Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Di Bawah Kendali Mr. Horisson

Di Bawah Kendali Mr. Horisson

lunabite | Bersambung
Jumlah kata
52.8K
Popular
449
Subscribe
125
Novel / Di Bawah Kendali Mr. Horisson
Di Bawah Kendali Mr. Horisson

Di Bawah Kendali Mr. Horisson

lunabite| Bersambung
Jumlah Kata
52.8K
Popular
449
Subscribe
125
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKonglomeratBadboy21+
Alexander Horisson selalu hidup dalam kendali. Kekuasaan, uang, dan reputasi membuatnya terbiasa menentukan arah hidup siapa pun, tanpa kompromi dan tanpa perasaan. Sampai Kaluna Evelyn masuk ke dalam wilayahnya. Kaluna bukan wanita yang ia rencanakan. Ia muncul sebagai bagian dari sebuah kesepakatan, sangat praktis, menguntungkan, dan seharusnya tanpa perasaan. Alexander hanya perlu mengatur, melindungi, dan memastikan wanita itu berada di posisinya dan Di bawah kendalinya. Namun sejak awal, Alexander tahu satu hal, bahwa Kaluna bukan tipe wanita yang bisa sepenuhnya ditundukkan. Ada ketenangan dalam tatapannya. Ada luka dalam caranya diam. Dan ada daya tarik berbahaya yang perlahan menggerogoti kokohnya tembok yang Alexander bangun, sesuatu yang tak pernah ia izinkan sebelumnya. Ia ingin menguasai. Ia terbiasa mengendalikan. Namun semakin dekat ia menarik Kaluna, semakin jelas bahwa yang terancam kehilangan kontrol… justru dirinya sendiri. Di dunia Alexander, keinginan adalah kelemahan. Perasaannya adalah kesalahan. Ketika masa lalu Kaluna mulai mengusik, ancaman datang dari arah yang tak terduga, Alexander dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia perhitungkan,Tetap menjadikan Kaluna bagian dari kendalinya atau mempertaruhkan segalanya demi seorang wanita yang membuatnya ingin melanggar aturannya sendiri. Karena bagi Alexander Horisson, cinta bukan tentang memiliki. Melainkan tentang siapa yang berani kehilangan kendali terlebih dahulu.
Permainan yang Mahal

Lampu-lampu kota Jakarta yang berkerlip di bawah sana tampak seperti butiran berlian yang berserakan, namun bagi Alexander Horisson, pemandangan itu hanyalah latar belakang statis. Fokusnya kini berpindah pada pantulan wanita di balik kaca jendela, seorang wanita yang namanya pun tak perlu ia ingat lama-lama.

​Alexander melepas kemeja sutranya, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai marmer yang dingin. Ia berbalik, melangkah menuju ranjang dengan keanggunan seorang predator yang telah memenangkan perburuan. Ia duduk di kursi armchair kulitnya, segelas wine merah di tangan, ia memperhatikan Aruna Devara yang sedang berdiri di tengah ruangan. Di dunia luar, Aruna adalah kekasih impian para lelaki, ia adalah diva ternama, dan di dalam kamar suite mewah itu, ia hanyalah hiburan yang Alex bayar dengan harga mahal.

"Tunjukan padaku kenapa kau adalah yang termahal, bitch," suara Alexander terdengar rendah, nyaris seperti perintah.

Aruna berdiri di tengah ruangan, membiarkan jubah bulu hitam yang menyelimuti bahunya merosot ke lantai, memperhatikan apa yang ia kenalan di baliknya, sebuah mahakarya yang di rancang khusus untuk memikat pria seperti Alexander. Ia mengenakan slip dress pendek berbahan sutra tipis berwarna merah marun gelap. Bahan itu begitu halus hingga mengikuti setiap lekuk tubuhnya yang sempurna, memantulkan cahaya emas dari lampu kota di balik jendela.

Di bagian dada dan pinggul, terdapat aksen renda hitam yang sangat transparan, sehingga kedua pa*udaranya yang besar terlihat begitu seksi. Kakinya yang jenjang dibalut oleh stoking hitam setinggi paha dengan motif jala yang sangat halus. Stoking itu ditahan oleh garter belt hitam yang melingkari pinggang rampingnya, memberikan kesan seksi yang menawan.

Tak lupa, ia mengenakan high heels setinggi 12 cm berwarna hitam mengkilat dan sebuah kalung choker hitam tipis mlingkar di lehernya, dengan satu berlian kecil di tengahnya.

Aruna kemudian tersenyum tipis, ia melangkah maju menuju tiang pole di sudut ruangan. Dengan gerakan yang sangat lambat dan provokatif, ia mulai melepas lingerinya, sehingga hanya terlihat bra dan stockingnya , ia kemudian mengikuti dentuman musik yang berat. Wanita itu meliuk, memanjat tiang itu dengan kekuatan yang anggun, menampilkan lekuk tubuh yang hanya bisa dilihat orang melalui layar televisi, tapi malam ini hanya untuk Alexander.

Aruna turun dengan gerakan striptis yang menantang, ia merangkak di atas karpet bulu menuju Alexander, menatap pria itu dengan tatapan buas. Saat Aruna mendekatkan wajahnya, hendak mengunci bibir Alex, pria itu dengan kasar memalingkan wajah dan mencengkeram rahang Aruna.

"Aku sudah bilang berkali-kali," bisik Alexander tepat di telinganya, suaranya sedingn es. "Jangan bibir. Aku tidak membayarmu untuk ciuman, bich."

​Aruna terengah, sedikit terkejut namun segera tersenyum sinis. "Ah, benar. Kau takut jatuh cinta padaku, Alexander?"

​Alexander masih terduduk di kursi besarnya, mencoba mempertahankan ekspresi datarnya, namun urat di lehernya mulai menegang saat Aruna berlutut di antara kedua kakinya. Aruna menatap Alexander dari bawah, sebuah senyum penuh rahasia tersungging di bibirnya yang merah.

Tangan mungilnya dengan gerakan lambat, membuka resleting celana Alex, lalu mengusap lembut sesuatu yang sudah menonjol sejak tadi.

"Sshhh.."

​Saat Aruna perlahan membuka ritsleting celana Alexander, ia terhenti sejenak. Matanya membelalak kecil, meski ia berusaha menutupinya dengan senyum profesional. Di hadapannya, kejantanan Alexander terbebas, sesuatu yang tampak begitu dominan, panjang, dan tebal dengan urat-urat yang menonjol tegang, seolah-olah memiliki nyawanya sendiri.

​"Wow..." Aruna berbisik hampir tak terdengar. "Alexander, kau benar-benar menyimpan 'monster' di balik setelan mahalamu."

​Ukurannya yang mengintimidasi itu memberikan aura berbahaya, kontras dengan jari-jari Aruna yang terlihat kecil saat mencoba menyentuhnya. Alexander hanya mendengus rendah, namun matanya yang gelap menunjukkan bahwa ia menikmati keterpukauan wanita itu.

​Aruna mulai bekerja. Ia melingkarkan jemarinya, namun telapak tangannya bahkan tidak bisa menutupi seluruh diameter yang luar biasa itu. Dengan perlahan, ia mulai memainkan lidahnya, menjelajahi setiap inci kulit yang panas dan keras seperti baja.

"Nghhh... Bitch..." Alexander memejamkan mata erat. Suara baritonnya pecah menjadi desahan serak yang dalam. Cengkeramannya pada gelas wiski menguat hingga buku jarinya memutih.

Aruna menggunakan lidahnya dengan ritme yang menyiksa, menikmati sensasi denyutan kuat dari kejantanan Alexander yang bereaksi terhadap sentuhannya. Ia menatap Alexander dari bawah, matanya penuh kemenangan saat melihat pria penguasa itu mulai kehilangan ketenangannya.

​"Cukup," geram Alexander tiba-tiba. Suaranya bukan lagi dingin, melainkan penuh gairah yang meledak.

​Sebelum Aruna bisa melanjutkan, Alexander menyambar bahu wanita itu. Ia tidak lagi duduk diam. Ia bangkit, membuat Aruna tersentak mundur. Alexander menarik Aruna berdiri, membopongnya dengan satu tangan seolah berat badan sang aktris tidak ada artinya, lalu membantingnya kasar ke atas ranjang satin.

​Brak!

​Aruna memantul di atas kasur, rambutnya tersebar berantakan di atas bantal. Ia menatap Alexander yang kini berdiri di tepi ranjang, terlihat begitu besar dan mengancam dengan miliknya yang masih menegang maksimal, siap untuk menaklukkan.

​"Kau yang memulainya, bitch" ucap Alexander sambil meraih pengaman dari nakas. "Sekarang jangan memohon padaku untuk berhenti."

​Aruna menelan ludah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia tahu, setelah ini, ia tidak akan hanya sekadar berakting; ia akan benar-benar dihancurkan oleh gairah pria di depannya.

​Alexander tidak terburu-buru. Setelah membanting Aruna, ia mengunci pergelangan kaki wanita itu di bawah ketiaknya, memaksanya terekspos sepenuhnya. Dengan tatapan dingin yang kontras dengan hasratnya yang membara, Alexander memasukkan dua jarinya ke dalam kelembapan Aruna yang sudah meluap.

​"Alex... ahh! Langsung saja... please," rintih Aruna, pinggulnya bergerak liar mencari kejantanan Alexander yang besar.

​"Tidak," jawab Alexander pendek. Ia mulai memacu jarinya dengan ritme yang sangat cepat dan teknis, sementara ibu jarinya menekan titik paling sensitif Aruna dengan keras.

​Aruna menjerit, kepalanya menenggelam ke bantal. Tubuhnya gemetar hebat saat ia dipaksa mencapai puncak pertamanya hanya melalui jemari Alexander. "Ahhh! Alex! Yes! Oh God... ahhh!" Aruna meledak, kontraksi hebat menjepit jari Alexander saat ia lemas untuk pertama kalinya malam itu.

​Alexander tersenyum tipis melihat Aruna yang tak berdaya. Ia meraih pengaman, mengenakannya dengan tenang, lalu memulai serangan yang sesungguhnya.

"Kau tahu sayang, lebih nikmat tanpa pengaman itu." Goda Aruna sambil menata kembali nafasnya.

"Tidak."

Tanpa memberi napas, Alexander menghujam Aruna dengan dorongan penuh. Ia mencengkeram dada Aruna yang indah, meremasnya dengan kasar hingga memerah. Ia membungkuk, menggigit puncak dadanya hingga Aruna memekik antara perih dan nikmat. "Ah! Alex! Pelan... nghhh!"

Tanpa memberi jeda, Alexander menarik diri sejenak, membalikkan tubuh Aruna menjadi posisi doggy style. Ia mencengkeram pinggul Aruna dengan kedua tangannya, mengangkatnya sedikit, lalu kembali menghujam dengan ritme yang mematikan.

​"Alex... ah! Ah! Kau... kau akan menghancurkanku..." Aruna terengah, kepalanya terkulai di atas bantal, rambutnya menempel ke dahi karena keringat. Punggungnya melengkung ekstrem, mengikuti setiap hentakan Alexander yang dalam dan kasar.

​Alexander menatap pantulan mereka di cermin di seberang ranjang, sosoknya yang dominan di belakang Aruna yang tak berdaya. Ia mempercepat tempo, menikmati pemandangan itu. "Ini balasan untuk permainan lidahmu tadi, Aruna," bisik Alexander, suaranya dipenuhi gairah yang tak terbendung.

Alexander kembali mengubah posisi. Ia menarik Aruna ke atasnya, mengunci kaki wanita itu di pinggangnya, membuat Aruna duduk menghadapnya. Kali ini, Alexander memegang kendali penuh atas ritme. Ia mengangkat pinggul Aruna, lalu menurunkannya dengan keras, membuat sensasi yang memabukkan bagi keduanya.

​"Ahhh! Oh God! Alex! Pelan... atau cepat... ahh! Terserah kau... just don't stop!" Aruna menjerit, tangannya mencengkeram bahu Alexander, kuku-kukunya menusuk kulit pria itu.

"Jangan berhenti!!! Gerakkan tubuhmu Bitch!! Move!!!"

​Aruna berteriak panjang, tubuhnya melengkung seperti busur panah sebelum akhirnya jatuh terkulai lemas di atas tubuh Alexander, gemetar hebat dan kehabisan napas. Ia benar-benar tak berdaya, tidak mampu bergerak barang sedikit pun.

Alexander membaringkan Aruna menyamping, mengangkat satu kakinya tinggi-tinggi. Dalam posisi ini, ia masuk lebih dalam lagi. Aruna tak lagi sanggup berteriak, hanya desahan-desahan pendek yang lolos dari bibirnya yang bengkak. "Alex... h-hentikan... aku... ahh!"

Seolah tuli dengan teriakan dan desahan Aruna, Alex kembali ke posisi semua, namun kali in ia mengangkat kaki Aruna hingga ke bahunya. Ia memacu kecepatannya hingga maksimal. Aruna benar-benar sudah tak berdaya, matanya berputar ke atas, tubuhnya mandi keringat dan ia hanya bisa menerima setiap hentakan Alexander yang semakin liar.

"Bitcccch!!!! Arrrghhh... Arrgghh!!" Geram Alexander saat ia merasakan dirinya akan mencapai batas, namun pria itu semakin memacu gerakannya dengan cepat.

"ALEXXXX!!! CUKUPPP!! AAAH.. AAAHH... ! AKU AKAN MATI !! AAAH ! AAAH ! OUGHHHH... OUGHHHHH GOD!! I'M COMING BABY.. AAAHHHHH AAAAH." Aruna kembali mencapi puncak kelimanya dengan teriakan yang serak.

"Ngghhh... Belum.. kau belum selesai bitch."

​Alexander menarik diri, namun ia tidak berhenti. Ia mengingat bagaimana Aruna mencoba mencium bibirnya tadi, sebuah pelanggaran kontrak yang dianggapnya sebagai kelancangan.

​"Kau melanggar aturan, Aruna. Bibirku terlarang untukmu," suara Alexander terdengar maut.

​Ia mengambil sebuah alat kecil berbentuk telur perak yang bisa bergetar dari laci nakas. Dengan kasar, ia memasangkan alat itu pada titik paling sensitif Aruna, lalu menyalakannya pada level maksimal.

"N-no... Alex! Ahhh! Too intense! Cabut... ahhh! Tolong!" Aruna menggeliat liar, tubuhnya gemetar hebat karena rangsangan elektrik yang tak henti-henti.

Alexander duduk di tepi ranjang, menonton dengan dingin saat kejantanannya yang besar masih menegang. "Ini hukumanmu karena mencoba terlalu dekat. Nikmati getarannya sampai kau tidak bisa menyebut namamu sendiri."

Pria itu membiarkan alat itu bekerja selema sepuluh menit hingga Aruna benar-benar kehilangan kesadaran akan sekitarnya, air mat kenikmatan mengalir di sudut matanya. Saat Aruna sudah di puncak kehancuran, Alexander mematikan alat itu dan langsung menyatukan kembali tubuh mereka untuk terakhir kalinya tanpa ampun.

Ia menatap Aruna dalam-dalam, melihat mata wanita itu yang sudah sepenuhnya berkabut oleh kenikmatan. Ia memacu ritmenya hingga maksimal, merasakan tubuh Aruna menjepitnya dengan kuat. Dengan satu dorongan terakhir yang bertenaga, "Nghhh!" Alexander melepaskan segalanya di dalam perlindungan karet tersebut.

​Aruna berteriak panjang, tubuhnya melengkung seperti busur panah sebelum akhirnya jatuh terkulai lemas di atas tubuh Alexander, gemetar hebat dan kehabisan napas. Ia benar-benar tak berdaya, tidak mampu bergerak barang sedikit pun.

​Alexander tetap memeluk Aruna sejenak, membiarkan napasnya stabil kembali, lalu ia menarik diri. Dengan gerakan yang kembali tenang, ia bangkit, melepas pengaman, dan membuangnya ke tempat sampah. Ia mengenakan jubah mandinya, kembali menjadi Alexander Horisson yang dingin dan terkendali.

​Ia menatap Aruna yang masih tergeletak lemas di ranjang, wajahnya semerah tomat, rambutnya basah oleh keringat. Penampilannya sungguh sangat berantakan

​"Kau berani sekali memprovokasiku, Bitch," ucap Alexander datar. "Tapi kau harus membayar harganya."

​Aruna hanya bisa menggumamkan sesuatu yang tak jelas, terlalu lelah untuk bicara.

​Alexander meletakkan segelas air di nakas. "Istirahatlah. Satu jam lagi mobilmu siap di bawah."

**

​Satu jam telah berlalu. Aruna sudah mulai mengumpulkan tenaganya kembali, meski kakinya masih terasa gemetar saat menyentuh lantai marmer. Ia telah mengenakan kembali slip dress burgundy-nya, namun ia membiarkan ritsleting belakangnya terbuka, menampakkan punggungnya yang mulus dengan beberapa bekas kemerahan akibat cengkeraman Alexander.

​Alexander sudah berdiri di depan jendela, kembali mengenakan celana kain dan kemeja putih yang tidak dikancingkan, menyesap wiski terakhirnya. Ia menganggap transaksi malam ini sudah benar-benar selesai.

​Namun, Aruna Devara adalah seorang aktris papan atas. Ia tahu cara menutup sebuah pertunjukan dengan ending yang tak terlupakan.

​Tanpa suara, Aruna berjalan mendekat. Ia tidak berpamitan. Sebaliknya, ia perlahan berlutut kembali di hadapan Alexander, tepat di depan pria itu yang masih mematung menatap kota.

​"Apa yang kau lakukan, Aruna? Mobilmu sudah di bawah," suara Alexander terdengar berat, namun ada getaran antisipasi yang tak bisa ia sembunyikan.

"Aku hanya ingin memastikan kau tidak akan bisa tidur nyenyak setelah aku pergi, Alex," bisik Aruna.

​Dengan gerakan yang jauh lebih berani dan berpengalaman dari sebelumnya, Aruna kembali memainkan lidahnya. Kali ini tanpa pengaman, tanpa pembatas. Ia menggunakan kelembutan dan kehangatan alaminya untuk menyerang pertahanan Alexander yang sudah mulai rileks.

Gelas wiski di tangan Alexander bergetar. Ia terpaksa menyandarkan satu tangannya ke kaca jendela yang dingin untuk menjaga keseimbangan.

"Nghhh... Bitch... cukup," geramnya, namun tangannya justru terjulur ke bawah, membelai rambut Aruna, membiarkan wanita itu melanjutkan.

Aruna mendongak sebentar, menatap Alexander dengan mata sayu yang penuh kemenangan. Ia mulai memainkan lidahnya dengan ahli seolah sedang menikmati lolipop yang manis. Ia melingkarkan jemarinya yang lentik, menyadari bahwa ia bahkan tidak bisa sepenuhnya melingkari diameter yang luar biasa itu.

"Ahhh... damn it, Bitch..." Alex justrumendorong kepala Aruna hingga miliknya itu menyentuh ujung tenggorokan Aruna.

​Aruna berhenti tepat saat ia merasakan tubuh Alexander kembali menegang hebat. Ia menarik diri sambil mengusap bibirnya dengan ibu jari, tersenyum miring ke arah pria yang kini terengah-engah itu.

​Aruna bangkit berdiri, merapikan rambutnya yang berantakan dengan gerakan anggun, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan adegan paling ikonik dalam kariernya.

​"Sekarang, kau boleh memikirkan aku sampai besok pagi, Alexander," ucap Aruna dengan suara yang kembali tenang dan profesional.

​Ia meraih tas tangannya dan amplop di atas meja nakas tanpa melihat isinya lagi. Saat ia berjalan menuju pintu, ia sempat menoleh sedikit. "Jangan lupa bayar lebih untuk 'bonus' barusan."

​Pintu suite tertutup dengan bunyi klik yang elegan. Alexander tetap berdiri di sana, sendirian di tengah kemewahan lantai tertinggi, menatap pantulannya di kaca dengan napas yang masih belum stabil.

Lanjut membaca
Lanjut membaca