

Mobil sewaan itu melambat ketika papan penunjuk jalan bertuliskan SELAMAT DATANG muncul di tepi jalan. Catnya mengelupas, huruf-hurufnya pudar, seolah papan itu telah terlalu lama berdiri dan terlalu sering menyaksikan orang datang—lalu pergi tanpa pernah benar-benar kembali.
Raka menegakkan punggungnya di kursi. Udara kota kecil itu masuk melalui celah jendela, membawa bau tanah basah, dedaunan tua, dan sisa hujan yang belum sepenuhnya menguap. Bau itu menabrak ingatannya begitu saja—bau yang dulu menempel di seragam sekolahnya setiap sore, bau yang selalu ia bawa pulang ke rumah ini sebelum segalanya berubah.
Sudah lima belas tahun Raka meninggalkan tempat ini.
Ia kembali bukan karena rindu.
Ia pulang karena ayahnya mati.
Jalanan kampung kini lebih rapi. Aspal baru, lampu jalan berdiri berjejer. Namun di balik perubahan itu, Raka merasa ada sesuatu yang tetap sama—kesunyian yang tidak pernah benar-benar pergi. Kota kecil ini seolah belajar menyembunyikan sesuatu di balik wajah barunya.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri agak menjorok ke dalam dari jalan utama. Halamannya luas, rumput tumbuh liar tanpa pernah benar-benar dibersihkan. Di tengah halaman, pohon mangga tua berdiri seperti penjaga—batangnya menghitam oleh lumut, cabang-cabangnya menjulur ke segala arah seperti lengan kaku yang siap meraih siapa pun yang lengah.
Rumah warisan itu masih sama.
Hanya terasa lebih tua.
Lebih diam.
Begitu Raka turun dari mobil, pintu samping rumah terbuka perlahan. Seorang perempuan tua muncul. Tubuhnya kecil, punggungnya membungkuk, kerudung lusuh menutupi rambut yang hampir seluruhnya memutih. Matanya menyipit, berusaha mengenali wajah di hadapannya.
“Raka…?” suaranya bergetar, seolah takut salah.
Raka terdiam sesaat sebelum mengangguk. “Iya, Mak.”
Mak Ijah mendekat dengan langkah pelan. Ia menatap Raka lama sekali, terlalu lama untuk sekadar memastikan. Tangannya yang keriput terangkat, menyentuh lengan Raka sebentar, lalu ditarik kembali, seperti ragu apakah sentuhan itu pantas.
“Kamu pulang juga akhirnya,” katanya lirih.
“Bapak… sebelum pergi, sering diam. Seperti nunggu sesuatu.”
Kalimat itu membuat dada Raka mengeras. Ia tahu Mak Ijah tidak bermaksud apa-apa. Namun di rumah ini, kata menunggu selalu terasa seperti ancaman.
“Malam ini tahlilan,” lanjut Mak Ijah, memecah keheningan. “Mak sudah kabari warga. Tidak banyak, tapi cukup.”
Raka mengangguk. “Terima kasih, Mak.”
Pintu depan dibuka. Engselnya berderit panjang, suara yang menggema seperti keluhan tua. Aroma kayu lembap, debu, dan sesuatu yang lebih berat menyergap hidung Raka. Rumah itu bersih, tapi bukan rumah yang hidup—lebih seperti rumah yang dijaga agar tidak sepenuhnya ditinggalkan.
Raka melangkah ke ruang tamu. Meja kayu disingkirkan ke sudut, karpet digelar seadanya. Di dinding, foto ayahnya tergantung sedikit miring. Tatapannya kaku, dingin, seolah masih mengawasi rumah ini bahkan setelah mati. Di sudut ruangan, jam dinding berhenti berdetak pada angka 02.17.
“Jam itu rusak sejak kapan?” tanya Raka.
Mak Ijah melirik jam itu sebentar. “Sejak malam Bapak meninggal,” jawabnya pelan. “Tidak mau jalan lagi.”
Raka tidak bertanya lebih jauh. Ia sudah belajar bahwa di rumah ini, terlalu banyak pertanyaan hanya akan membuat udara terasa lebih berat.
Ia berjalan menyusuri lorong tengah. Dinding kiri-kanan dipenuhi foto lama. Ayahnya muda, berdiri kaku dengan kemeja putih. Ibunya tersenyum tipis, matanya lembut. Di satu foto, Raka kecil berdiri di antara mereka, memegang tangan ibunya erat—seolah takut dilepaskan.
Sejak ibunya meninggal, rumah ini berubah.
Bukan langsung rusak.
Tapi perlahan kehilangan kehangatannya.
Dan di ujung lorong itu—
Pintu kayu tua tanpa gagang masih berdiri. Permukaannya penuh guratan, seperti bekas kuku yang sudah lama mengering. Sebuah gembok besar menggantung di sana, tampak jauh lebih baru dibanding pintu dan dinding di sekitarnya. Dinding di sekelilingnya menghitam, lembap, seolah ruangan di baliknya bernapas pelan.
Kamar terlarang.
Langkah Raka melambat tanpa ia sadari.
“Jangan ke situ.”
Suara Mak Ijah terdengar dari belakang. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat punggung Raka menegang.
“Bapak dulu pesan,” lanjutnya, suaranya lebih rendah, “pintu itu jangan pernah didekati.”
Kalimat itu menusuk ingatan Raka.
Ia teringat satu malam di masa kecil. Ia berdiri di lorong ini, sendirian, penasaran oleh suara-suara dari balik pintu. Ayahnya datang tiba-tiba, berjongkok di depannya, wajahnya keras—berbeda dari biasanya. Tangannya mencengkeram bahu Raka kuat-kuat.
“Dengar baik-baik,” suara ayahnya rendah dan tegas.
“Apa pun yang kamu dengar dari balik pintu itu, jangan pernah kamu buka. Jangan tanya. Jangan cari tahu.”
Mata ayahnya saat itu bukan mata orang yang marah.
Itu mata orang yang takut.
Raka tersentak kembali ke masa kini.
“Apa yang sebenarnya ada di dalamnya, Mak?” tanyanya lirih.
Mak Ijah menunduk. Tangannya gemetar. “Sejak Ibu kamu meninggal, Bapak sering masuk ke situ. Setiap malam Jumat. Mengunci diri berjam-jam. Keluar-keluar… badannya lemas. Tangannya luka, seperti habis dicengkeram sesuatu.”
Raka menelan ludah. “Ibu meninggal karena apa?”
Mak Ijah terdiam lama. Terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana itu. “Tidak ada yang benar-benar tahu,” katanya akhirnya. “Yang jelas, sejak malam itu… rumah ini seperti mengingat sesuatu yang seharusnya dilupakan.”
Menjelang magrib, warga mulai berdatangan. Kursi disusun di ruang tamu dan teras. Tikar digelar. Beberapa ibu membantu Mak Ijah di dapur. Raka berdiri di sudut, menjawab salam dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Ia memperhatikan satu hal.
Tak satu pun warga berdiri dekat lorong.
Tak satu pun melirik ke arah kamar terlarang.
Seolah semua sepakat: ada bagian rumah yang tidak perlu disentuh ingatan.
Setelah isya, tahlilan dimulai. Doa-doa dilantunkan pelan. Raka duduk di barisan belakang, kepalanya tertunduk, mencoba mengikuti bacaan. Angin malam menggerakkan daun mangga di luar, suaranya beradu dengan jendela.
Lampu berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Mak Ijah menoleh ke lorong.
Lampu padam.
Doa terhenti. Beberapa orang berdiri panik. Ada yang menyebut nama Tuhan. Saat lampu menyala kembali, udara di dalam rumah terasa lebih dingin, lebih berat.
Dan dari lorong itu—
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan kayu terdengar jelas.
Gembok di pintu kamar bergetar pelan.
Lalu terdengar suara.
Serak. Dalam.
“Raka…”
Jeritan pecah. Seorang ibu pingsan. Kursi tergeser. Lampu padam kembali. Dalam gelap, Raka berdiri kaku.
Ia mengenal suara itu.
Suara ayahnya.
Saat lampu menyala, sebagian warga telah berhamburan keluar rumah. Tak satu pun berani menatap lorong itu lagi. Gembok masih bergoyang, seolah ditarik dari dalam.
Mak Ijah jatuh terduduk. “Bapak dulu bilang,” katanya dengan suara hancur, “kalau dia mati… jangan adakan apa pun di rumah ini.”
Raka menatap pintu kamar terlarang itu.
Di malam pertama setelah kematian ayahnya, ia akhirnya mengerti—
Larangan itu bukan untuk melindunginya.
Larangan itu untuk menahan sesuatu agar tidak mencari pengganti.
Dan malam ini, penahan itu telah hilang.