Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
ANTARA KEBENARAN DAN SENYAP

ANTARA KEBENARAN DAN SENYAP

Feby Febryani | Bersambung
Jumlah kata
33.9K
Popular
100
Subscribe
12
Novel / ANTARA KEBENARAN DAN SENYAP
ANTARA KEBENARAN DAN SENYAP

ANTARA KEBENARAN DAN SENYAP

Feby Febryani| Bersambung
Jumlah Kata
33.9K
Popular
100
Subscribe
12
Sinopsis
PerkotaanAksiBalas DendamPembunuhanThriller
Adrian Mahendra, seorang mahasiswa yang harus mengalami kejadian tragis. Yulia, kekasihnya dibunuh secara brutal oleh orang-orang yang hendak membungkam idealisme-nya. Kemudian seorang agen, merekrut Adrian lalu menjadikannya sebagai mesin pembunuh. Dalam perjalanannya sebagai Barista, Adrian bertemu dengan Maya yang memiliki idealisme seperti Yulia. Akankah Adrian meninggalkan dunia hitamnya demi Maya?
TEMBAKAN PERINGATAN

BAB 1

Angin bertiup pelan dari arah barat, tiga koma dua meter per detik. Sementara itu, suhu berada pada angka dua puluh delapan derajat Celcius dengan kelembaban enam puluh tujuh persen.

Adrian Mahendra berbaring tengkurap di atap gedung parkir lantai delapan, matanya terpaku pada teropong senapan 'Sniper Accuracy International' yang terentang di depannya. Jarak ke target 847 meter. Bukan tembakan terjauh yang pernah dia lakukan, tetapi cukup untuk membuat orang awam merasa ketakutan. Jantung Adrian berdetak normal. Enam puluh dua kali per menit. Stabil.

Sementara itu di bawah sana, melalui kaca jendela Restoran Signatures di lantai empat Hotel Kempinski, Hakim Satria Wirawan sedang memotong steak wagyu-nya dengan gerakan yang tenang. Empat orang duduk bersamanya. Semuanya pria. Mereka mengenakan jas mahal, dan semua punya kekuasaan yang cukup untuk membeli keadilan.

Target yang merupakan pria berusia lima puluh tiga tahun itu tertawa, mungkin karena lelucon dari salah satu temannya yang juga berada di sana.

Adrian tidak peduli pada teman-temannya. Dia hanya peduli pada satu kepala.

"Target in position," bisiknya pada diri sendiri. Sebuah kebiasaan lama yang tidak pernah hilang meski tidak ada yang mendengar.

Jam di tangan kanannya menunjukkan pukul 20:45 WIB. Tujuh menit lagi—menurut pola yang Adrian pelajari selama dua minggu—Hakim Satria Wirawan akan ke toilet. Dia selalu begitu. Makan malam pukul delapan, ke kamar kecil pukul setengah sembilan lebih, lalu pulang pukul sepuluh lewat. Manusia adalah makhluk kebiasaan, dan kebiasaanlah membuat mereka mudah dibunuh.

Adrian mengatur napasnya. Tarik dalam-dalam, tahan tiga detik lalu embuskan secara perlahan. Detak jantungnya turun menjadi lima puluh delapan. Tangannya stabil seperti batu. Jari telunjuk kanannya beristirahat di samping pelatuk, belum menyentuh karena belum waktunya.

Gedung di seberang terlihat tenang. Lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Dari ketinggian itu, kota terlihat indah. Dari ketinggian itu, Adrian tidak bisa melihat kemacetan, polusi, atau korupsi yang menggerogoti kota dari dalam. Namun, dia tahu kalau itu semua ada.

Sesaat kemudian ponselnya bergetar satu kali sebagai tanda ada pesan masuk. Adrian tidak perlu mengecek karena dia tahu kalau pesan itu adalah konfirmasi dari pengintai, orang yang memantau situasi kafe dari seberang jalan.

Bersih, tidak ada aktivitas polisi … yang berarti izin untuk membunuh.

Adrian kembali fokus pada teropong. Bidikan silang berada tepat di tengah dahi Hakim Satria Wirawan. Terlalu mudah, tetapi Adrian tidak akan mengambil tembakan kepala untuk target ini. Terlalu cepat dan terlalu bersih.

Hakim Satria Wirawan tidak layak mendapat tembakan bersih.

Pukul 20:54 WIB. Hakim itu meletakkan garpu dan pisaunya, mengelap mulut dengan serbet putih, lalu berdiri sementara teman-temannya tertawa pada sesuatu yang dia katakan. Hakim korup itu menepuk bahu salah satu dari mereka, lalu berjalan menuju koridor yang mengarah ke toilet.

Adrian menggeser teropong untuk mengikuti target.

Sang hakim melewati meja-meja lain lalu tersenyum pada pelayan yang membungkuk sopan. Dia terlihat seperti pria terhormat layaknya pilar masyarakat.

Lima tahun lalu, hakim ini membebaskan seorang pengusaha yang terbukti menggelapkan dana bantuan bencana. Tiga ratus miliar rupiah yang seharusnya diberikan untuk korban gempa malah masuk ke rekening pribadi sang pengusaha. Bukti jelas. Saksi pun banyak, tetapi hakim ini menyatakan, 'kurang bukti.'

Dua tahun lalu, dia menjatuhkan hukuman ringan, hanya dua tahun penjara untuk politisi yang terlibat kasus suap proyek jalan senilai 1,2 triliun rupiah. Hukuman itu bahkan dikurangi jadi setahun karena 'sakit.'

Enam bulan lalu, dia menolak kasasi kasus pembunuhan seorang wartawan. Pembunuh bayaran yang tertangkap dengan bukti lengkap malah divonis bebas karena 'prosedur tidak tepat.'

Hakim Satria Wirawan bukan hakim. Dia adalah pedagang keadilan.

Adrian tahu karena dia telah membaca catatannya. File yang diberikan klien selalu lengkap. Daftar kasus, jumlah suap yang diterima, rekening bank tersembunyi, bahkan perempuan simpanan yang dia kunjungi setiap Kamis malam di apartemen Kemang. Adrian tidak peduli dengan detail pribadi. Dia hanya peduli bahwa target ini layak mati.

Hakim yang menjadi target malam itu masuk ke toilet sementara Adrian menunggu.

Tiga puluh detik, satu menit, dua menit. Kemudian pintu toilet terbuka. Hakim itu keluar, berjalan kembali ke mejanya dengan santai.

Adrian menarik napas terakhir. Dunia menyempit menjadi hanya dia, senapan, dan target. Suara-suara kota menghilang. Angin berhenti. Waktu melambat sementara jari telunjuknya pindah ke pelatuk.

Hakim itu duduk kembali ke meja di mana teman-temannya berada. Dia meraih gelas wine-nya, sedangkan Adrian menekan pelatuk.

CRACK.

Suara tembakan diredam oleh 'suppressor,' hanya terdengar seperti cambuk pelan di udara malam.

Peluru kaliber .338 Lapua Magnum melesat dengan kecepatan sembilan ratus tiga puluh enam meter per detik itu membelah udara Jakarta yang lembab. 847 meter ditempuh dalam waktu kurang dari satu detik.

Gelas wine di tangan hakim itu meledak!

Pecahan kaca dan wine merah menyembur hampir ke segala arah. Teman-temannya terlonjak, berdiri, bahkan berteriak. Kekacauan terjadi di sana.

Hakim Satria Wirawan menatap tangannya yang berdarah dengan bingung. Dia belum mengerti dengan apa yang baru terjadi. Lalu dia melihat lubang kecil di jendela dimana 'spiderweb crack' menyebar dari titik 'impact,’ barulah dia menyadari kalau seseorang baru saja mencoba membunuhnya.

Adrian tidak tersenyum. Dia tidak merasa apa-apa. Hanya mengkonfirmasi kalau peluru mengenai gelas, bukan target. Seperti yang sudah direncanakan.

Ini pesan, bukan eksekusi.

Pembunuh bayaran dengan rekam jejak paling bersih itu melipat tripod sebelum teriakan pertama terdengar dari restoran. Senapan dipecah menjadi tiga bagian dalam dua puluh detik, lalu dimasukkan dalam tas olahraga hitam yang tidak mencolok. Sarung tangan lateks dilepas, dimasukkan ke kantong. Topi baseball ditarik lebih rendah.

Lima puluh detik setelah tembakan, Adrian sudah menuruni tangga darurat. Dua menit kemudian, dia keluar dari gedung parkir dengan langkah santai. Tas hitamnya tersangkut di bahu layaknya seorang pria yang baru selesai gym.

Sirine polisi mulai terdengar di kejauhan.

Adrian berjalan ke arah yang berlawanan lalu menyatu dengan kerumunan malam Jakarta. Di Jalan Sudirman, tidak ada yang memandang dua kali pada pria berkaos hitam dengan tas olahraga. Tidak ada yang tahu kalau dia baru saja menembak dari jarak 847 meter. Tidak ada yang tahu kalau dia adalah pembunuh bayaran yang paling dicari di Jakarta. Tidak ada yang tahu kalau besok pagi, dia akan membuat kopi dengan senyum ramah di sebuah kafe.

Pukul 22:15 WIB, Adrian sampai di apartemennya di kawasan Tebet. Apartemen studio sederhana, tidak menarik perhatian. Furniture minimalis. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada dekorasi personal. Tempat itu lebih seperti hotel atau tempat singgah, bukan rumah.

Dia menaruh tas di lemari yang terkunci dengan kombinasi tiga angka, mengganti pakaian, lalu duduk di sofa dengan laptop yang menyala di atas meja. Jari-jarinya mengetik cepat, membuka browser dalam mode penyamaran.

Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor yang tidak tersimpan muncul di layar. Pembayaran ditransfer. Tiga ratus juta rupiah untuk satu tembakan yang meleset dengan sengaja. Uang sudah masuk.

Adrian menonaktifkan laptop lalu menatap layar gelap yang memantulkan wajahnya sendiri. Tampak lingkaran hitam di bawah matanya dan garis-garis halus di kening. Lima tahun sudah dia hidup seperti ini.

Sesaat kemudian dia berdiri, berjalan ke jendela lalu menatap ke arah luar. Jakarta masih berkedip di kegelapan, seperti monster yang tidak pernah tidur. Di suatu tempat di luar sana, Hakim Satria Wirawan mungkin gemetar di rumah sakit, menyadari betapa dekatnya dia dengan kematian.

Biar dia takut. Biar dia merasakan seperti apa hidup dengan bayangan kematian yang mengikuti setiap langkah.

Adrian menarik gorden, memblokir pemandangan kota. Dia berbaring di tempat tidur tanpa mematikan lampu. Lelaki itu menatap langit-langit putih yang retak di sudut.

Matanya menutup perlahan. Besok, dia harus bangun jam lima pagi. Shift pagi di kafe dimulai jam enam. Alarm sudah diset.

Lelap datang dengan cepat, tanpa mimpi. Atau setidaknya, tanpa mimpi yang dapat dia ingat.

Bersambung

Lanjut membaca
Lanjut membaca