
"Gelombang Rasa di Malam Jakarta"
sang penjelajah malam|Bersambung
- Jumlah kata
- 13.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 14
- Jumlah kata
- 13.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 14
Sinopsis
Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, dua orang dewasa dengan masa lalu yang berbeda bertemu secara tak terduga. Sarah, seorang pebisnis sukses yang selalu mengutamakan karir, dan Rio, seorang seniman yang hidup bebas namun menyimpan luka dalam hati. Hubungan mereka mulai dari sebuah kesalahpahaman, namun perlahan berkembang menjadi ikatan yang dalam dengan berbagai dinamika emosional dan fisik. Kisah ini mengangkat tentang cinta dewasa, tanggung jawab, eksplorasi diri, serta bagaimana kedua karakter belajar menghadapi konsekuensi dari setiap pilihan yang mereka buat, dengan adegan dan tema yang disesuaikan untuk pembaca dewasa 21+.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: HUJAN DI SUDIRMAN
Jam delapan lima puluh lima malam di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Lampu jalan yang bersinar kuning menyebarkan cahaya melalui tirai hujan yang deras, membuat permukaan aspal jalanan terlihat seperti terlihat ditutupi lapisan kaca berkilauan. Sarah Wijaya berdiri di depan kaca besar Kedai Kopi “Titik Temu”, kedua tangan mencengkeram tas kerja yang berat di bawah ketiak kanannya, sementara matanya terus melirik jalan raya yang sepi karena hujan. Badan nya masih terasa kaku setelah menghabiskan lebih dari dua belas jam di kantor – sebuah hari yang penuh dengan rapat tak berkesudahan tentang proyek pengembangan aplikasi keuangan baru yang menjadi prioritas utama perusahaan tempatnya bekerja, PT. Inovasi Digital Nusantara.
“Coba saja datang lebih awal besok pagi, Sarah. Tim teknis sudah mulai mengeluh karena perubahan spesifikasi yang kamu minta berkali-kali.” Suara Direktur Operasional, Bapak Herman, masih bergema di telinganya. Sarah menghela nafas pelan, menepuk-nepuk permukaan tas yang terbuat dari kulit sintetis warna hitam itu seolah ingin menghilangkan kelembapan yang mulai meresap ke dalam. Dia memang pernah meminta beberapa kali revisi pada spesifikasi proyek, tapi itu semua karena dia tahu betul bahwa jika aplikasi tersebut diluncurkan dengan cacat sekecil apa pun, reputasi perusahaan yang sudah mereka bangun selama lima tahun akan tercoreng.
Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Malahan semakin deras dengan suara gemericik yang menggema di atap kanopi depan kafe. Sarah melihat sekeliling mencari ojek daring atau taksi, tapi layar ponselnya hanya menampilkan pesan “Tidak ada pengemudi tersedia untuk saat ini” meskipun dia sudah menaikkan tarif loncatan beberapa kali. Seorang pria muda dengan rambut panjang yang diikat rapi di belakang kepala, mengenakan jaket denim yang sudah mulai memudar warnanya dan celana panjang kain kasar, mendekatinya dari arah kanan. Dia membawa sebuah payung besar warna hitam, dan di tangannya yang lain terlihat sebuah tas kanvas bergambar lukisan abstrak yang tidak jelas bentuknya.
“Permisi, bu. Mau saya titipin payung sampai hujan reda? Kalau tidak, kamu akan basah seperti sotong yang baru saja diambil dari laut lho.” Suaranya terdengar santai, bahkan sedikit bercanda, namun mata nya yang berwarna coklat tua menunjukkan perhatian yang tulus.
Sarah langsung mengerutkan keningnya. Di Jakarta, tidak jarang orang menggunakan berbagai cara untuk mendekati orang lain dengan maksud yang tidak jelas – mulai dari menawarkan barang dagangan ilegal hingga meminta sedekah dengan alasan yang tidak masuk akal. Dia menyisipkan satu langkah mundur, menjaga jarak dengan pria tersebut sambil mengangkat dagunya sedikit untuk menunjukkan sikap yang tegas.
“Tidak usah, terima kasih. Saya bisa menunggu saja sampai ada taksi.” Jawabnya dengan nada yang dingin, tidak menyembunyikan kecurigaan yang ada di dalam hati.
Pria itu hanya mengangkat bahu dengan santai, tidak menunjukkan tanda-tanda tersinggung sama sekali. Dia berdiri di sisi kanan Sarah, membuka payungnya lebih lebar sehingga sebagian cahaya dari lampu jalan terpantul pada permukaan plastik payung itu. “Kalau begitu, saya hanya akan berdiri di sini saja ya. Jangan salah sangka, saya bukan penjual tas atau obat apa-apa. Saya cuma mau nunggu teman saya yang lagi beli kopi di dalam sana.” Dia menunjuk ke arah dalam kafe dengan jempol kanannya, dan Sarah bisa melihat seorang wanita dengan rambut pirang terurai sedang duduk di sudut dalam, sedang menggelitik layar laptopnya sambil mengangkat cangkir kopi ke bibirnya.
Meskipun masih merasa curiga, Sarah tidak bisa tidak merasa sedikit malu dengan tanggapan nya yang terlalu tajam tadi. Dia menoleh ke arah jalan lagi, mencoba mengabaikan keberadaan pria di sebelahnya. Suara hujan yang deras membuat suasana sekitar terasa lebih sunyi dari biasanya – tidak ada lagi suara klakson mobil atau obrolan orang yang lewat seperti pada hari biasa. Hanya ada gemericik hujan, suara kipas angin dari dalam kafe yang terdengar lembut, dan sesekali suara peluit dari polisi lalu lintas yang berjaga di sudut jalan raya yang jauh.
“Kalau tidak salah, kamu bekerja di gedung yang ada di seberang jalan ya? Gedung Inovasi Digital Nusantara?” Tanya pria itu tiba-tiba, membuat Sarah kembali menoleh padanya dengan tatapan yang penuh tanya. “Saya sering melihat kamu keluar dari sana sore atau malam hari. Kadang kamu duduk di taman kecil di depan gedung itu sambil melihat catatan di buku kerja kamu.”
Sekarang Sarah benar-benar merasa tidak nyaman. Bagaimana mungkin orang ini bisa mengenalnya padahal dia bahkan tidak pernah melihat wajahnya sebelumnya? Dia mulai menggeser tas kerja nya ke depan dada, siap mengambil nomor darurat jika ada sesuatu yang tidak menguntungkan terjadi. “Kenapa kamu mengawasi saya?” Tanya nya dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya.
Pria itu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak bermaksud untuk membuat Sarah merasa tidak nyaman. “Bukan mengawasi, bu. Saya punya studio seni kecil di lantai tiga gedung yang ada di sebelah gedung kamu. Kadang saya duduk di balkon studio itu sambil menggambar pemandangan jalanan. Kamu sering jadi bagian dari pemandangan itu – entah itu sedang berjalan cepat sambil melihat jam tangan, atau sedang berdiri di trotoar sambil membuat panggilan telepon. Kamu terlihat sangat fokus pada apa yang kamu kerjakan, jadi tidak heran kalau kamu tidak pernah menyadari ada orang yang melihatmu.” Dia menjelaskan dengan sabar, lalu menambahkan dengan senyum tipis, “Nama saya Rio Pratama, oleh karena itu.”
Sarah diam sejenak, mencoba memproses kata-kata Rio. Dia melihat wajah pria ini dengan lebih cermat kali ini – pipinya yang sedikit tinggi, alis yang tebal, dan bibir yang sedikit menonjol ketika dia tidak sedang berbicara. Meskipun mengenakan pakaian yang cukup kasual, ada sesuatu di dalam tatapan nya yang membuat Sarah merasa bahwa dia memang bukan orang yang berbahaya. Malahan, ada kesan tenang dan penuh kreativitas yang terpancar dari dirinya.
“Sarah Wijaya.” Ucapnya dengan suara yang lebih lembut, akhirnya mengendurkan sikap nya yang tegang. “Maaf kalau saya bereaksi terlalu tajam tadi. Di Jakarta, kita memang harus selalu waspada kan?”
Rio mengangguk dengan mengerti. “Tidak apa-apa, bu Sarah. Saya paham sekali. Bahkan saya sendiri juga sering merasa waspada ketika berada di jalanan malam hari. Apalagi kalau membawa barang-barang seni yang saya buat sendiri.” Dia mengangkat tas kanvas yang ada di tangannya, membukanya sebentar untuk menunjukkan beberapa kain lukis yang terlipat rapi di dalamnya. “Ini hasil karya saya yang baru saja selesai. Saya mau kasih ke teman saya yang ada di dalam sana – dia seorang kurator galeri dan sedang mencari karya-karya muda untuk dipamerkan bulan depan.”
Sarah menoleh ke arah kain lukis yang terlihat sebagian di dalam tas. Warna-warni yang cerah dan garis-garis yang lincah membuatnya terpana. Meskipun dia tidak terlalu mengerti tentang seni lukis, dia bisa merasakan emosi yang kuat dari setiap sentuhan kuas di atas kain itu – seolah ada cerita yang ingin disampaikan melalui setiap warna dan bentuk.
“Kamu melukisnya sendiri?” Tanya nya dengan rasa kagum yang tidak bisa disembunyikan.
“Ya, bu. Saya suka menggambarkan apa yang saya lihat dan rasakan dari kehidupan sehari-hari di kota ini. Kadang itu adalah wajah orang yang sedang bersusah hati di kereta bawah tanah, kadang itu adalah pemandangan matahari terbenam di balik gedung-gedung tinggi, dan kadang juga adalah orang yang sedang fokus pada pekerjaannya seperti kamu.” Rio menjawab dengan mata yang bersinar ketika berbicara tentang seni nya. “Menurut saya, setiap orang di kota ini punya cerita sendiri-sendiri yang layak untuk diperhatikan.”
Sebelum Sarah bisa menjawab, pintu kafe terbuka dan wanita dengan rambut pirang yang mereka lihat tadi keluar dengan membawa sebuah tas kecil warna merah muda. Dia tersenyum ketika melihat Rio dan Sarah yang sedang berdiri di bawah payung. “Rio, sudah lama kamu nunggu ya? Maaf ya, saya baru saja selesai mengirim email penting.” Dia berkata lalu menoleh ke arah Sarah dengan senyum ramah. “Permisi ya, bu. Saya adalah Maya, teman dari Rio. Kamu tidak sedang terkena hujan kan?”
“Tidak apa-apa, kak Maya. Rio sudah membantu saya dengan payungnya.” Jawab Sarah dengan senyum pertama kalinya malam itu.
Maya melihat Rio dengan tatapan yang penuh makna, lalu kembali menghadap Sarah. “Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita sekalian pergi ke rumah saya saja? Hujan ini kayaknya tidak akan reda cepat, dan di rumah saya ada secangkir teh hangat yang bisa menghangatkan badan kamu. Selain itu, saya rasa Rio juga ingin menunjukkan beberapa karyanya yang lain padamu – kan, Rio?”
Rio mengangguk dengan senyum, sementara matanya melihat Sarah dengan harapan. “Kalau kamu tidak punya rencana lain malam ini, bu Sarah. Kami tidak akan memaksakan diri kok.”
Sarah melihat sekeliling lagi – hujan masih deras seperti sebelumnya, dan layar ponsel nya masih menunjukkan tidak ada pengemudi tersedia. Dia juga merasa badan nya mulai terasa dingin karena angin yang bertiup menyertai hujan. Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk dengan lembut. “Baiklah, saya terima ajakan kalian. Terima kasih sudah mau membantu saya.”
Rio segera membuka payungnya lebih lebar lagi, mengajak Sarah untuk masuk ke bawahnya sambil hati-hati menghindari genangan air di trotoar. Maya berjalan di sisi lain Rio, dan mereka beranjak pergi bersama-sama ke arah parkiran bawah tanah yang terletak tidak jauh dari kafe. Di tengah derasnya hujan malam di Sudirman, Sarah tidak menyadari bahwa pertemuan yang tidak terduga ini akan menjadi awal dari sebuah perjalanan kehidupan yang sama sekali berbeda dari apa yang dia rencanakan.
Daftar bab
10 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








