

Hujan malam itu bukan sekadar turun—ia mengamuk. Air membentur aspal seperti ribuan peluru kecil, menciptakan kabut tipis yang membuat lampu jalanan di pinggiran Jakarta Utara tampak seperti mata-mata kuning yang berkedip lemah. Satria berdiri di bawah atap seng bocor sebuah warung kopi yang sudah lama mati lampu. Jaket kulit hitamnya meneteskan air, tapi ia tak bergerak. Hanya asap rokok kretek yang naik perlahan dari mulutnya, berputar sejenak di udara dingin, lalu lenyap ditelan kegelapan.
Matanya—hitam pekat, tanpa kilau—terpaku ke gang sempit di seberang. Di sana, di antara tumpukan kardus basah dan drum minyak berkarat, tiga sosok berpakaian hitam sedang berbisik. Baju mereka terlalu rapi, sepatu boots terlalu mengkilap untuk kawasan kumuh seperti ini. Satria tahu persis tipe orang ini: bukan preman kampung yang haus duit receh, melainkan antek bayaran yang dibayar untuk pekerjaan yang tak boleh meninggalkan nama, hanya mayat.
Salah satu dari mereka memegang amplop tebal. Yang lain memeriksa pistol di pinggang dengan gerakan terlatih, jari-jarinya menyentuh gagang senjata seperti menyentuh kekasih lama. Yang ketiga—yang paling diam—hanya menatap jam tangan digitalnya yang menyala hijau samar. Mereka menunggu.
Satria tahu siapa yang ditunggu. Pak Hadi, pemilik toko spare part kecil di pasar malam. Orang baik yang salah langkah: meminjam dari rentenir untuk bayar utang judi, lalu lupa waktu. Malam ini batas akhir. Jika tak muncul dengan uang penuh, Pak Hadi akan dibawa ke dermaga terpencil, dimasukkan karung semen, dan dilempar ke laut. Cerita lama di kawasan ini. Tak ada yang peduli.
Tapi malam ini ada yang peduli.
Satria membuang puntung rokok ke genangan air. Api kecil itu mendesis sesaat sebelum padam total. Ia melangkah keluar dari bayang atap—tanpa suara, tanpa tergesa. Jaketnya basah kuyup, rambut pendeknya menempel di dahi, air hujan mengalir di bekas luka melintang dari pelipis kiri sampai rahang. Bekas pisau waktu ia masih delapan belas tahun, masih menjadi raja kecil di kampung ini. Waktu ia membunuh karena marah, bukan karena pesanan.
Sekarang semuanya berbeda.
Ia menyusuri gang, langkahnya pelan tapi pasti seperti predator yang sudah tahu mangsanya tak akan lolos. Ketiga antek itu belum menyadari. Satria berhenti di belakang tumpukan kardus, jarak hanya tiga meter. Bau minyak senjata dan parfum murah mereka tercium jelas.
"Jam sebelas lewat," gumam yang memegang pistol, suaranya rendah. "Kalau dia nggak datang lima menit lagi, kita ke rumahnya. Bawa istrinya juga biar jera."
Yang memegang amplop tertawa kecil, suara serak. "Tenang. Bos bilang, kalau kabur, bakar tokonya dulu. Biar pelajaran."
Satria mengeluarkan pisau lipat dari saku dalam. Bilahnya pendek, hitam matte, tak memantulkan cahaya sedikit pun. Ia memutar gagangnya sekali, dua kali—gerakan ritual yang sudah bertahun-tahun ia lakukan sebelum setiap "pekerjaan".
Tiba-tiba langkah kaki terdengar dari ujung gang. Pak Hadi muncul, basah kuyup, tangan gemetar memegang tas kain lusuh. Wajahnya pucat seperti kain kafan.
"Aku… aku bawa separuh dulu," katanya bergetar. "Besok sisanya. Tolong… anakku sakit parah."
Ketiga antek bergerak maju serentak.
Satria bergerak lebih cepat.
Ia meluncur dari bayang seperti asap hitam. Yang pertama—yang memegang pistol—baru sempat menoleh ketika tangan Satria sudah menutup mulutnya dari belakang. Pisau masuk tepat di bawah telinga, miring ke atas, memutus urat nadi dan saluran napas dalam satu gerakan halus, hampir lembut. Tubuh pria itu ambruk tanpa suara, hanya desis kecil dari tenggorokannya yang terpotong.
Dua lainnya bereaksi terlambat. Yang memegang amplop menarik pistol, tapi Satria sudah di depannya. Tendangan rendah menghancurkan lutut, diikuti siku yang menghantam leher. Tulang rawan tenggorokan retak. Pria itu jatuh berlutut, tersedak darah sendiri.
Yang terakhir—yang paling pendiam—berhasil menarik senjatanya. Tapi Satria lebih dekat. Ia menangkap pergelangan tangan, memelintir keras hingga pistol jatuh ke genangan air. Lalu, dengan gerakan yang hampir seperti bela diri tari, ia menusuk pisau ke dada, tepat di antara tulang selangka. Pria itu menatap Satria dengan mata terbelalak—seolah tak percaya betapa cepat, betapa sunyi, kematian datang malam ini.
Dua puluh detik. Tak lebih.
Satria menarik pisau, membersihkannya di baju korban terakhir, lalu menyimpannya kembali. Ia memeriksa denyut nadi ketiganya—kosong. Hujan masih deras, darah mereka bercampur air, mengalir ke selokan seperti tinta merah yang diencerkan.
Pak Hadi berdiri membeku, tas kainnya jatuh ke tanah berlumpur.
Satria berjalan mendekat. Wajahnya tak menunjukkan apa pun—tak marah, tak puas, tak menyesal.
"Pulang," katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan. "Jangan pernah balik ke rentenir itu lagi. Kalau mereka datang mencarimu… bilang saja kau sudah dilindungi."
Pak Hadi mengangguk cepat, air mata bercampur hujan di wajahnya. Ia berbalik dan berlari tanpa kata, langkahnya tersandung tapi tak berhenti.
Satria tak menunggu. Ia berjalan keluar gang, menyusuri jalan utama yang sepi. Di saku jaketnya, ponsel burner bergetar sekali. Satu pesan masuk, tanpa nama pengirim:
"Kerja bagus. Transfer sudah masuk. Target berikutnya besok malam. Detail di drop point biasa."
Satria membaca, lalu menghapus. Ia tahu siapa di balik pesan itu—orang-orang yang menyebutnya "Hantu Keadilan" di forum gelap, meski ia sendiri tak pernah memakai nama itu. Baginya, ini bukan keadilan. Ini hanya pekerjaan. Membersihkan sampah yang tak bisa disentuh polisi.
Ia berhenti di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip. Di seberang jalan, seorang wanita berdiri memegang payung hitam. Rambut panjangnya basah di ujung, jaket denim terlalu tipis untuk hujan malam seperti ini. Matanya menatap ke arah gang tempat Satria baru saja keluar.
Lira.
Jurnalis lepas yang selama setahun terakhir sering menulis tentang "pembunuhan misterius terhadap penjahat". Tak pernah menyebut nama pelaku, tapi setiap artikelnya penuh pertanyaan tajam: Siapa dia? Mengapa dia memilih target itu? Apakah ini keadilan, atau sekadar balas dendam berbalut kegelapan?
Satria tahu Lira sudah mendekati kebenaran lebih dekat daripada yang seharusnya.
Mereka saling tatap beberapa detik. Hujan menjadi tirai tipis di antara mereka.
Lira mengangkat payungnya sedikit—seolah memberi isyarat.
Satria tak bergerak.
Lalu ia berbalik, menghilang ke dalam kegelapan gang lain seperti asap yang tersedot angin.
Di belakangnya, Lira menurunkan payung perlahan. Matanya menyipit, mencoba menangkap bayangan yang sudah lenyap.
Malam itu hujan terus turun.
Dan di suatu tempat di bawah jembatan layang tua, sebuah amplop baru diletakkan di drop point yang selalu sama. Di dalamnya: foto seorang pria berjas rapi, tersenyum lebar di depan kamera wartawan. Di belakang foto tertulis satu kalimat pendek, tulisan tangan rapi:
"Calon presiden. Saingannya harus hilang sebelum pemilu. Kerjakan bersih. Tak boleh ada jejak."
Satria belum tahu isi amplop itu.
Tapi besok malam, ketika ia membukanya, dunia yang selama ini ia anggap hanya pekerjaan akan mulai runtuh.