Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Hasrat Terlarang Nyai

Hasrat Terlarang Nyai

Best Siallagan | Bersambung
Jumlah kata
52.6K
Popular
1.3K
Subscribe
278
Novel / Hasrat Terlarang Nyai
Hasrat Terlarang Nyai

Hasrat Terlarang Nyai

Best Siallagan| Bersambung
Jumlah Kata
52.6K
Popular
1.3K
Subscribe
278
Sinopsis
18+HorrorHorrorSilumanPesugihanTumbal
Arga putus asa sampai dia bertemu Nyai Ratu—wanita gaib yang menjanjikan kekayaan dengan satu harga: tubuh dan hatinya setiap bulan purnama.Saat cinta sejati muncul dalam wujud Dita, bayang ratu mulai menunjukkan taringnya.Antara hasrat terlarang dan pengorbanan demi anaknya, Arga terjebak dalam permainan gaib yang menguras jiwa.Cinta atau kutukan?Hanya satu yang pasti: bayang itu tak pernah pergi dari hatinya.
Malam Penuh Kenikmatan

Hujan malam itu jatuh tanpa ampun, seperti tangisan yang tak mau berhenti. Di lantai tiga sebuah kontrakan tua di pinggir Cilandak, suara air menetes dari atap bocor bercampur dengan hembusan AC rusak yang berderit pelan. Kamar tidur kecil itu hanya diterangi lampu meja 5 watt yang sudah kuning kehitaman, menyisakan bayangan panjang di dinding berplester retak-retak.

Arga berbaring telentang di kasur busa tipis yang sudah melengkung di tengah. Napasnya berat, dada naik-turun lambat. Di sebelahnya, Lina meringkuk menghadap dinding, punggungnya yang ramping terlihat rapuh di balik kaus tidur lusuh berwarna abu-abu. Rambutnya yang panjang terurai acak-acakan, beberapa helai menempel di leher karena keringat dingin.

Sudah hampir tiga bulan mereka tak lagi berbagi keintiman seperti dulu. Bukan karena tak saling menginginkan, tapi karena kelelahan yang menumpuk: tagihan rumah sakit Raka, surat teguran dari bank, telepon rentenir yang semakin sering datang di malam hari. Malam ini berbeda. Raka akhirnya tertidur lelap setelah demamnya reda sore tadi. Dokter bilang anak itu butuh istirahat panjang dan obat yang harganya setara gaji sebulan Arga.

Lina berbalik perlahan. Matanya yang biasanya redup kini menyimpan kilau kecil, seperti bara yang hampir padam tapi masih ingin menyala.

“Ga…” suaranya lembut, hampir tak terdengar di antara deru hujan.

Jarinya menyentuh lengan Arga, dingin tapi penuh harap. “Kita… malam ini, boleh?”

Arga menoleh. Matanya yang lelah menatap wajah istrinya lama sekali, seolah mencari alasan untuk menolak. Tapi tubuhnya sudah lebih jujur. Dia mengangguk pelan, lalu menarik Lina ke dalam pelukannya. Bibirnya menyentuh kening istrinya dulu, kemudian turun ke pelipis, ke pipi, sampai akhirnya bertemu bibir yang hangat itu.

Ciuman pertama masih ragu, seperti dua orang yang lupa caranya saling menyentuh. Tapi lama-kelamaan, kenangan lama kembali. Lina membalas dengan lembut, lidahnya menyapa lidah Arga dengan gerakan lambat yang penuh kerinduan. Tangan Arga merayap ke punggung Lina, menarik kaus tidur itu ke atas perlahan, membiarkan kulit telanjang mereka bertemu.

“Maaf kalau aku kasar,” gumam Arga di telinga Lina, suaranya serak karena tercekat. “Aku cuma… pengen ngerasa kita masih ada.”

Lina tidak menjawab dengan kata. Dia hanya mengangkat pinggulnya sedikit, membiarkan Arga menurunkan celana dalam tipis itu. Gerakan itu lambat, hampir seperti upacara. Arga mencium leher istrinya, turun ke lekuk bahu, lalu ke dada yang naik-turun cepat. Bibirnya menyapa puncak yang sudah mengeras, lidahnya melingkar pelan, membuat Lina mendesah kecil dan menggigit bibir bawahnya sendiri.

Tangan Arga turun lebih rendah, menyusuri perut rata Lina yang masih lembut meski sudah melahirkan. Jarinya menemukan tempat paling sensitif itu—lubang kenikmatan yang sudah basah menyambut. Dia mengelus pelan, melingkar, menekan ringan, sampai Lina melengkungkan punggung dan memegang pergelangan tangan suaminya erat-erat.

“Ga… pelan dulu…” bisik Lina, tapi nada suaranya justru memohon lebih.

Arga naik ke atas tubuh istrinya, menopang berat badannya dengan lengan yang mulai gemetar karena kelelahan seharian. Tongkat ajaibnya sudah tegang penuh, menyentuh pintu masuk yang hangat dan licin. Dia masuk perlahan sekali, merasakan setiap inci dinding yang menyambutnya dengan pelukan erat. Lina menarik napas tajam, kuku-kukunya mencengkeram punggung Arga, meninggalkan bekas merah tipis.

Gerakan mereka mulai sinkron. Pelan dulu, seperti mencari ritme yang sudah lama hilang. Arga mendorong dalam-dalam, menarik hampir keluar, lalu masuk lagi dengan tempo yang sama. Lina mengikuti, pinggulnya ikut bergoyang, mencari sudut yang membuatnya merasakan getaran paling dalam. Desahan Lina semakin sering, meski dia berusaha meredamnya dengan menggigit bahu suaminya. Bau keringat bercampur sabun murah memenuhi ruangan kecil itu.

Untuk sesaat, dunia luar lenyap. Tak ada tagihan yang menumpuk di meja makan. Tak ada telepon rentenir yang mengancam. Tak ada Raka yang batuk-batuk di kamar sebelah. Hanya ada mereka berdua, dua tubuh yang saling membutuhkan, saling mengisi kekosongan yang selama ini mereka tutupi dengan senyum palsu.

Arga mempercepat gerakan. Lina melingkarkan kakinya di pinggang suaminya, menariknya lebih dalam lagi. Tubuh mereka bergesekan dengan ritme yang semakin liar, tapi tetap penuh perasaan. Lina mencapai puncak lebih dulu—tubuhnya menegang, napasnya tersendat, lalu melemas dengan desahan panjang yang tertahan. Arga mengikuti tak lama kemudian, getaran kenikmatan menyapu seluruh tubuhnya, membuatnya menjatuhkan kepala ke leher Lina sambil menggumam nama istrinya berulang-ulang.

Mereka diam begitu beberapa menit, masih terhubung, masih saling memeluk erat. Keringat menetes dari dahi Arga ke dada Lina. Napas mereka perlahan kembali normal.

Lina akhirnya berbisik, suaranya parau dan rapuh.

“Kita bisa lagi kayak gini, kan? Kayak dulu…”

Arga mencium kening istrinya lama sekali. Matanya menatap langit-langit yang mulai menguning karena rembesan air hujan.

“Bisa,” jawabnya pelan.

Tapi dalam hati, dia tahu itu bohong manis. Besok pagi, tagihan akan tetap datang. Bisnisnya yang sudah bangkrut tak akan tiba-tiba hidup lagi. Raka masih butuh obat mahal. Dan malam indah ini hanyalah pelarian sementara dari kenyataan yang semakin menekan.

Dia menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. Lina meringkuk di dadanya, napasnya mulai teratur menuju tidur. Arga tetap terjaga, menatap kegelapan di luar jendela. Hujan masih deras, dan entah dari mana, angin malam membawa bau samar-samar… bau kemenyan yang pekat, seperti yang biasa dibakar di kampung halamannya dulu.

Arga menggelengkan kepala, mengusir pikiran aneh itu.

Mungkin cuma halusinasi karena kelelahan.

Tapi di sudut kamar, di balik lemari kayu yang sudah reyot, sesuatu seolah bergerak pelan.

Bayangan hitam tipis, berbentuk samar seorang wanita berambut panjang.

Dia tak bergerak mendekat.

Hanya menatap.

Dan menunggu.

--

Lanjut membaca
Lanjut membaca