Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Orang Lama Pemenangnya

Orang Lama Pemenangnya

Desy S | Bersambung
Jumlah kata
30.9K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / Orang Lama Pemenangnya
Orang Lama Pemenangnya

Orang Lama Pemenangnya

Desy S| Bersambung
Jumlah Kata
30.9K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
LiteraturBahasa Indonesia21+BadboyTeka-teki
kisah kehidupan pria yang mencari wanita untuk menjadi pelabuhan hati terakhirnya berakhir dengan wanita yang ia jumpai sudah lama dahulu.
Bab 1 Perkenalan

Terik matahari Ibu Kota siang itu terasa menyengat, sebuah panas yang tidak hanya membakar kulit, tetapi seolah mampu mematangkan aspal jalanan yang ia pijak.

Udara Jakarta terasa berat, sesak oleh karbon dioksida dan uap panas yang keluar dari knalpot kendaraan yang merayap lambat. Meski sesekali angin berembus, ia tidak membawa kesejukan, angin itu hanya membawa terbang debu jalanan dan aroma ban terbakar ke arah wajahnya.

Denis, pria berusia tiga puluh empat tahun dengan kemeja kantor melangkah keluar lobi kantor untuk mencari suaka bagi perutnya yang mulai berdemo.

Langkah kaki Denis sudah memiliki memori sendiri. Tanpa perlu berpikir, tujuannya selalu satu: Warung Mbok Dormi. Sebuah bangunan semi-permanen yang terselip di balik kemegahan gedung-gedung pusat Jakarta.

Sebagai admin di sebuah perusahaan logistik ternama sejak usia dua puluh lima tahun, rutinitas Denis sudah terpola layaknya jadwal keberangkatan truk-truk yang ia urus setiap hari. Sembilan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat jalur perjalanannya menjadi otomatis. Hanya butuh tiga menit berjalan kaki dari lobi, menyeberang jalan raya yang bising dengan suara klakson, lalu masuk ke sebuah gang kecil yang cukup sempit untuk dua orang berpapasan. Begitu masuk ke gang itu, kebisingan Jakarta seolah sedikit diredam oleh dinding-dinding kusam.

Di ujung gang, berdiri warung dengan nuansa masakan rumah tersebut.

Meski di sekitar kantornya banyak pilihan gerai makanan kekinian dengan pendingin ruangan yang menggigit, lidah Denis sudah terkunci pada masakan Mbok Dormi. Baginya, gorengan Mbok Dormi adalah yang tersedap di seluruh area perkantoran itu, dan bumbu masakannya yang selalu terasa jujur tanpa banyak penyedap rasa buatan selalu sukses menggugah selera makannya yang sering kali hilang karena stres pekerjaan.

"Mbok, biasa ya! Sayur sop, kerang sambal, sama bakwan goreng satu. Oh, sama kopi latte sachet-nya satu, Mbok," seru Denis begitu pantatnya menyentuh kursi kayu panjang yang permukaannya sudah halus dimakan usia. Kursi itu ikonik, saksi bisu ribuan buruh dan karyawan yang mencari penglipur lara lewat sepiring nasi.

Warung sedang ramai-ramainya. Suara denting sendok yang beradu dengan piring plastik menyatu dengan obrolan sayup para pekerja konstruksi dan staf gudang. Bau harum tumisan bawang menyengat di udara, bercampur dengan uap dari panci sop yang mendidih. Mbok Dormi yang mengenakan celemek kain agak kusam namun selalu berwajah ramah, menoleh ke arahnya sambil memegang centong nasi yang masih mengepul.

"Iya, Mas Denis. Pakai sambal? Tadi pagi baru bikin sambal terasi segar, lho," tanya Mbok Dormi memastikan dengan logat Jawa yang kental, memberikan rasa familiar seperti di kampung halaman.

"Pakai, Mbok! Yang banyak, biar mata melek lagi. Laporan logistik pagi ini bikin kepala agak muter," jawab Denis sambil terkekeh pelan.

Sambil tangannya dengan cekatan menyiapkan piring, Mbok Dormi melempar pertanyaan langganan sebuah pertanyaan yang sebenarnya sederhana, namun selalu berhasil membuat Denis salah tingkah dan merasa sedikit tertelanjangi. "Gimana, Mas? Sudah dapat belum? Itu lho, calon pacarnya? Masa ganteng-ganteng makannya di warung Mbok terus sendirian."

Denis tertawa kecil, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa sepi yang mendadak mencubit hatinya dengan tajam. Ada kekosongan yang ia rasakan setiap kali pertanyaan itu muncul. "Haha... belum, Mbok. Belum ada yang mau sama admin logistik kayak saya. Ini baru mau usaha lagi, mau coba peruntungan di HP sambil makan," jawabnya sambil meraba ponsel di saku celananya.

Tak lama kemudian, segelas kopi latte instan dengan busa tipis di atasnya mendarat di mejanya. Sambil menunggu hidangan utama yang sedang disiapkan Mbok Dormi, Denis melakukan ritual wajibnya sebelum makan. Ia merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok, dan menyalakannya dengan pemantik sekali pakai.

Asap putih membubung ke langit-langit warung yang rendah, menari-nari ditiup angin yang masuk dari celah pintu kayu yang terbuka lebar. Baginya, kopi sachet murah ini punya keajaiban tersendiri; manis gula dan krimernya yang kuat memberikan sensasi kemewahan yang janggal, seolah ia sedang duduk di kafe mahal di tengah mal. Perpaduan antara rasa manis kopi yang menyangkut di lidah dan pahitnya asap rokok yang masuk ke paru-paru adalah kenikmatan sederhana yang paling ia syukuri di tengah hidup yang terasa datar hari itu.

Dengan tangan kiri memegang rokok yang masih menyala dan tangan kanan menggenggam ponsel pintarnya, Denis membuka aplikasi bernama Konco Match. Baginya, ikon aplikasi berwarna oranye itu bukan sekadar perangkat lunak kencan biasa, itu adalah sebuah harapan tipis, sebuah lubang kunci untuk menemukan pengalihan dari rutinitas kerja yang membosankan dan kesepian yang menghuni setiap sudut kamar kostnya.

Denis adalah seorang perantauan dari Yogyakarta. Ia membawa beban masa lalu yang tidak ringan di pundaknya.

Background orang tua yang bercerai sejak ia berusia dua tahun membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang mendambakan kasih sayang, namun sekaligus takut akan komitmen yang permanen. Ia terbiasa melihat perpisahan, sehingga kesepian menjadi teman yang paling setia, sekaligus musuh yang paling ia takuti.

Jari jempolnya mulai bergerak lincah di atas layar yang sedikit berminyak. Algoritma aplikasi mulai bekerja, menyuguhkan wajah-wajah asing yang mencari hal yang mungkin sama dengannya. Swipe kanan jika tertarik, swipe kiri jika tidak. Ia merasa seperti sedang melakukan kurasi barang di gudang, namun kali ini yang ia kurasi adalah manusia.

Muncul profil pertama, Lina. Gadis asal Bandung, usia dua puluh lima tahun. Foto profilnya menunjukkan ia sedang berdiri di sebuah kafe estetik, mengenakan gaun putih ketat yang menggoda lekuk tubuhnya. Namun, Denis terdiam cukup lama mengamati detail wajahnya yang diperbesar.

"Terlalu banyak yang diubah," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar di tengah keramaian warung. Denis memiliki mata yang cukup jeli. Alis sulam yang terlalu tebal menyerupai lintah dan efek filler di bibir yang membuatnya tampak bengkak, ditambah lagi filter aplikasi yang menghaluskan pori-pori hingga hilang, membuat wajah itu tampak seperti manekin toko baju. Tidak ada kejujuran di sana. "Bukan tipeku. Terlalu artifisial. Swipe kiri saja."

"Ini, Mas, kerangnya agak banyakan, bonus buat yang masih jomblo biar tenaganya kuat buat cari jodoh," goda Mbok Dormi lagi sambil meletakkan sepiring nasi hangat dengan lauk yang melimpah di depan Denis. Aroma sambal kerang yang pedas menusuk hidung dan uap dari bakwan yang baru diangkat dari penggorengan seketika membuat perut Denis keroncongan hebat.

Ia mulai mematikan rokoknya di asbak kaleng yang sudah penuh abu, lalu mulai menyuap nasi. Di tengah riuh rendah suara orang mengobrol di warung, Denis mengunyah dengan pelan, mencoba menikmati setiap bulir nasi dan kenyalnya kerang sambal. Rasanya enak, sangat enak, seperti biasa.

Namun, di balik rasa kenyang yang mulai menjalar, ada rasa kosong yang tidak bisa dikenyangkan oleh makanan sepadat apa pun.

Sambil mengunyah, pikirannya melantur. Ia membayangkan sebuah skenario sederhana ponselnya bergetar di atas meja, dan sebuah notifikasi WhatsApp masuk dengan pesan: "Kamu sudah makan siang? Jangan lupa minum air putih yang banyak ya, di luar panas banget." Ia begitu haus akan perhatian-perhatian kecil yang remeh seperti itu—hal yang tidak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun hidup di Jakarta.

Sambil menghabiskan suapan terakhirnya dan membersihkan sisa bumbu di piring dengan sepotong bakwan, matanya kembali terpaku ke layar ponsel. Ia melakukan satu geseran lagi. Kali ini muncul profil Yulia. Usia dua puluh tujuh tahun, asal Jakarta.

Foto pertamanya tidak berlebihan. Yulia memiliki kulit sawo matang yang sehat, rambut hitam lurus sebahu, dan menurut keterangannya, tingginya sekitar 155 cm. Di foto itu, ia mengenakan kaos polos dan celana jins, dengan badan berisi yang tampak sangat pas dan proporsional.

Namun yang membuat Denis berhenti mengunyah sejenak adalah senyumnya. Wajahnya natural, tanpa bulu mata palsu yang berat atau gincu yang terlalu mencolok. Senyum itu tampak tulus, membuat matanya sedikit menyipit. Denis merasakan getaran yang berbeda. Tanpa ragu, ia menggeser jempolnya ke kanan.

Tiba-tiba, layar ponselnya berkedip-kedip terang. Sebuah animasi muncul dengan tulisan besar: "It's a Match!"

Jantung Denis tiba-tiba berdegup kencang, sebuah sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia terpaku, seolah tidak percaya. Ia segera membuka detail profil Yulia lebih dalam.

Hobinya: suka travelling dan sedang mencari pasangan yang serius. Kalimat terakhir itu terasa seperti embusan angin segar yang murni di tengah gersangnya hari-hari Denis. Selama ini, hidupnya hanya dipenuhi dengan urusan surat jalan, koordinasi supir truk yang sering membandel, dan hitungan estimasi bahan bakar. Kehadiran "Yulia" di layarnya terasa seperti anomali yang indah.

"Mas Denis, nggak balik ke kantor? Sudah jam satu lewat lima itu. Nanti dicariin bosnya, lho," tegur Mbok Dormi, membuyarkan lamunan digital Denis.

Denis tersentak, hampir tersedak sisa kopinya. Ia melirik jam tangan pintarnya yang menunjukkan angka 13.07. "Eh, iya, Mbok. Waduh, hampir keasyikan main HP." Ia segera bangkit, merapikan kemejanya yang kusut karena duduk terlalu lama, dan merogoh dompet. Ia meletakkan selembar uang dua puluh ribuan ke meja. "Kembaliannya ambil saja ya, Mbok. Buat beli sabun cuci piring."

"Wah, makasih banyak, Mas. Semoga benar-benar cepat dapat kabar baik dari HP-nya ya! Mbok doakan tahun depan sudah nggak makan sendirian di sini!" seru Mbok Dormi sambil tertawa renyah, mengantar kepergian pelanggan setianya.

Denis melangkah keluar dari gang sempit itu. Terik Jakarta di luar sana masih sama, masih membakar dan masih berdebu. Namun, anehnya, langkah kaki Denis terasa sedikit lebih ringan daripada saat ia datang tadi. Sambil berjalan menyeberang jalan raya, tangannya masih menggenggam ponsel dengan erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, keberuntungan itu akan lari.

Sembilan tahun mengurus logistik telah membuatnya menjadi ahli dalam mengatur rute pengiriman barang agar sampai tepat waktu dan efisien. Kini, di tengah kebisingan kota, ia menaruh harapan besar bahwa algoritma aplikasi itu telah menjalankan tugasnya dengan baik mengatur rute yang paling tepat untuk mengantarkan kebahagiaan ke hatinya yang sudah terlalu lama kosong.

Dengan napas yang diatur mantap untuk meredakan gugup, jarinya mulai mengetikkan pesan pertama: "Hai Yulia, salam kenal ya. Kayaknya seru banget tuh foto travelling-nya, itu foto di mana kalau boleh tahu?"

Tombol Send ditekan.

Denis menarik napas panjang dan melangkah memasuki lobi kantor yang dingin karena AC, membawa satu harapan baru yang terselip rapat di saku celananya, menunggu untuk berbalas.

Lanjut membaca
Lanjut membaca