Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bangkitnya Sang Pewaris Tunggal

Bangkitnya Sang Pewaris Tunggal

F azzam | Bersambung
Jumlah kata
89.9K
Popular
513
Subscribe
148
Novel / Bangkitnya Sang Pewaris Tunggal
Bangkitnya Sang Pewaris Tunggal

Bangkitnya Sang Pewaris Tunggal

F azzam| Bersambung
Jumlah Kata
89.9K
Popular
513
Subscribe
148
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalBela DiriNagaKonglomerat
Selama dua dekade, Andreas hidup di kasta terendah masyarakat. Sebagai anak angkat seorang tukang sapu kampus, ia adalah "sansak hidup" bagi para mahasiswa kaya. Namun, takdirnya berubah saat darahnya membasahi kalung kuno peninggalan orang tua kandungnya di sebuah gang gelap.Kalung itu bukan sekadar perhiasan, melainkan kunci Protokol Warisan Salim. Andreas ternyata adalah putra tunggal Jhony Salim, penguasa bisnis tambang dan legenda dunia beladiri yang menghilang. Kini, Andreas dibekali energi Naga Perang yang membuat fisiknya melampaui batas manusia dan akses ke dana warisan sebesar 2 Triliun Rupiah.Namun, uang itu tidak diberikan cuma-cuma. Andreas harus membuktikan dirinya layak melalui misi-misi berbahaya. Setiap kali ia menjatuhkan musuh atau menghancurkan ketidakadilan, dana warisan akan cair ke rekeningnya. Dari mahasiswa miskin yang dihina, Andreas bangkit menjadi sosok yang akan membeli harga diri orang-orang yang pernah menginjaknya.
Kebangkitan Yang Tak Terhingga

Angin pagi berhembus lembut menyusuri jalan setapak di sebuah kampus di pinggiran kota Jakarta. Suara tawa dan canda mahasiswa mengisi udara, namun Andreas berjalan perlahan di antara kerumunan itu dengan langkah tertatih-tatih. Wajahnya murung, mata redup menatap tanah, mencoba menghindar dari sorotan yang selalu menyakitkan.

Di sekelilingnya, suara-suara nyaring terdengar, penuh ejekan dan hinaan. Seorang teman sekelas, dengan wajah penuh sindiran, mendekat sambil menyeringai.

"Heh, Andreas! Masih pakai sepatu itu? Kayaknya sepatu itu udah pernah sobek berapa kali? Jangan-jangan kamu nggak mampu beli yang baru?" suara temannya meledek dengan nada kasar, diiringi tawa keras dari yang lain.

Lalu, suara lain bergabung, menertawakan baju yang dikenakan Andreas. "Baju ini kayaknya udah lusuh banget, deh. Kalau mau tampil keren, harusnya kamu pakai yang baru, nggak kayak orang miskin kayak gini."

Andreas menunduk, wajahnya memerah akibat malu dan sakit hati. Ia tahu, semua orang di sini. Teman, dosen, bahkan Rektor, menganggapnya sebagai sosok yang tidak layak dan hina. Tapi di balik semua ejekan itu, ada luka yang jauh lebih dalam dari sekadar fisik.

Seorang dosen yang terkenal keras dan tidak simpatik melangkah mendekat, matanya menatap tajam. "Andreas, baju itu terlalu usang untuk anak muda sepertimu. Jangan sok-sokan ingin dianggap beda dari yang lain. Jangan bikin malu kampus ini. Orang tuamu tukang bersih bersih di sini. Masa kamu dekil seperti itu," katanya dengan suara keras, penuh nada merendahkan.

Seorang mahasiswi yang biasanya diam saja menatapnya dengan tatapan jijik. "Andreas, baju dan sepatu seperti itu cuma bikin kamu makin kelihatan seperti anak jalanan. Apa kamu nggak pernah punya uang buat beli yang lebih bagus?" katanya dengan suara penuh ejekan.

Semua kata itu adalah cambuk yang menyakitinya lebih dalam lagi. Andreas menatap ke bawah, menghindari tatapan semua orang. Ia merasa seperti beban yang tak berharga, seperti sampah yang tak pernah diinginkan. Ia ingin menghilang dari dunia ini, menghapus semua luka yang menganga di dadanya.

Tak jauh dari sana, sekelompok siswa dengan wajah congkak dan senyum sinis berkumpul di dekat warung kecil. Mereka adalah anak-anak dari keluarga kaya, turunan pejabat, yang merasa berkuasa karena kekayaan dan pangkat orang tua mereka. Mereka iri kepada Andreas karena Lina, anak Jenderal Polisi, yang seringkali memperhatikan Andreas dengan rasa simpati. Namun perhatian itu malah membuat mereka merasa terancam.

"Hei, lihat itu, si pengemis jalanan. Masih aja nyari perhatian dari anak pejabat," salah satu dari mereka mengejek sambil menunjuk ke arah Andreas yang berjalan dengan tertunduk. Tawa mereka menyebar, keras dan menyakitkan. Andreas berusaha mengabaikan, tapi rasa malu dan marah itu membuat hatinya mendidih.

Dalam sekejap, salah satu dari mereka melangkah maju, mengarahkan pukulan ke tubuh Andreas. Sebuah tendangan keras mengarah ke lutut Andreas, membuatnya tersungkur dan jatuh terkapar di tanah berdebu. Sekelompok lainnya ikut menyerang, memukul dan menendangnya tanpa ampun.

Pada saat itu, ada sesuatu yang tak terduga terjadi. Tetesan darah dari luka di wajah Andreas jatuh tepat mengenai sebuah kalung yang dibungkus. Kalung itu adalah hadiah dari ibu, sebuah liontin kecil berwarna hitam pekat yang dipasang di atas rantai perak tipis. Tetesan darah itu menempel di batu hitam yang menjadi bagian dari liontin itu, seolah menyatu dalam sebuah momen yang penuh simbol.

Dalam keadaan setengah sadar, Andreas merasakan rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhnya.

Saat tetesan darah dari luka di wajah Andreas jatuh dan menetes di atas batu hitam di kalungnya, sesuatu di dalam diri Andreas seolah tersentak. Ada rasa dingin yang menyusup ke dalam hati, dan sebuah janji yang terpatri dalam diri kecilnya: ia harus bangkit, meski dunia seolah menolaknya.

Tiba-tiba, kalung itu bergetar hebat dan mengeluarkan cahaya merah darah yang masuk ke dadanya. Suara mekanis bergema di otaknya: "Garis Keturunan Naga Perang Terdeteksi... Protokol Warisan Salim: AKTIF!"

Andreas membuka matanya, dan melihat dunia di sekitarnya berubah. Segalanya menjadi lebih tajam, lebih nyata. Ia merasa kekuatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya mengalir dalam tubuhnya.

Andreas merasa tubuhnya dipenuhi dengan kekuatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia bangkit dari tanah, mata merahnya menatap kelompok siswa yang masih berdiri di depannya dengan wajah penuh ketakutan.

Suara mekanis masih bergema di otaknya: "Protokol Warisan Salim: AKTIF. Kekuatan Naga Perang dilepaskan."

Kelompok siswa itu, yang sebelumnya begitu berani, sekarang mundur selangkah dengan wajah penuh keraguan.

Pijakan kaki mereka bergetar mengisyaratkan ketakutan. Andreas tidak mengejar mereka. Ia hanya berdiri di sana, merasakan kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya.

Andreas menarik napas dalam-dalam, dan suara mekanis bergema lagi di otaknya.

Detik itu, sebuah anomali terjadi. Darah itu tidak mengalir jatuh ke tanah, melainkan terserap habis ke dalam pori-pori batu hitam tersebut seolah-olah benda mati itu sedang kehausan.

Tiba-tiba, rasa sakit yang seharusnya melumpuhkan seluruh saraf Andreas, tulang rusuk yang terasa remuk, paru-paru yang sesak, dan kepala yang berdenyut hebat, sirna seketika.

Sensasi itu digantikan oleh sebuah gelombang panas yang tidak alami. Panas itu bukan berasal dari luar, melainkan memancar dari pusat dadanya, menjalar melalui tulang, lalu meledak ke seluruh jaringan pembuluh darahnya.

“Garis Keturunan Naga Perang Terdeteksi... Integrasi Biometrik 100%...”

Suara itu bukan berasal dari telinganya. Suara itu bergema langsung di pusat kesadarannya, di dalam ruang gelap di balik matanya yang terpejam.

“Protokol Warisan Salim: AKTIF!”

BUM!

Energi murni yang terasa seperti aliran lava cair menyapu habis setiap inci kelemahan dalam tubuhnya.

"Hah... Hah... Hah..." Andreas menarik napas panjang.

Matanya yang tadi bengkak dan sulit dibuka, kini terbelalak lebar. Pupil matanya bergetar sesaat sebelum memancarkan kilatan warna emas redup di tengah kegelapan.

"Woy, sampah! Masih bisa napas lo?"

Suara Jaka memecah keheningan. Pemimpin kelompok geng itu melangkah maju dengan langkah pongah yang dibuat-buat. Di tangannya, sebuah pipa besi berlumuran debu berkilat tertimpa cahaya lampu.

Di belakangnya, tiga orang anak buahnya, pria-pria kasar dengan bau alkohol dan keringat, tertawa mengejek. Bagi mereka, memukuli Andreas hanyalah tugas rutin untuk menyenangkan pemberi modal mereka, sang mahasiswa kaya bernama Rendy.

"Tadi itu belum cukup ya? Kayanya tulang rusuk lo harus gue patahin satu lagi biar lo tahu diri jangan deket-deket sama Nona Lina," ujar Jaka sambil mengayunkan pipa besinya ke telapak tangannya sendiri.

Plak! Plak! Suara itu bergema di dinding-dinding, menciptakan suasana yang mengintimidasi.

Namun, Andreas tidak gentar. Perlahan, ia mulai bangkit. Gerakannya tidak lagi lunglai atau gemetar. Ia berdiri dengan tumpuan kaki yang sangat kokoh, seolah-olah ada akar tak kasat mata yang menancap dari telapak kakinya langsung ke inti bumi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca