Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Keahlian Legendaris

Sistem Keahlian Legendaris

Ramdani Abdul | Bersambung
Jumlah kata
121.2K
Popular
3.6K
Subscribe
535
Novel / Sistem Keahlian Legendaris
Sistem Keahlian Legendaris

Sistem Keahlian Legendaris

Ramdani Abdul| Bersambung
Jumlah Kata
121.2K
Popular
3.6K
Subscribe
535
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeSistemSupernaturalUrban
Hidup Justin sering kali berada dalam bayang-bayang penderitaan: Hidup di panti asuhan sejak kecil, diusir dari keluarga yang mengadopsinya, hingga hidup terlunta-lunta di jalanan. Ketika hidupnya menjadi lebih baik, Justin justru difitnah dan dibuang ke sebuah jurang gelap. Akan tetapi, saat itulah hidupnya mulai berubah. Takdir tidak lagi membencinya, melainkan mulai berpihak padanya. Karena Justin memilih tidak menyerah, sebuah artefak kuno yang disentuhnya membangkitkan sebuah sistem ajaib bernama "Sistem Keahlian Legendaris". Justin bukan lagi pria miskin dan tak berguna. Sekarang, dia adalah pria kaya, penuh karisma, dan kuasa. "Aku akan menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalanku."
Bab 1

“Justin, kau dipecat!”

Justin yang sedang sibuk mengurus beberapa dokumen seketika menoleh pada seorang pria yang berada di depannya. Beberapa lembar kertas mendarat di wajahnya, berjatuhan ke meja dan lantai.

Suasana ruangan seketika hening. Beberapa pegawai yang masih berada di meja mereka seketika terdiam, menjadikan Justin sebagai pusat perhatian.

Langit sebentar lagi bersiap menyambut malam. Cahaya sore masih berusaha menerobos jendela kaca. Orang-orang semakin berdatangan untuk melihat kejadian.

“Aku dipecat? Kenapa? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun,” ujar Justin sembari berdiri dari kursi.

Pria itu mendengkus kesal. “Kau terbukti memanipulasi data, membocorkan informasi ke perusahaan rival sekaligus menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadimu. Saat ini, polisi sedang dalam perjalanan untuk membawamu ke penjara.”

“Aku tidak pernah melakukan hal-hal buruk itu. Aku bekerja sesuai dengan prosedur perusahaan. Kalaupun aku bertindak buruk, kau harus memberikan sekaligus menunjukkan bukti yang kuat, Tuan.”

Pria tambun di depan Justin menggebrak meja. “Kau selalu saja banyak bicara, Justin. Aku sudah menyerahkan semua bukti kejahatanmu pada Tuan Mike. Beberapa pegawai juga ikut bersaksi atas tindakan jahatmu. Jangan kira kau bisa bersikap sesukamu.”

Justin menoleh ke sekeliling, menatap para pegawai yang saling berbisik dan menatapnya sinis. Pria itu sudah bekerja di perusahaan ini selama dua tahun.

Awalnya, Justin bekerja sebagai petugas kebersihan selama lebih dari satu tahun setengah. Ketika perusahaan membuka lowongan untuk staf, ia segera mendaftar dan dinyatakan lolos dalam satu kali percobaan.

Meski masih berstatus sebagai pegawai kontrak dan sering kali mendapatkan tuntutan kerja yang gila dan perlakukan buruk dari rekan kerjanya, Justin tetap bertahan. Ia menganggap hal itu sebagai proses melelahkan yang harus ia lewati.

Satu bulan lalu, Justin mendapat kesempatan bergabung di sebuah proyek besar perusahaan. Pria itu mencurahkan semua hal untuk menyukseskan proyek itu. Akan tetapi, siapa sangka kerja kerasnya justru berakhir dengan sebuah fitnah.

“Aku sama sekali tidak melakukan hal itu.” Justin mengepalkan tangan erat-erat. “Aku bisa membuktikan kalau aku sama sekali ....”

“Tutup mulutmu, Justin.” Seorang pria muncul bersama beberapa polisi, menatap tajam Justin. Bersamaan dengan para pegawai yang membungkuk hormat padanya, ia berkata, “Kau sama sekali tidak bisa mengelak lagi. Seluruh bukti sudah diserahkan pada polisi, dan sekarang mereka akan menyeretmu ke penjara.”

Justin menatap pria dengan jas biru rua itu di depannya lekat-lekat. Ketika melihat sebuah senyuman tipis, ia segera berkata, “Aku tahu kau berada di balik semua ini, Mike. Kau adalah orang yang paling tidak menyukaiku bekerja di perusahaan ini sejak awal. Kau juga orang yang menentangku untuk bergabung dengan proyek ini. Kau pasti ....”

“Apa maksudku, brengsek!” bentak Mike hingga suasana menjadi sangat hening.

Mike adalah anak tertua dari keluarga Geraldo sekaligus calon utama pewaris utama keluarga. Justin mengenal pria itu sebagai pria cerdas, sombong, semena-mena, dan keji terhadapnya. Ayah Mike adalah orang yang paling keras menentang keputusan pemimpin keluarga Geraldo yang mengadopsinya bertahun-tahun lalu.

Setelah pemimpin keluarga Geraldo sebelumnya meninggal, Justin diusir di tengah malam saat usianya tujuh belas tahun, padahal pemimpin keluarga Geraldo meminta seluruh anak dan cucunya memperlakukan Justin dengan baik.

“Apa ini balasanmu setelah kau menumpang hidup di keluargaku selama lima tahun?” Mike menunjuk Justin, memelotot tajam.

“Kalau saja aku tidak berbaik hati memberikanmu kesempatan menjadi seorang staf di perusahaan keluargaku, kau pasti masih bekerja sebagai petugas kebersihan hingga sekarang, atau kau berakhir menjadi gelandangan.”

“Aku lolos karena kemampuanku, bukan karena belas kasihmu, Mike! Aku mengikuti semua tahapan dan mendapatkan nilai terbaik.” Justin berusaha tenang meski sudah wajahnya memerah dan urat-urat di lehernya terlihat.

“Berani sekali kau menuduh Tuan Mike, Justin! Ia adalah CEO yang sangat baik,” ujar salah satu pegawai yang berada di belakang Justin.

“Kau benar-benar orang yang sangat menjengkelkan! Kau menuduh orang yang sudah menolongmu sedari awal!”

“Berhenti mengelak! Kau harus mempertanggungjawabkan kejahatanmu!”

“Penjara adalah tempat yang cocok untukmu!”

“Enyahlah dari tempat ini sekarang juga!”

“Bawa ia sekarang!” Mike menunjuk Justin.

Mike tersenyum saat mendengar ucapan para pegawai itu. “Tangkap pria itu sekarang juga! Dia sangat pantas mendapatkan hukuman!”

Dua orang polisi segera membekuk Justin hingga pria itu terbaring di lantai. Mereka memborgol tangan Justin, menariknya dengan sangat cepat.

“Aku sama sekali tidak bersalah!” Justin berusaha berontak. “Kalian tidak bisa menyeretku ke penjara begitu saja! Aku berhak membela diri!”

Para pegawai berkerumun sembari menatap sinis dan mencibir Justin. Polisi mulai menyeret pria itu ke lantai bawah, melewati satu per satu ruangan dan tangga.

Justin terus berontak sampai akhirnya ia memilih untuk berhenti. Ia melihat orang-orang terus mencibirnya.

Tidak ada siapa pun yang membelanya, padahal ia sudah bersikap baik pada semua orang. Apakah kebaikan sama sekali tidak berguna di dunia ini?

Dua orang polisi mendorong Justin ke dalam mobil. Kendaraan mulai melaju meninggalkan perusahaan.

Mike dan para pegawai mengerumuni teras. Begitu mobil menghilang, mereka kembali ke dalam gedung.

Justin menggertakkan gigi, menatap borgol yang melingkari tangannya. “Aku tahu Mike yang sudah memfitnahku.”

Justin terdiam selama dalam perjalanan. Tatapannya tertuju pada langit yang perlahan berubah gelap, tetapi pikirannya justru tertuju pada nasibnya setelah ini sekaligus perjalanan hidupnya selama ini.

Bersamaan dengan lampu-lampu jalan yang mulai menyala, Justin menyadari sebuah keanehan. “Bukankah kantor polisi berada di area timur? Kenapa mobil ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Jalanan ini menuju hutan dan ....”

“Apa yang kau lihat, brengsek?” Seorang polisi menampar Justin.

Justin meringis kesakitan. “Kenapa kalian justru membawaku ke arah hutan? Ke mana kalian sebenarnya akan membawaku pergi?”

“Tutup matanya dan buat dia tidak sadarkan diri,” ujar seorang polisi yang berada di kursi kemudi. Ia mulai menyalakan rokok, mengembus asap ke luar.

Seorang polisi segera memegangi Justin, dan seorang lagi menutup matanya.

“Siapa kalian sebenarnya? Kalian pasti adalah orang yang menyamar ....”

Seorang polisi menutup mulut dan hidung Justin dengan kain, mendorong Justin hingga pria itu terjatuh ke bawah kursi.

Justin merasakan pusing luar biasa seperti kepalanya ditusuk-tusuk. Ia berada di antara sadar dan tidak sadar. Ketika berusaha untuk bangkit, seorang polisi justru menendangnya.

“Kita akan membuang pria itu di lokasi itu,” ujar seorang polisi.

Kesadaran Justin semakin tipis sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri. Mobil terus melaju kencang, melewati batas perkotaan, menerobos kawasan hutan.

Mobil berhenti di sebuah jembatan. Dua orang polisi mengangkat Justin, melemparkannya yang masih tidak sadarkan diri ke jurang.

Justin melesat turun, menerobos pepohonan, membentur ranting-ranting sampai akhirnya terjatuh ke sungai. Bersamaan dengan mobil yang meninggalkan jembatan, Justin sadarkan diri, terseret arus sungai yang deras.

Justin tersangkut di antara celah dua batu besar, hingga sebuah batang kayu mendorong tubuhnya agar kembali terseret arus. Saat petir pertama menggelegar, Justin membentur sebuah batu pipih berukuran besar.

“A-aku ... tidak boleh menyerah,” ujar Justin di antara sadar dan tidak sadar. Tangannya berusaha menggapai batu pipih itu, tidak peduli darah mulai menetes.

Di tengah usaha Justin untuk tetap hidup, sisi lain dirinya justru memaksanya untuk menyerah. Kalaupun selamat, ia tetap akan menjalani hidup dengan sangat sulit. Ia tidak akan bisa mendapatkan apa pun karena sejak awal ia adalah anak tanpa keluarga, tanpa uang, dan tanpa kekuasaan apa pun. Tanpa itu semua, Justin hanya sampah tidak berguna.

Justin memejamkan mata sesaat, mengeratkan pegangan pada batu. “Tidak! Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku memang tidak memiliki uang, keluarga, maupun kekuasaan, tetapi aku memiliki diriku yang tidak mudah menyerah.”

“Kalau pun aku gagal, aku hanya perlu memulainya dari awal. Kalau aku menyerah, musuh-musuhku hanya akan tertawa senang. Aku ... aku akan membalas mereka. Aku akan menang dan mengungguli mereka semua.”

Saat Justin berhasil menyentuh batu pipih, seberkas cahaya putih keemasan mendadak muncul. Sinar itu menyebar hingga ke seluruh tubuhnya. Tepat saat ia memejamkan mata, sebuah suara justru muncul di pikirannya.

[Proses pemindaian dimulai]

[10% 30%, 50%, 70%, 90%, 100%]

[Jejak DNA dikenali]

[Memori Spiritual dikenali]

Lanjut membaca
Lanjut membaca