

Cahaya yang sempat Alvano lihat memudar bersama hujan yang mulai jatuh satu persatu. Penelitiannya tentang penyambungan akar ilalang terhenti seketika.
Ia kembali memasuki gedung yang mulai sepi. Gedung sekolah SMK kejuruan yang menjadi tujuannya sejak kecil. Sepatunya ternoda karena jalan yang agak lembab.
"Kenapa harus hujan, sih?" Desisya menyugar rambut yang terlihat berantakan.
Alvano celingukan mencari keberadaan orang yang barangkali masih bertahan di sekolah itu karena hujan mulai menunjukkan aksinya. Namun yang ia dapati hanya lorong sunyi. Menimbulkan bunyi gema hujan yang terdengar menyeramkan. Vano berhenti di pilar sekolah, sembari meredakan gemuruh hatinya yang mulai berkecamuk.
"Pian .. Pian .. " Katanya menjentikkan jari.
Seakan baru mengingat kalau Pian temannya itu masih membersamainya.
Sunyi, sepi
Alvano menggerutu dalam hati, ia baru sadar kalau Pian tidak masuk hari ini.
Note kecil bersama pulpen bertinta merah ia lihat kembali dan membaca tulisan tangan yang baru saja ia catat.
"Akar ilalang bersifat sera ..."
"Eh, kok, gak ada lanjutannya?" Alvano membolak-balik lagi note kecilnya yang terlihat agak lembab karena terkena percikan hujan.
"Awww" Vano seketika memegang bagian kepala belakangnya, tepatnya di bagian sisi otak kecilnya, karena tiba-tiba ia merasakan denyutan yang hebat.
"Ada apa ini?" tanyanya sendiri. Pemandangannya mulai tak berfungsi, di ujung lorong kilat berkelabat ingin menjilat benda yang ada di sana.
Denyutan di kepala Alvaro kian menjadi, bukunya catatan kecil itu telepas dan terbuka bagai kipas karena tiba-tiba angin berhembus kencang. Pemandangannya buram, tulisan dengan tinta merah itu seakan meleleh membanjiri lantai lorong sekolah.
Alvano menggeram frustasi karena kehilangan keseimbangan. Tangannya mencari pegangan, dan matanya membelalak melihat huruf-huruf yang ia tulis berlompatan mendekatinya. Bergerak lincah meliuk dan membelit tiang-tiang pagar yang berderet sepanjang lorong.
Alvaro mengeleng-gelengkan kepala, berharap bisa menstabilkan perasaannya yang tidak normal. Bunyi dengub jantungnya seirama dengan gemuruh rintik hujan. Vano semakin terpana saat huruf-huruf itu membentuk tulisan "PULANGLAH".
"Ada apa denganku?" ucapnya dalam hati.
Tangan Vano yang kebas menekan dadanya yang berdegup lebih kencang. Seperti sesuatu telah memompa pernapasannya. Vano memejamkan mata, melihat lorong sekolahan yang panjang dengan mata terpejam. Ia meringis dan merasakan panas di kedua matanya, cairan bening bercampur bercak kemerahan menggeliat ingin keluar. Ada sinar berpendar di ujung lorong, semakin lama ia memejamkan mata semakin terang dengan cahaya yang kian mendekat.
"Di mana aku?" Gumamnya dengan setengah sadar. Tenggorokannya terasa panas akibat cahaya yang kian terang.
Dari gumpalan-gumpalan cahaya itu bermunculan huruf-huruf yang ia catat dalam buku kecil. Meliuk-liuk menari bagai helaian daun ilalang. Kemudian membentuk sebuah tulisan peringatan 'PULANGLAH!'
Vano mengernyit antara sadar dan tidak. Ia berpikir sedang bermimpi. Tapi lantai tempatnya terduduk adalah lantai sekolahan yang biasa ia sambangi setiap hari.
"Haloo, apa ada orang?" Vano mencoba berteriak dalam kegelapan matanya yang masih terpejam. Ia mengumpulkan tenaganya, berusaha untuk bangkit dan setelahnya ingin pulang.
Teriakannya memantul keujung lorong, ia berusaha membuka kelopak matanya, pelan namun terasa berat. Setelah ia berhasil menyalurkan tenaga untuk mengendalikan keadaannya, Vano seketika terkejut, karena ia bukan berada di lorong sekolahan, tapi ada di lantai tanah yang lembab. Aroma tanah becek yang menyambut penciumannya.
"Ini bukan dirumah, apalagi disekolah. Tapi kenapa aku ada di sini?" Kebingungan menyambut jiwanya. Ia pandangi sekeliling, dan mendongak ingin memastikan. Ternyata dia hanya berada di bawah langit penuh bintang. Titik hujan tak lagi jatuh.
"Haaaycin." Vano bersin berkali-kali. Ia menggosok-gosok hidungnya seperti ada yang memasukinya. Ternyata butiran kembang ilalang telah membuatnya bersin.
Saat itupun Vano tercekat, karena di sekelilingnya hanya terhampar ilalang yang luas. Bergoyang tertiup angin. Menimbulkan bunyi yang syahdu.
"Sepertinya aku tersesat," ujarnya bergumam. Ia mengacak rambutnya, pakaian seragamnya tampak gelap. Sepatunya terasa berat, karena menginjak gumpalan tanah becek dan bergumpal.
Ia mencari keberadaan buku kecil, tapi tak ditemukan. Namun ia sadar buku itu dalam dalam benaknya.
Vano terdiam sejenak, mencoba mencocokkan kejadian dengan gambaran di benaknya. Ia mencatat dan memilih akar yang paling panjang, kemudian menghitung beberapa akar yang tampak bercabang. Semua itu tergambar dalam ingatannya. Dan seolah tangannya kembali mencatat beberapa poin penting tentang tumbuhan ilalang. Kemudian ia tutup buku kecil itu.
"Hahhf," Ia menghembuskan nafas kasar. Fiks ia telah memindahkan buku dan pena serta tangan dalam benaknya sendiri.
Ia bangkit dari jongkoknya, memandang sekeliling, hanya gemuruh desau daun ilalang. Terdengar berbisik menyeramkan seakan memberi peringatan kalau tempat ini adalah tempat yang berbahaya.
Alvano Hasibuan, pelajar SMK kelas 12 itu menyipitkan mata, kala ia tak sengaja menginjak sesuatu yang bergerak.
Dalam hatinya berkata, bahwa tidak ada yang ia takutkan selain kemarahan sang mama.
"Mama, maafkan Vano. Sungguh Vano menyesal telah melanggar perintah mama, Vano janji gak akan mengulanginya lagi." bisikmya dalam hati. Namun semua telah terjadi, tidak ada lagi yang bisa mengembalikannya seperti sedia kala.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumaman serta penyesalan tak henti ia gemakan.
"Ya ampun!" Geramnya. Tangannya menepuk jidat. Ia melupakan satu hal yang paling penting.
"Ponsel!" Jeritnya tertahan. Ia segera menggerayangi tubuhnya sendiri mencari keberadaan benda yang akan menghubungkannya dengan dunia lain selain dunia yang sekarang ia alami.
Namun, sekian detik merogoh saku seragam dan celananya tak jua di temukan. Ia berjalan sambil memindai keadaan tanah yang becek.
Suara bunyi 'krakk' dari arah kakinya yang mengganjal menghentikan aksi jalannya.
"Itu, dia. Ya, Tuhan, kok bisa keinjek, sih?" Gerutunya sembari memungut ponsel yang tentu saja telah kehilangan fungsinya.
Cuaca malam kian menusuk, ia bahkan tak tau jam berapa saat ini. Yang ia tau kulitnya terasa merinding akibat hembusan angin malam yang datang menerjang tubuhnya.
Lingkaran tanah tempatnya berdiri terpaku terang akibat Sambaran kilat yang datang, Vano terlonjak. Ia mengamati lagi sekeliling. Tak ada tempat untuk berteduh jika badai hujan datang menyerbu.
"Kemana aku akan pergi, dengan luasnya ilalang seperti ini," tanyanya dalam hati. Vano mengucek kedua matanya dengan punggung tangan yang mungkin tidak bersih. Berharap dengan gerakannya itu ia akan bangun dari mimpi buruk yang membelenggunya, ia akan terbangun di kamarnya yang nyaman. Namun itu semua tidak terjadi. Ia tetap berada di sana, di lingkaran ilalang yang terhampar luas. Di suasana malam yang dingin. Bahkan bintang juga sudah padam sejak tadi.
Ia ingin bersandar sejenak, entah itu di bawah pohon atau di tiang penyangga. Namun, tidak ada apapun untuk ia jadikan pelindung dari ganasnya angin malam.
Hujan mulai datang, dengan seribu mata pedang yang tajam, Vano mendekap tubuhnya dari gempuran rinai yang semakin banyak.
"Hai, hujan! Kureguk tetesmu, kurasakan belaianmu, aku ingin menikmati kebersamaan ini denganmu. Tapi, ku mohon jangan biarkan aku sendirian di sini. Biarkan aku pulang dan bertemu mama!" pintanya dengan jeritan melengking. Menembus hujan yang gemuruh.