Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pohon Takdir Raka

Pohon Takdir Raka

xuxi law | Bersambung
Jumlah kata
54.1K
Popular
386
Subscribe
64
Novel / Pohon Takdir Raka
Pohon Takdir Raka

Pohon Takdir Raka

xuxi law| Bersambung
Jumlah Kata
54.1K
Popular
386
Subscribe
64
Sinopsis
18+FantasiIsekaiIsekaiBalas DendamMengubah Nasib
Ketika keputus asaan menghampiri Raka, ia bertemu dengan wanita aneh bernama Dewi di dekat pohon beringin tua. Pertemuan itu membawa Raka ke dunia Dewi yang begitu asing, sehingga Raka pun berfikir "apakah ini takdir?"
Bab 1 Tidak Sengaja

Bruk!

"Aduh..."

Terdengar suara wanita di balik pohon rambutan. Raka yang sedang duduk melamun di bawah pohon rambutan di hutan belakang rumahnya pun terkejut. Dengan cepat ia berdiri dan menghampiri sumber suara tersebut.

Betapa terkejutnya Raka ketika melihat seorang wanita yang sudah terduduk sambil mengusap lututnya yang terluka karena terjatuh.

Rambutnya yang panjang, kulitnya kuning langsat, tubuh yang tidak begitu kurus maupun gemuk, serta parasnya yang cantik menawan membuat Raka terpana sejenak. Ketika Raka sadar dari lamunan saat melihat wanita itu, ia tersadar bahwa pakaian wanita itu agak aneh. Wanita itu menggunakan kemben selutut dan tidak mengenakan alas kaki.

Ketika wanita itu bangun, ia melihat Raka yang sedang mengintipnya di balik pohon. Terkejut dan takut, wanita itu langsung lari terbirit-birit sekencang yang ia mampu.

"Eeh... Tunggu!" teriak Raka.

Lalu Raka pun ikut berlari mengejar wanita itu. Namun semakin Raka mengejar, wanita itu terasa makin jauh. Dan ketika sampai di pohon beringin tua yang begitu besar, wanita itu menghilang.

Seketika bulu kuduk merinding, Raka dengan badan bergetar dan kaki yang lemas berusaha untuk lari dan kembali pulang. Dengan do'a sebisanya ia berdoa dalam hati sepanjang jalan sambil berlari dengan sekuat tenaga tanpa melihat ke belakang.

"Kapok aku bengong tengah hari di dalam hutan!" ungkapnya.

Hari mulai gelap, matahari tenggelam, suara jangkrik sudah mulai terdengar, Raka yang baru saja keluar dari kamar mandi pun melihat kakaknya Rasya sedang menghangatkan lauk untuk makan malam.

"Sudah selesai mengemas bajunya?" tanya kakaknya, Rasya.

"Sudah, kak" saut Raka yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Sehari lagi Raka akan berangkat ke kota, untuk bekerja sebagai OB di salah satu perusahaan di kota. Kakaknya Rasya sudah bersuami, namanya Aldi. Aldi bekerja sebagai petani dan mengurus sawah peninggalan orang tuanya Rasya dan Raka.

Di desa pun para tetangga banyak yang mengusulkan kepada Raka untuk mengurus sawah saja di kampung. Namun Raka menolak. Ia sudah disekolahkan oleh Rasya sampai lulus SMA, padahal Rasya sendiri putus sekolah demi sekolah Raka dan makan sehari-hari. Orang tua mereka meninggal saat Raka kelas 2 SMP dan Rasya kelas 1 SMA. Terpaksa Rasya putus sekolah dan bekerja untuk menghidupi adiknya Raka.

Saudara mereka pun mengusulkan kakak beradik itu untuk menjual sawah dan rumah peninggalan orang tua mereka, namun Rasya menolak. Rasya lebih memilih mempertahankan kenangan orang tua mereka walaupun hanya makan dengan nasi dan garam. Di usia muda Rasya sudah belajar mengurus sawah sendiri, dari menanam hingga panen. Tak jarang Raka ikut membantu kakaknya mengurus sawah, hingga Raka lulus dan Rasya menikah.

Kini, Aldilah yang mengurus sawah mereka. Banyak hasutan tetangganya Raka kalau sawah diurus oleh ipar, maka dia akan mengakui sawah tersebut atas milik pribadi bukan milik istrinya. Tapi Raka tidak peduli. Raka lebih percaya pilihan kakaknya ketimbang omongan orang-orang yang tidak memberinya makan.

"Gimana kerjaan kamu, ka? Lancar?" tanya Aldi kepada Raka

"Lancar kak" saut Raka

Raka, Rasya dan Aldi yang tengah makan malam memang tak jarang membahas hal-hal yang tidak penting sekalipun. Raka yang merantau di kota pun terkadang merindukan momen kebersamaan ini.

"Raka, kakak mau tanya..." kata Rasya

Raka berhenti sejenak dari makannya dan mulai mendengarkan kakaknya dengan seksama.

"Iya kak, tanya apa?"

"Kamu betah di sana? Kamu ga mau di sini aja ngurus sawah sama kak Aldi? Sawah itu kan hak kamu, dan rumah ini juga. Karena kamu anak laki-laki maka kamulah yang lebih berhak" ucap Rasya.

"Engga kak, Raka betah kok di sana. Kakak jangan ngomong begitu, ini hak kakak juga. Anggep aja ini sebagai balas budi Raka. karena Raka, kakak rela putus sekolah dan bekerja di sawah. Raka bisa nabung kok kalau untuk beli rumah, kakak jangan mikirin itu lagi ya" Raka mengakhirinya dengan senyuman.

"Oh iya Raka, tadi siang kamu habis dari mana? Kok pulang-pulang kayak habis dikejar hantu" tanya Aldi

Raka pun kaget, ternyata Aldi melihatnya keluar dari hutan belakang rumah dengan berkeringat dan nafas terengah-engah.

"Kak, percaya engga kalau tadi siang tuh aku bukan dikejar hantu tapi aku yang ngejar hantu?"

Mata Aldi terbelalak dan Rasya tersedak mendengar pernyataan adiknya yang nyeleneh itu.

"Uhuk, uhuk... Raka, kamu masuk ke hutan aja ga berani, apalagi kejar hantu!" Ucap Rasya sambil mengambil air untuk minum.

Sambil menepuk-nepuk pundak Rasya, Aldi pun bertanya "Serius kamu? Hantu apa?"

"Hantu cewek, dia pakai kemben tapi ga pake sendal. Pas dia liat aku, dia lari dan aku kejar. Tapi dia hilang pas sampe pohon beringin tua itu kak" jelas Raka.

Rasya yang tidak percaya menggeleng-gelengkan kepalanya dan meninggalkan Aldi dan Raka untuk membersihkan piring setelah makan.

Lalu Aldi pun bertanya "Loh, emang hantu pake sendal?"

Seketika suasana hening, Raka pun berpikir lebih dalam apakah benar yang dia lihat itu hantu setelah Aldi berkata demikian. Melihat Raka yang bengong Aldi pun mengakhiri obrolannya.

"Haaah, ada-ada aja kamu Raka. Makanya jangan mengkhayal di tengah hutan" ucap Aldi.

Malam semakin larut. Raka yang masih membuka matanya itupun masih kepikiran dengan apa yang ia lihat tadi siang. Benar kata Aldi, hantu mana yang parasnya cantik dan kakinya menapak tanah. Namun Raka yakin yang ia lihat itu bukanlah khayalan. Semakin Raka berfikir, semakin ia tidak menemukan jawabannya.

Triiing

Terdengar suara notifikasi WhatsApp dari hp nya Raka. Suara itu memecahkan lamunan Raka. Saat Raka membuka hp nya, ternyata ada pesan dari Mutia, karyawan kantor yang bekerja di tempat Raka bekerja.

"Rak, jangan lupa oleh-olehnya yak"

"Ok" ketik Raka.

Raka sudah sering membawakan oleh-oleh untuk Mutia jika pulang kampung. Mutia adalah cinta pertama Raka semenjak ia menjadi OB di perusahaan tersebut. Mutia memang terlihat judes dan galak, tapi ternyata dia baik dan mudah bergaul. Di perusahaan itu pun yang pertama kali mengajak Raka berteman adalah Mutia. Sejak saat itulah Raka menemukan cinta pertamanya.

Sudah setahun Raka berteman dengan Mutia. Semua yang Mutia minta pasti Raka kabulkan dengan usahanya. Tidak ada kata tidak untuk Mutia. Hingga saat ini ia belum mengungkapkan perasaannya kepada Mutia karena status mereka berbeda. Raka yang hanya lulusan SMA dan OB tidak berani mengajak pacaran Mutia yang S2 dan karyawan tetap di kantor. Raka terus memendam perasaannya. Mungkin suatu hari nanti ia akan diberikan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.

Pagi pun menyingsing, Raka yang sedang bersiap untuk membeli oleh-oleh ke toko di jalan besar pun pamit pada Rasya.

"Kok setiap mau berangkat kamu rajin banget beli oleh-oleh? Buat siapa si?" ucap Rasya penasaran.

"Buat temen-temen kok kak" jawab Raka.

"Ya udah, aku pergi dulu ya kak. Nanti siang kan aku harus siap-siap berangkat pergi ke kota" sambung Raka.

"Ya udah kalo gitu, hati-hati ya" ucap Rasya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca