya, lalu melangkah meninggalkan sang pemuda yang termangu menatap dalam hati yang diliputi rasa kehancuran.
Saat bersamaan, terlihat sepeda motor sport berwarna hitam berhenti di depan bangunan puskesmas, seorang pemuda berseragam polisi tersenyum manis menyambut i sang gadis yang sudah menunggunya.
Delia bergegas naik ke atas boncengan, dan seolah sedang ingin memamerkan kemesraannya, ia mengulas senyum mengejek, jika ia adalah gadis mahal yang tak kan pernah dapat dimiliki oleh pria seperti Raka yang berprofesi sebagai seorang pekerja bangunan.
Raka merasakan dadanya cukup sesak, dan hinaan dari Delia membuat rasa dendam di hatinya bertambah mendalam.
Ia berjalan menuju ke arah parkiran, kemudian mengemudikan motor bututnya yang merupakan harta satu-satunya yang ia punya.
Raka memilih untuk pulang kerumah, dan segala caci maki yang tadi dilontarkan oleh Delia masih membekas di hatinya.
****
Malam menjelma, sebuah kesunyian yang begitu nyata, dan hanya rasa sepi menemani seorang pemuda yang terlihat berputus asa.
Raka sedang duduk termenung di depan teras rumah yang sangat sederhana. Ia adalah anak yatim piatu, dan hidup sebatang kara.
Keinginannya ingin segera menikah selalu saja menemui jalan buntu, dan tidak ada satupun gadis atau janda yang mau sudi menerimanya.
Terkadang ia merasa begitu sial, mengapa tak ada cinta yang ia dapatkan. Jika difikir, ia tidak begitu jelek, hanya kemiskinan dan pekerjaannya sebagai tukang bangunan menjadi alasan bagi para gadis atau janda tidak mau menerimanya, dengan alasan tidak ingin diajak hidup susah.
Tetapi, ada yang lebih susah ekonominya, dan juga jelek wajahnya, namun mudah mendapatkan pasangan, lalu apa yang membuatnya begitu sulit dalam mendapatkan cinta?
Disaat rasa gelisah menghantui jiwanya, ia teringat akan seseorang yang dapat membantunya dalam menyelesaikan permasalahan yang saat ini sedang ia alami.
Seketika, senyum misterius menghiasi bibirnya. “Ya, aku tau caranya, dan tunggu saja, siapa yang akan menang,” ucapnya penuh dendam, sembari menekan puntung rokoknya dengan kuat, hingga mematikan sisa pembakarannya.
Raka bergegas masuk ke dalam rumah, dan meraih jaket serta kunci motornya, ia akan menuju seseorang yang dapat memberikan solusi baginya.
Sebuah tempat keramat yang berada di dusun 16 daerah Percut Sei Tuan adalah tujuannya.
Ia tau, tempat itu sering dijadikan sebagai pencari wangsit untuk meminta ketenaran dan dicintai oleh kaum adam, tetapi kali ini, Raka ingin bernegosiasi pada sang Perewangan Nyai Ronggeng, agar memberikan ilmu pengasih padanya, untuk memikat kaum hawa.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya ia tiba di perkebunan kelapa sawit, lalu menitipkan motornya di pos jaga, dan berjalan menyusuri pematang sawah untuk tiba pemakaman Nyai Punden Ronggeng.
Saat memasuki persawahan, ia merasakan bulu kuduknya meremang, dan hawa dingin mulai menusuk tulangnya.
Tak hanya itu, aroma kembang kantil mulai menyeruak di udara malam, aura mistis mulai terasa, dan hal itu semakin menambah rasa semangatnya untuk terus melanjutkan niatnya.
Setibanya yang ia tuju, terlihat sebuah bangunan permanen yang dibangun cukup rapi, dan didekatnya ada sebuah mushola, tetapi aura mistisnya begitu terasa.
Didekat bangunan, terdapat banyak sesaji yang diletakkan untuk memperkuat permintaan mereka agar dikabulkan.
Kebanyakan peziarah yang datang adalah para wanita penghibur, atau masa sekarang disebut LC, dan menginginkan untuk penglaris, agar banyak tamu lelaki yang meminta jasanya, dan juga banyak uang.
Raka yang sudah berputus asa dan memilih jalan sesat, sudah berdiri di depan bangunan, menatap dengan penuh ambisi.
Ia melirik sekitarnya, mencari tempat yang cocok untuk melakukan semedi, dan sepertinya sebatang pohon berukuran besar yang tumbuh tinggi menjulang menjadi tempat yang pantas untuknya.
Raka melangkah dengan penuh keyakinan, ia sudah membulatkan tekadnya, jika persekutuan ini adalah yang tepat.
Ia duduk dibawah pohon, memejamkan mata, dan mulai berkonsentrasi untuk memanggil perewangan sang Nyai Punden Ronggeng untuk memberikannya ajian pemikat, agar mendapatkan gadis pujaannya.
“Wahai Nyai Punden Ronggeng, datanglah padaku, aku memohon padamu, berikanlah aku sebuah kekuatan yang dapat menaklukkan hati para wanita, buat mereka bertekuk lutut!” Niatnya dalam hati.
Raka mengulangi niatnya, dan saat di ulangan ketiga, ia merasakan desiran angin yang bertiup semilir, menghantarkan aroma melati, dan sesaat ia melihat seperti ada sebuah pesta dengan tabuhan gamelan yang terdengar sangat nyaring.
Tampak orang-orang berkumpul menyaksikan tarian ronggeng dari seorang gadis cantik yang tampak lihai menggoyangkan bokongnya yang semok.
Tariannya semakin lama semakin erotis, dan membuat Raka seolah terhipnotis, lalu beranjak bangkit dari duduknya, dan tanpa sadar menari bersama sang Nyai Ronggeng yang wajahnya sangat cantik jelita.
Tiba-tiba saja, Raka sudah berada di ruangan yang berbeda, tak ada gamelan, yang ada hanya sebuah ranjang dengan kasur yang empuk.
Didepannya berdiri seorang wanita cantik dengan pakaian kemben yang sangat menggoda.
“Kau sudah mengikrarkan janji, maka kau sudah terikat persekutuan dengan ku, dan jadilah budakku. Aku akan memberikanmu apa yang kau minta, tetapi ada syaratnya, kau harus mendapatkan satu korban perawan, minum cairan madunya, dan setelah itu, lalu usahakan korbanmu meminum cairan madumu, agar ia terus tergila-gila denganmu,” tegas sang wanita yang berasal dari dunia ghaib.