Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Joni Sang Pemuas

Joni Sang Pemuas

Li Zhen | Bersambung
Jumlah kata
46.6K
Popular
7.0K
Subscribe
769
Novel / Joni Sang Pemuas
Joni Sang Pemuas

Joni Sang Pemuas

Li Zhen| Bersambung
Jumlah Kata
46.6K
Popular
7.0K
Subscribe
769
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalHaremSupernaturalUrban
Hidup Joni berubah seusai mewarisi bakat ajaib dari buku kono. Sejak itu, harta dan wanita dalam genggaman tangannya, bercocok tanam adalah hobinya.
1 - Pelukan tipis-tipis

"Joni! Kamu harus bisa membuka buku warisan leluhur keluarga kita! Kalau tidak, aku akan menyeretmu ke alam baka!" teriak seorang kakek dengan wajah marah, membawa rantai besi yang berwarna merah.

Seketika itu, Joni terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah seperti sehabis dikejar sekawanan anjing.

Dia duduk, mengusap keningnya yang berkeringat. "Sudah ke sekian kalinya aku memimpikan hal yang sama, itupun selama 3 hari berturut-turut."

"Sebenarnya ada rahasia apa di balik kitab ini?" Joni bertanya-tanya sambil menoleh ke sisi sebelahnya, terdapat sebuah buku (kitab) yang nampak kuno, bersampul coklat polos tanpa judul, namun masalahnya kitab itu terkunci rapat, tidak bisa dibuka. 

Buku tersebut diwariskan oleh almarhum kakeknya. Lalu semenjak kakeknya meninggal 3 hari lalu, dia dihantui oleh mimpi buruk yang berulang.

Joni mengambil buku kuno itu, mencoba membukanya sekuat tenaga, berakhir gagal.

Joni menghembuskan nafas besar, dari beberapa hari lalu dia sudah mencoba berbagai cara, namun tidak ada satupun yang berhasil.

"Nanti ku coba lagi deh, saat ini aku harus ke sekolahan buat gladi bersih. Besok hari kelulusan sekolahku, sehabis itu aku harus cari kerja untuk dapat uang banyak!" Joni sama sekali tak kepikiran untuk kuliah, dia sadar diri dengan kualitas dirinya, dia bukanlah orang pintar, dia hanya orang miskin nan sebatangkara. Bahkan rumah yang ia tempati hanya berukuran 3x6, itupun dindingnya dari kayu.

Lelaki berumur 18 tahun itu dengan segera bangkit dari ranjangnya, menuju kamar mandi untuk bersiap diri.

Tak lama kemudian, Joni memakai seragam putih mangkak. Rambut hitamnya dia sisir rapi, wajahnya termasuk rata-rata, tidak tampan maupun jelek. 

Dia lalu pergi, berjalan kaki.

Sesampainya di gerbang sekolah, Joni tiba-tiba dicegat dan dihina oleh teman sekolahnya.

"Cuih! Angkatan kita kenapa harus ada si Joni sih? Sudah miskin, dekil lagi!"

"Lagian aneh, kita semua yang sekolah di sini dari kaum elit, orang tua kita rata rata orang sukses, lalu kenapa bisa Joni sekolah bersama kita?"

"Sudahlah, mari jauh-jauh darinya, biar tidak ketularan nasib buruknya. Dia tuh pembawa sial, orang tuanya mati, kakeknya kemarin mati pasti karena dia!" ucap Rio, pentolan kelas yang sangat membenci Joni. Dia lalu mengajak teman se gengnya pergi menghindari Joni.

Ucapan teman-teman sekelasnya barusan tentu saja sangat menusuk di hati Joni. Dia hanya bisa meremas senyumnya, dia sangat sadar bahwa ucapan orang miskin sepertinya hanya akan berakhir sia sia. 

"Jika aku bisa sukses, apa mereka masih membenciku?" Pikiran Joni. Karena bully dan nasib miskinnya inilah yang membuat dia ingin cepat kerja dan sukses. Sayangnya ini hanyalah pikiran naifnya.

Detik berikutnya, ada gadis cantik seumuran yang menepuk pundak Joni.

"Jon, kok diam saja?" Tanya Ella. Dia adalah temannya yang sering bergaul dengannya sebulanan ini.

"Ah Ella, tidak ada apa apa kok." Joni gugup nan malu, dia ternyata baper karena kehadiran Ella akhir akhir ini, cuma dia tak berniat mengungkapkan perasaannya, mengingat kondisi hidupnya.

Ella lalu dengan santai memegang dan memeluk tangan kiri Joni sehingga bergesekan dengan bakpao berlapis pakaian milik si wanita itu. Mereka berdua lalu gladi bersih wisuda bersama 

***Seusainya, Joni hendak pulang. Namun sebelum itu, Ella lagi lagi menghampirinya, mengajaknya ke gudang sekolahan.

Joni belum sempat menjawab, Ella dengan cepat menggelendengnya.

Sesampai di sana, mereka berdua bebarengan masuk ke dalam gudang. Ella lalu mengambil tongkat pramuka. 

Hanya saja di momen ini, tiba-tiba datanglahRio beserta gengnya.

"Akhirnya kamu ke gudang ini, Joni!" seru Rio, membuat Joni kaget.

Joni berbalik, mempertanyakan. "Ada apa, Rio?"

Rio langsung menyahut, "Aku dan gengku ingin menghajarmu di sini, sehingga kamu tidak bisa hadir pada acara kelulusan besok!"

Spontan Joni merasa takut, ucapan dari Rio dan teman yang lainnya juga tidak terkesan sebagai candaan. Walau begitu, dia sempat-sempatnya berkata kepada Ella. "Kamu cepatlah pergi dari sini, Rio dan temannya hanya mengincarku."

"Kenapa aku harus pergi? Aku juga ingin melihatmu dihajar di sini!" ungkap Ella sinis. Dia lalu berjalan ke arah Rio sekalian memberikan tongkatnya.

Setelah itu, Ella berkata dengan wajah jijik. "Selama sebulan bergaul sama kamu, aku mual banget, Jon! Kalau bukan karena perintah Rio, aku tidak akan sudi!"

Joni membeku di tempatnya, gadis cantik yang ia sebut teman ternyata telah menjebaknya, pengkhianatan yang dilakukan Ella cukup menyakitkan untuknya. Padahal dia hanya sekedar pria yang ingin punya teman, tidak berniat lebih.

"Jadi begitu ya, ku pikir kamu memanglah temanku, Ella ... pantas saja sebulan lalu kamu tiba-tiba mendakatiku," ucap Joni pelan dan lemas. 

Rio tertawa keras. "Hahaha, bodoh sekali kamu! Mana ada yang mau jadi temanmu? Sadar diri woy! Kamu itu miskin!" 

Begitu juga Ella yang turut berkata, "Lagian liat wajahmu, kamu juga tidak tampan seperti Rio. Jadi mana mungkin gadis cantik sepertiku terpincut sama kamu!"

Joni tak merespon ucapan-ucapan itu. Sebagai gantinya, dia bergegas pergi dari gudang. Sayangnya teman teman Rio tidak membiarkannya, mereka malah menghajarnya.

"Brak!"

"Buk!"

Suara pukulan dan tendangan menggema di gudang tersebut, Joni dipaksa meringkuk di lantai. Dia diinjak-injak tanpa dapat memberi perlawanan. Dia berteriak minta tolong, namun tidak ada satupun yang menolongnya. Kemudian akhirnya giliran Rio, dia mengayunkan tongkatnya tepat ke kaki kanannya Joni.

'Brakk!'

Joni mendesis lara, nyeri menjalar ke seluruh bagian tubuhnya, terutama tangan dan kaki kanannya.

Setelah itu Rio menyudahinya, dia lalu merangkul Ella sambil berkata, "Nanti malam ke rumahku ya, aku punya baju dinas untuk kamu pakai di saat kita berolahraga ranjang."

"Baiklah, pakai pengaman ya," jawab Ella tidak keberatan. Mereka berdua bergegas pergi dari gudang, meninggalkan Joni yang masih kesakitan. 

Sedangkan Joni mengepalkan kedua tangannya, sembari berjanji kepada dirinya sendiri. "Aku harus membayarnya kembali puluhan kali lipat, bagaimanapun caranya!"

"Lihat saja kalian semua!" Rasanya Joni sudah cukup bersabar, sudah 6 tahun dia dirundung dan dihina fisik maupun materi. Lantas sekarang malah kekerasan yang ia dapatkan, jadi apa dia masih harus bersabar? 

Dendam hari ini lah yang membuat Joni secara berangsur-angsur merubah sifatnya yang naif.

Joni lalu pelan-pelan pulang, setibanya di rumah tepat jam 12 siang, dia langsung naik ranjang dan bersandar tembok rumah dari kayu. Meski dia merasa sakit, dia masih sempat  mencoba membuka kitab peninggalan kakeknya.

Di saat dia mencoba, kepalanya kian terasa pusing, hingga secara mendadak darah keluar dari salah satu lubang hidungnya, menetes tepat di sampul kitab yang ia pegang.

Joni kaget, tapi yang lebih mengejutkan adalah  kitab kuno yang ia pegang bergetar singkat dengan pancaran warna darah yang menyeramkan. Bahkan kitab tersebut terbuka dengan sendirinya.

"Hah?" Kedua mata Joni langsung tertuju pada lembar pertama buku itu, di mana lembar tersebut cuma ada beberapa kata, yakni bertulis Bab Dewasa (bercocok tanam).

Seketika itu, sebuah kilatan merah melesat ke keningnya bersamaan dengan berbagai pengetahuan tentang hal di ranah dewasa terserap ke dalam pikirannya dan terpatri jelas ke jiwanya.

Di sela-sela itu, ada bisikan yang terdengar langsung di dalam otaknya. 'Matamu bisa melihat tembus pandang dan melihat titik sensitif seseorang. Tubuhmu mengalami perubahan sedikit demi sedikit, batang jagungmu juga bertambah panjang setelah menerima warisan ilmu istimewa ini.' 

Di saat itu, Joni secara mendadak mulai kehilangan kesadaran dan akhirnya pingsan.

***Jam 6 malam, Joni terbangun dengan sendirinya, dia kaget ketika melihat jam dinding, ternyata sudah malam.

Joni duduk, tubuhnya terasa lebih segar dan tidak merasakan sakit seperti sebelumnya.  Pengetahuan tentang bercocok tanam begitu jelas di pikirannya, dari berbagai gaya cara melakukannya, sampai bagaimana cara bikin lega seorang wanita.

Dia heran, mencoba mengingat apa yang terjadi sambil memegang kitab kuno peninggalan kakeknya.

"Wah, beneran bisa dibuka sekarang. Berarti yang ku alami sebelumnya adalah kenyataan! Tapi kenapa buku ini berisi tentang bab dewasa?" seru Joni penuh tanda tanya.

Joni lalu melihat fokus bukunya yang sekarang ternyata bertulis kata. 'Untuk membuka bab/lembar selanjutnya, kamu harus menbiasakan diri dengan kedua mata ajaibmu, serta bercocok tanam setidaknya dengan seorang wanita dengan berbagai gaya.'

"Hah? Kenapa jadi begini?" Joni membuka lembar kedua yang tak bisa dibuka. Dia pun sadar, untuk membukanya dia harus mengikuti instruksi dari lembar pertama, hanya saja kenapa syaratnya seperti itu?

Joni berada di ambang percaya dan tidak percaya. Dia secara iseng menatap ke bawah, tepat ke celana yang ia kenakan. Hebatnya, dia beneran bisa melihat di balik calenanya, sebuah jagung coklat yang sedikit lebih panjang dari biasanya.

"Gila! Beneran nyata!" Dia bergegas keluar rumah, melihat janda muda cantik samping rumahnya.

Seketika itu, Joni meneguk ludahnya sendiri. Dalam pandangan matanya, Janda muda bernama Linda itu seperti tidak mengenakan busana apapun, padahal sejatinya sedang memakai daster setumit.

Lanjut membaca
Lanjut membaca