Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
KEBANGKITAN SANG RAJA YANG TERLUPAKAN

KEBANGKITAN SANG RAJA YANG TERLUPAKAN

Alexandria07 | Bersambung
Jumlah kata
112.1K
Popular
1.0K
Subscribe
261
Novel / KEBANGKITAN SANG RAJA YANG TERLUPAKAN
KEBANGKITAN SANG RAJA YANG TERLUPAKAN

KEBANGKITAN SANG RAJA YANG TERLUPAKAN

Alexandria07| Bersambung
Jumlah Kata
112.1K
Popular
1.0K
Subscribe
261
Sinopsis
PerkotaanAksiBalas DendamMiliarderMafia
Javier hanyalah seorang kuli bangunan yang menahan caci maki istrinya selama bertahun-tahun. Tapi saat ingatan lamanya kembali, ia bukan lagi pria lemah yang bisa kau injak. Dia adalah penguasa kegelapan yang memegang kunci kekayaan dunia. Satu per satu, mereka yang menertawakannya akan berlutut. Satu per satu, gedung yang mereka banggakan akan runtuh. Ikuti perjalanan Javier dalam merangkak dari debu proyek menuju takhta berdarah klan Valerius. Sebuah kisah tentang balas dendam yang dingin, konspirasi arsitektur, dan cinta yang tumbuh di tengah desingan peluru.
BAB 1 - Jejak Raja yang Terlupakan

"Tuan Muda Javier, pencarian kami berakhir. Seluruh dunia bawah tanah menunggu kepulangan pemimpin mereka."

Javier terkejut, wanita penuh kemewahan ini tiba-tiba berlutut di depan dirinya— seorang pria miskin yang hanya bekerja sebagai KULI BANGUNAN?!

***

Debu mengepul di udara, berpadu dengan aroma semen basah dan keringat yang menguap. Di tengah riuhnya deru mesin mixer dan teriakan mandor, Javier bergerak seperti mesin yang telah usang.

Usianya masih terbilang muda, namun punggungnya yang kekar telah terbiasa menopang beban puluhan kilogram karung semen setiap hari. Wajahnya keras, penuh jelaga dan bercak semen yang mengering, namun matanya yang gelap memancarkan ketidakpedulian yang dalam—seolah jiwanya sudah terlalu lelah untuk merasakan apapun.

Setiap ayunan tubuhnya, setiap langkah kakinya yang berat di atas tanah becek, adalah rutinitas lima tahun terakhir. Lima tahun sejak kecelakaan itu merenggut ingatannya, mengubahnya dari entah siapa menjadi seorang kuli bangunan tanpa masa lalu, yang hanya hidup untuk menafkahi Jennie, istrinya yang selalu murka karena kemiskinan mereka.

"Javier! Cepat sedikit! Mau sampai kapan semen itu menumpuk di sana, hah?!" bentak Mandor Hadi, seorang pria tambun dengan kumis lebat dan seringai mengejek yang selalu menghiasi bibirnya setiap kali melihat Javier. Mandor Hadi adalah salah satu biang keladi di balik penderitaan mental Javier.

Javier tidak menjawab. Ia hanya menggerutu dalam hati, menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat karung semen seberat 50 kg ke bahunya yang sudah mati rasa. Otot-ototnya menegang, urat-urat di lehernya menonjol. Ia berjalan tertatih melewati tumpukan besi dan kayu, mengabaikan tatapan remeh rekan-rekan kerjanya yang sebagian besar adalah pria paruh baya. Bagi mereka, Javier hanyalah anak muda malang yang terlalu bodoh untuk membela diri.

Tiba-tiba, suara derit ban yang tajam memecah kebisingan proyek. Seluruh pasang mata menoleh ke arah jalan setapak yang biasa dilalui truk pengangkut material. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap, dengan kaca gelap yang misterius, berhenti tepat di bibir proyek. Mesin mobil itu mendengung pelan, kontras dengan gemuruh alat berat di sekelilingnya.

Seketika, suasana di lokasi proyek menjadi sedikit hening. Para kuli menghentikan pekerjaan, saling berbisik heran. Mobil seperti itu jarang terlihat di tempat kumuh seperti ini.

Pintu belakang mobil terbuka perlahan. Kaki jenjang berbalut stoking hitam dan sepatu hak tinggi melangkah keluar. Seorang wanita anggun muncul, berpakaian serba hitam dari ujung kepala hingga kaki. Gaunnya yang elegan berpadu dengan rambut hitam panjang yang tergerai indah, menutupi sebagian wajahnya. Kacamata hitam besar bertengger di hidungnya, menambah kesan misterius. Di belakangnya, tampak dua mobil sedan hitam lainnya berhenti, dan dari sana turun sekitar delapan pria bertubuh kekar, berjas hitam, dan berwajah datar—pengawal pribadi yang terlatih.

Pandangan wanita itu menyapu kerumunan kuli yang kotor dan dekil, seolah mencari sesuatu. Matanya yang tajam akhirnya berhenti pada Javier, yang baru saja meletakkan karung semen terakhirnya, napasnya terengah-engah.

Tanpa disangka, wanita itu mulai berjalan menuju Javier. Langkahnya anggun namun cepat, seolah tak peduli dengan lumpur dan debu yang mengotori sepatu mahalnya. Para kuli terdiam, penasaran dengan apa yang akan terjadi. Beberapa di antara mereka mulai cekikikan, berpikir wanita cantik itu mungkin tersesat.

Javier sendiri merasakan gelombang keheranan. Wanita ini, dengan segala kemewahan dan auranya yang mendominasi, kenapa berjalan ke arahnya? Apakah ia ingin menanyakan jalan?

Lalu, hal yang paling mengejutkan terjadi.

Tepat di hadapan Javier yang masih terbalut debu dan keringat, wanita itu perlahan berlutut. Gerakannya anggun, seolah Javier adalah seorang raja yang layak disembah. Lututnya menyentuh tanah becek tanpa ragu, kepalanya sedikit mendongak, menatap Javier dengan mata yang kini tidak lagi tersembunyi di balik kacamata—mata yang penuh hormat dan ketulusan.

"Tuan Muda Javier," ucapnya dengan suara yang jelas, menembus kebisingan, "Pencarian kami berakhir. Seluruh dunia bawah tanah menunggu kepulangan pemimpin mereka."

Javier terperangah. Karung semen yang tadinya ia pegang nyaris meluncur dari tangannya. Jantungnya berdebar kencang. Ia menatap wanita itu dengan ekspresi campur aduk antara kaget, bingung, dan sedikit terganggu. Tuan Muda? Dunia bawah tanah? Pemimpin? Dan yang paling penting, bagaimana wanita asing ini tahu namanya? Javier nyaris tidak pernah memberitahukan namanya kepada orang asing, apalagi kepada wanita dengan penampilan seperti ini.

Seketika, tawa pecah dari kerumunan kuli.

"Hahahaha! Apa-apaan ini?!" teriak salah satu kuli, Budi, yang memiliki reputasi sebagai tukang gosip dan pembully di lokasi proyek. "Javier? Raja mafia? Ngayal apa dia ini?!"

"Lihat saja bajunya! Bau keringat, lumpur di mana-mana! Mana ada raja mafia yang kerja ngangkut semen?!" timpal kuli lainnya, Rudi, sambil tertawa terbahak-bahak.

Mandor Hadi menyeringai lebar. "Sudah kubilang, Javier ini memang gila! Tekanan hidup bikin dia halusinasi! Mungkin dia habis baca komik mafia!" Ia bahkan mengambil segenggam semen kering yang ada di dekatnya dan melemparkannya ke arah Javier, sebagian mengenai kepala Javier yang kotor. "Bangun, Raja Semen! Kau tidak dengar rakyatmu menertawaimu?!"

Cemoohan dan tawa semakin membahana. Para kuli seolah mendapatkan tontonan gratis yang paling lucu sepanjang hari. Mereka terus mengejek, melempar Javier dengan serpihan pasir dan kerikil kecil.

Javier tidak bereaksi. Raut wajahnya tak berubah, tetap tak acuh. Dihina, dilempari, atau ditertawakan sudah menjadi bagian dari makanannya sehari-hari. Ia sudah terlalu lelah untuk merasa sakit hati. Ia hanya menatap wanita yang masih berlutut di depannya dengan tatapan kosong, seolah kejadian ini hanyalah salah satu mimpi buruk yang sering menghantuinya.

Namun, di belakang wanita itu, para pengawal berjas hitam menunjukkan reaksi yang sangat berbeda. Ekspresi datar mereka tiba-tiba berubah menjadi kerutan tajam. Mata mereka memancarkan kemarahan yang tertahan. Tanpa ada perintah, secara serentak, tangan mereka bergerak ke balik jas.

Klik-klak!

Suara pelatuk yang ditarik serentak terdengar jelas di tengah tawa para kuli. Delapan pistol hitam, dingin, dan mematikan, kini teracung keluar dari balik jas para pengawal. Moncong pistol-pistol itu langsung mengarah tajam ke empat kuli yang paling keras menertawakan Javier, termasuk Budi, Rudi, dan Mandor Hadi.

Keempat pria itu terperanjat. Tawa mereka seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi ketakutan yang luar biasa. Wajah mereka mendadak pucat pasi, seperti mayat hidup. Budi dan Rudi langsung mengangkat tangan, mulut mereka menganga tak bisa berkata-kata. Mandor Hadi, yang tadinya paling berani, kini gemetar hebat. Ia mencoba mencari-cari sesuatu di saku celananya dengan tangan gemetar.

"Tunggu! Tunggu dulu! Jangan! Jangan tembak!" teriak Mandor Hadi, suaranya melengking ketakutan. Ia berhasil mengeluarkan ponsel dari saku dan segera menempelkannya ke telinga, wajahnya memohon. "Bos! Bos! Ada masalah besar di proyek! Ada orang-orang bersenjata!"

Di saat yang sama, wanita yang berlutut di depan Javier, yang sejak tadi diabaikan oleh para kuli, kini berdiri. Gerakannya luwes dan penuh wibawa. Ia mengangkat satu tangan dengan telapak terbuka, memberikan instruksi tegas kepada anak buahnya.

"Cukup," ucapnya, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. Para pengawal patuh, meskipun tatapan tajam mereka masih mengunci empat kuli yang ketakutan itu. Moncong pistol mereka tetap teracung, siap menembak kapan saja.

Wanita itu kemudian berbalik menghadap Javier lagi. Ia merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna perak, seukuran koin besar, dengan sebuah tombol kecil di tengahnya. Benda itu terlihat modern dan futuristik.

Ia meletakkannya di telapak tangan Javier yang kotor dan kasar. Sentuhan tangannya terasa hangat dan lembut, kontras dengan kulit kasar Javier.

"Ini adalah pemanggil, Tuan Muda," katanya, suaranya kini sedikit lebih lembut, namun sarat dengan makna. "Saat Anda siap. Saat Anda telah menemukan identitas Anda yang sebenarnya, atau saat Anda ingin kembali. Tekan tombol ini. Kami akan datang menjemput Anda, di mana pun Anda berada, dalam hitungan menit."

Javier menatap benda kecil di tangannya, lalu ke mata wanita itu. Sebuah gelombang kebingungan melanda benaknya. Ia tidak mengerti apa pun yang dikatakan wanita ini. Dunia bawah tanah? Identitas? Kenapa ia harus kembali? Javier hanya tahu dirinya adalah seorang kuli bangunan, supir istri yang kejam.

"Saya tidak mengerti..." gumam Javier, suaranya serak dan pelan.

Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang mengandung pengertian dan sedikit rasa iba. "Anda akan mengerti, Tuan Muda. Ingatan Anda mungkin hilang, tetapi naluri Anda tidak akan pernah mati. Akan datang saatnya Anda merasa muak dengan kehidupan ini, muak dengan perlakuan orang-orang yang meremehkan Anda. Saat itu tiba, ingatkan diri Anda siapa Anda sebenarnya."

Ia melirik sekilas ke arah Mandor Hadi dan tiga kuli lainnya yang masih pucat pasi. "Mereka akan ingat pelajaran hari ini. Dan Anda, Tuan Muda, jangan biarkan penderitaan ini melumpuhkan Anda. Biarkan ia menjadi bara api yang membakar di dalam."

Tanpa menunggu jawaban Javier, wanita itu berbalik. Ia berjalan kembali ke mobilnya yang mewah, diikuti oleh para pengawalnya yang dengan sigap menurunkan pistol mereka, memasukkannya kembali ke balik jas, lalu kembali ke posisi mereka seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Mobil-mobil mewah itu melaju pergi, meninggalkan jejak debu yang membumbung tinggi. Suara deru mesin mereka perlahan menghilang di kejauhan.

Hening.

Lokasi proyek yang tadinya penuh tawa dan cemoohan kini diselimuti keheningan mencekam. Mandor Hadi dan tiga kuli lainnya masih berdiri mematung, wajah mereka pucat pasi, tubuh mereka gemetar. Ketakutan yang baru saja mereka alami masih membekas jelas di mata mereka.

Javier masih berdiri di tempatnya, menatap benda perak kecil di telapak tangannya. Benda itu terasa dingin, namun entah mengapa, juga terasa memiliki kekuatan yang aneh. Ia melirik Mandor Hadi, yang kini berusaha berdiri tegak, meski kakinya masih gemetar.

"Kerja lagi!" teriak Javier, suaranya terdengar lebih dalam dan serak dari biasanya. "Atau mau pistol itu kembali menunjuk kepala kalian?"

Mandor Hadi dan para kuli lainnya buru-buru mengambil alat kerja mereka. Mereka bekerja dengan lebih cepat dan lebih hati-hati, tidak lagi berani menatap Javier dengan remeh. Tatapan mereka kini diselimuti ketakutan dan kebingungan.

Javier kembali mengangkut karung semen, seolah tidak ada yang terjadi. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Api kecil telah menyala di dalam dadanya. Api yang mungkin akan membakar habis masa lalunya, atau justru membangkitkan masa depannya.

Benda perak kecil itu ia genggam erat di saku celananya, menjadi satu-satunya petunjuk tentang identitas yang telah lama hilang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca