

Jam menunjukkan pukul 06.15 pagi ketika kipas angin di kamar Rizky berhenti berputar, meninggalkan udara Jakarta yang sudah terasa lembap sejak dini hari. Tanpa bersusah payah, dia bangkit dari kasur yang tidak terlalu empuk, mengambil baju jas dokter yang sudah disetrika rapi di kursi. Tangan kirinya secara tidak sengaja menyentuh bagian dalam saku jas itu, di sana ada foto kecil yang selalu dia bawa kemana-mana: wajah ibunya, Sri Hartati, yang tersenyum lembut dengan rambut hitamnya yang diikat rapi.
“Rizky, Ibu tahu kamu kuat.” Suara ibunya seolah masih terdengar jelas di telinganya, sama seperti malam sebelum dia meninggal lima tahun lalu.
Rizky menghela napas pelan, lalu masuk kamar mandi. Air dingin yang menyiram tubuhnya membuatnya kembali fokus pada hari ini, hari biasa yang akan diisi dengan konsultasi pasien, membaca hasil laboratorium, dan mencatat setiap detail yang mungkin terkait dengan penyakit yang merenggut nyawa ibunya: Guillain-Barré Syndrome (GBS), sebuah kelainan autoimun yang menyerang sistem saraf tepi.
Setelah bersiap, dia menuju RS Bhakti Medika dengan menggunakan sepeda motornya. Jalanan Jakarta yang mulai ramai tidak membuatnya terganggu, pikirannya sudah terbang ke ruang konsultasi, ke tumpukan berkas pasien yang akan dia periksa. Di rumah sakit, dia dikenal sebagai dokter muda yang cakap namun dingin. Tidak ada yang tahu mengapa dia selalu menjaga jarak dengan pasien dan rekan kerja, tidak ada yang tahu tentang janji yang dia simpan dalam hati.
“Dr. Rizky, sudah ada tiga pasien yang menunggu di ruang 2B, ya,” ujar Nia, perawat muda yang sudah bekerja bersama dia selama setahun. Wanita itu selalu memberikan senyuman hangat, namun Rizky hanya mengangguk tanpa menatap wajahnya langsung.
“Terima kasih, Nia. Saya akan segera masuk.”
Di ruang konsultasi, Rizky duduk di belakang meja yang rapi, dengan rak buku kedokteran yang tertata rapi di belakangnya. Dia membuka berkas pasien pertama, seorang pria berusia 45 tahun yang mengalami kelemahan pada ekstremitas bawah setelah infeksi tenggorokan. Rizky menanyakan gejalanya dengan suara yang tenang dan objektif, mencatat setiap detail tanpa menunjukkan sedikitpun emosi. Ketika pasien menyampaikan rasa khawatirnya tentang kemungkinan lumpuh, Rizky hanya menjawab dengan fakta dan data medis.
“Jangan terbawa emosi,” bisik dia dalam hati. “Objektivitas adalah satu-satunya cara untuk menemukan jawaban.”
Setelah menangani tiga pasien, Rizky mengambil waktu sebentar untuk minum air putih dan membaca artikel terbaru tentang penelitian GBS. Dia sudah mengumpulkan ribuan data kasus sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mencoba mencari pola atau faktor yang bisa menjadi kunci penyembuhan. Sampai sekarang, belum ada temuan yang signifikan dan itu membuatnya merasa semakin tertekan.
“Saya minta maaf, Dr. Rizky. Ada pasien baru yang harus segera Anda periksa,” ujar Nia dari pintu ruangan. “Nama dia Sofia Wijaya, berusia 26 tahun. Diagnosa awalnya sama dengan… dengan kasus ibu Anda, dok.”
Kata-kata itu membuat jantung Rizky berhenti sejenak. Dia menutup artikel yang sedang dibacanya dengan cepat, lalu mengangguk. “Baik, Nia. Bawa dia masuk dalam lima menit.”
Sementara menunggu, Rizky mencoba menenangkan diri. Dia telah menangani beberapa kasus GBS sebelum ini, namun setiap kali ada pasien dengan penyakit yang sama seperti ibunya, hatinya selalu terasa seperti ditekan oleh batu berat. Dia melihat foto ibunya yang ada di saku jasnya, lalu mengingat kembali malam terakhir mereka bersama.
“Mama tidak ingin ada keluarga lain yang merasakan apa yang kita rasakan, nak,” ujar ibunya dengan suara yang lemah namun tegas. “Kamu adalah dokter yang baik. Cari tahu cara menyembuhkan penyakit ini. Jangan biarkan rasa sakit menguasaimu.”
Setelah itu, ibunya tertutup oleh tirai di ruang perawatan intensif. Rizky tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu dan berdoa, namun doanya tidak terkabul. Sejak saat itu, dia berjanji untuk tidak pernah lagi merasa tidak berdaya seperti itu.
Lima menit kemudian, pintu ruangan terbuka, dan masuklah seorang wanita muda dengan wajah pucat namun mata yang bersinar seperti bintang. Sofia mengenakan baju tidur rumah sakit berwarna biru muda, dengan rambut coklatnya yang diikat dalam sanggul yang sedikit kusut. Di tangannya, dia membawa sebuah buku gambar yang terlihat sudah cukup lama digunakan.
“Halo, Dr. Rizky,” ujarnya dengan suara lembut namun jelas. “Saya Sofia. Maaf ya kalau saya datang sedikit terlambat, saya sempat berbicara dengan pasien lain di koridor dan lupa waktu.”
Rizky hanya mengangguk dan membuka berkasnya. “Sofia Wijaya, 26 tahun. Mengalami gejala kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah sejak dua minggu yang lalu, setelah infeksi usus. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya antibodi yang menyerang selubung saraf tepi. Diagnosa awal: Guillain-Barré Syndrome.”
Sofia duduk di kursi depan meja, dengan tatapan yang tenang dan tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. “Ya, dok. Saya sudah tahu tentang penyakit ini. Saya membacanya di internet dan bertanya pada dokter lain sebelum datang ke sini.”
Rizky menatapnya dengan wajah yang tetap datar. “Anda harus tahu bahwa penyakit ini bisa berbahaya, bahkan mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan benar. Kelemahan bisa semakin parah dan menyerang otot pernapasan.”
Sofia mengangguk, lalu membuka buku gambar yang ada di tangannya. Di dalamnya, ada berbagai sketsa bunga mawar, melati, dan anggrek yang digambar dengan sangat rinci. “Saya tahu, dok. Tapi saya tidak ingin menghabiskan waktu saya hanya untuk merasa takut. Saya suka menggambar bunga karena mereka menunjukkan bahwa hidup itu selalu ada harapan, meskipun hanya untuk sementara waktu.”
Kata-kata itu membuat Rizky sedikit terkejut. Dia sudah bertemu banyak pasien dengan GBS, namun tidak ada yang memiliki semangat hidup seperti Sofia. Kebanyakan dari mereka merasa putus asa dan sedih sama seperti dirinya ketika ibunya sakit.
“Bagaimana Anda bisa tetap tenang seperti ini?” tanya Rizky tanpa sengaja, melupakan niatnya untuk tetap menjaga jarak.
Sofia tersenyum lembut. “Karena saya percaya bahwa setiap orang datang ke dunia ini dengan tujuan tertentu. Mungkin tujuan saya adalah untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar mungkin untuk membantu dokter seperti Anda menemukan cara untuk menyembuhkan penyakit ini.”
Rizky merasa dadanya sedikit terasa hangat. Dia segera menarik napas dalam-dalam dan kembali fokus pada berkas pasiennya. “Baiklah, Sofia. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan tingkat keparahan penyakit Anda dan merencanakan pengobatan yang sesuai. Anda akan dimasukkan ke ruang 3A dan akan ada perawat yang akan membantu Anda.”
Sebelum Sofia berdiri untuk pergi, dia memberikan salah satu sketsa gambarnya kepada Rizky. “Ini untuk Anda, dok. Saya melihat Anda selalu bekerja dengan sangat keras. Semoga bunga ini bisa memberikan sedikit kehangatan dalam hari Anda yang sibuk.”
Rizky menerima sketsa itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalamnya adalah gambar mawar merah dengan daun hijau yang segar. Di sudut kanan bawah gambar, tertulis kalimat kecil: “Hidup adalah anugerah yang harus dinikmati.”
Setelah Sofia keluar dari ruangan, Rizky duduk terdiam selama beberapa menit. Dia menatap sketsa yang ada di tangannya, lalu melihat foto ibunya yang ada di saku jasnya. Perasaan yang sudah lama dia sembunyikan mulai muncul kembali, rasa sakit, rasa harapan dan sesuatu yang lain yang dia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata.
“Mengapa dia berbeda?” bisik dia dalam hati. “Mengapa dia bisa melihat kebaikan di balik sikap saya yang dingin?”
Di koridor rumah sakit, Sofia berjalan dengan langkah yang sedikit goyah ke arah ruang 3A. Dia menoleh ke arah ruang konsultasi Rizky dengan senyuman lembut. “Saya tahu Anda menyembunyikan sesuatu di dalam hati, dok,” bisik dia. “Semoga suatu hari nanti Anda bisa mempercayai saya untuk membantu Anda melewatinya.”
Hari itu menjadi hari yang berbeda bagi Rizky. Setelah pulang dari rumah sakit, dia tidak langsung membuka buku atau artikel medis seperti biasa. Sebaliknya, dia duduk di teras rumahnya yang sederhana, menatap sketsa bunga yang diberikan Sofia. Rumah kecil itu adalah warisan dari ayahnya sebelum dia pergi, dinding cat putih sudah mulai mengelupas di beberapa bagian, lantai keramiknya sederhana, namun terasa hangat dan penuh kenangan. Matahari mulai terbenam, memberikan warna oranye dan merah muda pada langit Jakarta yang penuh polusi.
“Mama,” bisik dia sambil melihat foto ibunya. “Aku bertemu dengan seseorang yang membuatku meragukan prinsip yang aku pegang teguh. Apakah aku benar-benar harus menjaga jarak untuk mencapai tujuan kita? Ataukah terkadang kita perlu membuka hati untuk menemukan jawaban yang kita cari?”
Tidak ada suara yang menjawabnya, namun Rizky merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Dia menyimpan sketsa bunga di dalam lemari beserta foto ibunya, lalu memutuskan untuk datang lebih awal ke rumah sakit besok hari, dia ingin mengetahui lebih banyak tentang Sofia, tentang bagaimana dia bisa tetap memiliki semangat hidup meskipun menghadapi penyakit yang mengancam nyawa.
Di ruang 3A rumah sakit, Sofia sedang menggambar lagi. Dia menggambar wajah seorang pria dengan tatapan yang serius namun mata yang penuh perhatian, dia menggambar Rizky. “Semoga besok hari kita bisa mulai mengenal satu sama lain dengan lebih baik, dok,” ujarnya sambil melihat gambar yang sudah jadi.
Malam itu, ditempat yang berbeda, keduanya dengan pemikiran yang sama, tentang bagaimana pertemuan mereka mungkin menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka dan banyak orang lain.