

Hujan selalu turun di saat yang salah.
Setidaknya itu yang kupikirkan pagi itu, ketika aku berdiri di depan gerbang SMA Adirama dengan seragam setengah basah dan sepatu belepotan lumpur. Di tanganku masih ada kantong plastik hitam berisi dua roti sisa jualan ibu kos yang tidak laku. Katanya buat bekal sarapan. Nyatanya, sekarang sudah hampir jam delapan dan aku bahkan belum sempat menggigitnya.
Namaku Bima. Siswa kelas dua IPA, penerima beasiswa, anak tukang becak yang setiap pagi harus menghitung uang receh sebelum berangkat sekolah. Di sekolah ini, namaku biasa saja. Yang luar biasa justru fakta bahwa aku satu-satunya murid yang fotonya dipasang di papan “Siswa Berprestasi” dan dalam waktu yang sama juga sering jadi bahan bisik-bisik di kantin.
“Eh, itu anak beasiswa,” pernah kudengar seseorang berbisik begitu. “Katanya sih pinter banget, tapi… ya gitu deh. Pulang sekolah bantu bapaknya narik becak.”
Sejak hari itu, aku belajar satu hal penting: prestasi memang bisa bikin orang melirik, tapi tidak selalu bikin mereka benar-benar peduli.
Aku melangkah cepat melewati gerbang yang hampir ditutup satpam. Hujan turun deras, menampar-nampar aspal hitam dan menimbulkan percikan kecil. Rambutku yang belum sempat benar-benar kering kembali basah. Jaket tipis yang kupakai di atas seragam putih abu-abu tidak banyak membantu.
“Bi! Cepetan, nanti lo beneran dikunci di luar,” suara itu memanggilku dari dekat pos satpam.
Aku menoleh. Raka melambaikan tangan dari bawah atap kecil di dekat taman depan. Dia sahabatku sejak kelas satu. Anaknya berisik, sering bercanda garing, tapi selalu ada di saat aku butuh bantuan. Dia juga satu-satunya orang di sekolah yang pernah dengan santai bilang, “Gue kagum sama lo, Bim. Lo berani banget masuk sekolah beginian.”
Aku berlari kecil ke arahnya, menghindari genangan besar yang pasti bakal bikin sepatuku tambah berat.
“Nggak takut basah, lo?” Raka menyengir, tangannya memasukkan sisa roti ke dalam mulut. “Gue kira pinter doang, ternyata tahan banting juga.”
“Lo tadi udah masuk duluan, kenapa nggak nitipin nama gue di absen?” protesku, setengah bercanda. Nafasku terengah-engah, bukan karena lari terlalu jauh, tapi lebih karena perutku belum terisi apa-apa dari pagi selain air putih.
“Gue kira lo bolos narik becak,” jawabnya santai.
Aku hanya geleng-geleng. Raka tertawa kecil, lalu merangkul pundakku sebentar.
“Ayo, buru masuk. Lagi ujan gini, pasti halaman belakang sepi. Enak buat duduk-duduk dulu sebelum bel. Gue males langsung ke kelas.”
Kami berjalan menyusuri koridor depan yang panjang. Lantai keramik mengkilapnya dipenuhi jejak kaki basah siswa yang baru datang. Suara hujan di atap seng kantin berpadu dengan riuh rendah obrolan. Beberapa anak cewek lewat sambil memeluk buku ke dada, tertawa dengan suara yang sengaja dikecilkan tapi tetap terdengar. Sesekali mereka melirik ke arah kami, lalu berbisik-bisik lagi.
Aku pura-pura tidak peduli. Dari dulu, cara paling aman untuk bertahan di sekolah ini adalah dengan bersikap seolah-olah kamu tidak memperhatikan apa pun.
Begitu sampai di ujung koridor, kami sampai di persimpangan ke tiga tempat: ke kanan menuju kantin, ke kiri menuju kelas, dan lurus ke halaman belakang sekolah. Hujan membuat halaman belakang terlihat seperti lukisan abu-abu dengan titik-titik air yang bergerak cepat.
“Ke belakang dulu, lah,” kata Raka sambil mengangkat dagu. “Kayaknya enak ngeliatin hujan.”
Aku hampir menolak, tapi langkahku entah kenapa mengikuti saja. Halaman belakang SMA Adirama bukan tempat favorit banyak orang. Terlalu sepi, terlalu jauh dari kantin, dan terlalu sering dipakai guru olahraga buat nyuruh kami lari keliling lapangan. Tapi di hari-hari tertentu, terutama kalau hujan, tempat itu justru terasa paling jujur. Tidak ada kepura-puraan. Cuma suara air dan bau tanah basah.
Di bawah atap beton yang memanjang, ada beberapa bangku kayu. Di salah satunya, seorang gadis duduk sendirian sambil menatap hujan. Rambutnya panjang, tergerai sampai melewati bahu. Seragamnya rapi, rok abu-abu jatuh tepat di bawah lutut, dan kaus kaki putihnya bersih tanpa noda. Tas branded warna krem tergantung di sandaran bangku, tampak sama mahalnya dengan jam tangan yang melingkar di pergelangannya.
Aku mengenal wajah itu. Semua orang di sekolah mengenalnya.
Luna Adirama.
Anak pemilik sekolah. Gadis yang selalu ada di urutan tiga besar nilai akademik, kapten klub paduan suara, dan ketua panitia hampir semua acara penting. Dia jenis orang yang seolah-olah hidupnya dikelilingi sinar, sementara kami, siswa biasa, cuma kebagian jadi penonton.
“Wah, Princess lagi nonton hujan,” bisik Raka di telingaku. “Gokil, sih. Cantik banget.”
Aku mendelik pelan. “Jangan keras-keras. Ntar kedengeran.”
“Biarin. Mana tau dia tertarik sama lo,” godanya. “Anak beasiswa, ranking satu, calon menantu idaman.”
“Gila lo,” sahutku cepat. Pipiku terasa panas, entah karena malu, atau karena sesuatu yang lain.
Luna sudah menoleh. Matanya yang besar dan bening itu melihat ke arah kami sebentar. Pandangannya bukan pandangan meremehkan seperti yang sering kuterima dari beberapa teman sekelas. Tidak juga pandangan penasaran yang berlebihan. Hanya singkat, datar, lalu kembali ke hujan.
“Eh, kayanya gue ke kantin dulu, deh. Tadi belum beneran sarapan,” kata Raka tiba-tiba. “Lo mau titip apa nggak?”
Aku melirik plastik hitam di tanganku. “Nggak usah. Gue masih ada roti.”
“Kayak lo doang yang miskin,” Raka menghela napas dramatis. “Yaudah, gue cabut dulu. Kalau lo tiba-tiba ditarik masuk drama sinetron sama Princess, kabarin gue.”
“Ngaco lo,” balasku.
Raka berlari kecil menjauh, meninggalkan jejak kaki basah di lantai. Aku berdiri canggung di ujung atap, tepat beberapa meter dari bangku tempat Luna duduk. Ada banyak pilihan: aku bisa balik ke kelas, bisa ke kantin, atau bisa pura-pura teleponan biar tidak terlihat aneh. Tapi entah kenapa, kakiku malah mengarah ke bangku kosong di ujung lain, masih dalam naungan atap yang sama.
Aku duduk pelan, membuka plastik hitam, dan mengeluarkan satu roti. Roti cokelat yang sudah agak penyok, krimnya bergeser ke satu sisi. Perutku langsung bereaksi, mengeluarkan bunyi pelan yang semoga hanya terdengar olehku sendiri.
Suara hujan begitu jelas dari sini. Bau rumput basah memenuhi udara. Dari sudut mataku, kulihat Luna menautkan jari-jarinya, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat. Angin membawa sedikit aroma parfum yang lembut, berbeda jauh dari bau minyak kayu putih yang biasa kupakai kalau masuk angin.
“Sendirian juga?” Suara lembut itu tiba-tiba terdengar di sela suara hujan.
Aku refleks menoleh. Luna sedang menatapku, senyum tipis menggantung di bibirnya. Senyum yang sering kulihat dari jauh ketika dia memimpin upacara atau berbicara di acara sekolah. Melihat senyum itu sedekat ini rasanya seperti menatap matahari dari jarak satu meter.
“I-iya,” jawabku kaku. “Lagi nunggu bel.”
“Raka ke kantin ya?” tanyanya lagi.
Aku agak terkejut. “Kamu tahu Raka?”
“Tau, dong. Dia kan sering ribut kalau pelajaran Matematika,” jawabnya sambil terkekeh pelan. “Lagipula, susah nggak tahu kalian. Anak beasiswa yang sering juara kelas, sama temennya yang selalu protes kalau dikasih PR banyak.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau pura-pura tidak mendengar. Ada sesuatu yang aneh dalam cara dia bicara—seolah-olah kami setara. Padahal, bahkan cara dia duduk pun menunjukkan kalau kami hidup di dunia yang berbeda.
Luna menatap hujan lagi. “Aku suka hujan,” katanya pelan. “Soalnya, pas hujan, semua orang keliatan sama. Rambut basah, sepatu kotor, baju agak lepek. Nggak kelihatan siapa yang kaya, siapa yang nggak.”
Aku diam. Kata-katanya terdengar sederhana, tapi menusuk. Mungkin karena selama ini, aku terlalu sering merasa ketimpangan itu bahkan saat cuaca cerah. Dari tas yang kupakai, sepatu yang kugunakan, sampai cara aku harus menghitung uang jajan sebelum memutuskan beli minuman atau tidak.
“Kamu nggak masuk kelas?” tanyaku akhirnya, sekadar sopan.
Luna menggeleng pelan. “Masih ada waktu dikit. Lagian hari ini kayaknya bakal lama.”
“Kenapa?” tanyaku hati-hati.
Dia terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Cuma feeling aja. Kadang, hari-hari yang dimulai dengan hujan itu selalu bawa sesuatu yang beda.”
Aku tidak menjawab. Mungkin karena dalam hatiku, aku setuju. Hari-hari berhujan memang selalu spesial. Beberapa tahun lalu, di kampung halamanku, hujan besar pernah membuat becak ayah tergelincir masuk got. Sejak hari itu, ayah tidak pernah menarik becak sejauh dulu lagi. Katanya kakinya sering nyeri kalau kebanyakan jalan. Hujan membuat banyak hal berubah, dan tidak selalu ke arah yang baik.
Bel masuk berbunyi pelan dari kejauhan, menggema hingga ke halaman belakang.
“Kayaknya kita harus masuk, ya.” Luna berdiri, merapikan rok dan mengambil tasnya. Gerakannya rapi dan tenang, seolah sudah terlatih bertahun-tahun untuk selalu tampak pantas di hadapan orang lain.
Aku ikut berdiri. Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, dia melangkah mendekat dan berhenti tepat di sampingku.
“Bima, kan?” tanyanya.
Aku hampir menjatuhkan roti yang masih kugenggam. “Kamu… tahu namaku?”
“Tentu,” jawabnya pelan. “Nama kamu sering disebut pas pengumuman ranking. Lagian, aku pernah lihat kamu ngobrol sama Pak Yuda di ruang BK soal beasiswa tambahan.”
Jadi dia memperhatikan. Setidaknya, lebih dari yang kubayangkan.
“Aku Luna,” lanjutnya, seolah aku tidak tahu. “Kalau ada apa-apa soal pelajaran atau administrasi sekolah, boleh tanya aku. Atau… kalau cuma mau ngobrol juga boleh.”
Dia mengucapkan kalimat itu dengan nada ringan, seperti menawarkan payung pada orang asing yang kehujanan. Tanpa beban. Tanpa maksud apa-apa. Tapi di telingaku, kalimat itu terdengar jauh lebih berat.
“O-oke,” jawabku pendek.
Kami berjalan berdampingan menuju koridor. Suara hujan di belakang perlahan menjauh. Setiap langkah terasa canggung di kakiku, tapi tidak di miliknya. Beberapa siswa yang kami lewati tampak memperhatikan kami. Ada yang mengangkat alis, ada yang saling mencolek, ada juga yang langsung pura-pura sibuk dengan ponsel.
Aku bisa membayangkan apa yang mereka pikirkan.
Anak becak berjalan sebelahan dengan putri pemilik sekolah. Sinetron jam lima sore mungkin akan menertawakan konsep yang terlalu klise ini. Tapi bagiku, yang sedang melaluinya nyata-nyata, semua ini terasa seperti langkah pertama ke sesuatu yang tidak kumengerti.
Sebelum sampai di tangga menuju lantai dua, Luna berhenti. “Bima,” panggilnya.
Aku menoleh. “Ya?”
“Kalau istirahat nanti kamu ke kantin, boleh duduk di meja aku, nggak?” tanyanya pelan. “Aku… nggak begitu suka dikelilingi terlalu banyak orang. Capek harus selalu kelihatan sempurna.”
Aku menatapnya dalam beberapa detik. Di balik riasan tipis dan senyum terlatihnya, untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya: lelah. Lelah yang kukenal baik, karena tiap malam aku melihat pantulan yang sama di cermin ketika menghitung uang hasil kerja ayah.
“Kalau gue nggak lagi bantu di perpus, gue ke sana,” jawabku akhirnya.
Dia tersenyum kecil. “Deal.”
Luna lalu melangkah naik tangga, meninggalkanku di bawah. Aku menatap punggungnya menghilang di balik tembok, sementara suara hujan terus mengetuk-ngetuk genting di atas kami. Rasanya seperti baru saja mengetikkan kalimat pertama dari cerita panjang yang belum kutahu akan berakhir seperti apa.
Yang jelas, sejak pagi itu, aku tidak lagi bisa melihat hujan sebagai sesuatu yang “turun di saat yang salah”.
Karena di bawah hujan di halaman sekolah, untuk pertama kalinya, dunia kami yang berbeda itu saling bersinggungan.