Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Taruhan Yang Berbalik Arah

Taruhan Yang Berbalik Arah

Chizz | Bersambung
Jumlah kata
71.5K
Popular
100
Subscribe
24
Novel / Taruhan Yang Berbalik Arah
Taruhan Yang Berbalik Arah

Taruhan Yang Berbalik Arah

Chizz| Bersambung
Jumlah Kata
71.5K
Popular
100
Subscribe
24
Sinopsis
PerkotaanSekolahCinta SekolahTeka-tekiBadboy
Ia dikenal sebagai legenda penakluk hati—tampan, cerdas, dan tak pernah kalah dalam urusan cinta. Bagi dirinya, perasaan hanyalah permainan, dibentuk oleh masa lalu yang dingin dan janji yang tak pernah ditepati.Saat memasuki dunia kampus, sebuah taruhan kembali ia buat. Targetnya seorang gadis yang berbeda dari semua yang pernah ia temui: mandiri, cerdas, dan kebal terhadap pesonanya. Namun permainan itu berubah arah ketika ia benar-benar jatuh cinta—sementara rahasia tentang taruhan perlahan menunggu waktu untuk menghancurkan segalanya.Ketika kebenaran terungkap, cinta berubah menjadi luka, dan sang playboy kehilangan semua yang ia banggakan. Dalam kehancuran, ia dipaksa menghadapi dirinya sendiri dan belajar bahwa tidak semua kesalahan bisa ditebus dengan kata maaf.Sebuah kisah tentang cinta yang lahir dari kebohongan, kehilangan yang menyakitkan, dan pertanyaan paling sulit:apakah seseorang yang pernah mempermainkan cinta layak mendapat kesempatan kedua?
Lelaki yang Selalu Diinginkan

Pagi itu, koridor SMA Gemilang sudah riuh seperti pasar. Tapi keramaian itu, entah bagaimana, selalu berpusat pada satu titik: dia. Lelaki itu. Berdiri santai di depan lokernya, seolah gravitasinya berbeda dari yang lain.

“Arga, PR Kimia udah?” Suara melengking dari seorang siswi kelas X, namanya mungkin Rina atau Sasa, terdengar di antara bisik-bisik.

Lelaki itu menoleh, senyum tipis terukir. “Udah. Kenapa? Mau nyontek?”

Sontak, tawa renyah pecah dari kelompok gadis yang mengerubunginya. Salah satu di antaranya, gadis dengan pita rambut merah, mendorong temannya pelan. “Ih, Arga mah gitu!”

“Bukan nyontek, Arga. Mau minta diajarin,” timpal gadis lain, suaranya dibuat semanis mungkin.

Lelaki itu mengangkat bahu, tangannya masih sibuk mengatur buku di dalam loker. “Nanti aja. Sekarang udah mau bel.”

Belum sempat gadis-gadis itu protes, dua cowok menghampiri. Rio dan Danu, sahabat karibnya sejak SMP. Mereka langsung menerobos kerumunan, seolah sudah terbiasa dengan pemandangan itu.

“Woi, Bro. Udah kayak selebritis pagi-pagi,” celetuk Rio, menyenggol bahu Lelaki itu.

Lelaki itu mendengus pelan. “Biasa aja. Cuma nanya PR.”

Danu menggeleng-gelengkan kepala. “Nanya PR apanya? Itu matanya udah kayak mau nelen elo semua.”

Gadis-gadis itu tersipu, beberapa buru-buru menunduk.

“Udah, sana. Nanti telat,” usir Lelaki itu, nadanya santai tapi cukup tegas.

Mereka bubar, masih dengan senyum dan pandangan penuh harap.

“Gila, Bro. Lo itu kayak magnet cewek,” kata Rio, menatap punggung gadis-gadis yang menjauh.

Lelaki itu menutup lokernya, ekspresinya datar. “Biasa aja.”

“Biasa apanya? Dari kelas X sampai XII, semua cewek di sekolah ini kayaknya pernah naksir lo,” Danu menimpali, menyilangkan tangan di dada. “Ganteng iya, pinter iya, kapten basket pula. Paket komplit.”

Lelaki itu berjalan menuju kelas, Rio dan Danu mengikutinya. “Terus?”

“Terus ya… lo nggak ngerasa apa-apa gitu? Spesial?” tanya Rio.

Lelaki itu tertawa kecil, hambar. “Spesial apanya? Sama aja semua.”

“Sama aja gimana? Mereka kan suka sama lo,” Danu sedikit kesal dengan ketidakpedulian sahabatnya.

“Suka cuma di awal doang. Nanti juga bosen,” jawab Lelaki itu, suaranya mengandung nada sinis yang samar.

Mereka sampai di depan kelas. Beberapa siswi sudah menunggu di sana, seolah tahu jam kedatangan Lelaki itu.

“Arga! Pagi!” sapa seorang gadis dari balik pintu, senyumnya merekah.

Lelaki itu membalas dengan anggukan singkat dan senyum tipis.

“Tuh kan,” Rio menyenggol Danu. “Lihat aja. Cuma modal senyum tipis gitu, udah bikin mereka klepek-klepek.”

“Gue capek, Bro,” keluh Lelaki itu, setengah berbisik.

“Capek kenapa?” tanya Danu, sedikit terkejut.

“Capek kalau harus selalu jadi pusat perhatian. Capek kalau semua orang pengen ini itu dari gue,” Lelaki itu berucap, nadanya lelah. “Mereka nggak pengen tahu gue yang sebenarnya. Cuma pengen Arga yang mereka bayangin.”

Rio dan Danu saling pandang. Mereka tahu Lelaki itu tidak bercanda.

“Lo beneran nggak pernah naksir siapa-siapa, Ga?” tanya Rio hati-hati.

“Naksir? Buat apa?” Lelaki itu masuk ke kelas, meletakkan tas di kursinya. “Naksir itu cuma bikin ribet. Bikin lo jadi gampang dikontrol.”

“Itu namanya cinta, Bro,” Danu mencoba menjelaskan.

Lelaki itu memutar bola matanya. “Cinta? Cuma ilusi. Cuma omong kosong buat orang-orang lemah.”

Seorang gadis menghampiri mejanya, meletakkan sekotak susu dan roti. “Arga, sarapan ya. Aku sengaja bawain.”

Lelaki itu menatap kotak susu itu sebentar, lalu beralih ke gadis di depannya. “Makasih. Tapi aku udah sarapan.”

Wajah gadis itu langsung berubah murung. “Oh… maaf.”

“Nggak apa-apa,” Lelaki itu tersenyum lagi, senyum yang sama tipisnya, tapi cukup untuk membuat gadis itu merasa sedikit lega. “Simpan aja buat kamu.”

Gadis itu mengangguk lesu, mengambil kembali sarapannya.

Rio dan Danu memperhatikan adegan itu.

“Tuh kan, dia pasti ngerasa nggak enak,” bisik Danu.

“Nggak enak gimana? Gue nggak bohong,” balas Lelaki itu. “Lagian, kenapa harus repot-repot bawa sarapan? Kan bisa beli sendiri.”

“Ya namanya juga usaha, Ga,” kata Rio. “Dia kan suka sama lo.”

“Suka itu apa sih?” Lelaki itu menatap keluar jendela, ke arah lapangan basket yang masih sepi. “Pujian? Perhatian? Semua orang bisa ngasih itu.”

“Tapi kan beda kalau dari orang yang lo suka,” Danu mencoba berargumen.

“Sama aja,” Lelaki itu berbalik, menatap kedua sahabatnya. “Awalnya semua manis. Nanti kalau udah dapet, udah bosen, ya udah. Tinggal pergi.”

“Lo ngomong gitu karena lo nggak pernah ngerasain cinta, Ga,” kata Rio.

Lelaki itu mengangkat alis. “Mungkin. Atau mungkin gue cuma lebih realistis dari kalian.”

Bel berbunyi, menandakan jam pelajaran akan segera dimulai. Murid-murid berhamburan masuk kelas.

“Udah, nanti aja bahasnya,” kata Danu.

Lelaki itu hanya mengangguk. Dia meraih pulpennya, membuka buku pelajaran. Di luar sana, bisik-bisik tentang dirinya masih terdengar. Tatapan-tatapan kagum masih mengarah padanya. Dia tahu itu. Dia merasakannya. Tapi rasanya hampa. Seperti sebuah pertunjukan yang sudah ia mainkan ribuan kali, tanpa ada emosi yang tersisa.

“Gue cuma pengen diakui,” gumamnya pelan, sangat pelan, nyaris tak terdengar.

“Ngomong apa, Ga?” tanya Rio yang duduk di sebelahnya.

Lelaki itu menggeleng. “Nggak. Nggak ada apa-apa.”

Dia memaksakan senyum. Senyum yang sempurna, seperti biasa. Senyum yang membuat semua orang percaya bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia bahagia. Padahal, di dalam, dia hanya ingin semua perhatian itu berhenti. Dia hanya ingin merasakan sesuatu yang nyata, bukan sekadar pengakuan dangkal yang datang dan pergi. Tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Dan dia juga tidak tahu, bahwa 'pengakuan' yang ia cari, sebenarnya bukan dari orang lain, melainkan dari dirinya sendiri.

Pelajaran dimulai. Guru masuk. Semua mata tertuju ke depan. Kecuali beberapa pasang mata yang masih sesekali melirik ke arah Arga, si Lelaki yang Selalu Diinginkan. Dia, di sisi lain, sudah tenggelam dalam pikirannya, jauh dari keramaian dan puja-puji. Baginya, semua itu hanyalah suara latar yang membosankan. Sebuah melodi yang selalu sama, tanpa variasi. Tanpa makna.

Dia mencoret-coret bukunya. Gambar sketsa acak. Bukan hati atau nama gadis, melainkan bentuk-bentuk abstrak yang mencerminkan kekosongan di dadanya. Dia tidak mencari cinta. Dia hanya mencari pengakuan. Pengakuan bahwa dia ada, bahwa dia penting, bahkan jika itu berarti harus membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya.

“Arga, bisa jawab soal nomor satu?” Suara guru menginterupsi lamunannya.

Lelaki itu mengangkat kepala, senyumnya langsung terpasang. “Tentu, Pak.”

Dia menjawab dengan lancar, sempurna. Sekali lagi, dia membuktikan bahwa dia adalah yang terbaik. Pengakuan itu, setidaknya, memberinya sedikit kepuasan. Tapi hanya sedikit. Dan hanya sesaat.

Di luar jendela, langit biru tampak luas. Sama luasnya dengan kehampaan yang ia rasakan. Dia belum tahu, bahwa suatu hari nanti, semua yang ia anggap "biasa" dan "membosankan" itu akan hancur, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih menyakitkan, dan jauh lebih nyata. Tapi itu nanti. Sekarang, dia hanyalah Lelaki yang Selalu Diinginkan, terperangkap dalam sangkar emas popularitasnya sendiri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca