

Doni tersenyum saat menerima gajinya, bukan karena ia akan bisa makan enak, atau mungkin bisa membeli barang yang ia impikan, melainkan karena ia bisa menyetorkan uangnya pada Wati, kekasihnya.
Doni mendekap uang itu di dadanya, membayangkan wajah Wati yang akan tersenyum lebar padanya. Kemarin kekasihnya itu merajuk karena Doni tidak bisa memberinya jam tangan impiannya.
Dengan gajinya sekarang, ya tetap saja tidak bisa membeli jam tersebut. Berapalah gaji seorang OB. Tapi setidaknya, Wati tetap akan senang, dalam bayangannya.
Doni sebatang kara, ayah dan ibunya sudah lama meninggal. Selama berpuluh tahun, yang ia tahu keluarganya hanya Wati dan keluarganya. Untuk itulah dia rela mati-matian pada keluarga tersebut.
Doni tidak keberatan menanggung beban keluarga Wati dengan gajinya yang tidak seberapa. Selain jadi OB, Doni memiliki pekerjaan sampingan, jadi juru parkir atau pekerjaan apa pun, yang penting menghasilkan uang.
Doni tidak terlalu pandai bicara, ia hanya seorang tamatan SD, saat SMP, orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan yang membuatnya sering mendapat perlakuan tidak adil di sekolah.
Yah, dia korban bullying, saat itu hanya Wati yang mau membelanya. Dari situlah dia menganggap Wati sebagai penyelamatnya. Baginya, Wati adalah ratu. Ucapan Wati adalah titah baginya.
Bahkan saat orang mengatakannya dungu karena membeberkan fakta bahwa Wati dan keluarganya hanya memanfaatkan kepolosannya, dia tidak peduli.
"Don, kamu itu hanya dianggap mereka sebagai sapi perah yang bodoh. Mereka hanya membutuhkan uangmu."
"Tidak masalah Wati memanfaatkanku, selama itu membuatnya senang," begitulah katanya waktu itu.
Apakah ia akan mengatakan hal yang sama jika ternyata Wati ternyata bukan hanya memanfaatkannya tapi juga mengkhianatinya.
Di hadapannya, tidak sampai tiga meter, dia melihat Wati bercumbu mesra dengan seorang pria yang tidak ia kenal. Baju Wati bahkan sudah berantakan, mempertontonkan bahunya yang mulus.
Sebuah erangan nakal keluar dari mulut Wati, membuat dada Doni bergemuruh. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Kakinya seakan terpaku di tempat. Dia marah, tapi tidak tahu cara melampiaskannya.
"Ugh..." Wati mendesah lagi. "Hadi... Ahh..."
"Katakan, siapa yang lebih hebat, aku atau si Doni yang dungu itu."
Doni tertegun. Pria yang mencumbu kekasihnya itu adalah Hadi, temannya.
What the fuck!
Suara tawa renyah Wati terdengar. "Hadi, kau bercanda? Kau membandingkan dirimu dengan pria idiot itu? Aku bahkan jijik jika dia berada di dekatku. Kau tahu apa yang tercium dari tubuhnya? Bau keringat!"
"Bukankah kau kekasihnya?" Hadi berpindah ke leher jenjang Wati.
"Aduh... Jangan ngomong gitu. Aku bisa pingsan, euy! Jika bukan karena dia menyetor tiap bulan padaku, aku juga ogah meladeninya. Doni itu pria gila yang mempunyai penyakit mental. Apa kau tidak melihat cara di bicara, gugup dan terbata-bata."
"Jadi kau hanya memanfaatkannya, Sayang?"
"Tentu saja."
"Tidak pernah menyentuhmu?"
"Aku bahkan ragu dia punya hasrat."
Mereka tertawa, merasa bahwa mengolok-olok Doni adalah lelucon paling menyenangkan.
"Sudahlah, hentikan membahas si tolol itu. Aku muak padanya. Dia bahkan cuma tamatan SD dan sebatang kara. Pria sepertinya, miskin dan bodoh hanya pantas dipermainkan "
Doni mengepalkan tangannya, hingga amplop coklat berisi uang gajinya tidak berbentuk lagi. Bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Wati, dia tidak tahu jika ternyata dia hanya dipermainkan saja. Apa yang dikatakan orang-orang ternyata benar. Dia hanya sapi perah.
Doni merasakan matanya perih. Ya, dia menangis. Salah? Tidak, dia memang terlahir terlalu lembut.
Brak!
Tangan Doni tanpa disadari memukul kencang pintu yang setengah terbuka itu. Kedua manusia biadab itu menoleh, refleks menghentikan kegiatan mereka.
Reaksi pertama mereka, kaget. Tapi itu hanya sepersekian detik. Karena selanjutnya, baik Wati atau pun Hadi hanya menatapnya dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara.
"Duh, ngapain sih? Bikin kaget aja," Wati bahkan tidak repot-repot memperbaiki pakaiannya yang kacau.
"Kenapa kamu tega melakukan hal ini? Apa arti semua pengorbananku selama ini?” Doni menatap dengan kekecewaan yang mendalam.
“Pengorbanan apa?" Wati mencibir. "Uangmu itu juga tidak cukup untuk membuatku hidup mewah. Jadi sekarang karena kamu juga sudah melihatnya, sekalian saja kamu tahu bahwa aku akan menikah dengan Hadi beberapa bulan lagi,” Wati bahkan tidak menunjukkan empatinya sama sekali.
Hadi tersenyum penuh kemenangan. “Kau sudah dengar kan, Don. Sekarang, apa lagi yang kau tunggu? Sudah sana sekarang tahu diri lah dan pergi dari sini. Kami mau melanjutkan aktifitas menggairahkan kami lagi,” kali ini Hadi yang mengucapkan hal itu sambil mencolek wajah Wati dan mengedipkan sebelah matanya.
Pemandangan itu nampak begitu menjijikan di mata Doni.
Rahang Doni mengeras, tapi apa yang bisa dia lakukan di sini? Mengemis? Tidak akan.
“Baiklah, ingat ini suatu saat kalian akan menerima balasannya dan berbalik memohon kepadaku!” Doni menatap mereka satu per satu dengan amarah yang memuncak, bahkan tubuhnya masih gemetar saking marahnya.
Namun, keduanya justru tertawa mencemooh. Doni kemudian pergi dari sana dengan langkah yang cepat.
Tiiinnnn
Klakson panjang membuatnya tersentak. Dia menoleh melihat sebuah mobil melaju kencang sementara seorang kakek tua sedang menyeberang.
Doni refleks berlari dan menarik si bapak tua itu, membuat mereka berguling-guling.
Ciiittt....
Bunyi ban berdecit keras saat rem diinjak paksa.
"Kakek baik-baik saja?" Doni mengabaikan kaki dan tangannya yang sakit, belum lagi pelipisnya yang berdarah.
Kakek tua itu hanya tertawa bodoh. Tidak mengatakan apa pun. Doni berdiri susah payah lalu membantu si Kakek tua ikut berdiri, menuntunnya ke pinggir.
"Kek..." Doni menatap si Bapak lagi. Penampilan pria itu compang camping dan terus menatap Doni sambil tertawa dan mengangguk-angguk.
"Apa Kakek ini gila?" Pikir Doni.
"Tapi gila atau bukan, tetap saja dia manusia yang layak diselamatkan," dia membatin lagi.
"Mana yang sakit, Kek?" Doni memeriksa semua tubuh si kakek.
Si kakek masih mengangguk-angguk.
"Tulikah atau bisu?" Doni masih bertanya-tanya.
"Tidak," sahut si kakek tua itu, membuat Doni kaget bukan main. “Aku bukan orang gila, tidak tuli juga,” Kakek itu kemudian menepuk-nepuk pundak Doni.
"Maaf, Kek." Doni malu sampai telinganya merah. "Eh... Bagaimana bisa Kakek tahu?" Kini Doni merinding takut. Bukankah tadi ia bergumam dalam hatinya.
Alih-alih menjawab, si kakek tua itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah batu.
Dia menarik tangan Doni. "Kau orangnya," kata kakek itu.
"Apa ini?"
Kakek itu tertawa lagi. "Kejayaan."
Kening Doni mengernyit, semakin yakin jika bapak kumuh itu orang dalam gangguan jiwa.
"Hari keberuntunganmu, dimulai detik ini," ucap si kakek dengan tatapan tajam. Seketika udara di sekitar mendadak dingin.
"Hah?" Doni masih menatap batu itu dengan heran. Ia tersentak saat ia merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhnya. Batu itu berdenyut!
Namun saat ia hendak bertanya lagi, seketika kakek tua itu sudah menghilang begitu saja dari hadapannya.