

"Minta duit dong," ucap seseorang menghentikan langkah Raya.Raya mengernyit, menatap sinis
murid laki-laki di depannya.Pandangannya memindai
penampilan murid itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, berpenampilan semrawut jauh dari kata rapi,
wajahnya bisa dibilang tampan.
Manik matanya berhenti memandang tepat di dada sebelah kanan cowok tersebut, Gama Mahendra, nama yang terjahit di sana."Nggak! Gue bukan emak lo," jawab Raya ketus."Wah parah nih bos, minta duit
aja nggak dikasih." Gama berdecak,dia memainkan tangkai permen di mulutnya. Sosok yang Gama panggil bos hanya tertawa tipis, kemudian
sibuk dengan cewek di sebelahnya.
"Lo baru boleh jalan kalau ngasih gue uang lima puluh," kata Gama.Tangannya sudah menengadah
menunggu Raya memberikan uang
yang dia minta.Raya berdecak, dia menatap nyalang mata Gama, tidak terbesit ketakutan di hatinya melawan cowok seperti Gama."Lo kira ini jalan milik
kakek lo, hah? Mana minta gocap lagi, sekali pun lo minta seratus perak nggak akan gue kasih!"
." Teman Gama yang tadi hanya diam mengamati kini melangkah mendekati, seringaian dia berikan
pada Raya. Namanya Samudra Farzan, anak-anak sekolah memanggilnya dengan sebutan Sam.
"Emang gue nggak tahu kalian siapa. Palingan juga preman sekolah yang cuman bisa memalak murid-
murid di sekolah ini. Sorry gue nggak mau ngasih uang sama kalian semua, gue bukan emak kalian!" bentak Raya tanpa takut.
"Lo yakin nih sama kita-kita?Yakin nggak bakalan nyesel?" tanya Sam, mencebik seolah mengejek
posisi raya sekarang."Yakinlah, lo kira gue takut sama
kalian berdua? Awas ya gue laporin ke guru BK karena lo berani memalak gue," kata Raya. Emosinya berapi-api,tidak terima dirinya dicegat dan
dimintai uang oleh siswa yang tidak dia kenal.
"Udahlah, Sam!" Angkasa berdiri menghampiri, tatapannya menggoda."Lo anak baru ya?" tanya
Angkasa. Tidak pernah dia melihat
Raya sebelumnya.
"Kalau iya kenapa? Gue emang anak baru, tapi bukan berarti seenak jidat kalian malakin gue!" Raya
menggebu, paling benci dengan namanya penindasan dan pemerasan seperti ini.
Angkasa terperangah, terkejut
melihat respon Raya. Diluar dugaannya. Dia kira Raya akan takut dengan berbagai alasan supaya bikin raya menciut, namun wanita ini tak takut sama sekali.
Angkasa seperti biasa ia hanya diam melihat ke inikan cara berbicara, angkasa secara diam-diam melihat perbedaan antara perempuan di sekolah nya dengan di rinya. Dan angkasa pun tersenyum tipis.
Biasanya setiap anak perempuan di sekolah akan terhipnotis kalo melihat Angkasa.
Tapi lain dengan raya anak pindahan dari bandung tak sama sekali, terpesona, seperti gadis-gadis
lainnya. Ternyata malah dirinya yang
kena semprot. Angkasa, cowok memiliki jabatan paling tinggi di Geng Aerglo. Siapa yang tidak suka
dengan dia. Wajahnya paling tampan diantara ketiga sahabatnya, tubuhnya tinggi, dan berbadan kekar.
“Santai dong," ucap Angkasa.
"Nggak! Nggak ada santai- santainya. Bilangin sama teman lo,sekalian ajarkan dia ke arah yang
lebih baik! Jangan punya mental
pengemis!" Raya menaikan nada suaranya. Seluruh orang yang mendengar ucapannya malah kaget.
"Waah kelewatan nih cewek,"ucap Gama tidak terima. Dia melangkah mendekati Raya.
Gama melihat raya dari atas sampai ujung kaki, Gama menggeleng kan kepalanya, ia tersenyum sinis dan berkata, " Heh cewek kampung, lo gak tau siapa kami,... "Gue gak mau tau siapa lo semua, tapi yang gue tau lo itu hanya preman sekolahan mental pengemis yang bisanya malakin siswa-siswi yang pasrah tanpa ada penolakan, tapi lo.. Lo... Dan lo. raya menunjuk semua sahabat Angkasa.
" Semuanya banci, icap raya menggebu-gebu.
Angkasa mendengar perkataan raya, langsung menghampiri nya, dan mencengkram dagu raya.
"Heh,.... Tarik kata-kata lo barusan kalo gak mau hidup lo susah di sekolah ini. Kalo lo gak masih bikin emosi gue naik gie jamin lo gak akan betah di sekolah ini, paham lo.
Angkasa langsung meninggalkan raya dan di ikuti ke tiga Sahabat baiknya Angkasa, sampainya di ruang sekolah Angkasa mengepalkan tangan nya, rupanya ada cewek aneh bikin gue emosi,
"Lagian lo sam, kenapa lo malak cewek aneh itu.
Angkasa hari ini di bikin jengkel dengan ke jadikan nya raya di sekolah nya, membuat kepalanya berdenyut.
mungkin Raya harus diberi gertakan agar takut.ucap Gama yang pertama kalinya kena semprot raya si anak baru,
"Angkasa" teriak seseorang mengalihkan perhatian manusia- manusia yang ada di koridor sana.
Anya si gadis berkacamata berlari mendekati Angkasa dia meminta maaf kalo sahabat nya itu telah membuat kalian jengkel. Anya mengeluarkan
uang dari saku celananya dan memberikan uang tersebut pada Gama.
"Nih buat lo gama, jangan ganggu Raya. Dia siswi baru di sini, nggak kenal sama kalian semua," kata Anya,kemudian menarik Raya pergi."Eh, eh lo mau bawa gue kemana? Ngapain lo ngasih uang
sama mereka?"tanya Raya yang seakan tidak terima Anya memberikan uang pada Gama.
Gama mencebik, dia menatap uang lima puluh ribu di tangannya. Sengaja dia memberi ruang untuk
Anya membawa Raya pergi setelah tahu kalau Raya siswi baru. Semua siswa-siswi di sekolah tidak berani
melawan dan selalu memberi uang saat Gama memintanya.
"Gue rasa lo nggak miskin deh,Gam. Hobi banget minta duit anak orang," celetuk Angkasa. Dia tidak
suka dengan kebiasaan Gama, tetapi juga tidak mau repot-repot melarangbGama untuk tidak melakukan
kebiasaannya itu."Ah, kayak nggak tahu aja lo, Bos.
Si Gama doyan gratisan, ogah
ngeluarin duit pribadi," sahut Farel.
"Pantas ya lo kaya Gam," timpal Angkasa yang sedikit meledek sahabatnya itu, "yuk kita cabut malas gie nanti ketemu cewek aneh itu.
Gama tersenyum tipis, dia mengipas uang lima puluh ribu ke hadapan Farel."Lumayan jajan
cilok," katanya."Traktir gue ya, Gam," pinta
Farel. "Ogah! Tadi lo cuman nonton aja,
nggak ada kontribusi apa pun." Gama menjulurkan lidahnya, dia tidak menerima keinginan Farel yang
minta untuk ditraktir.
"Saran gue sih kurang-kurangin deh kayak gitu, Gam. Nggak baik, siapa tahu orang lo palak nggak
punya uang. Cewek tadi contohnya,"saran Angkasa.
Gama berdecak, dia mendudukan diri di sebelah Angkasa. Tidak peduli. " Tumben lo sa"peduli sama yang beginian! Biasanya juga lo biasa saja gak pernah ikut campur dengan apa yang gue lakuin.?
Jam menunjukan pukul dia siang, Angkasa sudah melangkah kan kainya ke luar kelas, Angkasa gak sengaja melihat raya, yang lagi ngobrol sama sa habatnya, tidak sengaja Angkasa tersenyum melihat gadis yang Angkasa bilang Sangatlah galak.
dengan saran yang Angkasa berikan, masih merasa nyaman dengan kebiasaan buruknya itu. Lagi pula
tidak setiap hari dia seperti itu, hanya orang-orang kurang beruntung yang bertemu dengannya.
"Lo apa-apaan sih, Nya. Ngapain juga lo ngasih uang sama cowok itu?" tanya Raya.Raya melepaskan cengkraman Anya sesaat mereka sudah sampai di
dalam kelas. Sebelum menjawab pertanyaan Raya terlebih dahulu Anya mengatur napasnya yang sesak.
Untung saja dia cepat mengetahui kalau jalan Raya dicegat oleh Gama dan kawan-kawan, jika dia telat
mungkin Raya akan jadi bulan-bulanan anak Aerglo.
"Lo itu anak baru, Raya! Bisa nggak sih jadi anak yang anteng? Lo belum tahu apa-apa tentang sekolah
ini," kata Anya.Raya menggeleng pelan, tidak
mengerti maksud Anya. Dia mendudukan diri di bangku,kemudian disusul oleh Anya. Satu-
satunya teman yang Raya punya di sekolah barunya hanyalah Anya.Seharusnya dia bersyukur punya
teman se-care Anya."Tadi itu lo berhadapan sama anggota inti Geng Aerglo, geng paling
berkuasa di sekolah ini.
Yang minta uang lo tadi itu namanya Gama, dia
memang terkenal suka memalak anak orang. Lo tadi bertanyakan kenapa? "
Saat raya akan menuju toilet perempuan, ia tak sengaja melihat Angkasa yang lagi terdiam sendiri di samping toilet cowok, dengan berdiri, raya yang merasa aneh karna Angkasa gak bersama antek-anteknya, namun saat raya akan sampai toilet,
Suara Angkasa yang lagi ngobrol terdengar oleh raya,
Namun, raya yang tidak suka melihat laki-laki dengan perempuan di kawasan toilet lagi pacaran. Raya pun langsung mengambil satu gayung yang berisikan air lalu raya pun menyiram kan ke arah mereka sampai akhirnya, so perempuan menjerit, dan Angkasa malah mendekati raya.
Angkasa melotot dengan baju yang basah karna di siram oleh raya,.