Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Mukah Tanah Lada

Mukah Tanah Lada

Bulan Separuh | Bersambung
Jumlah kata
31.0K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Mukah Tanah Lada
Mukah Tanah Lada

Mukah Tanah Lada

Bulan Separuh| Bersambung
Jumlah Kata
31.0K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
FantasiFantasi TimurKerajaanHaremKarya Kompetisi
Patih Purwaka Topa tak pernah percaya bahwa Raja Bintara benar-benar ada. Baginya, Kesultanan Surosowan tempatnya mengabdi, yang berada di ujung barat Pulau Jawa itu hanya berisi propaganda-propaganda. Sungguh malang, karena kelancangan akal sehat itu ia pun dibuang ke Kerajaan Labuan Rotan, wilayah seberang yang terletak di ujung selatan Sumatra. “Selamat datang di negeri tanah lada, dengan segala kenikmatannya yang mematikan.” Akankah pria itu pulang dengan isi kepala yang penuh pertobatan, sehingga mencintai Raja Bintara sebagaimana masyarakat Surosowan lainnya?
Chapter 1. Maklumat Pengasingan

“Mati saja kau, dasar tak berguna!”

Suara cambuk itu begitu mengerikan, terdengar karena kulit mentah bertemu dengan punggung yang sudah hancur. Sang mandor dengan wajahnya yang merah padam dan urat leher yang nyaris putus, ia menghantamkan pecut itu berkali-kali.

Kuli remaja itu pun tersungkur. Wajahnya sepucat mayat, ia seraya mencium debu pelabuhan yang bercampur keringat dan sisa busuk ikan. Bibirnya pun bergetar hebat, sampai mengeluarkan bunyi ngilu yang tertahan di tenggorokan.

Patih Purwaka Topa berdiri mematung. Mata pria tegap itu terasa pedas. Udara di Pelabuhan Surosowan pagi itu bak racun, di mana bau lada yang menyengat paru-paru beradu dengan aroma anyir darah segar.

Ekor matanya masih dijejali pemandangan lain yang muak ditemuinya setiap hari, di sebelah utara ada arca raksasa Raja Bintara yang berdiri. Arca itu sebegitu angkuhnya menatap datar ke arah perbudakan yang diyakini orang-orang sebagai bentuk pengabdian.

“De-mi … Ra-ja … Bin-ta-ra …” akhirnya kuli muda itu berkata-kata. Nadanya lirih, tapi masih terdengar oleh Purwaka Topa. Kuli itu merangkak dengan jemarinya yang pecah-pecah mencengkeram tanah.

“A-a … De-mi … “ Kuli muda itu mengulangi kata-kata yang nyaris tak sanggup keluar dari mulutnya lagi. Ia sedang terlalu sibuk menahan rasa sakit. Namun, kata-kata itu selalu menjadi semacam mantra bagi orang-orang di seluruh wilayah pelabuhan ini. Itu adalah semacam propaganda yang ditanamkan penguasa, di mana bekerja keras untuk sosok di utaranya itu adalah jalan menuju surga dan kehormatan.

Purwaka merasakan empedunya naik ke kerongkongan. Ia melihat tiang-tiang kapal yang menjulang seperti barisan tombak yang siap menghujam langit. Langit ini memang tak kunjung memberikan keadilan, dan memang sialan.

Purwaka tak tahan lagi. Kebenciannya meluap, tak cuma kepada mandor itu, tapi juga pada sistem yang busuk ini. Apa yang disaksikan matanya ialah kejahatan, bukan tahi kucing dengan kesetiaan. Menurutnya tak hanya lada-lada itu yang dirampas, tapi juga kehidupan orang-orang yang katanya rela mati demi kehormatan. Purwaka baru saja mengasak dahaknya dan meludah kesal.

Purwaka berjalan mendekati mandor itu sambil mencengkeram buku catatannya erat-erat hingga buku itu melengkung. “Hentikan, anjing!” bentaknya. Suaranya menggelegar, memotong kebisingan pelabuhan. “Ganti dia sekarang atau kepalamu yang kuganti!”

Mandor itu terlonjak, nyalinya menciut seketika. “Ba-baik, Gusti Patih. Ampun.”

“Jangan, Gusti Patih … Tolong … Saya masih bisa …” Kuli muda itu mencoba bangkit, tapi kakinya gemetaran seperti kaki kijang yang patah. Darah pun merembes dari kain kusamnya.

Seret dia keluar dari sini! Sekarang!” teriak Purwaka lagi. Kali ini matanya berkilat penuh amarah yang disalahpahami.

Dua penjaga pun merenggut paksa lengan si kuli muda. Mereka menyeretnya di atas kerikil tajam tanpa ampun. Di mata orang-orang, Patih Purwaka Topa adalah iblis yang tak punya hati. Namun, di balik itu sebenarnya bagi anak muda itu, diseret keluar dari ‘surga’ ini ialah satu-satunya cara agar anak itu tidak berakhir menjadi bangkai di bawah kaki ‘Sang Raja’, lagi.

“Patih Lebet,” seseorang memanggil. Suara itu terdengar kering dan tajam seperti gesekan amplas.

Purwaka pun menoleh. Pejabat pelabuhan itu tidak membungkuk, menunjukkan gestur khas orang yang merasa punya sebuah kendali lebih.

“Kapal dari barat sudah bersandar. Upeti lada dari Labuan Rotan sudah siap dibongkar. Anda ingin menghitungnya sendiri, atau kita gunakan angka ‘biasa’?” Pejabat itu menyeringai. Aroma penyelundupan mulai tersuar lagi.

Purwaka menatapnya dingin. “Catat setiap butirnya! Jika tanda kemasannya ada yang rusak sedikit saja, tanganmu yang akan menggantinya.”

Pejabat itu tak gentar. Ia justru mendekat, kali ini baunya seperti tembakau murahan. “Tentu, Gusti Patih. Tapi … apakah laporan ini perlu sampai ke meja ‘beliau’? Ataukah cukup berhenti di meja Anda saja?”

“Beliau?” tanya Purwaka datar.

“Tentu saja …” Pejabat itu berbisik seraya melemparkan lirikan matanya ke arah arca raksasa itu.

“Raja Bintara tidak butuh laporan lada,” desis Purwaka.

“Yang beliau butuh adalah kepatuhan, dan … kau sedang kekurangan itu.”

Purwaka berpaling seketika.

Pejabat pelabuhan itu memandangi Purwaka pergi memunggunginya. Dahinya berkerut, merenggangkannya, lalu menghela napas lebih kasar. “Baiklah, ternyata bukan waktu yang tepat.” Pria itu pun akhirnya juga pergi.

*

Aktivitas Purwaka tidak hanya di pelabuhan. Sebagaimana patih pada umumnya, ia selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan strategis di istana.

Di Balairung Surosoan, ia pun hadir. Suasana pertemuan itu tak lagi hanya soal diskusi-diskusi para pemangku jabatan saja, tapi kali ini yang lebih utama adalah adanya skandal terselubung.

“Labuan Rotan mulai bertingkah,” ujar salah satu pejabat kesultanan lainnya. Suara itu menggema di lantai marmer yang dingin. “Mereka mengirim lada bermutu rendah, tapi meminta proteksi militer lebih besar. Mereka pikir kita ini badan amal?”

Tawa rendah pecah di ruangan itu. Purwaka berpikir ia sedang mencium sebuah gelagat.

“Bisa jadi mungkin mereka sebenarnya tidak benar-benar menyodorkan permintaan,” Purwaka memotong. Ia baru saja menjadi pusat perhatian.

“Maksudmu?” tanya pejabat lainnya.

“Masa tidak ada yang sadar? Coba pikirkan, berapa lama kita bisa bertahan tanpa pasokan utama dari mereka?” ucap Purwaka dengan percaya diri.

Ruangan mendadak senyap. Seorang pejabat yang sejak tadi iseng memainkan cincinnya pun tiba-tiba berhenti melakukannya. “Sejak kapan kau memihak mereka? Berhati-hatilah, Purwaka. Hati-hati dengan kata-katamu.”

Purwaka menyeringai sinis. “Kau baru saja menuduhku, Ki Arya. Ah, benar, memang sejak dulu aku selalu meragukan kemampuan bernalarmu. Apalagi ini belum menyentuh soal strategi.”

Rupanya apa yang diungkapkannya kala itu berbuah pahit bagi diri Patih Purwaka Topa. Sebenarnya, tidak hanya lantaran oleh kata-kata itu saja, tapi juga karena tingkat kekritisan berpikir pria itu.

Kemudian, di pertemuan lainnya, sebuah kalimat pernyataan sontak mengubah nasib Purwaka.

Juru titah berdiri. Suara tongkatnya yang menghantam lantai terdengar seperti vonis mati.

“Atas titah Yang Mulia Sultan Tubagus Maulana, wakil suara Raja Bintara di bumi,” ucap si Juru Titah dengan nada monoton yang mengerikan. “Patih Purwaka Topa dibebastugaskan dari urusan pelabuhan pusat.”

Jantung Purwaka berdenyut keras.

“Anda ditunjuk sebagai Utusan Khusus, dengan mandat penuh, untuk melakukan ‘pembersihan administrasi’ di Labuan Rotan. Disilakan berangkat sebelum pasang esok malam.”

‘Pembersihan administrasi’. Ini adalah istilah halus di mana Purwaka diasingkan, dan mungkin siapa pun tak lagi berharap ia kembali dalam keadaan hidup.

*

Selepas pemaklumatan keputusan itu, malam harinya di lorong istana terpekur sendiri. Purwaka tak menemukan penjaga tua yang bijak di sana, ia hanya bertemu dengan kenyataan pahit. Di depan lukisan Raja Bintara, ia melihat seorang pelayan sedang membersihkan debu di tepiannya.

“Hei, kau …”

“A-ah … Gusti Patih,” pelayan itu menjura.

“Pernahkah kamu melihat wajah asli beliau?” tanya Purwaka.

Pelayan itu gemetar, nyaris ia jatuhkan kain lap dari tangannya. “Ampun, Gusti Patih. Hamba sangat tidak pantas.”

Purwaka menatap lukisan itu. Benar, pikirnya. Sang Raja tidak pernah benar-benar hadir, bahkan siapa yang tahu kalau sosoknya benar-benar ada atau tidak. Dan tentu saja siapa pun bisa menjadi Raja di balik sosok yang sedang menatapnya itu.

Purwaka pun beranjak meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanannya menuju tempatnya beristirahat, ia melewati tempat di mana ia bisa menemukan makanan. Ternyata berdesakannya isi kepala membuat perutnya menjadi berisik.

Sayup-sayup terdengar perbincangan lirih dari balik dinding yang keadaannya sudah lebih kusam daripada seluruh dinding di dalam istana ini.

“Patih Purwaka dibuang ke seberang?”

“Labuan Rotan?”

“Ih, aku dengar orang-orang di sana sangat primitif! Kau tahu soal kebiasaan ngayau? KKhh … ” Seseorang itu lalu mengisyaratkan goresan oleh telunjuknya di leher.

“Mengerikan sekali. Patih yang malang.”

Pintu itu pun serta-merta didobrak oleh sebelah kaki Purwaka.

“Kurasa kepala kalianlah yang digorok kalau mereka tahu pekerjaan kalian ini, dasar tukang gosip!” ucap Purwaka dengan nada suara datar.

Dua pelayan di dalam sana langsung bersujud. Mereka tak menyangka melihat patih mereka datang. Wajah mereka memucat pasi.

Purwaka tidak menunggu pembelaan mereka. Ia meludah ke lantai, lalu lewat begitu saja.

“A-ampun, Gusti Patih …”

“A-ampun …”

Purwaka lewat begitu saja dan langsung mengambil dua genggam makanan berbahan ketan di kedua belah tangannya, lalu ia melahapnya satu sambil melangkah pergi. “Dasar orang-orang bodoh. Membedakan Sumatra dan Borneo saja tidak bisa,” gumamnya.

Saat Purwaka melangkah menjauh, kemudian sebuah suara tawa rendah yang sangat pelan, hampir seperti desisan ular. Suara itu terdengar di balik kegelapan di ujung lorong. Purwaka pun berhenti. Ia membebaskan tangannya dari bawaannya dan refleks meraba hulu keris.

“Nikmatilah perjalananmu, Patih Lebet.” Itu adalah suara Ki Arya, dan pria itu pun muncul perlahan dari bayangan. “Sampaikan salamku kepada orang-orang di Labuan Rotan. Aku sudah memesankan tempat paling nyaman untukmu … di bawah tanah mereka.”

Purwaka menyeringai tipis, meski rahangnya mengeras. “Simpan pesananmu, Ki Arya. Aku akan kembali hanya untuk memastikan kau sendiri yang menempati lubang itu.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca