

Aku selalu menganggap malam hanyalah pergantian waktu.
Gelap yang wajar. Sunyi yang biasa.
Sampai malam ketujuh itu datang.
Angin berembus lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
amis, tapi bukan bau hujan. Langit menggantung rendah, bulan purnama tampak merah pucat seolah dilapisi darah tipis. Orang-orang desa menutup pintu lebih awal malam ini. Tidak ada tawa, tidak ada lampu yang dibiarkan menyala terlalu terang.
Mereka bilang, malam ketujuh bukan milik manusia.
Aku tidak pernah peduli pada mitos. Aku datang ke desa ini hanya untuk satu hal.
melarikan diri dari hidup yang sudah terlalu berisik. Pekerjaanku hancur, hubunganku runtuh, dan kota terasa seperti penjara yang dipenuhi suara-suara yang tidak memberiku ruang bernapas.
Desa ini seharusnya tenang. Aman.
Tapi sejak aku tiba, mimpi yang sama terus datang.
Perempuan bermata perak, berdiri di tengah hutan, memanggil namaku seolah kami sudah saling mengenal sejak lama.
“Datanglah… di malam ketujuh.”
Aku menertawakan mimpi itu pada awalnya. Namun setiap malam, suaranya semakin jelas. Sentuhannya terasa semakin nyata. Dan entah kenapa, dadaku selalu terasa sesak saat aku terbangun, seperti ada sesuatu yang menungguku, dan aku terus menundanya.
Malam ini, aku tidak bisa tidur.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.47 ketika aku akhirnya berdiri, mengenakan jaket, dan melangkah keluar rumah sewaan. Langkah kakiku bergerak tanpa ragu, seolah ada tali tak kasatmata yang menarikku menuju hutan di belakang desa.
Hutan itu gelap. Terlalu gelap.
Pepohonan menjulang seperti penjaga tua yang mengawasi setiap langkahku. Daun-daun bergesekan, berbisik dalam bahasa yang tidak kupahami. Semakin dalam aku melangkah, semakin sunyi dunia terasa. Bahkan suara jangkrik pun menghilang.
Aku berhenti di sebuah tanah lapang kecil.
Di sana, lilin-lilin hitam menyala membentuk lingkaran. Api mereka berwarna kemerahan, bergetar seolah bernapas. Jantungku berdetak keras, tapi kakiku tidak bergerak mundur.
Aku pernah melihat tempat ini.
Dalam mimpiku.
“Jadi… kau benar-benar datang.”
Suaranya muncul dari balik bayangan. Lembut, rendah, tapi membawa gema yang aneh. seolah berasal dari banyak arah sekaligus.
Aku menoleh.
Dia berdiri di antara pepohonan, gaun putihnya melayang meski tidak ada angin. Rambut peraknya panjang, jatuh seperti cahaya bulan yang patah. Kulitnya pucat, nyaris berkilau. Dan matanya…
Perak. Tepat seperti di mimpiku.
Aku menelan ludah. “Siapa kamu?”
Dia tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya bahagia. “Pertanyaan itu sudah terlalu terlambat.”
Dia melangkah mendekat, dan setiap langkahnya membuat tanah di bawah kakiku terasa berdenyut. Aku ingin mundur. Sungguh. Tapi tubuhku membeku.
“Kau dipanggil oleh darahmu sendiri,” katanya pelan. “Dan darah tidak pernah salah mengenali takdirnya.”
“Aku tidak percaya omong kosong mistik,” kataku, meski suaraku bergetar.
“Namun kau tetap datang.”
Dia berdiri tepat di depanku sekarang. Begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma dingin, seperti hujan pertama yang jatuh di tanah kuburan. Tangannya terangkat, jari-jarinya hampir menyentuh dadaku.
Saat kulit kami bersentuhan, tubuhku tersentak.
Hangat.
Terlalu hangat untuk makhluk yang seharusnya tidak hidup.
“Nadimu berdetak cepat,” bisiknya. “Kau takut… tapi juga penasaran.”
Aku tidak menyangkal. Aku tidak bisa.
“Apa yang kamu inginkan dariku?”
Matanya meredup, seolah menanggung ribuan tahun kesepian. “Perjanjian.”
Sebuah pisau kecil muncul di tangannya—entah dari mana. Bilahnya hitam, namun memantulkan cahaya merah bulan. Simbol-simbol aneh terukir di permukaannya, bergerak seperti makhluk hidup.
“Darahmu,” katanya jujur. “Sebagai pengikat sumpah.”
“Nanti dulu,” kataku cepat. “Kau bahkan belum mengatakan siapa dirimu.”
Dia menatapku lama, lalu berlutut di hadapanku. Gerakannya anggun, penuh hormat.
“Aku penjaga batas,” katanya. “Antara dunia yang kau kenal dan dunia yang kau tolak keberadaannya. Dan kau… terpilih untuk menggantikan peran yang telah lama kosong.”
“Kenapa aku?”
“Karena kau tidak lagi terikat pada apa pun.”
Kata-katanya menusuk tepat di tempat yang paling rapuh.
Dia benar.
Aku sendirian. Tidak ada yang akan mencariku jika aku menghilang. Tidak ada kehidupan yang benar-benar menungguku kembali.
Pisau itu kini berada di tanganku. Entah kapan ia berpindah. Entah bagaimana aku membiarkannya.
“Jika aku menolak?” tanyaku lirih.
“Maka kau akan melupakan malam ini,” jawabnya. “Dan aku akan menunggumu di kehidupan berikutnya.”
Aku menatap tanganku sendiri. Kulitnya bergetar. Aku mengangkat pisau itu, ragu.
“Dan jika aku menerima?”
Dia mendekat, bibirnya hampir menyentuh telingaku.
“Darahmu akan menjadi milikku,” bisiknya. “Dan hatimu… akan terikat padaku hingga malam ketujuh terakhir.”
Aku seharusnya lari.
Namun yang kulakukan justru menarik napas, lalu menggoreskan pisau itu ke telapak tanganku.
Darah menetes ke tanah.
Lilin-lilin menyala lebih terang. Angin meraung. Tanah bergetar.
Dan perempuan bermata perak itu tersenyum—senyum yang indah sekaligus mematikan.
“Selamat datang,” katanya, saat darahku menyatu dengan mantra kuno.
“Perjanjian kita telah dimulai.”
Di kejauhan, bulan merah berdenyut pelan.
Malam ketujuh belum berakhir.