

Jam berdetak begitu lambat, seperti ikut terseret derasnya hujan yang menghantam atap. Air mengalir membentuk tirai, menelan teriakan seorang pemuda yang meringkuk ditanah yang becek.
Tangannya menutupi kepala, gemetar setiap kali sepatu-sepatu itu menghujani tubuhnya. Napasnya tersengal, darah bercampur air hujan menetes dari bibirnya. Seragamnya robek, kancingnya hilang entah ke mana, dan kacamata yang dulu rapi kini tinggal bingkai retak yang menggantung miring di wajahnya.
“Cuih! Soso'an deketin pacar gue! Sekarang lo tau kan akibatnya!” Suara itu tajam seperti beling.
Bugh!
Tinju menghantam perutnya, dunianya berputar, napasnya terputus, tubuhnya terkulai, tak lagi punya daya untuk menahan apa pun.
Ritsleting celana terbuka hampir bersamaan. Air hangat dan bau pesing jatuh dari segala arah. Tawa mereka terdengar pecah... keras, kasar, penuh ejekan, dia hanya terdiam.
Bukan karena kuat, tapi karena suaranya sudah patah sebelum sempat keluar, hujan terus turun. Menyatu dengan air mata yang menetes pelan di pipinya.
Setelah semuanya pergi, hanya sisa genangan dan sepi yang menemaninya. Bibirnya bergetar, nyaris tak bersuara.
“Ya Tuhan… aku ini salah apa…”
Ia mencoba bangkit. Lututnya goyah, tangannya mencari pegangan di dinding yang lembap. Setiap langkah menuju toilet seperti menyeret pecahan kaca yang tertanam di tubuhnya.
Tatapan orang-orang menempel padanya. Ada yang menutup hidung. Ada yang berbisik sambil terkikik. Ada yang memandangnya seperti sampah yang hanyut terbawa banjir.
Tapi ia tetap berjalan, air keran menyiram rambutnya, membasuh seragamnya yang bau. Setiap tetes air membangkitkan rasa perih yang ia tahan sendirian. Bahunya bergetar... bukan karena dingin, tapi karena hatinya ikut runtuh.
Ketika semuanya terasa sedikit lebih ringan, ia melangkah keluar. Tangga menuju kelas menunggu di depan. Namun, suara tawa yang ia kenal menyambar lebih dulu.
“Liat tuh… si culun udah bersih aja.”
Langkahnya terhenti. Ia menunduk, berharap jadi bayangan. Tapi tangan kasar menariknya kembali ke dunia yang tak memberinya ruang.
“Eh, culun! Mau ke mana lo?”
Suara yang keluar dari mulutnya lirih, pecah.
“Ma-maaf… aku mau pulang.”
Tendangan menyambar kakinya. Tubuhnya jatuh menghantam lantai dingin. Sakitnya merambat sampai ke dadanya, tapi yang paling menusuk adalah tawa mereka. Tawa yang terdengar seperti penghakiman.
“Aku cuma… mau pulang…” Suaranya hampir tak ada.
Rambutnya dijambak, kepalanya terangkat paksa. Air mata jatuh begitu saja tanpa bisa ditahan.
Ia menatap kosong ke depan. Bibirnya berucap tanpa suara, hanya terdengar oleh hatinya sendiri,
"Tuhan… kalau aku harus mati hari ini… beri aku satu saja kesempatan. Aku tak ingin pergi saat mereka masih tertawa."
Tangan itu kembali mendorongnya. Satu dorongan membuat punggungnya membentur dinding, napasnya terputus. Tangga membentang di belakangnya, licin oleh jejak kaki dan sisa air hujan yang menetes dari atap.
“Nangis aja yang kenceng, nggak akan ada orang yang bisa bantu lo,” gumam seseorang, disusul tawa pendek.
Dorongan terakhir datang begitu saja, kakinya kehilangan pijakan, dunia seketika terbalik.
Tangannya terayun di udara, mencari pegangan yang tidak ada. Ujung jarinya hanya menyapu angin kosong.
Pandangannya berkelebat, anak tangga pertama, langit-langit, wajah-wajah yang tertawa bahagia. Tubuhnya menghantam tepi anak tangga.
Brak.
Lalu terguling turun.
Bruk... Bruk...
Setiap hentakan membuat dadanya sesak, membuat udara dipaksa keluar dari paru-parunya. Mulutnya terbuka, ingin berteriak… tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
Hanya napas patah-patah yang keluar, seperti seseorang yang hampir tenggelam. Matanya melebar, ia ingin memanggil siapa pun. Siapa saja, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Hanya bunyi tubuhnya yang terus jatuh, berhenti di dasar tangga, dunia terasa jauh. Lampu-lampu di lorong memantul.
Penglihatannya kabur, tapi ia masih bisa melihat sepatu-sepatu itu berdiri di atas tangga, sebagian tertawa pelan, menutup mulut seolah takut kedengaran.
Dadanya naik turun dengan susah payah. Tenggorokannya masih terkunci. Ia memaksa untuk bernapas, memaksa untuk bergerak… tapi tubuhnya seperti bukan miliknya lagi.
Air dari rambutnya menetes ke lantai. Tetes demi tetes, menambah genangan kecil di samping wajahnya.
Untuk sesaat, lorong itu sunyi dan di dalam kesunyian itu, hanya degup jantungnya sendiri yang terdengar berat.
Tubuhnya berhenti di lantai dasar... tergeletak miring, diam. Hanya napasnya yang masih tersisa, pendek dan terputus. Keningnya membentur lantai lebih dulu, kini darah merembes perlahan, menetes. Hidungnya juga basah oleh warna yang sama, bercampur dengan sisa air hujan.
Matanya terbuka sedikit. Cahaya lorong terasa terlalu terang, menusuk.
Ia mencoba mengangkat tangan, tapi jemarinya hanya gemetar di udara lalu jatuh lagi. Tenggorokannya yang tadi terkunci akhirnya berhasil memeras satu suara.
“Akh… sa–kit… to-tolong…”
Pelan... nyaris seperti bisikan yang tidak ingin didengar oleh siapa pun.
Rasa perih merambat dari kening ke seluruh kepala, denyutnya berdetak bersama detak jantung. Udara yang masuk ke paru-parunya tak pernah terasa cukup, dan setiap napas seperti menambah rasa ngilu di dada.
Langit-langit lorong itu tampak makin jauh. Suara tawa di atas tangga memudar, berganti senyap. Hanya suara hujan dari luar jendela yang tersisa.
Kelopak matanya berat, ia mencoba menahannya lebih lama.s Namun akhirnya, semuanya memudar dan dunia perlahan menutup. Dia pun memejamkan matanya.
Seorang gadis berambut panjang baru saja keluar dari toilet sambil mengeringkan tangannya dengan tisu. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang tergeletak di ujung lorong.
Seorang pria... terbaring lemas, darah mengalir dari keningnya. Napas gadis itu tercekat, tisu jatuh dari tangannya.
"Akh...” Suaranya pecah, lalu berubah jadi teriakan panik yang menggema ke seluruh lantai.
Dalam hitungan detik lorong yang tadi sepi dipenuhi suara langkah kaki dan kecemasan. Beberapa siswa menutup mulut mereka, sebagian lain gemetar tak berani mendekat.
Guru dan petugas sekolah datang tergesa-gesa, dan tandu segera diangkat masuk. Tubuh pria itu diangkat hati-hati, namun bekas darah di lantai masih membekas.
Di klinik sekolah, tercium bau obat-obatan. Monitor jantung yang awalnya berbunyi pelan tiba-tiba memanjang menjadi garis lurus.
Sunyi, lalu panik. Instruksi mengalir cepat, tangan-tangan tim medis bergerak cepat. Namun sesekali mata mereka saling bertukar pandang... merasa khawatir.
Di sudut ruangan, gadis itu berdiri mematung. Matanya memerah, air mata turun tanpa ia sadari saat menatap wajah pria yang pernah ia simpan diam-diam di dalam hatinya.
“Kamu… kenapa bisa jadi seperti ini?” ucapnya lirih.
Tangannya terulur pelan, ragu-ragu, bergetar. Ia ingin menyentuh pipinya. Namun sebelum jemarinya menyentuh kulit, sesuatu terjadi. Kilatan putih, secepat kedipan mata menyambar dari udara seakan masuk tepat ke kening pria itu.
Gadis itu tersentak mundur, jantungnya berdegup tak karuan.
“Tadi… itu apa?” gumamnya, matanya berkedip-kedip, mencoba memastikan ia tidak berhalusinasi.
Detik berikutnya, luka di kening pria itu perlahan mengering… seolah waktu berjalan mundur. Monitor yang semula sunyi kini kembali berbunyi pelan, lalu stabil.
Tim medis menoleh bersamaan dan di antara napas yang tertahan, kelopak mata pria itu bergetar…
lalu perlahan terbuka. Pandangan kosong pertama-tama hanya menangkap cahaya lampu, lalu bayangan dan matanya jatuh ke wajah gadis yang menatapnya dengan mata yang masih basah.
Bibirnya bergerak pelan.
“A-aku… ada di mana?”