

“Sebenarnya hasil tes Anda cukup baik. Namun mohon maaf, kami belum bisa menerima Anda.” Kalimat itu terus teringang-ngiang di telinga Martin. Entah sudah berapa kali dia mendengar kalimat serupa.
Saat itu, Pria bernama Martin berjalan pulang dengan langkah gontai. Ia tampak lemas karena beban kegagalan yang kesekian kalinya. Entah pengajuan proposal bisnis, maupun lamaran pekerjaan. Semuanya ditolak.
Wajahnya terlihat lesu. Sorot matanya kosong, mencerminkan keputusasaan setelah kembali gagal mendapatkan pekerjaan. Sejak kebangkrutan menimpa, hidupnya benar-benar jungkir balik. Dia harus memulai segalanya dari nol, padahal usianya sudah mendekati empat puluh tahun.
Setibanya di depan rumah, suasana hening menyelimuti. Martin membuka pintu perlahan, berharap menemukan sedikit kedamaian di ‘istananya’ sendiri. Namun saat pintu terbuka, ia mendengar suara-suara yang meresahkan.
“Do you like it, Honey?” tanya seorang Pria dengan suara terdengar berat.
“Yes Baby. You’re the best,” jawab wanita yang suaranya sangat familiar. Suara itu persis ketika ia sedang bergumul dengan istrinya. Bukan hanya itu, ia bahkan mendengar suara dua tubuh yang berpadu dengan ritme yang cepat.
“Mana yang lebih baik? Aku atau suamimu?”
“Jelas kamu, Sayang. Martin gak ada apa-apanya. Kamu sangat luar biasa. Rasanya aku sampai lemas.”
Pria itu tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Dia melangkah cepat menuju ruang tengah.
Deg!
Tubuhnya langsung panas dingin. Pemandangan di depannya menghantamnya lebih keras daripada kegagalan-kegagalan sebelumnya.
Di ruang tengah itu, ia memergoki Viona yang merupakan istrinya sedang berada di bawah kungkungan Gaspar, putra tunggal seorang taipan di kota itu. Tanpa sehelai benang pun.
Dunia Martin seolah runtuh untuk kedua kalinya. Ia berdiri mematung, dadanya sesak, napasnya tercekat. Rasa sakit, pengkhianatan, dan kemarahan membuncah di dalam dirinya. Viona dan Gaspar terperanjat, mereka pun buru-buru membenahi diri.
Napas Martin mulai memburu. “Kamu!” ucapnya, sambil menggertakkan gigi. Rahangnya tampak mengeras, wajah yang tadi pucat itu pun kini berubah merah padam.
Bukannya merasa bersalah atau meminta maaf, Viona justru melontarkan kata-kata tajam. "Untuk apa kamu pulang? Sudah kubilang kan, aku sudah lelah hidup seperti ini! Lelah hidup pas-pasan, Martin! Jadi, kamu jangan pernah ganggu kesenanganku!"
Darah Martin langsung mendidih. "Apa maksud kamu? Kamu tega mengkhianatiku, Viona! Aku memang bangkrut, tapi bukan berarti kamu bisa melakukan ini padaku!" teriaknya, suaranya bergetar menahan amarah dan air mata.
"Kamu lupa, selama ini aku sudah berusaha keras membahagiakanmu? Setiap hari lembur supaya bisa memenuhi semua keinginanmu. Tapi belum ada satu tahun aku jatuh, kamu sudah tega selingkuh?” sambung Pria itu, lirih.
Viona hanya menatapnya sinis, seolah Martin adalah penyebab semua masalahnya. "Kamu yang gak mengerti! Kamu pikir aku bahagia dengan hidupku yang sekarang? Aku butuh kepastian, Martin! Sejak awal kamu tau, kan? Aku butuh kehidupan yang layak!"
Gaspar hanya diam, sambil memandangi mereka dengan tatapan datar. Martin merasa benar-benar hancur, dikhianati oleh orang yang paling dicintainya di saat terpuruk. Ini adalah pukulan telak yang mungkin tidak akan pernah bisa ia pulihkan.
Dengan mata berkaca-kaca dan amarah yang membakar, Martin menunjuk ke arah Pria yang berani menyentuh istrinya itu. "Kamu! Brengsek! Kamu pikir karena pernah membantuku, kamu bisa seenaknya melakukan ini padaku? Bajingan!" teriaknya.
Dia mengabaikan Viona yang kini hanya menatapnya dengan pandangan dingin. "Selama ini aku sangat menghormatimu, Gaspar! Dan ini balasanmu?" tanyanya, sambil mencengkeram kerah baju yang belum sempat dikancingi itu.
Gaspar yang sedari tadi hanya diam, kini tersenyum sinis. Senyum itu lebih menghina daripada seribu makian. Tanpa peringatan, ia melayangkan tinjunya ke wajah Martin.
Bug!
Pria itu pun tersungkur, merasakan perih yang menusuk di sudut bibirnya. Dia terlalu lemas karena belum makan seharian, sehingga tidak memiliki tenaga untuk membalas. Ditambah lagi kejadian yang membuatnya syok.
Belum cukup sampai di situ, Gaspar bahkan menendangnya hingga terdorong ke dekat pintu. "Kamu itu gak lebih dari pecundang, Martin," desisnya, dengan nada merendahkan.
Gaspar menatap sinis Pria yang sudah terkapar di dekat pintu itu. "Sudah bangkrut, lemah, dan sekarang masih mengharapkan istrimu. Sadar dikit, dong!" ucapnya, sambil mendorong Pria itu keluar dari rumahnya sendiri.
Gaspar mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya. Dia melemparkan uang itu ke lantai, tepat di samping Martin yang masih tergeletak.
"Ini, ambil. Mungkin bisa kamu gunakan untuk membeli martabat yang sudah tidak tersisa dari dirimu, hahaha!” cibirnya, sambil tertawa.
Di depan mata Martin yang hancur, Pria itu melangkah mendekati Viona. Dengan seringai penuh kemenangan, ia menggendong wanita itu. Tanpa ragu, dia mencumbu bibirnya dengan penuh nafsu, seolah ingin menunjukkan siapa pemiliknya sekarang.
Viona yang terlihat pasrah, hanya melingkarkan tangannya di leher Pria itu. Seolah tak peduli meski di sana masih ada suaminya. Pagutan mereka pun semakin dalam, sampai Martin tak sanggup untuk melihatnya.
Sambil membawa Viona kembali ke dalam, Gaspar berbalik dan melangkah masuk. Meninggalkan Martin yang terkapar di lantai.
Brug!
Pintu dibanting keras olehnya. Suara dentumannya bergema, seolah menutup babak kehidupan Martin yang lama dan menguncinya dalam kehancuran. Pria yang sudah hancur itu hanya bisa menatap kosong ke pintu yang tertutup, air mata akhirnya mengalir membasahi pipinya yang kotor.
Martin terpaku di depan pintu sambil berurai air mata. Baru kali ini ia merasa selemah dan sehina itu. Tak rela rasanya melihat wanita yang selama ini ia cintai, dijamah oleh laki-laki lain. Tubuhnya terasa beku, pikirannya kalut oleh badai emosi.
Amarah membakar setiap inci dirinya. Namun tak ada satu pun suara yang mampu keluar dari kerongkongannya. Kata-kata hinaan Gaspar dan pemandangan Viona dalam pelukannya terus berputar, mengikis sisa-sisa harga diri yang ia miliki.
Rasa sakit, pengkhianatan, dan penghinaan membelenggunya, membuatnya tak berdaya. Ia ingin berteriak, memukul, menghancurkan segalanya. Namun tubuhnya enggan bergerak, seolah jiwanya telah lumpuh.
Tiba-tiba, dari balik pintu yang tertutup rapat, terdengar desahan Viona yang sangat jelas. Desahan itu bagaikan belati tajam yang menusuk jantung Martin berkali-kali. Ia tidak sanggup lagi mendengar suara-suara itu.
Berada di dekat rumah yang dulu ia sebut surga, kini justru terasa seperti neraka baginya. Susah payah ia berusaha berdiri. Dengan langkah gontai, Pria itu membalikkan badan, meninggalkan ambang pintu yang menjadi saksi bisu kehancurannya.
Martin berjalan menyusuri jalanan malam yang ramai. Namun matanya kosong, pikirannya melayang entah ke mana. Ia tidak peduli dengan arah tujuannya.
Kakinya melangkah, membawa tubuhnya yang lelah menjauh dari neraka yang baru saja ia alami. Saat mencapai persimpangan jalan yang ramai, lampu lalu lintas menyala hijau untuk kendaraan. Masih merah untuk pejalan kaki. Namun, Martin tidak melihatnya.
Pikirannya terlalu keruh, dipenuhi dengan rasa sakit. Ia melangkah maju, menyeberang jalan saat lampu hijau untuk pejalan kaki belum menyala. Dari kejauhan, sebuah mobil melaju kencang.
Pengemudi yang terkejut mencoba membanting setir dan mengerem. Namun sudah terlambat.
BRAK!
Tubuh Martin terpental, berguling-guling di aspal yang keras. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun anehnya, itu terasa tumpul dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya.
Darah segar mulai mengalir dari pelipisnya. Membasahi wajahnya yang pucat. Pandangannya mulai buram, suara-suara di sekelilingnya meredup. Matanya perlahan menutup, kegelapan pun menyelimuti dirinya.
Di saat kesadarannya menghilang, sebuah sensasi aneh menjalar di dalam dirinya. Sebuah suara bergema, seolah datang dari dalam pikirannya.
“Sistem Kekayaan Misterius Aktif! Mendeteksi Host yang Memenuhi Syarat. Menghubungkan sistem ke Host Martin.”
“Selamat Datang di Sistem Kekayaan, Tuan Martin. Misi Pertama: Bangkit dari Keterpurukan!”