

“Abang”
Langit sore itu berwarna kelabu, seolah ikut merasakan duka yang menggantung di dalam mansion Mishima. Udara terasa berat, langkah kaki para pelayan pun terdengar lebih pelan dari biasanya. Di ruang keluarga yang luas dan megah, dua anak laki-laki kembar berdiri saling berhadapan, jemari mungil mereka bertaut erat seakan dunia akan runtuh jika genggaman itu terlepas.
Air mata berderai di pipi keduanya. Namun, dari sepasang mata yang hampir serupa itu, terlihat perbedaan yang jelas. Yang satu menangis tanpa mampu menahan kesedihan, bahunya terguncang oleh isak yang tak henti. Yang satunya lagi berusaha tersenyum—senyum rapuh yang dipaksakan—demi menenangkan hati adiknya, meski matanya sendiri basah oleh air mata.
“Abang…” suara kecil itu bergetar. “Abang jangan pergi… hiks… hiks…”
Arga memeluk kakaknya semakin erat, seakan tubuh Arka adalah satu-satunya sandaran yang tersisa di dunia. Sejak tadi ia menangis, memohon agar ayah dan kakaknya tidak pergi. Ia belum mengerti sepenuhnya apa yang terjadi, yang ia tahu hanyalah satu hal: keluarga mereka akan terpisah.
Arka mengangkat tangannya perlahan, menyeka air mata adiknya dengan lembut. Gerakannya penuh kehati-hatian, seolah Arga terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja.
“Kita masih bisa bertemu kapan pun yang kamu mau,” ucap Arka pelan. “Kita hanya akan tinggal di rumah yang berbeda.”
Arga segera menggeleng berkali-kali, menolak kata-kata itu. Bagi dirinya yang masih kecil, dunia tanpa Arka di sisinya adalah dunia yang menakutkan. Mereka bersama sejak lahir, berbagi segalanya—mainan, tawa, bahkan mimpi-mimpi sederhana tentang masa depan.
“Tidak boleh,” tangis Arga semakin kencang. “Abang harus tetap di sini, bersamaku dan Mommy…!”
Arka terdiam sesaat. Dadanya terasa sesak. Ia ingin berteriak bahwa ia pun ingin tetap tinggal, ingin terus berada di sisi Arga dan Mommy. Namun kenyataan tidak sesederhana keinginan anak-anak.
“Ssst… jangan seperti ini, Arga,” bisik Arka sambil menempelkan keningnya ke kening sang adik. “Abang janji akan selalu menemui kamu.”
“Daddy, jangan bawa Abang pergi!” teriak Arga tiba-tiba, suaranya memecah keheningan. Ia menoleh ke arah ayah mereka dengan mata sembab dan penuh harap.
Kenzo Mishima berdiri tak jauh dari mereka. Wajah pria itu terlihat tegar, namun di balik ketegaran itu tersimpan luka yang sama dalamnya. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya berjongkok, mendekat ke hadapan kedua putranya.
“Maaf, Arga,” ucap Kenzo dengan senyum sendu. “Abangmu harus ikut bersama Daddy. Sedangkan Arga akan tinggal bersama Mommy.”
“Hiks… Abang tidak boleh pergi!” Arga kembali meronta dalam pelukan Arka.
Mira, ibu mereka, yang sejak tadi berdiri dengan tangan gemetar, akhirnya melangkah maju. Wajahnya pucat, matanya sembab akibat terlalu banyak menangis.
“Sayang,” ucapnya lirih kepada Arga. “Apa kamu tidak mau bersama Mommy? Biarkan Abangmu ikut Daddy…”
Arka menoleh pada ibunya dan tersenyum kecil. Mendengar kalimat itu, ada perasaan lega sekaligus perih di hatinya.
“Mommy benar, Lili,” kata Arka lembut, menggunakan panggilan kesayangan ibunya. “Abang janji akan sering mengunjungi kamu.”
“Tidak!” Arga berteriak keras. “Kalian tidak boleh pergi!”
“Arga!” suara tegas mira membuat anak itu terdiam. Isakannya masih terdengar, namun kini tertahan.
Anak laki-laki itu bernama lengkap Arga Mishima. Sementara sang kakak adalah Arka Mishima. Keduanya terlahir kembar dari pasangan Hana—perempuan asal Indonesia—dan Kenzo Mishima, pria Jepang yang telah lama menetap di Indonesia. Mereka pernah menjadi keluarga yang utuh, setidaknya di mata dua anak kecil itu.
“Mom, jangan marahi adikku,” Arka berkata pelan, berusaha menenangkan ibunya. “Dia hanya butuh pengertian.”
Mira menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sampai pada titik ini—berpisah dengan suami dan harus mengorbankan kebahagiaan kedua anaknya.
Namun, bagaimana lagi? Hubungannya dengan Kenzo telah lama retak. Ego masing-masing terlalu tinggi, dan tak ada lagi yang benar-benar ingin memperbaiki. Mempertahankan pernikahan tanpa cinta hanya akan melahirkan luka yang lebih dalam.
“Arga, dengarkan Daddy,” ucap Kenzo sambil bersimpuh, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Arga. Tangannya mengusap kepala kecil itu dengan lembut.
“Selamanya Daddy akan tetap menjadi Daddy Arga,” lanjutnya. “Dan Abang juga akan tetap menjadi Abang Arga. Walaupun jarak memisahkan kalian, hubungan kita tidak akan berubah. Darah Daddy tetap mengalir di tubuh kalian berdua.”
Arga menunduk, air matanya jatuh ke lantai marmer. Hatinya kembali teriris ketika menyadari bahwa kedua orang tuanya benar-benar tidak akan bersama lagi.
“Daddy dan Mommy sudah tidak bisa bersama,” suara mira terdengar bergetar. “Jika kamu sudah dewasa nanti, kamu pasti akan mengerti alasannya. Untuk sekarang, kita harus pisah rumah.”
“Arga dengan Mommy,” sambung Kenzo. “Dan Abang dengan Daddy.”
Arga kembali menangis. Kenyataan itu terlalu berat untuk hatinya yang masih polos.
Arka menahan diri agar tidak kembali menangis. Sebagai kakak—meski hanya berbeda beberapa menit—ia merasa harus lebih kuat. Ia lebih memahami kondisi ini dibandingkan Arga. Ia tahu, perpisahan orang tua mereka adalah sesuatu yang tak terhindarkan.
Jika Arga belum sepenuhnya mengerti, Arka sangat paham. Mereka masih terlalu kecil dan masih membutuhkan kehadiran kedua orang tua. Namun hidup memaksanya untuk dewasa lebih cepat.
“Ketika diberi pilihan harus ikut siapa di antara keduanya,” batin Arka, “itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Keduanya adalah sosok yang sangat aku sayangi. Tidak ada anak yang menginginkan pilihan seperti ini.”
Ia mengingat saat dirinya diminta memilih. Kepalanya terasa kosong, hatinya berontak. Bagaimana mungkin ia harus memilih antara ayah dan ibunya?
“Pada akhirnya aku memilih bersama Daddy,” lanjutnya dalam hati. “Arga masih membutuhkan apa yang Mommy punya. Sedangkan aku dan Daddy akan berusaha bertahan hidup di luar sana.”
Arka tahu apa arti pilihannya. Mulai hari itu, ia harus meninggalkan mansion Mishima, meninggalkan kemewahan, kekuasaan, dan harta yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
“Aku akan tinggal di luar, tanpa semua itu,” pikirnya. “Semua ini kulakukan agar hidup adikku nyaman dan bahagia.”
Ia menatap Arga dengan mata sendu. Sebentar lagi, ia akan pergi meninggalkan Indonesia, kembali ke negara asal ayah mereka—Jepang. Negeri yang hanya ia kenal dari cerita dan beberapa kunjungan singkat.
“Abang… jangan pernah melupakanku…” tangis Arga pecah kembali ketika ia memeluk Arka sekuat tenaga.
Hati Arka terasa diremas. Ia membalas pelukan itu, mendekap tubuh mungil adiknya erat-erat, seakan ingin menghafal setiap detik kebersamaan mereka.
“Arga,” bisiknya lirih. “Kita masih berada di langit yang sama. Jadi jangan takut. Kita akan terus bertemu, sampai kita dewasa.”
Di bawah langit yang sama, dua saudara kembar itu akhirnya harus belajar arti perpisahan—perpisahan yang akan membentuk mereka menjadi pribadi yang berbeda, namun dengan satu ikatan yang tak akan pernah terputus: darah, cinta, dan janji seorang Abang.”