

Hujan menderu di luar aula hotel berbintang itu, tapi suasananya tak sedingin hati Arkananta. Di tangannya, sebuah kotak kayu kusam yang dibalut kain beledu merah tampak sangat kontras dengan kemewahan jas-jas tuksedo dan gaun sutra yang berlalu-lalang di sekitarnya.
Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mertuanya yang ke-25. Arka datang dengan satu tujuan, memberikan penghormatan terakhir pada keluarga yang selama tiga tahun ini ia layani dengan penuh sabar, meski hanya dianggap sebagai benalu.
"Arka? Untuk apa kamu berdiri di sana seperti patung?"
Suara itu tajam, menusuk pendengaran. Vanya, istrinya—atau setidaknya wanita yang masih menyandang status itu—berdiri di hadapannya. Gaun hitam backless yang dikenakannya menonjolkan kecantikan yang dulu dipuja Arka, namun kini hanya memancarkan aura dingin yang asing.
"Aku membawakan hadiah untuk Papa dan Mama, Vanya. Ini peninggalan kakekku, sebuah—"
"Hadiah?" Vanya memotong dengan tawa sinis yang tidak berusaha disembunyikan. Matanya melirik kotak kayu di tangan Arka. "Peninggalan kakek pemulungmu? Arka, lihat sekelilingmu! Tamu Papa adalah direktur, pejabat, dan pengusaha. Kamu ingin mempermalukanku lagi dengan membawa barang rongsokan ke sini?"
"Ini bukan rongsokan, Van. Ini jam saku perak murni dari abad ke-18. Kakek berpesan agar—"
BRAK!
Sebuah tangan kekar dengan jam tangan emas mewah yang berkilau menyambar kotak itu dari tangan Arka dan menjatuhkannya ke lantai. Kotak itu terbuka, menampakkan jam saku perak yang permukaannya sedikit kusam tapi memiliki ukiran yang sangat rumit.
"Ups, tanganku licin," ucap seorang pria yang tiba-tiba berdiri di samping Vanya. Richard Hadyan. Arka mengenalnya—siapa yang tidak tahu pewaris Hadyan Group itu? Pria yang tiga bulan terakhir ini sering terlihat menjemput Vanya di kantor dengan mobil sport-nya.
Richard tertawa kecil, lalu dengan sengaja menginjak jam saku itu dengan sepatu pantofel kulitnya yang mengkilap. Krak. Suara logam yang retak itu terdengar jelas di telinga Arka. Hati Arka berdenyut, bukan karena harga jamnya, tapi karena itu adalah satu-satunya harta yang kakeknya titipkan sebelum meninggal.
"Richard, jangan kotori sepatumu dengan sampah itu," ujar Vanya lembut, tangannya secara alami melingkar di lengan Richard. Ia bahkan tidak melirik suaminya yang sedang berlutut untuk memungut pecahan jam tersebut.
Arka terdiam. Ia memungut sisa-sisa perak yang hancur itu dengan tangan gemetar. Amarahnya tidak meledak seperti api, melainkan membeku menjadi es yang sangat dingin.
"Vanya," suara Arka rendah, bergetar di tenggorokan. "Tiga tahun aku bekerja siang malam, memulung barang, membersihkan rumahmu, dicaci oleh ibumu ... semua karena aku berjanji pada kakekku untuk menjagamu. Tapi hari ini, kamu membiarkan orang lain menginjak harga diriku di depan matamu sendiri."
Vanya mendengus, matanya berkilat kebencian. "Harga diri? Memangnya pemulung punya harga diri? Arka, sadarlah. Kita berada di dunia yang berbeda. Richard bisa memberiku kontrak proyek miliaran dalam satu jentikan jari. Kamu? Kamu hanya bisa memberiku rasa malu."
Vanya merobek tas kecilnya, mengeluarkan selembar amplop putih, dan melemparkannya ke dada Arka.
"Surat cerai. Tanda tangani sekarang di depan saksi, atau aku akan memastikan kamu membusuk di penjara karena tuduhan pencurian di acara ini. Richard punya koneksi di kepolisian, jangan cari masalah."
Richard menyeringai, mengeluarkan dompetnya, dan melemparkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke wajah Arka. "Ini untuk ongkos taksi ke pengadilan agama. Jangan muncul lagi di depan Vanya, atau aku akan membuatmu benar-benar menjadi rongsokan di pinggir jalan."
Tawa para tamu di sekitar mulai terdengar. Arka adalah tontonan gratis yang menghibur. Pria miskin yang dikhianati istri cantiknya—sebuah skenario klasik yang memuaskan ego kaum elit di sana.
Arka berdiri perlahan. Ia tidak mengambil uang Richard. Ia hanya menatap Vanya tepat di matanya—tatapan yang begitu tajam hingga membuat wanita itu sedikit bergidik.
"Baik," ucap Arka singkat. Ia mengambil pena dari saku jas murahnya, lalu menandatangani surat itu di atas punggung Richard yang sedang bersandar di meja.
"Selesai. Mulai detik ini, aku tidak punya hutang budi lagi pada keluargamu, Vanya."
Arka berbalik, berjalan menembus kerumunan tanpa menoleh lagi. Hujan di luar menyambutnya, membasahi tubuhnya yang lelah. Ia berjalan kaki sejauh tiga kilometer menuju gubuk tua kakeknya di pinggiran kota yang kumuh.
Sesampainya di gubuk itu, Arka duduk di lantai kayu yang lapuk. Ia menatap pecahan jam saku di tangannya. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Di dalam mesin jam yang hancur itu, terselip sebuah kunci kecil berwarna perak dan selembar kertas perkamen tua yang tahan air.
Dengan tangan gemetar, Arka membuka perkamen itu. Isinya hanya sebuah alamat dan sebuah kalimat yang ditulis dengan tinta darah yang sudah mengering.
“Arkananta, cucuku ... jika jam ini hancur, artinya dunia telah menghancurkanmu. Pergilah ke gudang bawah tanah di balik rak buku. Gunakan kunci ini. Saatnya kamu berhenti memulung sampah, dan mulailah menagih janji para penguasa dunia.”
Arka segera bangkit, menggeser rak buku tua yang berdebu. Di baliknya, ada sebuah pintu besi kecil. Dengan kunci perak itu, ia membukanya.
Di dalam ruangan sempit yang lembap itu, tidak ada emas atau permata. Hanya ada sebuah buku besar bersampul kulit hitam dengan simbol naga emas yang melingkar. Arka membukanya. Halaman pertama berisi nama-nama yang membuatnya sesak napas.
Daftar Hutang Nyawa Keluarga Arkananta:
1. Baskoro Purnomo (Walikota) - Hutang: Nyawa anak tunggal (1998). Status: Menunggu instruksi.
2. Tan Wijaya (Pemilik Bank Global) - Hutang: Kebangkrutan & Nyawa (2005). Status: Menunggu instruksi.
3. General Marwan (Panglima Wilayah) - Hutang: Penyelamatan di medan perang (1992). Status: Menunggu instruksi.
Ada lebih dari lima puluh nama orang paling berkuasa di negeri ini di dalam buku itu. Di bagian paling bawah halaman pertama, tertulis sebuah catatan kecil dari kakeknya.
"Mereka hidup karena aku mengizinkan mereka hidup. Sekarang, mereka adalah pelayanmu."
Arka menutup buku itu dengan keras. Matanya yang semula redup kini menyala dengan ambisi yang mengerikan. Ia mengambil ponsel bututnya yang layarnya sudah retak, mencari nomor telepon yang tertera di samping nama Baskoro—Sang Walikota.
Telepon diangkat pada nada pertama.
"Halo?" suara di seberang sana terdengar sangat berwibawa tapi penuh kecemasan.
"Ini Arkananta," ucap Arka dingin. "Cucu dari pria yang menyelamatkan putramu di sungai 28 tahun yang lalu."
Hening sejenak di seberang sana. Terdengar suara kursi yang terjatuh, disusul suara gemetar sang Walikota. "Tuan Muda ... Anda akhirnya memanggil kami? Di mana Anda sekarang? Saya akan mengirimkan seluruh armada protokol untuk menjemput Anda!"
Arka menatap ke arah jendela, ke arah cahaya gedung-gedung mewah di pusat kota, tempat Vanya dan Richard mungkin sedang merayakan kebebasan mereka.
"Tidak perlu armada," ucap Arka datar. "Cukup jemput aku besok pagi di tempat rongsokan Jalan Mawar. Dan satu lagi ... aku ingin bank milik Tan Wijaya membatalkan semua kredit untuk Hadyan Group dalam satu jam ke depan."
"Laksanakan, Tuan Muda!"
Arka menutup teleponnya. Ia meremas surat cerai di sakunya dan melemparkannya ke tumpukan sampah.
Malam itu, seorang pemulung mati, dan seorang penguasa bayangan baru saja terbangun.