

Gedung arsip itu selalu terasa lebih dingin setelah matahari terbenam.
Bukan dingin yang menusuk tulang, melainkan dingin yang menetap, seperti sisa kehadiran seseorang yang baru saja pergi, lalu lupa kembali. Arga Pradipta merasakannya setiap kali pintu besi di lantai dasar tertutup di belakangnya. Bunyi klik dari kunci otomatis selalu terdengar terlalu keras di ruang kosong, seolah menjadi penanda bahwa ia telah berpindah dari dunia yang hidup ke tempat di mana waktu hanya bertahan karena kebiasaan.
Ia bekerja malam itu sendirian.
Seperti malam-malam sebelumnya.
Lampu lorong menyala satu per satu saat ia melangkah masuk lebih dalam. Cahayanya putih pucat, tidak pernah benar-benar hangat. Rak-rak besi berdiri rapat di kiri dan kanan, menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit. Map-map cokelat berjejer rapi, punggungnya dipenuhi kode, tanggal, dan nama yang tidak lagi memiliki suara.
Arsip kematian.
Arga menggeser tas selempangnya ke bahu kanan. Sepatunya menyentuh lantai kayu tua, menimbulkan bunyi tok yang pelan namun jelas. Bunyi itu menggema sebentar sebelum menghilang, diserap oleh lorong-lorong panjang yang seolah menolak menyimpan apa pun terlalu lama.
Gedung ini selalu seperti itu. Tidak pernah benar-benar sepi, tapi juga tidak pernah ramai. Selalu ada jarak antara suara dan sumbernya.
Ia berhenti di ruang utama, tepat di bawah jam dinding besar yang tergantung di atas meja administrasi. Jam itu sudah ada sejak sebelum ia bekerja di sini—lingkarannya besar, kacanya buram, angka-angkanya menguning seperti gigi tua.
Arga meliriknya sekilas.
Jarumnya diam.
Pukul 02.17.
Ia mengernyit tipis, lalu mengeluarkan ponsel dari saku jaket. Jam digital di layar menunjukkan pukul 01.42.
“Rusak lagi,” gumamnya.
Jam di gedung ini sering bermasalah. Sudah beberapa kali ia melaporkannya, dan selalu dijanjikan akan diganti. Tapi gedung tua punya cara sendiri untuk menunda perbaikan. Seolah ada bagian darinya yang menolak waktu berjalan normal.
Arga menyingkirkan pikiran itu dan duduk. Ia membuka map pertama di atas meja. Kertas-kertas di dalamnya berbau khas—campuran debu, tinta tua, dan sesuatu yang lebih lembap. Ia membaca tanpa ekspresi.
Nama. Umur. Alamat. Tanggal kematian.
Ia tidak lagi bereaksi terhadap informasi semacam itu. Bertahun-tahun bekerja di sini telah melatihnya untuk menjaga jarak. Membaca akhir hidup orang lain membuatnya merasa netral, hampir aman. Tidak ada keterlibatan emosional. Tidak ada tuntutan untuk peduli.
Namun malam itu, bau di ruangan terasa berbeda.
Arga berhenti membaca dan menghirup udara pelan.
Ada aroma tanah basah.
Bukan kuat, tapi jelas. Seperti bau setelah hujan pertama, atau seperti tanah yang baru digali lalu ditutup kembali dengan tergesa. Arga menoleh ke sekeliling. Ruangan tertutup. Tidak ada jendela terbuka. Tidak ada bekas air di lantai.
“Mungkin dari luar,” katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia kembali bekerja.
Waktu berjalan tanpa ia sadari. Nama demi nama berlalu. Arga menandai beberapa map yang perlu dipindahkan ke rak lain. Jam dinding tetap menunjukkan pukul 02.17, seolah waktu di ruangan itu membeku di satu titik yang menolak dilewati.
Setelah hampir satu jam, Arga berdiri untuk meregangkan punggung. Otot-ototnya terasa kaku. Ia berjalan menuju ujung lorong, ke area arsip lama—dokumen sebelum tahun dua ribu. Rak-rak di sana lebih rapat, kayunya lebih tua, dan udaranya lebih berat.
Saat ia menarik satu map dari sela-sela yang sempit, lantai kayu di belakangnya berderit.
Krreeek.
Arga membeku.
Ia tidak langsung menoleh. Tubuhnya tegang, tapi pikirannya berusaha tetap rasional. Gedung tua. Kayu lapuk. Suhu berubah. Semua kemungkinan itu muncul berurutan, rapi seperti daftar inventaris.
Ia menoleh perlahan.
Lorong di belakangnya kosong.
Lampu menyala stabil. Tidak ada bayangan bergerak. Tidak ada apa pun yang terlihat salah.
“Angin,” katanya, meski ia tahu semua jendela tertutup.
Ia menunggu beberapa detik lagi. Tidak ada bunyi lanjutan. Tidak ada langkah kaki. Hanya dengung halus lampu dan napasnya sendiri, yang terdengar sedikit lebih keras dari biasanya.
Arga kembali ke rak.
Map yang ia tarik hampir jatuh dari tangannya ketika ia membaca labelnya.
PRADIPTA, RAKA
Usia: 17 Tahun
Status: Meninggal Dunia
Jantung Arga berdetak lebih cepat.
Ia mengenal map ini. Ia sudah membacanya berkali-kali. Tapi setiap kali nama itu muncul, tubuhnya bereaksi seolah ia baru saja disentuh sesuatu yang dingin.
Ia membawa map itu ke meja dan duduk perlahan. Jari-jarinya membuka sampulnya dengan hati-hati, seakan takut isinya berubah jika ia bergerak terlalu cepat.
Tanggal kematian tercetak jelas.
Waktu kematian: 02.17.
Arga menutup map itu kembali.
Ia tidak membaca penyebab kematian malam itu. Ia tidak perlu. Setiap kata di dalamnya sudah melekat di kepalanya. Ia berdiri dan memijat pelipisnya, merasakan denyut pelan yang mulai muncul.
“Cuma kerjaan,” katanya pelan. “Cuma arsip.”
Lampu lorong di sisi kiri berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu kembali stabil.
Arga menatap lorong itu lebih lama dari yang ia inginkan. Ada perasaan aneh yang merayap perlahan, bukan takut, melainkan seperti sedang diamati. Seolah gedung itu memperhatikannya dengan kesabaran yang tidak wajar.
Ia memutuskan menyelesaikan satu map terakhir sebelum pulang.
Saat ia duduk kembali, bunyi itu terdengar lagi.
Tok.
Kali ini lebih dekat.
Arga mengangkat kepala. Tangannya berhenti bergerak. Ia tidak langsung menoleh. Ia menunggu, menghitung napasnya sendiri.
Satu.
Dua.
Tok.
Seperti langkah kaki.
Ia berdiri.
“Siapa?” tanyanya.
Suaranya terdengar datar, profesional, seperti saat ia menyapa rekan kerja. Ia tidak ingin memberi kesan takut, bahkan kepada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban.
Arga melangkah ke lorong. Setiap langkah terasa terlalu keras di telinganya sendiri. Cahaya di ujung lorong tampak lebih redup dari sebelumnya, meski lampunya sama.
Tidak ada siapa pun di sana.
Ia kembali ke meja. Saat ia duduk, ponselnya bergetar di atas permukaan kayu.
Panggilan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Arga menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya.
“Halo?”
Tidak ada suara, Hanya ada suara napas di tengah keheningan.
Sangat pelan. Hampir tidak terdengar. Seperti seseorang menempelkan mulut terlalu dekat ke mikrofon, tapi ragu untuk berbicara.
“Siapa ini?” Arga bertanya lagi.
Napas itu terhenti.
Panggilan terputus.
Arga menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya terasa dingin. Ia menekan tombol jam di ponsel.
02.17.
Ia menoleh ke jam dinding.
Jarumnya masih diam. Menunjuk waktu yang sama.
Untuk sesaat, Arga merasa gedung itu menahan napas bersamanya. Tidak ada suara sedikitpun, hanya ada keheningan dan kesunyian.
Ia meraih jaketnya.
“Besok,” katanya pada ruangan kosong itu. “Aku bereskan besok.”
Saat ia berjalan menuju pintu keluar, lantai kayu di belakangnya berbunyi sekali lagi.
Tok, tok, tok.
Arga tidak menoleh.
Ia tidak pernah menoleh.