

Senin, 5 Januari 2026, pukul 10.00 WIB.
Hari pertama semua orang kembali beraktivitas setelah libur Tahun Baru, bukan akhir pekan, bukan hari istimewa, hanya hari kerja biasa yang terasa lebih berat dari biasanya.
Kamar nomor 22 di sebuah rumah kos bergaya lorong yang sudah tua dan kumuh, terletak di salah satu gang sempit Jakarta Timur.
Seorang pria duduk sendirian di ruangan yang gelap, pengap, dan lembap.
Joko, pria lajang berusia 33 tahun. Tidak punya keluarga dekat, tidak punya kekasih, tidak punya sahabat sejati. Di ponselnya, hanya ada satu kontak rekan kerja, itu pun seseorang yang sebisa mungkin ingin ia hindari.
Ia tidak keluar kamar sepanjang hari. Tiga kali makan, tiga kali pula mi instan. Ponselnya tergeletak di sudut kamar, tak tersentuh, seolah benda tak berguna. Seluruh perhatiannya tertuju pada layar TV di depannya.
Joko adalah tipe manusia rumahan sejati. Selama libur Tahun Baru, ia benar-benar mengurung diri, bahkan rela mengurangi jam tidur demi menuntaskan gim yang sudah ia tunda berbulan-bulan.
“Haa… ini enak banget…”
Joko menghela napas puas sambil dengan tenang memenggal kepala zombie di layar TV menggunakan katana virtual.
Saat membunuh zombie tanpa berpikir, tanpa ragu, tanpa beban, rasanya seolah semua masalah hidupnya ikut lenyap.
Ia tidak suka keluar rumah, apalagi nongkrong atau minum-minum. Satu-satunya hobi yang benar-benar ia nikmati hanyalah bermain gim konsol sendirian di kamar kos.
Apalagi sekarang—ia sedang libur, dan akhirnya bisa memainkan gim aksi bertahan hidup parkour zombie terbaru yang tertunda selama dua bulan.
“Gila… seru banget. Astaga, gue nggak mau masuk kerja.”
Namun, seperti biasa, waktu bahagia selalu berlalu terlalu cepat. Kesadaran itu membuat Joko sedikit gelisah. Ia ingin menamatkan gim ini sebelum libur benar-benar berakhir tiga hari lagi.
Semakin lama gim ini dimainkan, semakin terasa bahwa kenikmatan sejatinya ada di puncak—di akhir cerita.
“Hhh… biarin aja semua kacau… jangan kerja… jangan kerja…”
Gumaman itu keluar setengah bercanda, setengah mengeluh.
Entah kebetulan atau tidak, seolah Tuhan benar-benar mendengarnya.
Atau mungkin, keluhan jutaan manusia yang enggan kembali ke rutinitas telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur.
Saat Joko menghela napas panjang, seluruh umat manusia mendengar satu suara yang sama.
[Terima kasih telah menikmati ‘Astra Terra’ sejauh ini.]
[Berkat dukungan Anda, DLC ‘Endless Nocturne’ kini telah dibuka.]
[Kami harap Anda terus menikmati pengalaman ini.]
Suara sistem yang sangat tidak wajar.
Suara tanpa emosi, tanpa intonasi—seperti bukan berasal dari dunia manusia.
Namun sayangnya, Joko yang masih mengenakan headset hanya mengernyit.
“Sial… apaan tuh? Suara game?”
Bagi Joko, suara itu terdengar seperti AI di dalam gim. Ditambah lagi, raungan zombie dari speaker TV menenggelamkan segalanya. Bahkan sebelum ia sempat memikirkan apa yang barusan ia dengar, perhatiannya sudah teralihkan.
Karena satu zombie mengayunkan lengannya tepat ke arahnya.
Dengan libur yang tinggal dua hari lagi, Joko benar-benar membenamkan diri. Ia harus menamatkannya sekarang—entah kapan lagi ia bisa fokus seperti ini setelah kembali bekerja.
Tiga hari berlalu begitu saja.
Di luar kamar kos, suasana sudah terasa bising sejak pagi. Tapi Joko mengabaikannya. Ia mengira itu hanya keributan biasa, pemabuk, tukang ribut, atau orang-orang stres yang tinggal di sekitar kos murah ini.
“Haa… akhirnya…”
Jantung Joko berdebar penuh antusias. Kredit penutup hampir muncul.
Ia mengusap matanya yang perih. Mata dan kepalanya terasa berat akibat bermain terlalu lama. Telinganya pun terasa sedikit tersumbat setelah berjam-jam memakai headset.
“Ah… nguap… aku cuci muka dulu kali, ya…”
Ia menghentikan permainan tepat sebelum adegan akhir dan melepas headset.
Saat itulah, ia mendengar suara yang sangat familiar.
DOR! DOR! DOR!
Suara seseorang menggedor pintu dengan tinju.
“Bu kos… anak aneh di lantai dua itu. Biasanya berisik, sekarang malah makin aneh. Tiap mabuk selalu ke sini!”
Tetangga pemabuk dari lantai atas.
Pria paruh baya itu sering mabuk berat, salah turun lantai, lalu menggedor pintu kamar Joko seolah itu kamarnya sendiri. Tidak sering, tapi cukup rutin, dua atau tiga kali sebulan.
Rumah kos ini memang dihuni oleh berbagai macam orang aneh, dan pria di lantai atas itu adalah salah satu yang paling merepotkan.
BRAK! BRAK! BRAK!
Namun hari ini, gedorannya berbeda—lebih keras, lebih brutal.
Biasanya setelah beberapa kali, dia pergi. Tapi kali ini tidak.
DOR! DOR! DOR!
‘Gila beneran, ya…’
Tinggal sedikit lagi.
Tiga zombie terakhir.
Joko ingin menyelesaikan gim ini dengan tenang. Ia ingin menikmati kepuasan itu sendirian. Namun gangguan dari tetangga lantai atas, Toro, begitu ia biasa dipanggil membuat konsentrasinya buyar.
“Anjing… ngeselin banget.”
Akhirnya, Joko bangkit dan membuka pintu dengan kasar.
Ia sudah siap memaki, siap mengusir, siap berteriak.
“Pak, ini bukan kamar Bapak—”
Kalimatnya terhenti.
Joko terpaku.
Pria yang berdiri di depan pintu… berlumuran darah.
Matanya tertutup lapisan putih asing, seperti katarak yang membusuk. Darah mengalir di wajah dan tubuhnya tanpa diketahui asalnya.
Gigi kuning terlihat jelas di balik pipi yang robek, dengan luka panjang menganga di dahinya.
Pemandangan itu…
Persis seperti zombie yang ia bunuh di layar TV beberapa menit lalu.
“…halusinasi…?”
“EEEEEEEE!!!”
Pria lantai atas itu, yang kini bukan lagi manusia menerjang ke dalam kamar sambil membuka mulut lebar-lebar.
“IH! APA-APAN INI?!”
Zombie itu mengincar satu hal.
Menggigit. Mencicipi. Menjadikannya sejenis.
“WOOOOOOO!!!”
Zombie itu mendorong Joko hingga terjatuh. Tubuhnya menghantam lantai keramik kos dengan keras, napasnya sempat terhenti sesaat.
Seorang zombie paruh baya langsung menaiki tubuhnya, tangan busuknya mencengkeram bahu Joko dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
Namun Joko bukan tipe orang yang akan panik dan berteriak setiap kali berada dalam situasi buruk.
Bertahun-tahun bekerja di usaha kecil yang penuh tekanan telah membentuk mentalnya. Ia terbiasa menerima kenyataan apa adanya, bahkan saat keadaan benar-benar kacau.
“Kwaaaaa!!!”
Gigi zombie itu nyaris menyentuh lehernya.
Namun, dengan kepala dingin, Joko melakukan apa yang akan dilakukan karakter di dalam gim.
Tak perlu rumit.
Ia memutar tubuhnya sekuat tenaga dan menghantamkan siku ke rahang zombie itu.
Kriuk! Kriuk!
Suara tulang berderak terdengar jelas. Zombie itu terpental ke samping, rahangnya patah dengan sudut yang tidak wajar.
“Bajingan… bahkan setelah mati masih bikin ribut di depan kamar orang!”
Joko bangkit, lalu menendang leher zombie paruh baya—tetangga lantai atas—tanpa ragu.
Zombie itu menggeliat, tubuhnya kejang-kejang saat Joko menendangnya tiga, empat kali, lalu menginjak lehernya tanpa ampun.
“Dasar sialan! Dari dulu gue pengin mukul lo—sekarang malah nyerang!”
Ia segera mengunci pintu depan dengan cepat.
Jika lebih banyak zombie masuk sementara dirinya tidak bersenjata, tamat sudah.
Setelah memastikan pintu terkunci rapat, Joko berlari ke dapur dan meraih wajan penggorengan yang masih bersih. Tanpa ragu, ia menghantamkan wajan itu ke kepala zombie yang tergeletak di lantai.
Bang! Bang! Bang!
“Ugh…”
Zombie itu sudah tidak bisa berdiri. Tulang lehernya hancur akibat tendangan sebelumnya. Ia hanya bisa menggeliat tanpa perlawanan saat Joko menghantamkan wajan bertubi-tubi.
Sementara itu, dari balik pintu, terdengar suara ratapan aneh. Beberapa zombie berkumpul di luar, menggedor dan mencakar pintu kos.