Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CAWAN KERAMAT

CAWAN KERAMAT

Teh Manis | Bersambung
Jumlah kata
34.6K
Popular
2.7K
Subscribe
449
Novel / CAWAN KERAMAT
CAWAN KERAMAT

CAWAN KERAMAT

Teh Manis| Bersambung
Jumlah Kata
34.6K
Popular
2.7K
Subscribe
449
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremUrbanDunia Gaib
Tak hanya diputuskan secara sepihak, Tono juga direndahkan oleh Safitri karena kemiskinannya.Kehidupan Tono semakin sulit ketika tempat kerjanya memperlakukannya tak lebih dari sampah. Hingga akhirnya dia menemukan sebuat cawan yang akan mengubah nasibnya.
1

“Kita putus! Mulai sekarang tidak ada hubungan apa pun antara kita.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulur Safitri. Tono menatap gadis itu seolah tak percaya, wajah yang sudah dikenalnya selama tiga tahun terakhir, kini terasa asing.

“Kau sedang bercanda kan, Fit?”

Suara Tono terdengar serak, dia melangkah maju dan meraih tangan Safitri. Tangannya yang kasar meraih pergelangan tangan yang putih dan halus itu, seolah ingin memastikan bahwa semua ini hanya lelucon.

Namun yang dia dapatkan justru sebaliknya. Safitri menepis tangan Tono dengan kasar, seperti orang yang merasa jijik.

“Jauhkan tangan kotormu dariku!” ketus Safitri seraya mengusap-usap tangannya yang baru dipegang oleh Tono.

Tono terpaku. Sebelum dia sempat berkata apa pun, sebuah suara lain menyela.

“Ada apa, Sayang?”

Seorang lelaki berpakaian perlente tiba-tiba menghampiri mereka. Kemeja mahalnya tampak licin dan rapi, jam tangan mengilap melingkar di pergelangan tangan. Tanpa ragu, dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Safitri dan mencium keningnya.

Safitri pun membalasnya tanpa rasa canggung, bahkan terlihat lebih santai seolah tidak ada Tono di depanya.

“Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya seorang gembel yang meminta sumbangan,” jawab Safitri dengan enteng.

Kata Safitri itu seperti tamparan bagi Tono. “Jadi ini yang membuatmu memutuskan hubungan kita?” Nada suaranya naik karena emosi.

“Kamu ngigau ya? Sejak kapan kita punya hubungan?” ujar Safitri. Dia lalu menoleh ke arah Dimas, kekasih barunya itu. “Ayo, Sayang. Kita pergi.”

Keduanya langsung berbalik bersiap untuk pergi. Namun Tono bergegas memotong jalan mereka. “Kita belum selesai bicara, Fit.”

Dimas mendengus kesal. Tanpa banyak bicara, dia langsung melepas tinjunya ke wajah Tono. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali membuat tubuh pemuda itu jatuh tersungkur.

Tono berusaha masih berusaha. Namun Dimas belum puas. Dia menendang perut Tono, seperti ingin memastikan lelaki itu tak bangkit lagi.

“Sekali lagi lu ganggu cewek gue, gue habisin lu!”

Keduanya lalu berlalu meninggalkan Tono yang masih tergeletak. Safitri bahkan tak menoleh sekali pun.

Tono duduk terdiam, telapak tangannya menahan tubuhnya di lantai yang dingin dan kotor. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya suara seseorang terdengar.

“Kamu kenapa, Ton?”

Sari, kasir toko yang sedari tadi memperhatikan Tono, menghampirinya setelah Safitri dan kekasihnya pergi. Dia membantu Tono berdiri. Tangannya kecil, tapi pegangan itu terasa hangat dan tulus. Berbeda dengan sentuhan Safitri yang menolaknya dengan jijik, sentuhan Sari justru terasa seperti sesuatu yang menenangkan.

“Tidak apa-apa, Sar. Hanya luka kecil,” jawab Tono seolah yang menimpanya bukan apa-apa.

“Tidak ada apa-apa bagaimana? Jelas-jelas bibir kamu berdarah. Ayo masuk ke toko dulu, biar aku obati.”

Tanpa menunggu jawaban, Sari menarik tangan Tono masuk ke dalam toko pakaian tempatnya bekerja. Beberapa pelanggan menoleh, tapi Sari mengabaikan mereka. Dia menuntun Tono ke belakang meja kasir, mengambil kotak P3K dari laci bawah, lalu duduk berhadapan dengannya di bangku kecil.

Dia membuka kotak obat, mengeluarkan kain kapas dan cairan antiseptik. Tangannya bergerak hati-hati menyeka luka Tono. Sesekali Sari mencuri pandang wajah Tono yang meringis kesakitan saat dia mengompres wajahnya yang mulai terlihat lebam.

“Sakit, Sari!” rintih Tono.

Namun hanya dibalas senyuman gadis itu. “Maaf, tidak sengaja. Sebentar lagi selesai, kok.” Senyuman itu kecil, tapi hangat dan tulus. Setelah memastikan darahnya berhenti dan luka di wajahnya dibersihkan, Sari memasukkan kembali obat-obatan ke kotak.

“Sebenarnya ... aku sudah sering melihat Safitri jalan sama cowok lain, Ton. Tapi aku nggak tega kalau ngomong sama kamu?” Suara Sari terdengar pelan.

“Kenapa?” Tono menatap gadis itu, suaranya datar, tapi matanya penuh tanda tanya.

Sari menghela napas panjang. “Sudahlah. Sebaiknya kau lupakan saja Safitri. Lagi pula, masih banyak gadis-gadis yang mau sama kamu.”

Tono hanya terdiam. Dia memang sudah sering mendengar bahwa Safitri punya cowok lain di belakangnya. Dia cukup tahu diri. Lelaki dengan gaji pas-pasan, tubuh kurus, dan masa depan yang tidak pernah terlihat jelas, mana mungkin Safitri akan benar-benar mencintainya.

Dan hari ini. Dia benar-benar sudah membuktikannya dengan mata kepalanya sendiri.

“Ye ni bocah. Dicariin malah ngerem di sini.” Bakir, sopir mobil boks teman kerja Tono, tiba-tiba masuk ke dalam toko.

Sari menoleh cepat ke arah Bakir. “Jangan gitu, Kir. Kamu nggak tahu apa kalau Tono abis digebukin sama orang,” ujar Sari. Nada suaranya terdengar sedikit kesal. Mereka semua bekerja di bos yang sama. Bedanya, kalau Sari di bagian penjualan toko sedangkan Tono hanya kuli panggul yang bekerja di gudang bersama Bakir.

Bakir terkekeh. “Lu cemen sih, Ton. Udah badan kerempeng, miskin, masih aja naksir cewek cantik. Ya wajar kalau cewekmu itu milih cowok yang lebih tajir.”

Tono nyengir. “Nyari pengalaman, Bang!” jawabnya enteng. “Mendingan diselingkuhin saat masih pacaran, daripada kalau sudah nikah nanti. Iya nggak sih?”

Bakir terkekeh sambil menepuk pundaknya. “Ya udah jangan dipikirin. Mending kita balik ke gudang. Bos udah nunggu.”

Tono mengangguk. Tubuhnya melonjak dari atas kursi penuh semangat. Sari menatapnya dengan cemas, tapi Tono hanya tersenyum tipis ke arahnya, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.

“Makasih, Sar,” ucapnya lirih sebelum melangkah pergi.

Sari membalas dengan senyum kecil. Sesampainya mereka di gudang. Waktu sudah menunjukkan jam 5 lebih 45 menit. Sudah tidak ada pekerjaan lagi. Truk terakhir sudah berangkat sejak setengah jam lalu dan barang-barang untuk hari ini sudah selesai dipindahkan ke toko.

Tono merebahkan tubuhnya yang masih terasa sakit di lantai gudang, bersandar di antara rak. Namun baru saja dia akan meluruskan badannya, sebuah suara keras menggelegar dari arah pintu gudang.

“Jangan malas-malasan, cepat bangun dan bersihkan gudang di samping. Besok akan ada barang masuk lagi,” teriak Hamdan, sang kepala gudang. Kakinya terayun menendang Tono.

“Sekarang, Pak?” tanya Tono.

“Ya sekarang, masa tahun depan!” ketus lelaki berkumis tebal itu. “Lu bersihin semua ya!”

Hamdan menunjuk ke arah pintu gudang kecil di sisi bangunan utama, gudang lama yang sudah lama tak terpakai. Tono tak membantah, dia lalu melangkah ke sana. Dia tahu melawan Hamdan hanya akan memperpanjang masalah.

Tono menghela napas panjang saat melihat kondisi gudang itu. Dia mengambil sapu yang bersandar di sudut ruangan dan mulai menyapu lantai yang tertutup debu tebal. Dia kemudian mulai mengumpulkan barang-barang bekas yang tak terpakai, menyusunnya di satu sudut ruangan untuk nanti dibuang.

Namun saat Tono bergeser ke sudut ruangan, dia menemukan sebuah cawan tua yang terlihat usang. Benda itu tergeletak di antara tumpukan kain lap kotor dan kardus lembap. Bahannya seperti dari tembaga berwarna kuning keemasan yang mulai pudar dan sebagian sudah menghitam.

Tono memegangi cawan itu. Ada sensasi aneh saat jari-jarinya menyentuh permukaannya. Rasa hangat samar yang sulit dijelaskan.

“Wah lumayan nih, bisa buat minum.”

Dia bergumam kecil. Bagi orang lain, benda itu mungkin tak ada artinya. Tapi bagi Tono, yang sering lupa membawa botol minum dan harus meminum air dari gelas plastik bekas di gudang, menemukan cawan seperti ini terasa seperti rezeki kecil.

Tanpa pikir panjang, Tono membawa cawan itu ke gudang sebelumnya untuk mengambil air mineral dari dispenser. Cahaya lampu membuat warna tembaga cawan itu terlihat berkilau meski samar.

Dia lalu menyeka permukaan cawan dengan kausnya sebelum menggunakannya. Tidak ada kejadian luar biasa saat dia mengisinya. Namun ketika cawan itu hampir menyentuh bibirnya, Tono berhenti sejenak.

“Kok bau wangi ya?” gumam Tono. Aromanya samar seperti wangi melati tercium oleh hidungnya.

Namun dia tak mau berpikir terlalu jauh. Tono langsung menenggak air dalam cawan itu. Rasa sejuk seketika mengalir lancar ke tenggorokannya, membasahi kerongkongan yang kering. Dia menghabiskan seluruh isi cawan itu dalam satu tarikan panjang.

Rasa lelah di lengannya seperti ditarik pergi oleh sesuatu yang tak terlihat. Nyeri di punggungnya berkurang. Bahkan rasa perih di wajahnya pun seolah mereda. Dia merasa ada hawa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Tenaganya yang semula hilang, kini seakan muncul lagi. Bahkan berkali-kali lipat.

Namun sebelum dia sempat menyadari sensasi aneh itu lebih jauh, suara Hamdan kembali terdengar dari belakang.

“Sudah selesai beresin gudangnya, Ton?”

Tono menoleh refleks. “Sudah, Pak.”

Hamdan melirik ke arah gudang kecil di samping, melihat lantai yang kini bersih, tumpukan barang bekas yang rapi di sudut, dan tidak ada lagi debu tebal yang semula terlihat menumpuk. Dia mengangguk kecil.

“Ya udah, sekarang lu boleh pulang. Besok jangan sampai datang terlambat.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca