
Sengat Lintah Bikin Wanita Betah
Sekuntum Bunga Matahari|Bersambung
- Jumlah kata
- 61.1K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 346
- Jumlah kata
- 61.1K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 346
Sinopsis
Mohon Bijak dalam membaca. area 21+ penuh adegan haram namun harum. Bayu Lukito merupakan pemuda miskin yang hidup bersama nenek tua bernama Ngatiyem atau biasa dipanggil Nek Iyem. Keseharian Bayu hanya menjadi buruh tani untuk para juragan di kampung. Hingga suatu ketika, Bayu mendapatkan sengatan lintah saat menggarap sawah milik salah seorang juragan! Sengatan itu membuat seluruh panca indra Bayu berfungsi seperti manusia super dalam komik. Tak hanya itu, berkat sengatan lintah, wanita pun betah dekat-dekat Bayu!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Lintah Pagi Hari
Di pagi yang cerah, tinggalah seorang pemuda yang hidup bersama neneknya di gubuk reyot yang berisi banyak barang antik.
"Nek... ini sarapannya sudah siap... saya taruh di meja ya...." kata pemuda bernama Bayu, yang menyediakan sarapan berupa singkong rebus dan ubi jalar warna ungu untuk sang nenek.
"Eh Bayu, mau ke mana? Masih pagi buta gini kok mau pergi.... sini sarapan bareng Nenek...."
"Ga usah, Nek. Bayu bawa kok untuk bekal... nih sudah Bayu bungkus pake plastik bekas ikan asin kemarin...." kata Bayu sambil menunjukkan bungkusan plastiknya yang berisi singkong dan ubi rebus lengkap dengan potongan kertas koran sebagai alas dalam plastik kresek tersebut.
"Bayu pergi dulu ya, Nek. Kata Juragan Dursa, gulma di sawahnya mulai tumbuh," pamit Bayu sambil memasukkan bungkus plastiknya ke dalam baju lalu pergi.
"Ya sudah hati-hati, Nak..."
"Iya, Nek. Bayu berangkat. I love you, Nek..."
'Dasar bocah,' gumam sang nenek saat melihat cucunya pergi membawa cangkul dan parang di pinggangnya.
Bayu pun pergi meninggalkan neneknya seorang diri di dalam gubuk reyot yang penuh dengan barang antik di dalamnya, alias... barang tak layak pakai.
Di perjalanan menuju sawah Juragan Dursa, Bayu harus melintasi sungai tanpa jembatan, hanya beberapa batu besar yang bisa ia gunakan sebagai batu loncatan untuk menyebrang.
'Enam kail aman... empat perangkap ikan aman juga... ga ada yang hanyut... hore...,' gumam Bayu dalam hati.
Alat-alat itu adalah milik Bayu yang selalu ia pasang di sungai pada subuh hari sebelum mengambil singkong atau ubi. Di siang hari, Bayu akan memeriksa alat-alat tersebut, atau saat melintas saja. Jika ada ikan yang terjerat, maka akan disantap untuk makan siang dan malam bersama neneknya. Jika tidak ada, Bayu dan sang nenek cukup makan nasi dan garam saja, atau sesekali ubi yang tidak habis dimakan saat sarapan.
Sesampainya Bayu di seberang, tampak suasana pedesaan yang asri damai tentram penuh dengan rumah panggung berbahan kayu, dinding anyaman bambu, dan atap dari daun rumbia atau daun dari pohon sagu.
"Bayu...," sapa seorang lelaki paruh baya yang tampaknya hendak berkebun.
"Iya, Pak..." balas Bayu sopan.
"Eh, Bayu, mau ke mane lu?" tanya seorang ibu yang sedang menyusui anaknya di teras rumahnya. Ibu itu berbicara dengan logat betawi, karena memang sudah lama di Jakarta hanya saja suaminya orang kampung sini, makanya sekarang dia jadi warga kampung ini.
"Eh, Mpok Mirna. Iye, Mpok... gua mau ke sawah Juragan Dursa," balas Bayu dengan logat betawi yang dipaksakan, seolah dirinya Malih Tong Tong artis idolanya yang lagi ngobrol sama Haji Bolot.
"Ya udah gih sono pergi lu... ntar telat lagi..."
"Iye, Mpok, ini juga mau pergi."
Namun Bayu masih saja berdiri melihat Mpok Mirna menyusui anaknya.
"Eh, Bayu, liatin apa sih lu? Dasar bocah mesum sialan... pergi lu sana!"
Bayu hanya bisa tertawa lalu pergi meninggalkan Mpok Mirna tanpa mampu menjelaskan apa yang sedang ia pandangi. Padahal Bayu mau bilang kalau bayi itu sudah tidur dan puting Mpok Mirna keliatan karena ga dalam posisi mulut si bayi. Tapi apa daya, Bayu gak bisa menjelaskannya, hanya menimbulkan masalah saja kalau dijelaskan.
Setelah jauh berjalan menyusuri kampungnya, tibalah Bayu di halaman belakang Juragan Dursa yang berbatasan langsung dengan sawah milik Juragan Dursa.
Di sebuah gubuk tengah sawah, Juragan Dursa sedang sarapan bersama para pekerja lain, kopi hitam panas masih mengepul, ada pula pisang goreng tepung hangat dan beberapa rebusan ubi Jalar.
Suasana di pematang sawah terasa sangat dingin, tapi tidak lebih dingin dari senyum tipis di wajah Jason, anak Juragan Dursa yang terkenal paling iseng se-Kecamatan.
"Bayu... ayo kita mulai bersihkan gulmanya, yang di tengah sana gulmanya masih banyak!" seru Jason sambil menahan cengirannya.
Bayu yang sudah tau akan diisengi Jason hanya menurut saja. Kalau bukan karena Nenek yang selalu butuh obat racikan, dan beras di gentong hanya menyisakan debunya saja, mungkin Bayu enggan melakukan ini karena ada Jason.
Bayu, dengan tubuh kurus kering yang kalau kena angin kencang sedikit saja mungkin bisa melayang hingga pasar Kabupaten, menuruti kemauan Jason.
"Siap, A Jason!" balas Bayu lugu, melangkah semakin dalam ke area sawah yang berlumpur tebal.
Bayu tidak tahu kalau di balik saung bambu, sebuah sakelar kustom sambungan listrik pembasmi tikus sudah siap diturunkan Jason. Begitu kaki Bayu menginjak bagian sawah yang paling dalam, Jason tertawa tanpa suara dan—KLIK!
Arus listrik bertegangan tinggi menyengat air sawah.
"AGGGHHHH!!"
Tubuh Bayu kejang hebat, matanya mendelik, dan dalam hitungan detik dia terjerembab heboh ke dalam lumpur hitam.
Sialnya, area itu adalah sarang lintah sawah paling subur. Bau amis dan sengatan listrik dadakan itu seolah jadi undangan pesta makan malam bagi ratusan lintah di dalam lumpur.
Tanpa ampun, ribuan lintah langsung menempel dan mengerumuni tubuh Bayu dari ujung kaki sampai muka. Beuh... ngeri!
Melihat Bayu yang kaku dan sepenuhnya tertutup lapisan hitam kenyal yang bergerak-gerak, Jason buru-buru mematikan sakelar.
"Waduh! Bayu! Tolongggg!" teriak Jason dengan nada dibuat-buat panik, memanggil para pekerja lain.
Para pekerja yang melihat kondisi Bayu langsung histeris.
"Bayuuuu... kenapa kamu, Bayu?"
"Bayu... lintahnya banyak sekali..."
"Bayu... kamu jadi manusia lintah, Bayu..."
"Lintah sawah ini bukan lintah darat ya, Bayu..."
Teriakan histeris memecah dinginnya pagi kala itu.
Tubuh Bayu yang sudah tak sadarkan diri pun diangkut ramai-ramai oleh para pekerja.
Muka, tangan, dada, sampai kaki Bayu sudah tidak kelihatan bentuk aslinya, berubah jadi bongkahan lintah yang merayap.
Di tengah keriuhan orang-orang yang panik membawa Bayu ke klinik desa, Jason malah pura-pura sedih. Tapi begitu semua orang berpaling dan konsentrasi menyelamatkan Bayu, Jason berlari secepat kilat masuk ke dalam rumah, mengunci kamar, menjejali mulutnya dengan bantal, dan tertawa sampai terguling-guling di lantai.
Klinik desa yang biasanya tenang mendadak gempar oleh kedatangan Bayu yang dipenuhi oleh lintah.
Dokter Cynthia, dokter muda yang bertugas hari itu, hampir menjatuhkan stetoskopnya saat melihat sang pasien yang dibawa warga.
"Astaga! Ini manusia atau adonan cacing?!" seru Dokter Cynthia kaget setengah mati.
Meski begitu, Dokter Cynthia tetap cekatan meminta para penolong keluar agar ruangan steril.
"Bapak-bapak sekalian tolong tunggu di luar ya, biarkan saya dan perawat yang menangani!"
Di atas ranjang periksa, Bayu masih setengah sadar. Pandangannya kabur, suaranya cuma lenguhan samar. Di ingatan yang tersisa, dia hanya tahu samar-samar wangi harum Dokter Cynthia dan suara pinset besi yang mencabuti lintah dari tubuhnya satu per satu.
Namun, sesuatu yang aneh sedang terjadi di dalam darah Bayu.
Terjadinya kombinasi antara kejut listrik ribuan volt dan zat anticoagulan dari ratusan lintah yang menempel menyerap lemak serta memicu reaksi metabolisme yang sangat ekstrem, kejadian itu mendadak dapat memicu pembakaran sel-sel tubuh Bayu.
KREKKK.
Kaos lusuh bertuliskan nama caleg yang dipakai Bayu mendadak robek di bagian bahu hingga punggung.
Dokter Cynthia yang sedang fokus mencabut lintah terakhir di bagian leher tertegun. Pinset di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
"Bayu..." suara dokter Cynthia lirih tanpa dia sadari.
Daftar bab
61 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








