Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reinkarnasi Eric William: Menjadi Artis Hollywood

Reinkarnasi Eric William: Menjadi Artis Hollywood

Best Siallagan | Bersambung
Jumlah kata
30.1K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Reinkarnasi Eric William: Menjadi Artis Hollywood
Reinkarnasi Eric William: Menjadi Artis Hollywood

Reinkarnasi Eric William: Menjadi Artis Hollywood

Best Siallagan| Bersambung
Jumlah Kata
30.1K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
18+FantasiIsekaiPecundang Zero To HeroReinkarnasi
"Di industri ini, kau hanya punya dua pilihan: Menjadi mangsa, atau menjadi penguasa." Tahun 2014, Eric mati sebagai pecundang. Seorang sutradara iklan berbakat yang idealismenya mati ditelan kerasnya realita dan tuntutan ekonomi. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun di Hollywood tahun 1988 dalam tubuh pemuda pirang berusia 18 tahun. Tanpa uang sepeser pun, tinggal di apartemen kumuh, dan baru saja kehilangan ayahnya yang tewas mengenaskan karena alkohol, Eric berada di titik terendah. Hollywood yang ia hadapi bukan sekadar gemerlap lampu neon, melainkan hutan rimba yang siap memangsa siapa pun tanpa koneksi. Namun, Eric membawa senjata rahasia: Ingatan fotografis tentang setiap mahakarya dari masa depan. Setiap naskah box office, setiap lagu pemenang Grammy, dan setiap teknik penyutradaraan yang belum ditemukan, semuanya tersimpan rapi di dalam kepalanya. Dimulai dari sebuah naskah yang dianggap sampah oleh produser sombong, Eric mulai merangkak naik. Ia akan menghadapi sabotase, pengkhianatan dari wanita yang ia percayai, hingga tekanan dari para penguasa studio yang ingin mencuri karyanya. Tapi Eric tidak akan berhenti. Satu per satu, dewi-dewi tercantik di layar lebar akan tunduk pada pesonanya. Satu per satu, rekor dunia akan ia pecahkan. Dari seorang pelayan restoran yang dihina, menjadi kaisar yang mengendalikan seluruh industri hiburan dunia. Ini bukan hanya tentang film. Ini tentang bagaimana seorang pria dari masa depan menulis ulang sejarah dan menjadi legenda tunggal di bawah langit Hollywood.
Hollywood 1988

"Hei, Eric! Steak untuk meja sembilan!"

"Oh, baiklah," sahut Eric. Dengan gerakan yang agak canggung, ia membawa dua piring steak menuju pasangan yang duduk di dekat jendela. Setelah selesai, ia kembali ke posisinya semula, menyandarkan tubuh di balik konter sembari melamun. Tatapannya kosong.

Hari ini 13 Juli 1988. Ini adalah hari ketiga sejak ia terbangun di tubuh ini, di sebuah restoran Italia di North Hollywood, Los Angeles. Eric menoleh, menatap pantulan samar dirinya di kaca jendela: seorang pemuda setinggi 180 cm dengan garis wajah tegas, hidung mancung, dan rambut pirang ikal pendek. Inilah dirinya yang sekarang.

Hanya beberapa hari yang lalu, Eric adalah seorang sutradara iklan di Shanghai pada tahun 2014. Di usia 24 tahun, ia lulus dari akademi film ternama di Tiongkok dengan mimpi besar menjadi sutradara kelas dunia. Namun, sepuluh tahun kerja keras mengajarinya betapa kejamnya realita. Meski memiliki kemampuan profesional yang mumpuni, ia berakhir menjadi buruh industri iklan demi uang susu anaknya. Di sebuah acara reuni kelas, setelah tenggelam dalam lautan alkohol bersama teman-teman lama, ia jatuh tertidur dalam kenangan masa lalu yang pahit.

Dan seperti awal dari setiap kisah yang mendebarkan, ia terbangun di dunia yang berbeda. Ia terlempar 25 tahun ke masa lalu, menjadi seorang remaja bernama Eric Williams yang baru saja lulus SMA, dan...

"Eric, kau tidak apa-apa?" Sebuah tangan besar menepuk pundaknya dengan lembut. Eric menoleh dan melihat Jeff Jones, pemilik restoran tersebut.

"Maaf, Jeff. Aku melamun lagi."

"Tidak apa-apa," Jeff menggosok tangannya, mencari kata-kata yang tepat. "Aku turut berduka soal Ralph, tapi hidup harus terus berjalan, bukan? Ceria sedikitlah, Eric."

Ralph Williams, ayah Eric, adalah koki Italia yang hebat namun memiliki satu kelemahan fatal: kecanduan alkohol. Dalam ingatan Eric yang baru, kecanduan itu bermula sejak kepergian ibunya yang tak pernah ia temui. Sebulan yang lalu, Ralph tewas mengenaskan akibat keracunan alkohol akut.

"Terima kasih, Jeff. Kalau bukan karena bantuanmu, aku tidak tahu harus bagaimana," ucap Eric tulus. Kematian Ralph menghancurkan segalanya. Eric seharusnya masuk ke University of California, namun tanpa uang sepeser pun, mimpi kuliah itu menguap. Biaya kuliah universitas negeri mencapai 20 ribu dolar setahun—angka yang mustahil diraihnya sekarang. Jeff, sebagai teman lama ayahnya, memberinya pekerjaan sebagai pelayan agar Eric tidak mati kelaparan di jalanan.

"Ralph sudah lama bekerja di sini, ini hal terkecil yang bisa kubantu. Tapi sisanya tergantung usahamu sendiri."

Eric mengangguk, namun pikirannya berkecamuk. Jika Tuhan—atau entah kekuatan apa—melemparkannya kembali ke Hollywood dua dekade lalu hanya untuk menjadi pelayan restoran seumur hidup, itu adalah sebuah penghinaan.

Awalnya ia merasa bersemangat, namun rasa bingung segera mengambil alih. Di kehidupan sebelumnya, ia gagal meski punya gelar. Sekarang? Ia tidak punya ijazah, tidak punya koneksi, dan tidak punya modal. Melamar ke perusahaan film sebagai pesuruh sekalipun kemungkinan besar akan ditolak.

Setelah sif yang melelahkan, Eric mengendarai sedan Ford tua peninggalan ayahnya. Melewati sebuah bioskop, ia melihat poster film Rambo III. Foto Sylvester Stallone dengan otot yang bersimbah keringat terpampang gagah. Secara impulsif, Eric memarkir mobil dan membeli tiket.

Di dalam studio yang hanya terisi sedikit orang, Eric duduk terdiam. Saat film dimulai, Kolonel Trautman mengajak Rambo menjalankan misi di Afghanistan. Rambo menolak, hingga sang Kolonel dijebak, dan sang pahlawan kembali mengangkat senjata.

Eric sudah menonton film ini berkali-kali di masa depan. Ia datang ke sini hanya untuk mencari motivasi dari kisah Stallone yang legendaris. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat alur film bergerak, Eric mendapati dirinya bisa memprediksi setiap adegan berikutnya dengan presisi yang mengerikan.

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat film Titanic karya James Cameron yang baru akan dibuat bertahun-tahun lagi. Dan... boom. Ia bisa melihat setiap detik adegan, mendengar setiap baris dialog, bahkan mengingat nada musik latar belakangnya seolah-olah otaknya adalah sebuah perpustakaan film digital yang sempurna.

Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba mengingat film yang hanya pernah ia dengar judulnya namun belum pernah ditonton—hasilnya nihil. Artinya, ia memiliki ingatan fotografis untuk semua karya yang pernah ia saksikan di masa depan!

Dulu, ia hanya orang biasa yang harus belajar keras untuk menghafal. Kini, ia membawa harta karun berupa mahakarya masa depan di dalam kepalanya. Di kegelapan bioskop, wajah Eric memerah karena semangat yang meluap. Ia memukul sandaran tangan kursinya tanpa sadar.

"Holy shit!" teriaknya spontan, membuat penonton lain menoleh dengan tatapan kesal.

Eric tersenyum canggung, namun pikirannya sudah terbang jauh. Ia berjalan keluar bioskop dengan ambisi yang membara. Dengan modal raksasa di otaknya, ia tahu satu hal: Jika di kehidupan ini ia gagal lagi, ia lebih baik menenggelamkan dirinya di wastafel sekarang juga.

Puncak dunia sedang menunggunya, dan Hollywood akan segera mengenal namanya.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca