

Aku selalu percaya satu hal:
Selama aku bisa mengontrol situasi, hidupku aman.
Masalahnya, malam itu… aku kehilangan kendali.
---
“Lo yakin mau masuk ke dunia ini?”
Suara Raka rendah, tapi cukup tajam untuk nusuk kepala. Mobil hitam kami berhenti di depan hotel bintang lima kawasan Sudirman. Mesin masih menyala—seolah sengaja ngasih aku waktu buat mundur.
Aku merapikan manset jas, kancing terakhir kupastikan terkunci. Ritual kecil biar kelihatan rapi… dan kelihatan aman.
“Kira-kira gue punya pilihan lain?” tanyaku.
Raka menghembuskan asap rokok pelan. “Pilihan selalu ada, Van. Tinggal lo cukup waras buat ambil atau enggak.”
Aku terkekeh. “Kalau gue waras, gue nggak bakal duduk di sini.”
Dia mematikan rokoknya. “Klien lo beda.”
“Semua klien lo bilang beda.”
“Yang ini nggak cuma bayar buat ditemenin makan malam.” Raka menatapku, kali ini tanpa bercanda. “Dia bayar buat sesuatu yang lo bahkan belum tentu siap.”
Aku menoleh. “Terus?”
“Dia pintar. Terlalu pintar. Orang pintar yang pura-pura butuh ditemani itu lebih berbahaya dari yang terang-terangan kesepian.” Raka mengusap rahangnya. “Lo ngerti maksud gue?”
“Lo takut gue ketemu orang yang bisa ngebaca gue.”
Raka tidak menyangkal. “Namanya Evelyn Hartono. Janda. CEO. Umur empat puluh awal. Duitnya nggak habis tujuh turunan.”
“Dan?”
“Insting gue nggak enak.”
Aku tertawa kecil. “Sejak kapan lo percaya insting?”
“Sejak insting nyelametin gue berkali-kali,” jawabnya cepat. “Kalau ada yang bikin lo ngerasa aneh, lo cabut. Jangan sok kuat.”
Aku meraih gagang pintu. “Tenang, Rak. Ini cuma kerjaan.”
Klik.
Pintu tertutup.
Dan seperti biasa, nama asliku kutinggalkan di dalam mobil itu.
Di balik kaca mobil tadi, aku sempat melihat Raka menatap punggungku. Tatapan itu bukan gaya sok peduli—lebih seperti orang yang baru saja melepas temannya masuk ke perang.
---
Begitu masuk lobi, AC dingin menyergap. Parfum mahal, lantai marmer, orang-orang rapi yang berjalan seolah hidup mereka nggak pernah berantakan.
Mataku langsung menangkap sosoknya.
Dia berdiri dekat pilar marmer. Gaun hitam sederhana, potongan bersih, tidak mencolok—tapi jelas mahal. Rambutnya disanggul rapi. Tatapannya mengarah padaku duluan, seolah dia sudah tahu aku bakal muncul dari pintu itu.
“Kamu Zavian?” tanyanya tanpa senyum.
Aku berhenti di depannya. “Dan Anda Evelyn.”
“Panggil aku Evelyn.” Nadanya datar, tapi menekan. “Aku tidak suka formalitas.”
“Kebetulan,” kataku, “aku juga.”
Kami duduk di lounge. Dia tidak menatapku seperti klien biasanya—bukan kagum, bukan menggoda. Tatapannya seperti menilai, seperti membeli.
“Kamu datang tepat waktu.”
“Itu bagian dari profesionalisme.”
“Atau tanda kamu terbiasa mengatur hidupmu sendiri.”
Aku tersenyum tipis. “Biasanya begitu.”
Dia memiringkan kepala. “Kamu tahu kenapa aku memilih kamu?”
“Karena rating saya bagus?” aku coba bercanda.
“Tidak.” Ia menegakkan tubuh. “Karena kamu tidak terlihat seperti gigolo.”
Kalimat itu terasa seperti pisau tipis di kulit.
Aku menahan reaksi, lalu tertawa kecil. “Itu pujian atau hinaan?”
“Observasi.” Ia menyeruput wine. “Orang seperti kamu biasanya menyembunyikan sesuatu.”
Aku condong sedikit. “Semua orang menyembunyikan sesuatu, Evelyn.”
“Benar.” Tatapannya menusuk lurus. “Bedanya, sebagian orang tidak sadar mereka sedang duduk di atas ranjau.”
Untuk pertama kalinya malam itu… aku merasa sedang diuji.
---
“Naik ke kamar.”
Tidak ada nada menggoda.
Itu perintah.
Aku ikut berdiri. Bukan karena patuh, tapi karena penasaran: ranjau macam apa yang dia maksud.
Di lift, Evelyn berdiri diam menatap angka lantai naik. Aku bisa melihat pantulan wajahku di cermin: senyum tipis, mata tenang—topeng yang sudah kupakai bertahun-tahun.
“Kamu nyaman di tempat seperti ini?” tanyanya mendadak.
“Aku nyaman di tempat yang bisa kuprediksi,” jawabku.
“Berarti kamu tidak akan nyaman malam ini,” katanya pelan.
---
Suite itu luas, sunyi, dan terasa terlalu steril. Tirai tertutup, lampu temaram membelah ruangan jadi bayangan-bayangan panjang.
Evelyn meletakkan tasnya, lalu menatapku lagi.
“Minum?” tanyanya.
“Tidak.” Aku membuka jas. “Aku lebih suka langsung jelas.”
Dia tersenyum tipis. “Kamu percaya diri sekali.”
“Aku dibayar untuk itu.”
“Aku tidak butuh tubuhmu,” katanya.
Aku berhenti. “Lalu?”
“Aku butuh kamu mendengarkan.” Nadanya turun, lebih gelap. “Aku sedang diburu.”
Aku tertawa pendek. “Kalau itu lelucon—”
“Aku tidak bercanda.” Ia mengeluarkan ponsel, membuka galeri, lalu menyodorkannya.
Foto seorang pria bersimbah darah memenuhi layar.
“Itu pengacaroku,” katanya tenang. “Ditemukan tadi pagi.”
Napasku tertahan. “Kenapa Anda cerita ke saya?”
“Karena malam ini seseorang akan mengawasi aku.” Tatapannya tajam. “Dan aku butuh alibi.”
Aku berdiri. “Ini bukan bagian dari kontrak.”
“Kontrak bisa direvisi.”
“Aku tidak tertarik revisi yang bikin saya mati.”
Evelyn berdiri juga. “Dan kamu butuh uang.”
Aku mengepalkan tangan. “Anda tidak tahu apa-apa tentang saya.”
Dia melangkah satu langkah mendekat. “Nama aslimu bukan Zavian.”
Dunia seperti berhenti.
“Apa maksud Anda?”
“Nama ibumu Sari. Ayahmu meninggal saat kamu SMA. Kamu kuliah pakai beasiswa… lalu menghilang.” Ia menatapku tanpa berkedip. “Kamu sangat hati-hati agar tidak meninggalkan jejak.”
Darahku terasa dingin. “Siapa yang kasih Anda informasi itu?”
“Orang yang sama yang ingin aku mati.”
Ketukan keras menghantam pintu.
DUK! DUK! DUK!
Evelyn menatapku tanpa panik. “Mereka datang.”
“Siapa ‘mereka’?”
“Mafia Morandi.”
Jantungku berdetak tak karuan.
“Peluk aku,” katanya cepat.
“Apa?”
“Sekarang.”
Sebelum pintu terbuka, Evelyn berbisik nyaris tanpa suara, “Apa pun yang mereka tanya, jangan jelasin. Jangan defensif. Orang seperti mereka suka bau takut.”
“Lo ngomong kayak udah sering ketemu,” bisikku balik.
Dia hanya menjawab dengan tatapan singkat. “Sering.”
Aku meraih pinggangnya, refleks. Tubuhnya menempel di dadaku saat pintu terbuka.
Dua pria masuk. Jas gelap. Tatapan dingin.
“Sibuk rupanya,” kata salah satu, aksennya asing.
“Aku bayar mahal untuk privasi,” jawab Evelyn malas.
Pria itu menatapku dari ujung kepala sampai kaki. “Siapa dia?”
Aku menyeringai tipis. “Hanya hiburan malam.”
Dia mendekat. Terlalu dekat. “Nama?”
Aku menatap matanya. “Zavian.”
Dia tersenyum miring. “Hati-hati dengan nama palsu.”
Beberapa detik terasa seperti menit. Lalu mereka pergi.
Begitu pintu tertutup, aku melepaskan Evelyn.
“Ini gila,” kataku. “Anda hampir membuat saya mati.”
Dia mengangguk pelan. “Dan sekarang kamu terlibat.”
“Aku tidak setuju.”
“Tidak perlu.” Ia mengambil tasnya. “Mereka akan mencari kamu.”
“Apa?”
“Kamu terlalu tenang untuk gigolo biasa.” Tatapannya tajam. “Mereka mencium bau rahasia.”
Aku mengusap wajah. “Sial…”
Dia berhenti di pintu. “Kalau kamu mau hidup, Zavian, temui aku besok.”
“Kalau tidak?”
“Berdoa mereka salah.”
Pintu tertutup.
Aku berdiri sendirian di kamar itu, napasku belum stabil.
Ponselku bergetar.
Nomor tak dikenal.
Satu pesan masuk.
> Kami tahu siapa kamu sebenarnya. Dan kami tahu apa yang kamu lakukan tiga tahun lalu.
Tanganku membeku.
Mereka bukan cuma memburuku.
Mereka tahu.
Rahasia yang kupikir sudah terkubur—
ternyata baru saja digali.
Dan kali ini…
yang memburuku bukan cuma mafia.
Tapi masa laluku sendiri.