

Hujan gerimis menyapu Jakarta Selatan sejak subuh. Tak deras, tapi cukup membuat udara terasa lebih berat —seperti luka lama yang tak kunjung kering.
Di dalam rumah petak berdinding semen yang kini terasa terlalu luas untuk seorang diri, Danu Wirawan duduk bersila di lantai kayu yang mulai lapuk.
Laptopnya menyala redup, menampilkan deretan angka yang tak pernah cukup: pendapatan bulanan, jumlah pengikut, engagement rate, dan tagihan listrik yang belum dibayar.
Usianya baru tiga puluh tahun, tapi matanya sudah menyimpan kelelahan yang biasanya hanya dimiliki pria yang telah melewati separuh abad.
Rambutnya acak-acakan, kaus oblong lusuh menempel pada tubuhnya yang semakin kurus.
Dulu, ia dikenal sebagai kreator konten dengan gaya satire politik yang unik —video-video pendeknya viral, wawancaranya dikutip media, dan undangan kolaborasi mengalir deras.
Tapi itu dulu. Sebelum dunia algoritma berubah. Sebelum istrinya, Maya, memilih pria lain —seorang pengusaha muda dengan dompet tebal dan akun Instagram yang penuh liburan mewah.
Perceraian itu resmi tiga minggu lalu. Tak ribut, tak drama. Hanya surat cerai yang ditandatangani di hadapan pengadilan agama, lalu Maya pergi membawa koper kecil dan senyum dingin.
“Aku butuh kepastian, Danu,” katanya waktu itu. “Bukan sekadar harapan.”
Kini, rumah ini —yang dulu dipenuhi tawa kecil mereka berdua, aroma kopi buatan Maya, dan suara musik latar saat mereka syuting bareng —terasa seperti kuburan hidup.
Danu menatap layar. Akun media sosialnya tak lagi ramai. Komentar terakhir datang dari fans lama yang bertanya, “Masih hidup, kah?”
Ia menutup mata sejenak, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia merasa utuh —bukan hanya sebagai kreator, tapi sebagai laki-laki.
Sebagai suami. Sebagai manusia yang diinginkan, bukan yang ditinggalkan.
“Sial,” gumamnya, suaranya parau. “Aku bahkan tak punya cukup uang buat beli beras, apalagi harga diri.”
Ia menggeser kursi kayu yang berderit, lalu menyalakan laptop lebih terang.
Di desktop-nya, ada satu folder bernama “Arsip Luka.” Di dalamnya: foto-foto lama bersama Maya, rekaman proposal pernikahan mereka di kafe kecil di Cikini.
Dan video ulang tahun pertama pernikahan mereka —ketika ia masih percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya, termasuk tagihan listrik dan cicilan motor.
Tapi kenyataan tak seindah narasi yang dibangun di media sosial. Maya mulai menjauh sejak penghasilannya turun.
Ia mulai membandingkan Danu dengan teman-temannya yang “sukses” —yang bisa liburan ke Bali setiap bulan, yang punya mobil, yang bisa membeli hadiah ulang tahun berupa parfum impor.
Danu mencoba bertahan dengan idealisme: “Aku bukan konten kreator yang mau jual muka. Aku buat karya, bukan konten sampah.”
Tapi idealisme tak bisa bayar listrik. Dan Maya —yang awalnya begitu mendukung— akhirnya memilih jalan lain.
“Kau terlalu keras kepala,” katanya sebelum pergi. “Dunia ini tak peduli pada prinsip. Dunia ini peduli pada uang.”
Danu menutup folder itu. Napasnya pendek. Ia merasa seperti boneka kain yang isinya sudah dicabut—hanya kulit luar yang tersisa, tanpa jiwa, tanpa tujuan.
Ding!
Suara notifikasi menghentak keheningan.
Danu terkejut. Jarang ada yang mengiriminya pesan pribadi akhir-akhir ini. Ia mengklik ikon pesan di pojok kanan bawah layar.
Sebuah pesan langsung (DM) masuk dari aplikasi media sosial.
Pengirim: @LunaAurora
Foto profil: seorang perempuan muda dengan rambut pirang ombre, mata tajam berbalur eyeliner emas, dan senyum yang seolah tahu semua rahasia dunia.
Danu mengernyit. Ia tak mengenal nama itu. Tapi siapa tak kenal Luna Aurora? Influencer kecantikan dengan 2,3 juta pengikut.
Brand ambassador untuk tiga merek kosmetik internasional.
Sering muncul di acara peluncuran produk, talkshow, bahkan sempat jadi sampul majalah Gaya Hidup Digital edisi khusus Wanita Paling Berpengaruh di Dunia Digital Indonesia.
Apa yang seorang bintang seperti dia lakukan mengirim pesan ke seorang duda miskin seperti dirinya?
Danu ragu sejenak, lalu mengklik pesan itu.
> LunaAurora:
> “Hai, Danu. Gue nonton semua videomu dari awal —sejak era satire politik dulu. Gue suka cara lo berpikir. Jujur, jarang banget ada kreator yang masih berani bicara ‘benar’ di dunia yang penuh topeng.”
Danu menatap kalimat itu berulang kali. Matanya menyipit, seolah mencari jebakan. Tapi tak ada nada ejekan.
Tak ada sindiran. Hanya apresiasi —sesuatu yang sudah lama tak ia dengar.
> LunaAurora:
> “Gue dengar soal… apa yang terjadi. Gue gak mau ikut campur, tapi gue tahu rasanya dianggap ‘gak cukup.’ Dunia ini kejam, tapi lo masih punya sesuatu yang banyak orang kehilangan: keaslian.”
Danu menelan ludah. Dadanya berdebar. Bukan karena tertarik —belum— tapi karena untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, seseorang melihatnya.
Bukan sebagai mantan suami yang gagal. Bukan sebagai kreator yang ketinggalan zaman. Tapi sebagai Danu Wirawan —manusia utuh dengan pikiran dan nilai.
> LunaAurora:
> “Kalau lo mau, gue mau ngobrol. Bukan soal kolab. Bukan soal uang. Cuma… ngobrol. Lo boleh DM balik kapan aja.”
Pesan itu berakhir di sana. Tak ada tekanan. Tak ada ekspektasi. Hanya pintu terbuka.
Danu menatap layar lebih lama. Jarinya gemetar —bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih menakutkan: harapan.
Ia menoleh ke sudut ruangan. Di atas lemari kayu tua, tergeletak amplop cokelat yang belum dibuka sejak seminggu lalu.
Amplop itu dikirim oleh seseorang yang mengaku “teman lama dari masa kuliah.” Isinya —saat ia akhirnya membukanya tadi pagi— adalah sebuah USB kecil dan secarik kertas bertuliskan tangan:
> “Ini bukan sihir. Ini senjata. Gunakan dengan hati yang pahit, tapi jangan biarkan hati itu membusuk. — R.”
Ia belum tahu siapa “R.” Tapi USB itu berisi satu file teks panjang: “Pelet Komunikasi Digital – Panduan Penggunaan Etis (Atau Tidak).”
Awalnya, ia mengira itu lelucon. Tapi rasa penasaran —dan keputusasaan— membuatnya membaca seluruh dokumen itu.
Isinya menjelaskan teknik manipulasi psikologis berbasis algoritma, bahasa tubuh digital, dan narasi emosional yang bisa membuat siapa saja —terutama perempuan— merasa terhubung secara instan dengannya.
Bukan dengan paksaan. Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan 'pengaruh'.
“Pelet digital,” bisiknya waktu itu, tertawa getir. “Konyol.”
Tapi sekarang… dengan pesan dari Luna di layar…
Ia mengambil USB itu, memasangnya ke laptop. File teks itu masih terbuka. Ia menggulir ke bagian “Langkah Pertama: Bangun Koneksi Emosional Sebelum Fisik.”
> “Orang tak menyerahkan tubuhnya kepadamu karena kau tampan. Mereka menyerahkannya karena kau membuat mereka merasa… dilihat.”
Danu menatap kembali pesan dari Luna. Lalu ia mengetik perlahan.
> DanuWirawan:
> “Terima kasih. Aku… butuh ngobrol. Kapan?”
Ia menekan kirim. Detik itu juga, tanda centang biru muncul —dibaca.
Dan dalam hitungan detik, balasan datang.
> LunaAurora:
> “Besok jam 6 sore. Di rooftop kafe ‘Nebula.’ Aku reserve meja pojok. Jangan bawa kamera. Cuma kita berdua.”
***