

“Heh! Dharma! Lusa jatuh tempo, ya! Lu harus sudah siapin duit buat bayar kost, kalau nggak, Lu, gua usir dari sini!” teriak Pak Joko –pemilik kost kumuh yang di tempati Dharma.
Dharma mengangguk –paham, “iya, Pak… masih Saya usahakan,” ucapnya sambil memaksakan senyum.
“Pokoknya gue nggak mau tau, Lu harus bayar tepat waktu! Kali ini nggak ada telat-telat lagi kayak bulan kemarin! Awas Lu! Dikira nggak ada yang mau ngekos di tempat ini, apa!”
“Iya Pak, Lusa saya janji bayar kostnya. Anu…, sekarang Saya permisi dulu mau berangkat kerja…” Dharma memiringkan tubuhnya agar bisa melewati Pak Joko yang bertubuh tinggi besar dan hampir memenuhi ambang pintu kamarnya.
“Kerja yang bener! Yang rajin! Biar bisa bayar kost tepat waktu! Rumah ini bukan dinas sosial yang harus ngebantu semua orang, tau!” celotehan Bapak Kost yang pedas dan menusuk sudah seperti makanan sehari-hari bagi Dharma, dan Dharma mencoba tak memasukkannya ke hati.
Dharma adalah seorang pria berusia 21 tahun yang merantau di Jakarta dan bekerja sebagai seorang Office Boy. Tujuan awal dia hijrah ke Jakarta, tentu saja bukan untuk menjadi seorang OB. Namun dengan hanya berbekal ijaasah SMA, pekerjaan apa yang bisa dia dapatkan? Diterima jadi OB saja sudah menjadi sebuah keberuntungan besar buatnya.
Dharma berharap dengan bekerja di Jakarta, kehidupannya yang miskin bisa membaik, namun apalah daya, gaji seorang OB tak cukup sama sekali untuk hidup di kota besar ini. Walaupun Dharma sudah mengirit makan hanya satu kali sehari, bahkan menyewa kamar kost yang paling lusuh dan murah, dia tetap tak bisa mencukupi kehidupannya, karena di desa, dia masih punya adik yang harus sekolah dan Ibu yang hanya bekerja serabutan menjadi buruh cuci. Dharma adalah tulang punggung bagi keluarganya ini.
Bekerja menjadi seorang OB bukanlah hal yang mudah. Caci maki seperti yang Pak Joko lontarkan pun sering sekali Dharma dengar di kantornya. Telinga Dharma sudah kebal dan dia tetap sabar menerima semua itu, demi tetap bisa bertahan hidup dan membiayai keluarganya.
.
Pukul 10.00, Dharma bertugas menyajikan kopi untuk rapat direksi. Tangannya sedikit gemetar membawa nampan berisi enam cangkir kopi hitam khusus dari Italia.
Ruangan rapat megah. Meja panjang dari kayu mahoni. Enam orang duduk, diantaranya ada Pak Rendra –manager keuangan, Bu Maya sang asisten direktur, dan Aisha Prameswari -putri tunggal pemilik Grup Arthavista.
Aisha sedang membahas presentasi ketika Dharma masuk. Matanya bergerak menatap Dharma lalu memberikan senyum tipis. Beda dengan yang lainnya, Aisha sepertinya menyadari kemunculan si OB ini.
“Lanjutkan, Dhar,” bisik Aisha saat Dharma meletakkan cangkir di depannya.
Dharma tersenyum –sopan. Di perusahaan besar ini, hanya Bu Aisha Iah satu-satunya yang mengingat namanya.
Tapi saat Dharma mencapai kursi Pak Haryanto - Direktur Operasional yang bertubuh besar, sesuatu yang buruk terjadi.
Haryanto tiba-tiba menggerakkan tangan lebar-lebar sedang berargumentasi —dan duar! nampan terpental. Enam cangkir kopi menghujam karpet Persian putih bernilai puluhan juta.
Deeeng… Suara pecah berirama. Lalu senyap.
Semua mata tertuju pada Dharma. Dan pada karpet yang sekarang bernoda coklat pekat.
“BODOH!” teriak Haryanto, sambil berdiri. “Kau tidak lihat aku sedang bicara?!”
Dharma membeku. Dari sudut matanya, ia melihat Maya menghela napas kesal. Aisha ingin bicara tapi ragu. Rendra tersenyum sinis.
“Maaf, Pak. Saya—”
“Diam!” potong Haryanto. “Kau tahu berapa harga karpet ini? Gajimu setahun pun tak akan cukup!”
Kemudian,tercetus kalimat yang membuat Dharma terhenyak -shock: “Keluar! Sekarang! Dan jangan kembali besok. Kau dipecat.”
.
Dharma keluar dari gedung perkantoran dengan langkah gontai. Hujan mulai rintik-rintik. Ia tak punya payung. Seragam birunya pun basah, menempel di kulit.
Pikirannya kosong.
Dipecat.
Artinya ia tak bisa bayar uang kos bulan depan.
Artinya adiknya di kampung tak bisa dia kirimi uang untuk buku dan ujian.
Artinya… akhir.
Dharma bingung harus kemana. Hari masih siang, jika dia kembali ke rumah kostnya dan bertemu Pak Joko, bisa-bisa dia bakal di omeli habis-habisan. Akhirnya Dharma memutuskan beristrahat sejenak di taman yang letaknya tak jauh dari gedung perkantorannya, sambil berpikir apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Tiba-tiba…
“Gedubrak!”
Dharma terkejut dan menoleh, seorang nenek tua terjatuh dan gerobaknya pun terjungkal sehingga semua isinya berserakan di jalanan. Tanpa pikir panjang, Dharma mendekat dan membantunya.
“Nek? Nenek baik-baik saja?” tanya Dharma sambil memunguti kardus-kardus dan botol bekas yang jatuh dari gerobak nenek tua itu.
“Te-terima kasih, nak… maaf merepotkan. Nenek baik-baik saja…” ucap sang nenek dengan suara gemetar.
“Hati-hati, Nek, jalanannya licin,” ucap Dharma sambil membantu si nenek untuk berdiri.
Dharma terus memperhatikan sang nenek tua. Rambut putihnya disanggul seadaannya, tangannya pun dingin dan gemetaran. “Nenek sakit?” tanya Dharma sambil memapah sang nenek ke sebuah kursi dan mengajaknya duduk di sana.
“Nenek baik-baik saja… hanya…belum makan dari kemarin, jadi kaki Nenek lemas…”
Dharma tersentak kaget. Seorang nenek tua renta sudah menahan lapar dari kemarin? Astaga, ternyata masih ada orang yang hidupnya lebih menderita dari dirinya.Rasanya tak tega sekali melihat orang tua dan renta ini harus menahan lapar/ Dharma berniat memberinya uang untuk membeli makanan, tapi dia ingat kalau dirinya sudah tak punya uang sepeserpun. Bahkan sejak tadi pagi pun dia belum makan karena tak punya uang.
Tapi tiba-tiba Dharma teringat jatah makan siangnya tadi belum sempat dia makan. Dhrama merogoh tas slempangnya dan mengambil nasi bungkus jatah makan siangnya. “Nek, Saya ada makanan untuk Nenek. Dimakan ya, Nek,” ucapnya sopan sambil menyerahkan nasi bungkus itu pada sang Nenek.
Wajah nenek tampak berseri-seri, matanya bahkan berbinar bahagia. “Tapi… kalau nasi ini dimakan nenek, kamu makan apa?” tanya si Nenek masih ragu untuk menerima pemberian Dharma.
Dharma tersenyum lebar, “tenang saja, Nek! Saya masih muda dan kuat. Setelah ini Saya bisa kerja dan dapat uang buat beli makanan. Jadi nenek tenang saja, ya?” ucap Dharma –berdusta. Padahal dirinya juga sangat kelaparan karena belum makan sejak pagi, entah dia akan makan apa hari ini. Namun Dharma merasa nenek ini lebih membutuhkan makanan ini dari pada dirinya.
Si Nenek tersenyum, “terima kasih, Nak. Kamu baik sekali…”ucapnya penuh syukur. “Menunduklah sebentar,” lanjutnya.
Dharma bingung, tapi menurut. Dia sedikit membungkukkan badannya seperti permintaan si Nenek.
Nenek itu mengusap kedua tangannya sambil memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit seolah merapalkan mantra –atau doa? Kemudian dia menempelkan kedua tangannya di telinga Dharma.
“Sekarang kau bisa mendengar apa yang tidak diucapkan… gunakanlah dengan bijak.”
Setelah itu siNenek meninggalkan Dharma yang masih bingung dan tak mengerti.