

BAB 1
Hujan turun tanpa suara, seolah langit takut mengganggu sesuatu yang sedang menunggu untuk bangun,sepi, hening…
Sabda berdiri di depan sebuah ruko tua di sudut kota,membuang puntung rokok, dan menginjak dengan sepatu kulitnya. bangunannya nyaris tak terlihat di antara deretan gedung modern yang menjulang angkuh. Cat dindingnya mengelupas, papan namanya hampir jatuh, dan lampu temaram di dalamnya berkelip seperti napas orang sekarat. Tidak ada tulisan jelas—hanya simbol aneh yang dicoret kasar di pintu kaca.
Tempat ini tidak pernah muncul di peta digital.
Namun bagi mereka yang berburu benda terlarang, tempat ini adalah surga… sekaligus neraka.
Sabda mendorong pintu.
Bel kecil berdentang lirih, suaranya terdengar terlalu dalam untuk sekadar logam kecil.
Aroma besi berkarat dan dupa basi menyambutnya menyeruak sampai ke tenggorokannga
“Kau Telat anak muda,” suara serak terdengar dari balik rak kayu penuh benda antik.
“Barang terbaik selalu menunggu orang yang tepat,” jawab Sabda datar.
Ia melangkah masuk. Tubuhnya tinggi, bahu lebar, jaket kulit hitam melekat di badannya seperti kulit kedua. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, tapi matanya… kosong. Mata orang yang terlalu sering menatap sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Pemilik toko itu muncul. Lelaki tua kurus, rambut putih berminyak, jari-jarinya gemetar.
“Aku tak habis pikir denganmu apa sampai saat ini kau masih memburu kutukan? Berlim ingin berhentikah kau?”tanyanya pelan, nyaris berbisik.
Sabda tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah sudut ruangan—tempat sebuah kain merah lusuh menutupi sesuatu di atas meja kecil.
Denyut aneh merambat di dadanya bergemuruh halus.
Seperti jantung… bukan miliknya.
“Aku dengar kau dapat barang baru,” kata Sabda akhirnya.
Wajah si lelaki tua menegang. “Bukan untukmu.”
Sabda tersenyum tipis. “Semua benda memilih tuannya sendiri.”
Lelaki tua itu menatap lekat,penuh ke khawatiran..sekilas tergambar raut cemas dan dalam.
“ Benda ini sangat berbahaya”
Keheningan jatuh. Lampu berkedip sekali… dua kali… lalu stabil kembali.
Dengan tangan gemetar, lelaki tua itu menarik kain merah tersebut.
Di bawahnya, berdiri sebuah cangkir antik.
Warnanya hitam kusam, permukaannya dipenuhi ukiran simbol kuno yang tampak seperti luka yang sengaja dipahat. Bibir cangkir itu retak halus, namun di dalamnya… ada cairan merah pekat, mengilap di bawah cahaya lampu.
Darah.
Padahal, tidak ada siapa pun yang menuangkannya.
Sabda merasakan tengkuknya merinding,bulu hulu halus tangan nya berdiri. Ada apa ini?
“Sudah tiga hari aku mencoba membuangnya,” kata lelaki tua itu. “Setiap kali aku menutup toko… cangkir ini kembali. Selalu terisi penuh.aku tidak tau apa yang sedang terjadi dan apa yang telah terjadi”
Sabda mendekat. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai menahannya. Keheningan seolah membuat sepatu boot nya menjadi irama yang mendebarkan di tengah suasana yang berudah mencekam.
Bisikan muncul di kepalanya.
Lirih. Terputus-putus.
Haus…
Sabda berhenti tepat di depan meja. Matanya terkunci pada permukaan cairan merah itu. Tidak ada pantulan wajahnya. Yang ada hanya kegelapan… bergerak.
“Apa yang terjadi pada pemilik sebelumnya?” tanya Sabda.
Lelaki tua itu menelan ludah. “Mereka semua mati, mati mengenaskan.”
Sabda mengangguk pelan. Itu bukan hal baru.
“Tapi caranya…” lanjut lelaki tua itu, suaranya bergetar, tercekak “Tidak ada luka. Tidak ada darah. Tubuh mereka kering seperti kain diperas, sungguh mengerikan.”
Sabda mengulurkan tangan. Dia tidak tau ada dorongan atau kekuatan apakah yang membuat tanganya seolah mempunyai keinginan sendiri untuk bergerak
“Jangan!” teriak lelaki tua itu.
Terlambat.
Begitu jari Sabda menyentuh bibir cangkir, dunia seolah runtuh.
Suara jeritan kilatan kilatan suatu peristiwa mengerikan meledak di kepalanya seperti slide slide film dokumenter yang tersusun. Ratusan suara tumpang tindih—menangis, memohon, tertawa histeris. Darah di dalam cangkir beriak hebat,bergoyang membuat riakan kecil, lalu satu tetes melompat keluar dan jatuh ke kulit Sabda. Tak semoat menarik tangan nya terlambat…
Panas.
Perih.
Hidup.
Sabda terhuyung ke belakang. Napasnya memburu. Dadanya terasa sesak.
Di telinganya, sebuah suara kini terdengar jelas.
Sabda…
“Siapa kau?” Berbisik lirih yerwsa mencekam
Ia menatap tangannya. Tetes darah itu menghilang, menyerap ke dalam kulitnya seolah tidak pernah ada.
“Apa yang kau lakukan padaku?” bisiknya.
Cangkir itu diam.
Namun denyut di dadanya semakin kuat.
“Aku tidak mau barang itu lagi!” teriak lelaki tua itu histeris. “Ambil! Ambil sekarang juga, pergilah kau,enyahlah dari hadapanku bawalah benda terkutuk itu bersamamu,aku tak mau melihatnya lagi!.”
Sabda menatapnya. Tatapannya dingin, namun ada sesuatu yang berkilat di dalamnya—antusiasme gelap yang selama ini ia kenal.
Ia mengeluarkan uang, meletakkannya di meja.
“Satu hal,” kata Sabda. “Jika aku pergi… apakah kau akan aman?”
Lelaki tua itu terdiam, lalu mengangguk cepat. “Ya… tentu…aku..aku tidak tau”
Keraguan dan ketakutan tergambar jelas di wajah tua nya yang lelah.
Sabda mengangkat cangkir itu. Beratnya tidak seberapa, namun terasa seperti membawa sesuatu yang bernyawa.
Saat ia berbalik menuju pintu, bel kecil berdentang lagi.
Dan tepat saat pintu tertutup—
Lampu padam.
⸻
Keesokan paginya, berita kecil muncul di halaman belakang koran lokal.
PEMILIK TOKO ANTIK DITEMUKAN MENINGGAL DUNIA
Tanpa Luka, Tanpa Setetes Darah
⸻
Sabda duduk di apartemennya yang sunyi, cangkir itu terletak di meja makan.
Ia tidak ingat meletakkannya di sana.
Semalaman ia bermimpi. Tentang ladang penuh mayat. Tentang sebuah desa gelap yang terbakar. Tentang seorang gadis muda menangis di tengah rumah kosong, memanggil nama yang tidak ia kenal.
Dan tentang cangkir raksasa di tengah kegelapan, diminum oleh bayangan tanpa wajah. Satu hal yang tergambar semuanya sangat mengerikan..
Sabda menggosok wajahnya. Ia sudah terlalu sering berurusan dengan kutukan, tapi yang satu ini… berbeda.
Ia mendekat ke meja. Memperhatikan benda terkutuk itu.
Cangkir itu kini lebih penuh.
“Jangan bilang kau lapar lagi,” gumamnya.
Permukaan darah bergelombang. Perlahan… satu tetes naik, meluap, lalu jatuh ke meja.
Bukan darah.
Itu seperti bayangan cair.
Ponsel Sabda bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
KAU MEMBAWA MILIK KAMI.
KEMBALIKAN KE WONO IRENG.
ATAU KOTA INI AKAN MINUM DARAH.
Sabda menatap layar lama, dahinya berkerut. Lirih sabda berbisik pelan sangat pelan..mengeja setiap kata dengan helaian nafas
Wono Ireng.
Nama itu menggema di kepalanya, memicu rasa tidak nyaman yang dalam.
Ia tersenyum kecil.
“Jadi… kau punya asal, well…baiklah .”bisiknya pada cangkir “kita lihat apa yang akan terjadi”
Di luar, hujan kembali turun diiringi hembusan angin dan kali ini hujan turun dengan deras
Dan di dalam apartemen, Sabda tidak menyadari satu hal penting—
bayangannya di dinding kini tidak mengikuti gerak tubuhnya.
sementara kutukan baru saja membuka mata.