

"Bukan, bodoh! Tapi ya mirip seperti itu." Kakek Wiryo mencoba memukul pelan dahi Arjuna, namun tangannya terlalu lemah. "Ini karena Sasmita Sukma. Sebuah ajian pemikat yang turun-temurun mengalir dalam darah keluarga kita. Dan sekarang, tiba saatnya kau memikul beban—maksudku, anugerah ini."
________________________
Bau tanah basah setelah hujan sore itu menyeruak masuk melalui jendela kayu yang sudah lapuk di sebuah rumah panggung di pinggiran Desa Sukamaju. Di dalam kamar yang remang-remang, hanya diterangi oleh sebatang lilin yang apinya bergoyang ditiup angn, suasana terasa sangat mencekam.
Di atas tempat tidur jati tua, seorang lelaki senja berbaring lemah. Dialah Kakek Wiryo, sosok yang dihormati di desa itu sebagai sesepuh yang memiliki kharisma luar biasa meski usianya sudah hampir menyentuh satu abad.
Di sampingnya, Arjuna duduk bersimpuh. Pemuda berusia delapan belas tahun itu menggenggam tangan kakeknya yang kasar dan dingin. Arjuna adalah satu-satunya cucu yang tersisa, dan hari ini, dia tahu bahwa waktu sang kakek sudah tidak lama lagi.
"Arjunaa… kemari, mendekatlah, Cuk," suara Kakek Wiryo terdengar parau, hampir seperti gesekan amplas di atas kayu.
Arjuna mendekatkan telinganya ke bibir sang kakek. "Iya, Kek. Arjuna di sini. Kakek jangan banyak bicara dulu, istirahatlah."
Kakek Wiryo terkekeh pelan, sebuah tawa yang segera diikuti oleh batuk kecil. "Istirahat? Aku akan istirahat selamanya sebentar lagi. Tapi sebelum itu… aku tidak ingin warisan terbesar keluarga kita hilang ditelan bumi. Kau tahu kenapa kakekmu ini, meski sudah keriput begini, masih sering dikirimi makanan oleh janda-janda di desa sebelah?"
Arjuna mengerutkan kening. Memang benar, meski Kakek Wiryo sudah sangat tua, daya tariknya di mata wanita-wanita tertentu di desa itu tidak masuk akal. "Karena Kakek pake pelet?"
"Bukan, bodoh! Tapi ya mirip seperti itu." Kakek Wiryo mencoba memukul pelan dahi Arjuna, namun tangannya terlalu lemah. "Ini karena Sasmita Sukma. Sebuah ajian pemikat yang turun-temurun mengalir dalam darah keluarga kita. Dan sekarang, tiba saatnya kau memikul beban—maksudku, anugerah ini."
Kakek Wiryo tiba-tiba mendapatkan kekuatan entah dari mana. Ia bangkit sedikit dari baringnya, matanya yang semula redup mendadak bersinar dengan cahaya keemasan yang redup. Dengan gerakan yang sangat cepat untuk orang yang sedang sekarat, ia menempelkan ibu jarinya tepat di titik antara kedua alis Arjuna.
"Dengan ini, aku turunkan seluruh inti dari Sasmita Sukma kepadamu. Mulai detik ini, setiap helai rambutmu, setiap tatapan matamu, dan setiap aroma tubuhmu adalah racun bagi hati para wanita. Tidak akan ada satu pun wanita yang sanggup menolakmu, Arjuna. Kau akan menjadi raja di mana pun kau berpijak!"
Arjuna merasakan sensasi panas yang menjalar dari dahinya, merambat ke seluruh saraf di wajahnya, lalu turun ke dadanya. Rasanya seperti tersiram air hangat di tengah malam yang dingin. Wajahnya terasa sedikit berdenyut, seolah-olah otot-otot di balik kulitnya sedang menata ulang diri mereka menjadi bentuk yang lebih sempurna.
"Kek? Ini… rasanya aneh," gumam Arjuna sambil meraba wajahnya sendiri.
Kakek Wiryo tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang sudah tidak lengkap. "Itu tanda ajiannya meresap. Ingat satu hal, Arjuna… Ajian ini bekerja berdasarkan… berdasarkan…"
Suara Kakek Wiryo mendadak mengecil. Matanya mulai berputar ke atas.
"Berdasarkan apa, Kek? Berdasarkan niat? Atau berdasarkan ritual? Kek.. Kek..." tanya Arjuna panik sambil mengguncang bahu kakeknya.
"Berdasarkan… frekuensi yang… matang… Jangan salah sasaran… atau kau akan… Uhukk!" Kakek Wiryo terbatuk keras untuk terakhir kalinya.
"Kek! Bangun dulu! Matang maksudnya bagaimana? Apakah aku harus makan makanan matang dulu baru ilmunya bekerja? Kek!"
Namun, tubuh Kakek Wiryo sudah melemas sepenuhnya. Ia menghembuskan napas terakhirnya dengan senyum puas yang menghiasi bibirnya. Sang kakek pergi meninggalkan dunia ini, sekaligus meninggalkan Arjuna dengan sebuah kekuatan supranatural tanpa buku petunjuk penggunaan.
Satu bulan kemudian.
Stasiun Gambir, Jakarta, tampak riuh seperti biasanya. Arjuna keluar dari gerbong kereta kelas ekonomi dengan sebuah tas ransel besar dan sebuah kardus berisi oleh-oleh dari desa. Rambutnya yang sedikit acak-acakan karena perjalanan jauh justru memberikan kesan maskulin yang tak terduga.
Ia berhenti sejenak di depan sebuah cermin besar yang ada di lorong stasiun. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Sebenarnya, Arjuna sudah tampan sejak awal, tapi setelah menerima Sasmita Sukma, ada sesuatu yang berbeda. Ada semacam aura halus yang seolah-olah membuat cahayanya sedikit lebih terang dibandingkan orang-orang di sekitarnya. Matanya tampak lebih dalam, dan garis rahangnya terlihat lebih tegas.
"Tidak ada wanita yang bisa menolakku mwehehe," gumam Arjuna, mengulangi kata-kata terakhir kakeknya dengan penuh keyakinan. "Jadi, ini artinya aku tidak perlu jomblo lagi selama empat tahun kuliah nanti?"
Arjuna membayangkan kehidupan kuliahnya di sebuah universitas ternama di Jakarta. Ia membayangkan dirinya berjalan di koridor kampus, sementara para mahasiswi cantik berbaju modis akan menoleh padanya, meminta nomor teleponnya, atau bahkan berebut ingin menjadikannya pacar. Ia membayangkan dirinya menjadi pusat perhatian di setiap pesta kampus.
"Maaf, Dek? Bisa minta tolong?"
Suara seorang wanita membuyarkan lamunan Arjuna. Ia menoleh dengan senyum maut yang sudah ia siapkan. Ia berharap melihat seorang gadis muda cantik yang sedang kesulitan membawa koper.
Namun, yang berdiri di depannya adalah seorang ibu-ibu berusia sekitar 45 tahun yang memakai perhiasan emas mencolok di tangan dan lehernya. Ibu itu menatap Arjuna dengan mata yang sedikit melebar, mulutnya agak terbuka, dan wajahnya mendadak memerah.
"I-iya, Bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arjuna dengan suara bass yang terdengar sangat merdu karena pengaruh ajiannya.
Ibu tersebut seolah-olah terhipnotis. Ia memegang dadanya, bernapas sedikit pendek. "Aduh… Ganteng sekali kamu, Nak. Ini… Ibu keberatan membawa tas belanjaan ini ke parkiran. Bisa bantu Ibu? Nanti Ibu beri uang jajan," ucapnya sambil mengedipkan mata berkali-kali ke arah Arjuna.
Arjuna merasa sedikit aneh dengan tatapan ibu itu—rasanya seperti singa yang melihat sepotong daging segar—tapi dia mencoba berpikir positif. Mungkin ini hanya keramah-tamahan orang kota, pikirnya.
"Tentu, Bu. Biar saya bantu," jawab Arjuna ramah.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, ibu tersebut terus-menerus mencoba menyentuh lengan Arjuna dengan alasan "takut tersesat". Ia juga menanyakan apakah Arjuna sudah punya "penyantun" di Jakarta atau belum. Arjuna hanya membalas dengan tawa canggung, merasa kalau "pesonanya" mungkin memang sangat kuat sampai-sampai ibu ini merasa sangat nyaman dengannya.
Setelah membantu ibu tersebut, Arjuna berdiri di depan gerbang stasiun, menghirup udara Jakarta yang penuh polusi namun terasa seperti aroma kemenangan baginya. Ia tidak tahu bahwa bantuan tadi hanyalah awal dari serangkaian kejadian yang akan menjungkirbalikkan logika masa mudanya.
"Jakarta, bersiaplah. King of Campus sudah datang!" seru Arjuna dalam hati dengan penuh semangat.
Dengan modal wajah warisan kakek dan kepercayaan diri yang meluap, Arjuna melangkah menuju taksi. Ia merasa dunia ada di genggamannya. Ia tidak sadar bahwa kata "matang" yang diucapkan kakeknya merujuk pada "usia", bukan "niat". Dan ia juga tidak sadar bahwa di Jakarta, para wanita dewasa memiliki cara yang jauh lebih agresif untuk menunjukkan ketertarikan mereka dibandingkan janda-janda di desanya.
Petualangan Arjuna sebagai magnet tante baru saja dimulai.
….