

"Kok nggak bisa dihapus?"
Bara menatap layar ponselnya dengan frustrasi. Jari telunjuknya menekan lama ikon aplikasi misterius itu hanya sebuah lingkaran hitam polos tanpa nama tapi menu "Hapus" tidak muncul. Bukan greyed out. Benar-benar tidak ada.
Sudah tiga hari aplikasi aneh itu muncul tiba-tiba di ponseli-nya. Tidak ada di Play Store. Tidak ada jejak instalasi di pengaturan. Coba reset pabrik? Setelah ponsel hidup kembali, aplikasi itu sudah ada di sana, seolah menjadi bagian dari sistem sejak awal.
Bara menghela napas, melemparkan ponselnya ke kasur kosan yang sempit. Kamar 3x4 meter ini adalah seluruh dunianya di Jakarta sebagai mahasiswa ekonomi semester enam yang berjuang sendirian. Ortu di kampung hanya bisa kirim uang seadanya, selebihnya ia harus kerja part-time.
Jam digital di meja belajar menunjukkan pukul 22.47. Besok ada ujian mikroekonomi jam tujuh pagi. Bara mematikan lampu, berusaha tidur.
Bzzzt. Bzzzt.
Ponsel bergetar di kasur. Cahaya biru pucat menerangi langit-langit kamar.
Bara meraihnya dengan geram, siap untuk mematikan notifikasi. Tapi yang muncul bukan notifikasi biasa.
________________________________________
APLIKASI: TAK TERHAPUS
PEMBERITAHUAN PERTAMA: AKTIVASI
Kontrak telah terikat.
Sistem telah memindai pengguna cocok: BARA WIJAYA (22)
Aturan Dasar:
1. Aplikasi akan memberikan instruksi penyelamatan.
2. Target selalu perempuan dalam bahaya nyata.
3. Penolakan atau kegagalan = Konsekuensi Negatif.
4. Penyelesaian sukses = Hadiah sesuai kontrak.
Instruksi Pertama akan tiba dalam: 00:04:32
________________________________________
Bara duduk tegak di kasur, jantung berdebar kencang. Ini lelucon siapa? Aplikasi apa ini? "Kontrak terikat"? Kapan dia menyetujui kontrak apa pun?
Hitungan mundur di layar terus berjalan: 00:03:17... 00:02:49...
Dia mencoba mematikan ponsel. Tombol power tidak responsif. Layar tetap menyala dengan hitungan mundur yang tak terhentikan.
00:00:05... 00:00:04...
Bzzzt.
________________________________________
INSTRUKSI #001
WAKTU: SEKARANG
LOKASI: WARUNG NASI PADANG “ABC” (200m dari posisimu)
TARGET: KASIR WANITA, RAMBUT IKAT PONI, KAOS KOTAK-KOTAK
SITUASI: DUA LAKI-LAKI MENCOBA MEMAKSA TUTUP WARUNG, MENGANCAM
TINDAKAN: INTERVENSI FISIK. GUNAKAN TRIK, BUKAN KEKERASAN LANGSUNG.
KONSEKUENSI NEGATIF JIKA DIABAIKAN: RANTAI KESIALAN 24 JAM
HADIAH JIKA BERHASIL: APA YANG DIINGINKANNYA
________________________________________
Bara menatap layar, napasnya memburu. Warung nasi Padang itu memang buka sampai larut, tepat di ujung gang kosannya. Tapi ini malam buta. Dua laki-laki? Dia mahasiswa, bukan preman.
Pikirannya melesat ke ujian besok. Kalau dia keluar sekarang, besok pasti ketiduran di kelas. Tapi...
"Konsekuensi Negatif: Rantai Kesialan 24 Jam."
Kata-kata itu terasa mengancam. Bukan sekadar ancaman virtual. Ada sesuatu dalam cara notifikasi itu muncul seolah aplikasi ini tahu dia akan membaca, tahu dia akan ragu.
Dari jendela kosannya, Bara bisa melihat ujung gang. Cahaya neon warung masih menyala. Sepertinya ada bayangan bergerak-gerak di dalam.
Dia menghela napas panjang, meraih jaket hoodie.
"Bodoh sekali," gumamnya pada diri sendiri saat mengikat tali sepatu. Tapi kaki sudah melangkah keluar kamar, menuruni tanggan kayu yang berderit, memasuki dinginnya malam Jakarta.
Ponsel di sakunya bergetar sekali lagi.
"Waktu mulai berjalan. Semoga beruntung, Pengguna."
Bara tidak tahu bahwa langkahnya menuju warung itu adalah langkah pertama menuju kehidupan baru kehidupan di mana batas antara penyelamat, predator, dan pion dalam permainan yang tak dipahaminya akan semakin kabur.
Dan aplikasi di ponselnya, dengan ikon lingkaran hitamnya yang polos, baru saja memulai permainan.
Bara melangkah keluar dari gang kosannya, udara malam Jakarta yang lembap menyergap kulitnya. Suara Jakarta malam deru motor yang jarang, gema televisi dari rumah-rumah terasa seperti latar belakang yang asing bagi situasi aneh ini.
Warung nasi Padang "ABC" hanya berjarak dua ratus meter. Cahaya neon kuningnya berkedip-kedip, menerangi trotoar yang retak. Dari kejauhan, Bara sudah melihat sosok di dalam: seorang perempuan muda dengan rambut diikat poni, berdiri di balik meja kasir dengan tubuh tegang.
Dua laki-laki bertubuh besar menghadapinya. Satu memakai kaus bola lusuh, yang lain jaket kulit. Suara mereka terdengar sampai ke luar.
"Sudah jam segini, Mbak. Tutup aja. Kita jagain," kata si jaket kulit, suaranya licin seperti minyak.
"Bapak-bapak, warung saya masih buka sampai jam sebelas," jawab perempuan itu, suaranya berusaha tegas tapi gemetar.
"Tapi kita sudah mau tutupin."
Bara berhenti beberapa meter dari pintu warung, jantung berdetak kencang. Apa yang harus dia lakukan? Intervensi fisik. Gunakan trik, bukan kekerasan langsung.
Ponsel di sakunya bergetar pelan, seolah mendorong.
Dia menarik napas dalam, lalu melangkah masuk. Bel berbunyi nyaring saat pintu kaca dibuka.
Ketiga orang di dalam menoleh ke arahnya.
"Maaf, masih buka?" tanya Bara, berusaha terdengar biasa saja.
Perempuan di balik kasir wajahnya bulat, mata lebar penuh ketakutan mengangguk cepat. "Masih, Mas. Mau pesan apa?"
Dua laki-laki itu memandangi Bara dengan mata menyipit. Si jaket kulit mendekat. "Kebetulan mau tutup, Dik. Cari tempat lain."
Bara mengabaikannya, mendekati meja kasir. "Mau bungkus nasi rames, Mbak. Tambah rendang dan telur balado."
Perempuan itu namanya tertulis di badge: "Sari" mengangguk, tangannya gemetar saat mengambil piring.
"Kamu tuli ya?" tangan si jaket kulit mendarat di pundak Bara.
Saat itulah Bara merasakan sesuatu yang aneh. Bukan rasa takut, tapi semacam... aliran informasi. Gambaran kilat muncul di kepalanya: Kaki kanan si jaket kulit agak terangkat. Ada bekas operasi. Titik lemah.
Dia tidak tahu dari mana ini datang, tapi tubuhnya bergerak sendiri. Bara berputar pelan, membuat tangan di pundaknya terlepas. "Maaf, Bang. Saya cuma mau makan. Kalau warung tutup, kenapa lampunya masih nyala?"
Si kaus bola mendekat. "Sudah, pergi sana!"
Trik, bukan kekerasan langsung.
Bara melihat ke sekeliling. Matanya tertuju pada wajan besar di kompor dekat dapur. Api kecil masih menyala di bawahnya. Minyak sisa menggoreng.
"Wah, kompornya masih nyala, Mbak Sari," kata Bara dengan suara lebih keras. "Bahaya nanti kena tumpah minyak panas. Apalagi kalau ada yang tidak sengaja nabrak."
Dia sengaja menatap dua laki-laki itu.
Sari memahami. Tangannya yang gemetar tadi tiba-tiba menjadi tegas. "Iya, Mas. Benar juga." Dia berjalan ke kompor, mengambil wajan besar itu masih berasap panas dan memegang gagangnya dengan kedua tangan. "Kebetulan saya mau bersih-bersih dapur."
Dua laki-laki itu saling pandang. Si jaket kulit melihat wajan berisi minyak panas itu, lalu kakinya yang pernah dioperasi terasa ngilu tiba-tiba.
"Kita pergi," geram si kaus bola. "Beresin warung loe yang bau ini."
Mereka keluar dengan langkah cepat, pintu kaca terbanting.
Begitu mereka hilang dari pandangan, Sari menaruh wajan dengan gemetar hebat. Nafasnya terengah-engah. "Terima kasih, Mas. Mereka... sudah nongkrong sejam di sini. Minta uang keamanan."
Bara mengangguk, perhatiannya tertuju pada ponsel di sakunya yang bergetar.
"INSTRUKSI #001: SELESAI. KONTRAK AKAN DIPENUHI."
"Mas?" suara Sari memecah konsentrasinya. "Nasi ramesnya masih mau?"
Bara melihat jam. Sudah hampir jam sebelas malam. "Iya, Mbak. Bungkus saja."
Sambil Sari membungkus makanan, Bara memperhatikannya. Dia mungkin seumuran dengannya, atau sedikit lebih muda. Tangan kecilnya masih gemetaran saat mengisi kotak nasi. Ada kelelahan di matanya, tetapi juga keteguhan.
"Sendirian jaga warung malam-malam?" tanya Bara.
"Biasanya Bapak saya yang jaga, tapi beliau sakit," jawab Sari tanpa menatap. "Ini penghasilan satu-satunya keluarga."
Bara merasa sesuatu di dadanya sesak. Hidup di kota besar memang keras bagi mahasiswa seperti dia, bagi keluarga kecil penjaga warung seperti Sari.
"Terima kasih tadi, ya. Nama saya Sari." Dia menyerahkan bungkusan nasi. "Ini gratis."
"Bara," balasnya sambil menerima bungkusan. "Tapi bayar saja, Mbak. Lumayan buat obat Bapak."
Sari tersenyum kecil, mata berkaca-kaca. "Terima kasih."
Saat jari mereka bersentuhan sepersaat saat uang berpindah tangan, Bara merasakan sesuatu arus listrik kecil? Atau hanya imajinasinya?
"HADIAH SEDANG DIPROSES. PROSES KIMIAWI DAN PSIKOLOGIS DIMULAI."
Bara mengernyit. Kimiawi dan psikologis?
"Bara, kamu... tinggal di sekitar sini?" tanya Sari tiba-tiba, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
"Iya, di gang sebelah."
"Mungkin... lain waktu saya traktir kamu makan siang?" Sari menunduk, pipinya memerah. "Sebagai terima kasih yang lebih pantas."
Ada sesuatu yang berubah dalam nada suaranya. Ketakutan tadi telah berubah menjadi... sesuatu yang lain. Kehangatan. Daya tarik.
"O-oke," jawab Bara, sedikit terkejut.
Sari tersenyum lebar kali ini. "Besok siang, jam satu? Saya tutup warung sebentar."
Bara mengangguk, lalu berpamitan. Saat dia berjalan kembali ke kosan, pikirannya berputar-putar. Aplikasi itu benar-benar bekerja. Dan "hadiah" apakah itu maksudnya dengan "proses kimiawi dan psikologis"? Apakah itu yang membuat Sari tiba-tiba mengajaknya makan siang?
Dia membuka ponsel. Aplikasi lingkaran hitam itu sekarang menunjukkan pesan baru:
"KONTRAK TERPENUHI. TARGET MERASA BERTERIMA KASIH DAN TERATRAKSI. HADIAH AKAN DIBERIKAN SETELAH INTERAKSI BERIKUTNYA. INSTRUKSI BERIKUTNYA DALAM 48 JAM."
"CATATAN: KONSEKUENSI NEGATIF TELAH DICEGAH. KEBERUNTUNGAN ANDA MENINGKAT 15% UNTUK 24 JAM KE DEPAN."
Bara berdiri di depan pintu kosannya, bungkusan nasi masih di tangan. Jakarta malam masih sama berisik, bau, kacau. Tapi dunia Bara tidak akan pernah sama lagi.
Aplikasi itu nyata. Aturannya nyata. Dan sekarang dia telah menjadi bagian dari permainannya entah sebagai pemain, pion, atau sekadar alat.
Dia masuk ke kamar, mengunci pintu, dan menatap ponselnya. Ikon lingkaran hitam itu tampak lebih gelap dari kegelapan malam.
Besok ada ujian. Besok dia akan ketemu Sari lagi.
Dan dalam 48 jam, instruksi berikutnya akan datang.
Bara berbaring di kasur, mata tertuju pada langit-langit yang retak. Pertanyaan-pertanyaan berputar di kepalanya, tetapi satu yang paling mengganggu:
Ketika hadiah itu benar-benar diberikan nanti apakah dia akan menerimanya?
Ponsel di samping bantalnya berkedip sekali, seolah menjawab:
"Anda tidak punya pilihan lain, Pengguna."