

Pagi di Muara Baru tidak pernah diawali dengan kicauan burung, melainkan deru mesin truk kontainer dan aroma amis air laut yang membusuk di selokan. Bagi Naufal Tristan, alarm alaminya adalah suara batuk kering neneknya dari balik sekat triplek dan teriakan penagih utang yang menggedor pintu tetangga sebelah.
Naufal terbangun dengan punggung kaku. Ia tidur di atas lantai semen yang hanya beralaskan tikar pandan tipis. Di ruangan seluas tiga kali empat meter itu, seluruh hidupnya diringkas: sebuah kompor minyak tua, tumpukan baju dalam kardus, dan meja kayu reot tempat ia belajar.
Ia menatap cermin pecah di sudut ruangan. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dengan wajah tirus dan mata yang selalu terlihat lelah menatap balik. Naufal mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan sisa kantuk yang berat.
"Naufal... sarapan dulu, Nak," suara parau Nenek Sumi terdengar dari balik tirai lusuh yang membatasi dapur.
Naufal bangkit, mendekat ke arah wanita tua yang merupakan satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup. Di atas meja, hanya ada satu piring nasi putih dengan sepotong tempe goreng yang dibagi dua.
"Nenek sudah makan?" tanya Naufal pelan.
"Sudah tadi, sedikit. Makanlah, kamu harus sekolah. Hari ini ujian, kan?" Nenek Sumi tersenyum, meski gurat kepedihan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang keriput.
Naufal tahu neneknya berbohong. Perut wanita itu kempis, dan sisa nasi di Rice Cooker pemberian tetangga itu sudah habis. Naufal menelan nasi itu dengan tenggorokan yang terasa mencekik. Setiap kunyahan terasa seperti duri. Ia benci kemiskinan ini. Ia benci bagaimana dunia seolah-olah mengunci mereka dalam lingkaran setan yang tidak ada habisnya.
Perjalanan dari Jakarta Utara menuju Jakarta Pusat adalah perjalanan melintasi dua dimensi yang berbeda. Naufal harus berganti angkot dua kali sebelum menyambung dengan bus TransJakarta yang sesak.
Berdiri di antara himpitan tubuh orang-orang kantoran yang wangi parfum mahal, Naufal merasa seperti noda hitam di atas kertas putih. Seragam putih abu-abunya sudah menguning di bagian kerah, dan sepatu ketsnya sudah jebol di bagian samping, ditempel seadanya dengan lem alteco.
Ia turun di halte dekat Lapangan Banteng. Dari sana, ia harus berjalan kaki sekitar sepuluh menit menuju SMA Negeri favorit di Jakarta Pusat—sebuah sekolah yang sebenarnya bukan tempat untuk orang seperti dia. Naufal bisa masuk ke sana hanya karena beasiswa prestasi akademik yang luar biasa. Namun, di tempat itu, otak yang encer tidak lebih berharga daripada saldo rekening orang tua.
Setiap langkahnya di trotoar bersih Jakarta Pusat terasa berat. Di sini, gedung-gedung pencakar langit seolah menunduk memandang remeh ke arahnya. Ia melewati deretan mobil mewah yang mengular di depan gerbang sekolah. BMW, Mercedes, hingga Land Rover keluaran terbaru terparkir rapi, menurunkan anak-anak dengan kulit bersih dan tawa yang ringan.
"Eh, minggir! Bau sampah nih!"
Sebuah dorongan kasar di bahu membuat Naufal hampir tersungkur saat melewati koridor menuju kelasnya.
Raka, anak seorang pengusaha properti ternama, berdiri di sana dengan seringai meremehkan. Di belakangnya, dua orang anteknya tertawa sinis. Raka adalah raja kecil di sekolah ini. Segala sesuatu tentangnya memancarkan kemewahan, mulai dari jam tangan Rolex di pergelangan tangannya hingga aroma parfum Oud yang menyengat.
"Maaf, Raka," ucap Naufal tanpa menatap mata lawan bicaranya. Ia sudah belajar bahwa melawan hanya akan memperpanjang penderitaan.
"Maaf? Lo tahu nggak sepatu gue harganya berapa? Kalau kena debu dari baju lo yang belum dicuci seminggu itu, harganya langsung turun!" Raka tertawa, lalu dengan sengaja menumpahkan sisa es kopi kalengnya ke arah sepatu kets Naufal yang sudah robek.
Cairan cokelat itu meresap ke dalam lubang sepatu, membasahi kaus kaki Naufal yang tipis. Naufal mengepalkan tinjunya di dalam saku celana. Kukunya menekan telapak tangan hingga perih, tapi ia tetap diam.
"Naufal, jangan diladeni," sebuah suara lembut memecah ketegangan.
Seorang gadis berjalan mendekat. Clarissa Salsabilla. Ia adalah putri dari salah satu keluarga elite di Jakarta Selatan, namun entah mengapa, ia adalah satu-satunya orang di sekolah ini yang memperlakukan Naufal seperti manusia.
Raka mendengus. "Lo selalu belain si gembel ini, Clar. Selera lo rendah banget."
Clarissa tidak membalas ucapan Raka. Ia berdiri di samping Naufal, memberikan tatapan yang menenangkan. "Ayo masuk kelas, Naufal. Sebentar lagi bel."
Naufal mengangguk kaku. Saat berjalan melewati Clarissa, ia mencium aroma bunga lili yang lembut—aroma yang sangat jauh dari bau pelabuhan yang melekat di kulitnya. Clarissa adalah satu-satunya cahaya di sekolah ini, sebuah harapan yang terasa sangat mustahil untuk digapai. Clarissa memberinya semangat, namun di saat yang sama, keberadaannya mengingatkan Naufal betapa dalamnya jurang pemisah di antara mereka.
Di kantin saat jam istirahat, Naufal duduk di bangku paling pojok. Ia hanya membawa botol air minum berisi air keran yang sudah direbus. Tidak ada uang untuk membeli semangkuk bakso seharga dua puluh ribu rupiah.
"Woi, Fal! Masih hidup lo?"
Bimo duduk di depannya sambil membawa sebungkus roti murahan. Bimo adalah satu-satunya teman Naufal. Rumah mereka berdekatan di Jakarta Utara. Bedanya, Bimo lebih realistis. Ia tidak peduli dengan beasiswa atau harga diri; ia hanya ingin lulus dan bekerja jadi kuli panggul di pelabuhan.
"Tadi si Raka lagi ya?" Bimo menyobek rotinya, membagi dua, dan menyodorkan setengahnya pada Naufal. "Makan nih. Muka lo pucat banget kayak mayat."
Naufal ragu sejenak sebelum mengambil roti itu. "Dia cuma cari perhatian."
"Cari perhatian matamu! Dia itu injak-injak harga diri lo, Fal. Tapi ya sudahlah, kita ini emang cuma kecoa di kota ini. Tugas kecoa itu cuma satu: jangan sampai terinjak mati," ujar Bimo dengan nada getir yang dibalut tawa pahit.
Naufal menatap sisa roti di tangannya. "Sampai kapan, Bim? Sampai kapan kita harus jadi kecoa?"
Bimo berhenti mengunyah. Ia menatap Naufal dengan iba. "Sampai kita punya uang atau kekuatan, Fal. Tapi buat orang kayak kita, itu cuma mimpi di siang bolong. Sudahlah, mending lo fokus belajar. Siapa tahu lo jadi menteri, terus bisa gusur rumah si Raka."
Naufal terdiam. Ucapan Bimo yang bernada canda itu justru terasa seperti sembilu. Kekuatan. Uang. Di dunia ini, tanpa keduanya, kau bukan siapa-siapa.
Sore harinya, Jakarta diguyur hujan deras. Naufal berdiri di halte, menunggu bus yang tak kunjung datang. Bajunya basah kuyup karena tempias air. Dingin mulai merambat ke tulang, namun pikirannya jauh melayang ke rumah kontrakan mereka yang pasti bocor di sana-sini.
Ia meraba saku celananya, memastikan uang receh untuk angkot terakhir masih ada. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras di balik lipatan kain. Bukan uang. Itu adalah sebuah kunci tua yang diberikan neneknya tempo hari, kunci sebuah peti kecil milik almarhum kakeknya yang katanya tidak boleh dibuka sampai neneknya tiada.
Naufal menatap ke arah kerumunan orang yang berlalu lalang dengan payung mahal. Mereka tampak begitu terburu-buru, begitu penting. Sementara dia, berdiri di sana, tak terlihat, tak dianggap.
Di bawah lampu jalan yang remang-remang, Naufal menatap bayangannya di genangan air. Bayangan itu tampak rapuh, seolah-olah bisa tersapu oleh arus air hujan kapan saja.
Aku tidak ingin begini selamanya, batinnya.
Dendam bukan kata yang tepat. Ini lebih dari itu. Ini adalah rasa lapar akan keadilan. Ini adalah rasa haus akan martabat yang selama ini dirampas darinya sejak ia dilahirkan sebagai yatim piatu di tanah yang keras ini.
"Naufal Tristan," bisiknya pada diri sendiri, suaranya tenggelam oleh bunyi guntur yang menggelegar di langit Jakarta. "Suatu hari nanti, kalian semua yang akan menyingkir saat aku lewat."
Ia tidak tahu bahwa sumpah itu didengar oleh sesuatu yang jauh lebih tua dari kota Jakarta. Sesuatu yang tertidur di dalam darahnya, menunggu kunci itu dibuka, menunggu kematian yang paling menyakitkan untuk membangkitkan sang Dewa Perang yang telah lama dilupakan nusantara.
Naufal melangkah masuk ke dalam bus yang penuh sesak, tanpa menyadari bahwa ini adalah malam terakhir ia akan menjadi manusia biasa yang lemah. Di balik mendungnya langit Jakarta Pusat, takdir baru saja mengasah pedangnya.