

Sudah hampir dua bulan ini Arka pulang lewat tengah malam lagi. Malam yang sunyi selalu menemaninya di tengah rasa lelah. Kehidupan yang serba kekurangan ini ia jalani di tengah kota yang gemerlap. Namun ia harus berjalan sedikit lebih lama karena tempat tinggalnya cukup jauh masuk ke dalam gang yang sempit, dingin, dan sepi. Demi menghemat uang, ia hanya mengandalkan angkutan kota agar dia bisa pulang pergi menuju kampus dimana ia menuntut ilmu dan sekaligus tempat kerjanya.
Dua bulan ini ia memang selalu pulang lewat tengah malam karena dia harus kembali ke kampus dan meminjam komputer di perpustakaan hanya untuk mengetik dan menyusun penelitian yang sedang dilakukannya agar ia bisa lulus dengan tepat waktu. Ia hanya tidak ingin membuang-buang uang yang diberi orang tuanya dan uang yang ia tambahkan untuk menyelesaikan pendidikannya.
Arka sadar dia hanya seorang yang biasa saja, kemungkinan setelah ia lulus, dia tidak akan banyak mendapatkan rekomendasi tempat kerja dari kampusnya. Dia juga sadar bahwa kemampuannya bersosialisasi tidak sebaik orang lain, koneksinya tidak banyak, hanya teman-teman sekelasnya.
Sepulangnya dari kampus, ia langsung bekerja. Ia punya dua pekerjaan sekaligus yang sudah di atur agar tidak bentrok dengan jadwalnya kuliah. Senin sampai Jum'at setelah makan siang dia bekerja menjadi kasir di sebuah toko boneka yang berada tidak terlau jauh dari kampusnya, jam satu siang sampai jam enam sore. Lalu di lanjut menjadi barista di sebuah kafe yang letaknya hanya dua puluh menit dari toko boneka. Di sana ia bekerja mulai jam tujuh sampai jam sepuluh malam. Lalu ia bergegas kembali ke perpustakaan kampus untuk melanjutkan proses skripsinya selama dua jam. Pada hari Sabtu dan Minggu, tidak ada jadwal kuliah. Waktu dua hari itu di pagi hari ia fokuskan untuk melanjutkan penelitian untuk skripsinya. Siang sampai malam pekerjaannya sama, menjadi kasir di toko boneka dan barista di kafe dekat kampus.
Sebenarnya ia sangat lelah dengan realita kehidupan yang sedikit keras baginya, tapi mau bagaimana lagi, ia sadar harus melalui semua demi masa depan yang tidak pasti. Yang terpenting dipikirannya sekarang adalah mengejar kelulusan yang lebih pasti bagi dia dan orang tuanya.
***
Saat Arka di perjalanan menuju kost, ia dikagetkan dengan kemunculan seorang wanita yang tiba-tiba muncul di balik tiang lampu jalan yang redup dan berkedip.
"Kamu... kamu bisa temani aku pulang?" pinta wanita itu.
Wanita itu terlihat ketakutan. Rambutnya hitam panjang terurai, kulitnya yang putih, suaranya lembut.
"Ah... Iya boleh. Rumah kamu dimana?" tanya Arka.
"Kamu ikutin aku aja. Aku takut sendirian. Maaf ya." Kata wanita itu.
"Nggak apa-apa kok." Jawab Arka sambil berjalan setengah langkah di belakang wanita itu.
"Aku Iren," ia membalikkan badannya ke arah Arka dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman, ingin mengenal satu sama lain.
Arka kembali terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba itu.
"Anu... namaku..." Arka lupa namanya sendiri.
"Jangan gugup gitu, hehe, santai aja." Kata Iren sambil tertawa sedikit.
"Arkananta, panggil aja Arka." Ia memperkenalkan namanya sambil menjabatkan tangan lalu melepasannya.
Dingin, tangannya terlalu dingin. Mungkin karena Iren sudah cukup lama di luar menunggu seseorang yang bisa menemaniya pulang melewati gang sunyi dan minim pencahayaan ini. Mungkin dia takut hantu atau lebih parahnya manusia jahat, pikirnya.
Beberapa menit kemudian, Iren berterima kasih kepada Arka yang sudah mengantarkanya pulang sampai di depan rumahnya. Rumah Iren terlihat besar dan terang, hanya saja dikelilingi banyak pohon yang besar. Di sekelilingnya juga tidak terlihat ada rumah, yang ada hanya taman dengan pepohonan yang cukup rindang. Arka tidak mengira ada rumah semewah ini di ujung jalan yang hanya terletak di beberapa belokan gang di lokasi yang sama dengan kost yang ia tinggali. Bahkan Arka bisa melihat kostnya yang berlantai tiga itu dari depan rumah Iren.
Setelah memastikan Iren menutup pagar rumahnya, Arka berbalik dan pulang kembali ke kostnya.
Ia sudah cukup lelah, ia langsung mandi membersihkan debu dan keringat yang menempel di tubuhnya hari ini. Mengakhiri hari, ia baring dan langsung tertidur lelap.
Pukul 7.30 pagi, ia bangun lalu bersiap untuk pergi ke kampus. Ia berjalan menelusuri gang yang dilalui beberapa motor yang lalu lalang setiap pagi sebagai tanda aktifitas bermulai. Kegiatan harian Arka tidak banyak berubah. Belajar layaknya mahasiswa di kampus, makan siang bersama beberapa temannya, lalu lanjut kerja di toko boneka, lalu pindah ke kafe, setelah itu dia lanjut merevisi skripsi yang perlu diperbaiki, lalu kembali ke kost untuk beristirahat. Yang berbeda hanyalah setiap malam pada pukul lewat tengah malam, ia selalu menemani Iren untuk pulang ke rumahnya. Tidak ada orang lain, hanya Arka yang bisa menemani Iren. Selama hampir dua minggu, Iren dan Arka mulai akrab. Mereka banyak membahas apa saja yang mereka bicarakan. Tentang perkuliahan, pekerjaan, bahkan hobi.
Arka sudah tahu dibalik alasan Iren, kenapa ia selalu menunggu Arka setiap malam. Iren juga memberi tahu bahwa dia juga pulang kerja sekitar jam satu malam, maka dari itu ia takut untuk berjalan pulang sendiri ke ujung gang yang terdapat banyak gang kecil lagi di dalamnya.
Iren beberapa tahun lebih tua dari Arka, tapi ia tidak tahu secara spesifik umur Iren. Iren tinggal bersama orang tuanya, kakak, beserta adiknya di rumah itu. Arka tidak pernah melihat mereka karena memang dia hanya mengantarkan Iren setelah larut malam. Mereka semua pasti sudah tidur, itu yang dipikir Arka.
Di pengujung hari selalu sama, Arka mandi lalu tidur. Tidak ada yang aneh dan berubah, hanya saja Arka selalu tenang saat bersama dengan Iren. Berbincang-bincang, bercanda, tertawa bersama adalah hal yang paling menyenangkan di setiap hari yang dilalui Arka. Seperti ada teman untuk saling berbagi banyak cerita yang terjadi setiap harinya. Tak jarang, ketika Arka bekerja, ia selalu memperhatikan jam yang terus berputar, berharap waktu bisa lebih cepat dilalui walau ia tahu Iren akan selalu ada dan menunggunya di waktu yang sama. Terkadang, Arka sengaja untuk cepat menyelesaikan perbaikan skripsinya dan berencana untuk menunggu Iren pulang lebih cepat. Tapi Iren selau lebih cepat dari Arka.
Terkadang Arka bertanya-tanya, kenapa ia tidak pernah bisa menunggu Iren, padahal jadwalnya pasti selalu sama. Tapi ia tidak terlalu mempedulikannya, ia hanya peduli pada waktu yang akan ia habiskan bersama Iren. Terkadang mereka mengobrol sambil duduk di bangku atau bermain di taman yang ada di dekat rumah Iren. Hanya untuk menghabiskan waktu bersama lebih lama sebelum ia pulang ke kostnya lagi untuk kembali beristirahat.