Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Kekayaan Semesta

Sistem Kekayaan Semesta

Pena Emas | Bersambung
Jumlah kata
73.9K
Popular
2.0K
Subscribe
226
Novel / Sistem Kekayaan Semesta
Sistem Kekayaan Semesta

Sistem Kekayaan Semesta

Pena Emas| Bersambung
Jumlah Kata
73.9K
Popular
2.0K
Subscribe
226
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalTeknologiSistemKonglomerat
Seorang pemuda berusia 22 tahun yang terkena musibah dengan kehilangan kedua orangtuanya karena sebuah kecelakaan mobil. Langit Dirgantara putus asa hingga niat mengakhiri hidupnya. Namun, tiba-tiba kemunculan dari Sistem Kekayaan Semesta membuat hidup Langit berubah drastis. Ini adalah perjalanan Langit menuju tahta tertinggi dari kekayaan!
Bab 01 - Keputusasaan

Pagi yang cerah dengan awan bergelombang tebal bagai kapas menyelimuti langit kota. Matahari bersinar malu-malu, memberikan kehangatan yang pas untuk memulai hari.

Pagi ini orang-orang pergi bekerja dan beraktivitas sesuai tujuan mereka. Ada yang wajahnya ditekuk karena kesal, ada yang tersenyum senang, berbagai macam ekspresi mewarnai jalanan kota.

Di sebuah rumah yang asri, seorang pemuda dengan ransel besar di punggungnya melangkah keluar menuju halaman.

"Bu, Langit pergi dulu ya. Ada kuliah jam pertama nih," seru pemuda itu yang bernama Langit Dirgantara.

Langit adalah mahasiswa tingkat akhir bertubuh tinggi tegap. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan karena baru bangun, matanya segelap malam, dan wajahnya memiliki garis rahang tegas namun sering dihiasi senyum ramah.

Ia mengenakan kaus polo berwarna putih dan celana jeans hitam. Itu adalah pakaian khas anak teknik yang ingin terlihat rapi tapi tetap santai dan tidak mau ribet.

Dari dalam rumah, sepasang suami istri keluar mengikuti langkah Langit. Mereka tampak serasi memakai seragam laboratorium yang bersih.

"Hati-hati bawa motornya, Langit. Ingat batas kecepatan jangan lebih dari 50 kilometer per jam," seru pria paruh baya bernama Deny Dirgantara, Ayah Langit.

"Iya Ayah, siap," jawab Langit sambil menaiki motornya.

Motor matic keluaran beberapa tahun lalu itu menderu halus saat dipanaskan. Langit memundurkan motornya, berputar arah, dan membunyikan klakson singkat sebagai tanda pamit. Ia melajukan kendaraan itu membelah jalanan kompleks yang mulai ramai dengan tukang sayur dan tetangga yang menyiram tanaman.

Langit melaju hingga tembus ke jalan raya dan meninggalkan area perumahannya. Angin sepoi-sepoi menghantam wajahnya karena helm miliknya memang model klasik tanpa kaca pelindung.

Ia melirik jam tangannya sekilas.

"Wah sudah jam 06.50. Bentar lagi kelas Profesor Chandra mulai," gumam Langit.

Langit menambah sedikit kecepatan motornya. Ia meliuk-liuk santai di antara kendaraan lain yang mulai memadati jalanan. Tidak terlalu ngebut, tapi cukup untuk menyalip mobil-mobil yang berjalan lambat.

Sementara itu di rumah keluarga Langit, kedua orang tuanya sedang bersiap menuju laboratorium swasta tempat mereka bekerja.

"Bunda, Ayah ke kamar kecil sebentar ya," ucap Deny.

"Aduh Ayah ini kebiasaan deh. Kalau mau berangkat pasti buang air besar dulu," gerutu Ningsih, Ibu Langit, sambil menggelengkan kepala.

Meninggalkan sepasang suami istri yang berdebat jenaka itu, Langit yang sudah hampir sampai di kampusnya merasa ada yang sedikit aneh. Jalanan terasa lebih lengang dari biasanya padahal ini hari kerja.

"Hari Senin kok sepi begini ya," Langit berbicara pada dirinya sendiri.

Langit menepis pikiran itu dan memilih fokus berkendara. Sekitar tiga menit kemudian ia sudah bisa melihat gerbang kampusnya.

Berbeda dari biasanya, gerbang Fakultas Teknik terbuka lebar hari ini. Satpam penjaga yang biasanya galak, Pak Zainudin, terlihat duduk santai di posnya sambil menyeruput kopi.

Langit memelankan motornya saat melewati pos satpam.

"Pagi Pak Udin! Tumben gerbangnya dibuka lebar," sapa Langit ramah.

Pak Udin meletakkan gelas kopinya dan tersenyum.

"Pagi Langit. Iya hari ini ada tamu rektorat, jadi diperintah jangan ditutup dulu. Tumben kamu tidak terlambat mepet waktu," balas Pak Udin.

"Lagi rajin Pak," kekeh Langit.

Langit melajukan motornya menuju parkiran fakultas yang teduh di bawah pohon beringin. Saat ia sedang melepas helm dan merapikan rambutnya di kaca spion, sebuah suara lembut menyapanya.

"Langit? Tumben datang awal."

Langit menoleh dan mendapati seorang gadis cantik dengan rambut panjang terurai sedang berdiri di dekatnya. Itu adalah Liora, mahasiswi dari Fakultas Ekonomi yang letak gedungnya memang bersebelahan dengan Teknik.

Liora mengenakan kemeja biru muda yang rapi dengan tumpukan buku tebal di pelukannya. Wajahnya yang cerah membuat suasana parkiran yang suram jadi sedikit lebih hidup.

"Eh Liora. Iya nih, ada kelas Prof Chandra. Kalau telat sedetik saja bisa dicoret dari daftar absen," jawab Langit sambil menyeringai.

"Kamu ini, kebiasaan. Oh iya, nanti siang anak-anak mau kumpul di kantin pusat atau di atap biasa?" tanya Liora.

"Kayaknya di atap gedung teknik saja deh. Lebih sepi dan enak buat ngobrol. Nanti aku kabari Rian sama Rendy juga," jawab Langit.

"Oke deh. Semangat ya kuliahnya, jangan sampai tidur di kelas," pesan Liora sambil melambaikan tangan dan berjalan menuju gedung fakultasnya sendiri.

Langit tersenyum kecil melihat kepergian Liora, lalu ia segera berlari kecil menuju Gedung Fakultas Teknik lantai dua, ruang kuliah FT-A1.

Meski gerbang tidak ditutup, Langit tetap harus bergegas. Sampai di depan pintu kelas, ia mengatur napas sebentar sebelum masuk.

Suasana kelas hening. Profesor Chandra, dosen paling disiplin seantero fakultas, sudah duduk di kursinya sambil mengetuk-ngetuk jari di atas meja.

Langit melangkah masuk dengan hati-hati.

"Selamat pagi, Prof," sapa Langit sopan.

Profesor Chandra menatapnya dari balik kacamata tebal.

"Langit Dirgantara. Tiga menit sebelum jam tujuh. Bagus, pertahankan disiplinmu. Duduk," perintah beliau datar.

Langit menghela napas lega. Ia berjalan menuju kursi paling belakang di dekat jendela. Di sana, sahabatnya yang bernama Rian sudah melambaikan tangan diam-diam.

"Tumben lo nggak telat," bisik Rian saat Langit duduk di sebelahnya. Rian bertubuh tinggi tegap seperti Langit, hanya saja sedikit lebih berisi dan wajahnya selalu terlihat jahil.

"Ketemu Liora tadi di parkiran, jadi semangat dikit," balas Langit berbisik.

Pelajaran dimulai. Kuliah Profesor Chandra berlangsung selama dua jam tanpa jeda. Suasana kelas tegang namun materi yang disampaikan sangat berbobot untuk tugas akhir mereka nanti.

Setelah dua jam yang melelahkan, Profesor Chandra akhirnya keluar kelas.

"Rian, ada rencana nggak hari ini selain ngerjain skripsi?" tanya Langit sambil meregangkan otot punggungnya.

Rian hanya menjulurkan lidah meledek.

"Dih, ditanya malah melet," celetuk Langit, lalu ia meremas kertas bekas coretan dan melemparnya tepat ke kepala Rian. "Headshot."

"Woy sakit tahu. Aku masih harus revisi draf progres skripsi nih," keluh Rian sambil mengusap kepalanya.

"Nih lihat punya aku saja. Salin bagian data pendukungnya biar cepat," kata Langit sambil menyodorkan laptopnya.

Rian tersenyum lebar menerima bantuan itu. Setelah memastikan tidak ada jadwal kuliah lagi, mereka berdua berjalan menuju atap gedung fakultas. Itu adalah markas tidak resmi mereka untuk mencari angin.

Di sana, seorang pemuda lain sudah menunggu sambil bersandar pada pembatas pagar.

"Yo Rendy," sapa Langit sambil merangkul sahabatnya itu.

Rendy hanya berdehem pelan. Ia adalah tipe yang paling tenang dan pendiam di antara mereka bertiga.

Tak lama kemudian, pintu atap terbuka dan Liora muncul dengan membawa kantong plastik berisi minuman dingin.

"Haus kan kalian? Nih aku belikan minum," kata Liora sambil membagikan minuman kaleng.

Mereka berempat, yang sering disebut Tiga Serangkai plus satu bidadari, duduk melingkar menikmati angin sepoi-sepoi. Dari masa SMA hingga kuliah tingkat akhir, persahabatan mereka tidak pernah luntur. Mereka selalu bergotong royong menyelesaikan masalah, baik itu masalah tugas kuliah maupun masalah percintaan.

Hari itu berjalan sangat menyenangkan bagi Langit. Tawa dan canda bersama sahabat-sahabatnya membuat beban skripsi terasa ringan.

Sore harinya, Langit pulang mengendarai motor dengan perasaan riang.

Namun saat ia sampai di mulut gang kompleks rumahnya, ia melihat hal yang aneh. Halaman rumahnya sudah dipenuhi mobil dan motor asing. Beberapa tetangga berdiri di depan pagar dengan wajah cemas dan muram.

Jantung Langit mendadak berdebar kencang tidak karuan. Perasaan tidak enak menyergap dadanya.

Ia segera memarkir motor sembarangan dan menerobos kerumunan orang. Pintu utama rumahnya terbuka lebar.

"Ada apa ini? Ayah? Ibu?" tanya Langit dengan suara bergetar kepada salah satu tetangga wanita.

Wanita paruh baya itu menatap Langit dengan pandangan iba yang sangat dalam, lalu tiba-tiba memeluk Langit erat.

"Sabarlah Nak. Kamu harus kuat," bisik wanita itu.

Langit melepaskan pelukan itu dengan paksa. Ia melangkah masuk ke ruang tamu. Beberapa polisi sedang berbicara serius dengan Ketua RT setempat.

Di atas meja ruang tamu, tergeletak sebuah tas kerja milik ayahnya dan dua helm yang salah satunya retak parah hingga hancur separuh. Ada bercak merah samar di sana.

"Ada apa Pak? Kenapa ada polisi?" desak Langit, suaranya mulai meninggi.

Seorang polisi berseragam mendekat ke arahnya.

"Nak Langit Dirgantara? Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya. Kedua orang tuamu, Bapak Deny dan Ibu Ningsih, mengalami kecelakaan tragis saat hendak menuju laboratorium," ucap polisi itu pelan.

Wajah Langit langsung memucat seputih kertas. Darah seolah berhenti mengalir di tubuhnya.

"Kecelakaan? Mereka naik motor memang, tapi Ayah selalu hati-hati. Apakah separah itu Pak?" tanya Langit dengan tatapan kosong.

"Maaf Nak. Berdasarkan olah TKP, motor matic yang mereka gunakan tertabrak mobil boks yang hilang kendali dari arah berlawanan. Benturannya sangat keras. Mereka meninggal di tempat," jelas polisi itu dengan nada hati-hati. "Sopir mobil boks itu melarikan diri dan masih dalam pengejaran kami."

Dunia Langit seketika runtuh. Langit-langit rumah serasa berputar. Suara bising orang-orang di sekitarnya mendadak senyap, digantikan dengungan tajam yang menyakitkan di telinganya.

"TIDAK MUNGKIN!" teriak Langit histeris. "Ayah! Ibu! Kalian bohong kan?"

Ia berlari gila ke kamar orang tuanya, berharap menemukan mereka sedang tidur atau bersiap-siap. Tapi kamar itu kosong dan rapi. Ia berlari ke dapur, ke halaman belakang, namun nihil.

Saat kembali ke ruang tamu, matanya terpaku pada helm sang Ayah yang retak itu.

"ARRRGHH!"

Teriakan Langit menggelegar memecah kesunyian sore itu. Ia jatuh berlutut, memukuli lantai keramik dengan kepalan tangannya hingga memerah.

"Kenapa harus motor? Kenapa kalian tidak naik mobil saja hari ini? Kenapa?!" teriaknya putus asa.

Kesedihan yang teramat sangat membuat tubuhnya tidak kuat menahan beban. Langit ambruk pingsan di tengah ruang tamu yang dipenuhi pelayat.

Tiga hari kemudian.

Proses pemakaman telah selesai. Ayah dan Ibunya telah disemayamkan dengan damai berdampingan. Namun kondisi Langit sama sekali tidak membaik. Bahkan kehadiran Rian, Rendy, dan Liora yang bergantian menjaganya tidak mampu menarik Langit dari lubang kesedihan.

Langit duduk di tepi kasurnya dengan tatapan kosong. Sudah tiga hari ia tidak masuk kuliah, tidak makan dengan benar, dan tidak tidur.

"Apakah aku menyusul mereka saja?" gumam Langit datar. Suaranya serak dan kering. "Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa sendirian di dunia ini."

Napasnya memburu. Kabut hitam keputusasaan telah menutup akal sehatnya. Ia merasa hidupnya sudah berakhir seiring kepergian orang tuanya.

Langit berdiri, mengambil kunci motornya yang tergeletak di meja. Ia berjalan keluar rumah tanpa mempedulikan tetangga yang menyapa.

Tujuannya satu, sebuah gedung pencakar langit terbengkalai di ujung wilayah kompleks yang pembangunan-nya mangkrak bertahun-tahun lalu.

Langit memacu motornya seperti orang gila. Sesampainya di sana, ia langsung naik melalui tangga darurat yang berdebu menuju atap gedung.

Angin kencang menerpa tubuh kurusnya di ketinggian lantai tiga puluh. Langit berjalan mendekati tepi gedung yang tidak memiliki pagar pembatas. Di bawah sana, hamparan perumahan terlihat kecil seperti mainan.

"Ayah, Ibu, Langit datang," bisiknya lirih sambil memejamkan mata.

Ia mengangkat satu kakinya, siap menjatuhkan diri ke dalam pelukan gravitasi.

Namun tiba-tiba, sebuah suara aneh terdengar di dalam kepalanya. Suara itu monoton, datar, seperti suara mesin namun terasa sangat agung.

[Sistem Kekayaan Semesta menemukan pemuda yang malang nasibnya]

[Hari yang sial bagi pemuda ini akan menjadi titik balik takdirnya]

Langkah Langit terhenti. Ia membuka matanya, bingung mencari sumber suara di tempat yang sepi itu.

"Siapa di sana?" teriak Langit.

Namun tidak ada jawaban, hanya sebuah layar hologram biru transparan yang tiba-tiba muncul melayang tepat di depan wajahnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca