

Aku kehilangan pekerjaanku pada hari Selasa yang terlihat biasa saja. Tidak ada hujan, tidak ada pertengkaran besar, tidak ada firasat buruk. Aku datang ke kantor seperti biasa, duduk di kursi yang sama, membuka laptop yang sama, lalu dipanggil masuk ke sebuah ruangan kecil dengan dinding kaca. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, statusku berubah dari karyawan tetap menjadi seseorang yang diminta menyerahkan kartu akses dan menyelesaikan administrasi.
Aku tidak marah.
Aku justru kosong.
Aku berjalan keluar gedung dengan langkah tenang, seolah apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang besar. Baru ketika pintu otomatis menutup di belakangku dan udara panas kota menyambut wajahku, aku sadar bahwa hidupku tidak lagi punya pegangan. Semua rencana yang kususun selama bertahun-tahun runtuh begitu saja, bukan karena aku tidak mampu, tetapi karena satu kesalahan memilih orang yang salah untuk dipercaya.
Dua minggu setelah itu, aku pindah ke kos sempit di pinggir kota. Kamar berukuran kecil, jendela menghadap tembok bangunan lain, dan kipas angin tua yang berbunyi lebih keras dari fungsinya. Aku menjual beberapa barang, memotong pengeluaran, dan mulai hidup dengan ritme baru yang tidak pernah kupelajari sebelumnya: menghitung uang sebelum membeli makan.
Hari-hariku diisi dengan mengirim lamaran dan menghadiri wawancara yang berakhir dengan senyum sopan. Aku belajar membaca ekspresi penolakan bahkan sebelum kata-kata itu diucapkan. Ada yang mengenali namaku dan berpura-pura lupa. Ada yang langsung mengakhiri wawancara begitu tahu latar belakang kejatuhanku. Kota ini tidak kejam, ia hanya tidak punya waktu untuk orang yang jatuh.
Pada minggu ketiga, aku datang ke sebuah job fair kecil di gedung serbaguna yang catnya mulai mengelupas. Aku tidak berharap banyak, tapi aku tidak punya pilihan lain. Di antara puluhan orang dengan map lusuh dan wajah tegang, aku berdiri dalam antrean panjang yang tidak bergerak cepat.
Di sanalah aku pertama kali melihat Elara.
Ia berdiri dua orang di depanku, memegang map tipis dengan kedua tangan. Punggungnya tegak, tapi jemarinya terus bergerak, mencubit sudut kertas berulang kali. Ia tidak terlihat percaya diri, tapi jelas sedang berusaha. Ketika petugas di meja depan menolak berkasnya dengan alasan posisi sudah penuh, aku melihat bahunya sedikit turun sebelum ia kembali mengangguk sopan dan melangkah pergi.
Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikannya.
Mungkin karena kegagalan kami terlihat mirip.
Aku sendiri ditolak sepuluh menit kemudian. Alasan yang sama, nada yang sama, senyum yang sama. Saat aku berbalik, aku melihat Elara duduk di bangku plastik di sudut ruangan, menatap mapnya dengan ekspresi kosong. Aku seharusnya langsung pulang. Tapi aku justru mendekat.
“Mereka memang cepat penuh,” kataku, berdiri agak canggung di depannya.
Ia menoleh, jelas terkejut, lalu mengangguk. “Iya. Katanya begitu.”
Nada suaranya datar, tidak menyalahkan siapa pun. Itu membuatku duduk di kursi kosong di sebelahnya tanpa berpikir panjang.
“Kau cari posisi apa?” tanyaku.
“Administrasi,” jawabnya. “Apa saja, sebenarnya.”
Aku mengangguk. “Aku juga.”
Kami saling bertukar informasi seadanya. Bukan percakapan mendalam, hanya dua orang asing yang berbagi frustrasi singkat. Tapi ketika aku menyebut satu perusahaan kecil yang belum banyak dilirik dan ia langsung mencatat namanya, aku merasakan sesuatu yang aneh.
Aku merasa berguna.
Kami keluar dari gedung hampir bersamaan. Di luar, panas menyengat, dan hujan tipis mulai turun tanpa peringatan. Elara terlihat ragu, menatap ponselnya dengan wajah cemas.
“Kau kenapa?” tanyaku.
“Aku dapat pesan,” katanya pelan. “Katanya ada walk-in interview hari ini. Tapi alamatnya agak aneh.”
Ia menunjukkan layar ponselnya. Sekilas saja aku tahu itu lowongan bodong. Format pesannya salah, alamatnya mencurigakan, dan jamnya tidak masuk akal.
“Itu penipuan,” kataku tanpa ragu.
Ia menatapku, ragu bercampur takut. “Kau yakin?”
“Aku pernah lihat yang seperti ini,” jawabku. “Kalau kau mau, aku bisa temani ke tempat lain yang lebih jelas.”
Aku tidak tahu kenapa aku menawarkan itu. Mungkin karena aku tidak ingin ia jatuh lebih dalam di hari yang sudah buruk. Mungkin karena aku ingin menunda kepulanganku ke kamar kos yang sunyi.
Kami menghabiskan sore itu mendatangi dua tempat lain. Keduanya berakhir dengan penolakan, tapi tidak ada yang terasa sia-sia. Kami berbagi cerita pendek di sela perjalanan, tentang pekerjaan lama, tentang tekanan keluarga, tentang rasa gagal yang sama-sama kami sembunyikan dengan cara berbeda.
Ketika hari mulai gelap, kami duduk di warung kecil dekat halte. Elara mengaduk minumnya tanpa benar-benar meminumnya.
“Terima kasih,” katanya akhirnya. “Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah buang waktu ke tempat yang salah.”
Aku mengangkat bahu. “Aku juga terbantu. Setidaknya hari ini tidak sepenuhnya gagal.”
Ia tersenyum tipis. Dan di momen itu, aku menyadari sesuatu yang membuatku tidak nyaman sekaligus hangat.
Aku menikmati perasaan dibutuhkan itu.
Sejak hari itu, kami mulai bertemu lebih sering. Bukan kencan. Lebih seperti rekan seperjuangan. Kami saling mengabari jika ada lowongan baru, saling mengingatkan jadwal wawancara, bahkan saling menunggu di luar gedung ketika salah satu masuk interview. Aku mulai menyusun hariku dengan memperhitungkan keberadaannya.
Dan tanpa kusadari, aku mulai mengatur.
Aku memilihkan tempat yang menurutku aman. Aku menyarankan posisi yang menurutku realistis. Aku memperingatkannya untuk tidak terlalu berharap. Semua terdengar masuk akal, bahkan perhatian. Elara jarang membantah, dan setiap kali ia mengangguk mengikuti saranku, ada kepuasan kecil yang tumbuh di dadaku.
Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku hanya membantu.
Padahal aku sedang membangun kebiasaan.
Suatu sore, Elara gagal wawancara dan duduk terdiam di bangku luar gedung. Aku duduk di sampingnya, menunggu ia bicara lebih dulu.
“Aku capek,” katanya lirih. “Kadang aku merasa semua ini percuma.”
“Kau hanya perlu waktu,” kataku. “Dan keputusan yang tepat.”
Ia menoleh padaku. “Kau selalu terdengar yakin.”
Aku tersenyum kecil. “Karena aku tidak ingin kita salah langkah lagi.”
Kata kita keluar begitu saja. Dan ia tidak mengoreksinya.
Di situlah aku sadar, ketertarikanku bukan hanya karena Elara. Tapi karena bersamanya, aku merasa kembali punya arah. Aku merasa dibutuhkan. Aku merasa hidupku, yang sempat runtuh, mulai menemukan bentuk baru.
Aku tidak jatuh cinta secara tiba-tiba.
Aku jatuh perlahan, melalui kebiasaan, kehadiran, dan rasa aman palsu yang mulai kubangun.
Dan tanpa kusadari, sejak hari pertama itu, aku sudah mulai mencintainya dengan caraku sendiri.
Cara yang terasa benar bagiku.
Tapi mungkin tidak pernah benar untuknya.