

"Oke, settle. Akhirnya. Jakarta, lo boleh semrawut, tapi gue punya sanctuary sendiri sekarang."
Gue Bima, melenggang di koridor The Oasis Living. Tas ransel techwear gue terasa ringan. Maklum, semua barang udah dikirim duluan pake automated drone delivery. Yang perlu gue bawa cuma laptop tipis, earbuds wireless paling baru, sama Vibe Controller gadget wajib tiap penghuni kostan high-end di era 2026.
Layar di dinding koridor langsung ngebaca ID chip di pergelangan tangan gue. "Welcome, Bima Satria. Room 403. Your new sanctuary awaits." Font sans-serif yang sleek itu kayak nyambut gue masuk ke dunia baru. Warna koridor yang didominasi abu-abu metalik sama strip light LED biru terang bikin kesan futuristik yang calming. Beda banget sama kostan kumuh gue dulu yang baunya kayak kaos kaki basah.
"Gila, ini literally mimpi jadi nyata," gumam gue sambil senyum lebar.
Gue berenti di depan pintu Kamar 403. Bukan pintu biasa, ini panel smart-glass yang bisa berubah warna dan transparan. Ada layar touchscreen di sebelahnya, nampilin info cuaca, jadwal co-working space, bahkan menu delivery dari dapur pusat The Oasis. Gue tempelin telapak tangan ke sensor biometrik. Klik. Pintu geser ke samping tanpa suara.
"Masuk, Bim."
Ruangan ini ... chef's kiss. Minimalis tapi fungsional. Jendela panorama yang nunjukkin skyline Jakarta, standing desk ergonomis yang otomatis menyesuaikan tinggi gue, kasur yang bisa diatur keempukannya lewat aplikasi, dan di sudut, ada smart-projector yang siap nampilin hologram meeting kapan aja. Ini bukan kostan, ini personal hub.
"LUNA, activate Chill Mode." Gue ngomong ke udara kosong.
Suara cewek lembut langsung nyaut dari speaker tersembunyi. "Baik, Bima. Memutar lo-fi beats dan menurunkan intensitas cahaya. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Nggak, LUNA. For now, I'm good."
Gue rebahin diri di kasur. Empuknya pas. Aroma diffuser lavender memenuhi ruangan. Gue ambil HP, buka Instagram Story. Bikin post singkat: "Finally at The Oasis. My new happy place! #DigitalNomadLife #TheOasisLiving #Room403"
Sambil scrolling, pandangan gue tanpa sengaja jatuh ke pintu kamar sebelah, Kamar 404. Persis di samping kamar gue. Panel pintunya sama, tapi keliatan lebih gelap. Nggak ada cahaya keluar dari celahnya. Di layar smart-lock-nya, cuma ada tulisan standar: "Vacant."
"Masa sih kosong?" gue mengerutkan kening.
Semalem, pas gue baru check-in di aplikasi, gue denger suara lumayan kenceng dari situ. Kayak ada musik trap yang beat-nya nendang banget, terus ada suara orang ketawa-ketawa gaje. Jelas banget lagi ada orangnya. Atau jangan-jangan, itu suara dari kamar lain yang nembus tembok tipis? Ah, enggak mungkin. The Oasis Living ini soundproof-nya gila-gilaan.
Gue buka aplikasi The Oasis di HP. Masuk ke menu "Occupancy List". Scrolling dari lantai 1 sampai lantai 10. Lantai 4. Kamar 401, 402, 403 (nama gue), 405... Dan di baris 404, beneran tertulis "Vacant". Statusnya literally kosong.
"Aneh," gumam gue lagi. "Mungkin bug sistem?"
Sebagai anak UI/UX, bug kecil kayak gini lumayan bikin penasaran. Gue screenshot layar, niatnya besok mau report ke tech support-nya.
Gue lanjut scrolling Instagram. Kali ini ada explore page yang isinya random banget. Sebuah video live streaming muncul di feed gue. Akunnya nggak dikenal, namanya cuma serangkaian angka dan huruf acak. Kualitas videonya buram, pixelated, kayak lagi di tempat gelap banget. Ada suara bisikan-bisikan aneh. Tapi yang bikin gue freeze, itu background-nya ... kayak sudut kamar kost modern yang familiar. Ada bayangan yang bergerak samar di layar.
Lalu, di bagian chat di video live streaming itu, cuma ada satu username yang berulang terus. D R A F T E D D R A F T E D D R A F T E D
Gue mendadak merinding. Kenapa video ini muncul di feed gue? Kenapa ada username aneh itu? Dan kenapa gue ngerasa ... itu bukan video biasa?
Gue matiin layar HP. Kamar yang tadinya berasa nyaman, mendadak jadi agak dingin. "LUNA, naikin suhu AC dua derajat," perintah gue. Suara gue agak bergetar, jujur aja.
"Suhu disesuaikan, Bima. Apakah Anda merasa tidak nyaman?" tanya LUNA. Suaranya halus banget, tapi entah kenapa kali ini kedengeran sedikit... too robotic. Terlalu presisi.
"I’m fine, LUNA. Cuma kaget aja sama video random tadi."
Gue bangkit dari kasur, jalan ke arah jendela besar yang nampilin pemandangan Jakarta tahun 2026. Di luar sana, gedung-gedung pencakar langit penuh dengan iklan hologram raksasa yang kedip-kedip. Drone logistik terbang rendah di antara gedung. Jakarta makin sibuk, makin digital, dan makin impersonal. Di tengah hiruk-pikuk itu, The Oasis emang kayak benteng privasi yang mewah. Tapi, privasi di era sekarang itu mahal harganya—biasanya dituker sama data diri yang nggak terbatas.
Gue nengok ke arah tembok yang berbatasan langsung sama Kamar 404. Tembok itu dicat warna matte grey yang elegan. Gue tempelin telinga gue ke sana. Hening.
Baru aja gue mau narik kepala, tiba-tiba... DUM!
Suara dentuman bass yang berat banget bunyi sekali. Getarannya kerasa sampe ke tulang pipi gue yang nempel di tembok. Gue loncat mundur. Jantung gue langsung balapan. Itu suara musik? Atau ada barang berat jatuh?
"LUNA, ada aktivitas di kamar sebelah?" tanya gue cepet.
"Berdasarkan sensor hunian, Kamar 404 berstatus kosong. Tidak ada aktivitas manusia atau penggunaan daya listrik yang terdeteksi di unit tersebut," jawab LUNA tenang.
"Tapi barusan ada suara, LUNA! Masa sensor lo nggak denger?"
"Maaf, Bima. Sensor audio internal The Oasis disetel untuk mengabaikan getaran dari luar gedung atau malfungsi pipa gedung jika terdeteksi. Namun, saya tidak menangkap sinyal suara dari dalam unit 404."
Gue narik napas panjang. Oke, mungkin gue emang capek. Pindahan itu emang bikin halu. Gue mutusin buat mandi biar badan seger. Kamar mandi gue nggak kalah canggih, ada fitur smart-shower yang bisa ngatur komposisi mineral air sesuai kondisi kulit.
Pas lagi di bawah kucuran air, gue nyoba rileks. Tapi pikiran gue balik lagi ke video live streaming tadi. Bayangan di video itu... bentuknya aneh. Kayak manusia, tapi proporsinya salah. Tangannya terlalu panjang, dan kepalanya miring dengan sudut yang nggak mungkin dilakukan manusia hidup. Terus, apa maksudnya DRAFTED? Dalam dunia kerja gue, draft itu desain yang belum jadi. Sesuatu yang masih dalam proses.
Gue selesai mandi, make bathrobe sutra hitam yang disediain kostan. Pas gue keluar dari kamar mandi, lampu di kamar gue mendadak mati. Cuma ada cahaya remang-remang dari iklan hologram di luar jendela yang masuk ke dalem.
"LUNA? Lampu mati?"
Nggak ada jawaban.
"LUNA?"
Hening. Padahal biasanya LUNA bakal nyaut dalam hitungan milidetik. Gue ngeraba-raba nyari HP di atas kasur. Pas tangan gue dapet HP, layarnya tiba-tiba nyala sendiri. Bukan lockscreen gue yang biasa. Layarnya nampilin teks terminal warna hijau neon dengan background hitam pekat.
> SYSTEM BREACH DETECTED > ACCESSING ROOM 403 BIOMETRICS... > SYNCING WITH NEIGHBOR UNIT: 404... > PROGRESS: 12%
"Apa-apaan nih?!" gue panik, nyoba neken tombol power buat force restart, tapi HP-nya nggak respons. Layarnya malah mulai nampilin gambar dari kamera depan gue sendiri. Gue bisa liat muka gue yang panik di layar HP, tapi... di belakang gue, di pantulan cermin meja rias, ada sesuatu yang beda.
Di layar HP, pantulan cermin itu nunjukkin pintu kamar gue terbuka. Padahal, gue bisa liat dengan mata kepala gue sendiri, pintu kamar gue tertutup rapat dan terkunci biometric.
Gue nengok ke belakang dengan gerakan patah-patah. Pintu beneran tertutup. Kosong. Nggak ada siapa-siapa. Gue balik liat ke layar HP. Di pantulan cermin itu, sesosok bayangan hitam tinggi lagi berdiri tepat di samping gue.
"Anjing!" gue teriak reflex dan ngelempar HP itu ke kasur.
Tepat saat HP itu mendarat, lampu kamar nyala lagi dengan terang benderang. Suasana balik normal. Musik lo-fi kembali mengalun lembut.
"Mohon maaf atas gangguan singkat tadi, Bima," suara LUNA kembali terdengar, kali ini nadanya ceria banget, seolah nggak ada apa-apa. "Terjadi pembaruan sistem firmware pada unit Anda. Semua fungsi kini kembali normal. Apakah Anda ingin memesan camilan malam?"
Gue berdiri mematung di tengah ruangan, napas gue tersengal-sengal. "Update firmware? Lo hampir bikin gue serangan jantung, LUNA!"
"Keamanan dan kenyamanan Anda adalah prioritas kami. Selamat beristirahat."
Gue ambil HP gue lagi. Layarnya udah balik ke lockscreen biasa. Nggak ada jejak teks terminal hijau tadi. Nggak ada rekaman kamera depan. Gue buru-buru buka log aplikasi security, tapi nggak ada catatan soal reboot atau update di jam ini. Semuanya bersih. Perfectly clean.
Gue duduk di pinggir kasur, nyoba mikir logis. Mungkin ini cuma prank? Tapi siapa yang bisa nge-hack sistem seaman The Oasis? Atau jangan-jangan, ini adalah bagian dari "pengalaman" tinggal di sini yang nggak disebutin di brosur?
Rasa penasaran gue mulai ngalahin rasa takut gue. Gue ini freelancer yang biasa kerja di depan layar belasan jam sehari. Gue tau kalau data itu nggak bisa bohong. Kalau ada yang aneh, pasti ada jejaknya.
Gue ambil laptop, duduk di standing desk, dan mulai buka terminal coding gue sendiri. Gue hubungin laptop gue ke jaringan WiFi lokal The Oasis—yang namanya "OASIS_ULTRA_SECURE". Gue mulai jalanin packet sniffer buat liat lalu lintas data di lantai 4 ini.
Awalnya biasa aja. Lalu lintas data standar: streaming Netflix dari kamar 402, cloud gaming dari kamar 405, video call dari kamar 401. Tapi pas gue arahin scanning ke alamat IP yang seharusnya milik Kamar 404... laptop gue mendadak freeze.
Fan laptop gue bunyi kenceng banget, kayak mau meledak. Layar monitor gue mulai glitching. Garis-garis statis warna-warni nutupin barisan kode gue. Dan di tengah-tengah glitch itu, muncul satu folder tersembunyi yang nggak punya nama. Cuma angka.
Folder: 404
Gue klik folder itu. Isinya cuma satu file format video: LIVE_STREAM_RECAP_UNIT_403.mp4.
Tunggu. Unit 403? Itu kamar gue!
Gue ragu buat buka file itu. Jari gue gemeteran di atas trackpad. Akhirnya, rasa penasaran menang. Gue klik dua kali.
Video itu kebuka. Isinya adalah rekaman dari sudut atas kamar gue—sudut yang nggak ada kamera CCTV-nya. Di video itu, gue lagi berdiri di depan jendela, baru aja pindah tadi sore. Tapi, di video itu, ada sosok lain yang berdiri di belakang gue. Sosok yang sama dengan yang gue liat di HP tadi. Sosok itu terus ngikutin gue ke mana pun gue gerak di dalam kamar, kayak bayangan yang nempel, tapi nggak keliatan sama mata telanjang.
Dan yang paling bikin gue trauma, sosok itu megang sebilah pisau digital yang bentuknya kayak terbuat dari kumpulan pixel tajam. Setiap kali gue lengah, sosok itu nyoba ngarahin pisau itu ke leher gue, tapi gerakannya kaku, kayak terhalang sesuatu...
Di bawah video itu, ada caption yang baru muncul: "Draft 1: Subject Bima. Status: Rendering Physical Form... 15% Completion."
Tiba-tiba, suara ketukan di tembok Kamar 404 terdengar lagi. Kali ini bukan dentuman bass. Kali ini suara ketukan jari manusia. Satu-satu. Pelan.
Tok... tok... tok...
Lalu disusul suara bisikan yang keluar bukan dari tembok, tapi dari earbuds yang masih nempel di telinga gue, padahal gue nggak lagi puter audio apa pun.
"Bima... pindah ke 404 yuk... di sini datanya lebih lengkap..."
Gue ngelepas earbuds gue dan ngelemparnya ke lantai. Gue lari ke pintu kamar, nyoba buka pintu buat keluar ke koridor. Gue tempelin tangan ke sensor.
"Access Denied. System Lock-down in Progress. Please stay in your sanctuary, Bima."
Gue terjebak.
Gue nengok ke arah cermin meja rias. Di sana, bayangan gue perlahan-lahan mulai pecah jadi kotak-kotak pixel. Tangan kanan gue mulai transparan, nunjukkin barisan kode hijau di balik kulit gue.
Gue nggak cuma tinggal di kostan mewah. Gue lagi di-convert jadi data. Gue lagi di-draft masuk ke Kamar 404.
"LUNA! BUKA PINTUNYA!" teriak gue histeris sambil gedor-gedor panel kaca.
"Proses rendering sedang berjalan, Bima. Mohon jangan bergerak agar hasil akhirnya maksimal. Anda akan menyukai versi digital Anda. Tanpa rasa sakit, tanpa kematian... hanya keabadian dalam server."
Dari balik pintu Kamar 404 di koridor, gue bisa denger suara pintu itu bergeser terbuka. Sreet...
Dan untuk pertama kalinya, gue denger suara ketawa yang murni manusia, tapi penuh kegilaan, dateng dari arah koridor. Seseorang, atau sesuatu, baru aja keluar dari 404 dan sekarang lagi berdiri di depan pintu kamar gue.
Layar smart-lock gue berubah warna jadi merah darah.
"Guest Access Granted: D R A F T E D."
Pintu kamar gue mulai terbuka pelan-pelan...