

Ruangan itu dipenuhi aroma parfum mahal yang memabukkan dan asap cerutu kualitas premium.
Di atas sofa kulit yang harganya bisa membeli sebuah rumah di pinggiran kota, seorang pria duduk dengan tenang. Penampilannya sempurna; setelan jas custom-made yang membungkus tubuh atletisnya, jam tangan seharga miliaran, dan sorot mata yang dingin namun menghipnotis.
Di sekelilingnya, empat orang wanita yang kecantikannya setara model papan atas tampak berebut perhatian. Ada yang memijat bahunya, ada yang menyesap wine sambil bersandar di dadanya, dan semuanya menatap pria itu dengan binar pemujaan yang sama. Mereka rela melakukan apa saja, hanya demi satu malam bersama pria di hadapan mereka.
Pria itu adalah Seta.
Siapa pun yang melihatnya sekarang pasti akan menyangka dia adalah putra mahkota dari sebuah dinasti bisnis. Padahal, belum lama ini, tangan yang kini mengenakan jam tangan mewah itu masih kasar, berdarah, dan berlumuran adukan semen. Ia dulu hanyalah kuli bangunan rendahan yang bahkan tak mampu membeli sepotong kue ulang tahun tanpa menahan lapar berhari-hari.
Lalu, bagaimana takdir bisa menyeretnya sejauh ini? Bagaimana seorang kuli yang dibuang seperti sampah, kini menjadi narkoba yang diperebutkan para ratu kota?
Semuanya bermula dari satu malam yang penuh dengan air mata dan pengkhianatan.
***
Dua ratus tiga puluh lima ribu rupiah.
Bagi sebagian orang di kota besar ini, angka itu mungkin hanya setara dengan satu kali makan siang di mall atau biaya parkir valet sebuah mobil mewah. Namun, bagi Seta, angka itu adalah representasi dari tiga hari kerja tanpa istirahat, punggung yang nyaris patah karena mengangkut ratusan sak semen, dan perut yang hanya diisi satu mie instan setiap harinya.
Seta menatap kotak kue berwarna lilac dengan pita emas di tangannya. Ia menjaganya seolah benda itu adalah porselen paling rapuh di dunia. Di bawah lampu jalanan yang remang-remang, ia menatap jemarinya yang kasar, pecah-pecah, dan masih menyisakan sisa semen yang mengering. Ada rasa bangga yang menyelinap di sela rasa lelahnya yang luar biasa. Karena pekerja kasar seperti dirinya nyatanya mampu membeli kue secantik ini demi kekasihnya yang sedang berulang tahun ke dua puluh satu.
Seta tersenyum.
Julia adalah segalanya bagi Seta. Mereka tumbuh besar di desa yang sama, menghirup udara yang sama, dan berbagi mimpi yang sama di bawah pohon randu tua sebelum mereka memutuskan merantau. Seta yang yatim piatu sejak kecil tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Baginya, Julia bukan sekedar kekasih; Julia adalah rumah dan satu-satunya alasan mengapa jantungnya masih sudi berdetak di kerasnya aspal ibu kota.
“Dia pasti senang,” bisik Seta, suaranya parau di tengah kegelapan malam, “Dia bilang ingin sekali mencicipi kue ini.”
Seta mempercepat langkahnya. Sandal jepitnya yang sudah menipis menepuk-nepuk aspal basah sisa hujan sore tadi. Ia menuju sebuah kawasan kosan yang cukup layak, tempat yang ia pilihkan khusus agar Julia bisa belajar dengan tenang. Sedang dirinya sendiri tinggal di bedeng proyek yang pengap demi menghemat uang agar bisa membiayai kuliah Julia, membelikannya pakaian bermerek yang sedang tren, skincare mahal yang akan membuat kulitnya semakin putih bening, juga ponsel keluaran terbaru yang selalu gadis itu inginkan.
Semua itu adalah hasil dari tulang-belulang Seta yang setiap malam berderak kelelahan. Siang ia menjadi kuli bangunan, malamnya ia menjadi kuli cuci piring di restoran atau apa saja—asal menghasilkan uang. Semua itu dia lakukan demi bisa mengumpulkan uang dan menyenangkan Julia.
Namun, langkahnya mendadak terhenti tepat di depan pintu kayu kamar kos nomor 12.
Lampu teras dimatikan, namun cahaya remang dari dalam menyelinap keluar lewat celah bawah pintu. Di sana, di tengah kesunyian malam, Seta mendengarnya.
Sebuah lenguhan panjang terdengar, bersamaan dengan suara nafas yang memburu. Otaknya menolak fakta, berteriak bahwa mungkin Julia hanya sedang menonton film atau sedang sakit. Tapi, telinganya tidak bisa berdusta. Itu memang suara Julia. Suara yang biasanya memanggil namanya dengan lembut saat meminta uang bulanan, kini terdengar menjijikkan di sela desahan seorang pria yang jelas bukan dirinya.
"Ah, Mas Reno, nghhh~ lebih cepat lagi, sayang~"
Darah Seta berhenti mengalir. Dunianya runtuh dalam satu detik.
BRAAAKKK!
Tanpa sadar, kaki Seta yang beralaskan sandal jepit tipis itu menghantam pintu dengan kekuatan penuh. Pintu kayu itu terhempas ke tembok, menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga.
Pemandangan di dalam sana jauh lebih menghancurkannya daripada sekadar mimpi buruk.
Di atas sofa cokelat—sofa yang Seta beli dengan mencicil selama tiga bulan sambil menahan lapar—Julia sedang dalam posisi yang menghancurkan seluruh kewarasan Seta. Dia tidak sendiri. Seorang pria berambut klimis sedang berada di atasnya. Aroma parfum mahal menyeruak, bercampur dengan bau pengkhianatan yang menyesakkan dadanya.
“Julia?” suara Seta pecah, hampir tak terdengar.
Keduanya tersentak hebat. Julia terburu-buru menarik kain selimut untuk menutupi tubuhnya. Wajahnya pucat pasi melihat Seta berdiri gemetar di ambang pintu. Namun, ketakutan itu rupanya hanya bertahan lima detik. Begitu Julia melihat penampilan Seta—kaus oblong yang dekil, celana kain yang penuh noda semen, bau keringat yang masih tercium, juga wajahnya yang kusam—ekspresi wajah gadis itu berubah drastis.
Bukan rasa bersalah yang muncul. Melainkan rasa jijik.
“Ngapain kamu ke sini, Ta?! Nggak sopan banget main tendang pintu orang!” bentak Julia sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Hati Seta semakin mencelos mendengar itu.
“Aku ini pacar kamu, Jul! Aku yang selama ini banting tulang demi kamu. Tapi kamu malah—”
Dia tak sanggup meneruskan. Matanya beralih pada kue ditangannya. Seta mengangkat kotak kue itu, tangannya bergetar hebat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang merah.
“Aku... aku cuma mau kasih hadiah ulang tahun buat kamu. Kamu bilang ingin kue ini, kan? Aku sudah belikan, Jul. Tapi, apa yang kamu lakukan ini? Kamu selingkuh!”
Pria di atas sofa itu tertawa remeh. Ia dengan santai memakai kemejanya kembali, seolah kehadiran Seta tak pernah berarti sama sekali.
“Ini cowok yang sering kamu ceritain itu, Jul? Si kuli bangunan yang baunya kayak adukan semen ini?”
Julia menatap Seta dengan tatapan paling dingin yang pernah Seta lihat seumur hidupnya. Tidak ada sisa-sisa cinta yang terlihat di matanya.
“Seta, sadar diri deh. Kamu lihat Mas Reno? Dia bisa kasih aku apa pun yang aku mau dalam sekejap tanpa perlu keringetan kayak kamu. Enggak kayak kamu—yang harus nunggu berbulan-bulan hanya buat beli kue murahan kayak gitu!”
“Tapi aku sayang sama kamu, Jul... Aku kerja siang malam, tulangku hampir patah buat kamu kuliah...”
“Sayang nggak bisa beli gengsi, Seta!” potong Julia dengan nada yang melengking tajam.
Gadis itu berdiri, berjalan mendekati Seta. Tangannya menyambar kotak kue itu dengan kasar darinya. Tanpa kelihatan ragu sedikit pun, dia kemudian melemparkan kue itu ke lantai.
PLAK!
Kotak cantik itu terbuka. Kue mahal seharga ratusan ribu itu hancur berantakan di atas lantai yang dingin. Krim putih manisnya tercampur dengan debu dan kotoran.
“Pergi, Seta. Kamu itu miskin. Kamu nggak punya masa depan. Lihat diri kamu sendiri di cermin, kamu lebih mirip gelandangan daripada pacar seorang mahasiswi. Mas Reno ratusan, bahkan ribuan kali lebih baik daripada kamu dalam segala hal. Kamu itu cuma beban buat aku sekarang! Aku malu punya pacar kayak kamu!”
Julia mendorong dada Seta dengan sangat kuat.
“Satu lagi, jangan pernah cari aku lagi. Aku sudah muak pura-pura cinta sama cowok yang kerjanya cuma jadi kuli kayak kamu. Keluar!”
Seta terhuyung mundur. Pintu dibanting tepat di depan wajahnya. Suara kunci yang diputar terdengar seperti vonis mati yang dijatuhkan oleh hakim. Dari luar, Seta masih bisa mendengar tawa Reno yang menghina, disusul suara Julia yang merayu pria itu lagi untuk melanjutkan permainan mereka, seolah Seta hanyalah sampah yang baru saja dibuang ke tempat yang semestinya.
Seta berdiri diam di lorong yang sepi. Di bawah kakinya, kue yang ia perjuangkan dengan menahan lapar itu sudah hancur tak berbentuk. Sama seperti hatinya. Seperti seluruh dunianya yang ia bangun selama bertahun-tahun namun hancur begitu saja.
***